Beli HP Luar Negeri Tak Dapat Digunakan di Indonesia? Begini Caeanya

Thursday, 29 October 2020 2 komentar

Pada tahun 2019, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah memgumumkan, semua perangkat lomunikasi seperti: HP, Laptop, dan tablet yang dibeli di luar negeri agar didaftarkan kembali, agar bisa digunakan di Indonesia 

Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi konsumen dan Indonesia, dari pasaran gelap barang tersebut di atas. Hak komsumen terlindungi dan negara mendapat pemasukan atas barangan impor.

Maka sejak 18 April 2020, Kebijakan pemblokiran perangkat tak berdaftar itu diberlakukan. Semua perangkat yang tak berdaftar, nanti tidak akan memperoleh sinyal dari penyedia layanan seluler di Indonesia.

Pada dasarnya mudah untuk mendaftarkan perangkat kita yang dibeli dari luar negeri atau belum pernah digumakan di Indonesia sebelum 18 April 2020. Saya akan menjalaskan dua langkah registrasi, yaitu "Cara cek IMEI HP" dan "Cara Registrasi IMEI ke Bea Cukai".

***

CARA CEK IMEI HP

Setiap HP pasti akan memiliki nomer International Mobile Equipment Identity (IMEI). Yah, bisa dikatakan seperti  STNK kalau di sepeda motor. 

Jadi kalau Anda ingin mendaftarkan HP agar tak terblokir, anda akan dimintai no IMEI-nya terlebih dahulu. Bagaimana cara mengecek no IMEI HP, inilah  4 jenis caranya:

1. Ketik *#06# di HP Anda, otomatis akan keluar No. IMEI-nya.

2. Masuk ke pengaturan/setting - tentang Ponsel/about handphone - No. IMEI.

3. Buka bateri,  dibelakang HP ada 14 angka, itulah No.IMEI (HP Lama).

4. No. IMEI juga ada disertakan di kotak HP, biasanya ditempelkan di luar kotak HP masing-masing.

***

CARA MENDAFTARKAN IMEI HP

Mula hari  Selasa (15/ September/2020), pemerintah melalui beberapa kementerian terkait, resmi menerapkan pengendalian IMEI untuk perangkat seluler ponsel, telepon genggam, dan tablet. Perangkat yang tidak terdaftar dalam pusat data pemerintah, tidak digunakan di Indonesia.

Ada 3 cara untuk memdaftarkan IMEI HP Anda, yaitu melalui website beacukai, via Aplikasi Play Store, dan via formulir di area Pabean pintu masuk ke Indonesia. Semua pendaftaran registrasi IMEI adalah gratis.


REGISTRASI VIA WEBSITE

1. Kunjungi tautan berikut ini: https://www.beacukai.go.id, cari bahian registrasi IMEI.

2. Isi data diri serta list data barang (ponsel) yang dibeli. Mulai dari IMEI, RAM, No. Penerbangan hingga alamat email.

2. Setelah mengisi data dengan lengkap, Anda akan diminta untuk mengonfirmasi pendaftaran. Periksa kembali data yang diisi.

3. Kemudian, isi kode angka dan klik ‘Send’.

Jika pendaftaran berhasil, Anda akan mendapatkan QR Code.


REGISTRASI VIA APLIKASI PLAY STORE

1. Unduh aplikasi "Mobile Bea Cukai" di play store

2. Klik tombol/gambar IMEI

3. Isi data yang diminta, setelah itu dicek kembali sebelum tekan "Complete"

4. Jika sukses, Anda akan mendapatkan QR Code.

REGISTRASI MANUAL/FORMULIR DI PABEAN

Formulir registrasi disediakan di area Pabean di setiap pintu masuk Indonesia. Biasanya kalau di Bandara atau pelabuhan, area Pabean itu setelah melewati area imigrasi.

Setelah ambil bagasi barang, mintalah formulir regsitatasi kepada petugas Bea cukai. Isi sesuai data dan serahlan kembali kepada petugas. Jika sudah diverifikasi oleh petugas, perangkat Anda  sudah terdaftar dan bisa digunakan kembali.

***

Untuk yang registrasi via Website dan aplikasi, Anda akan mendapatlan QR Code. Kode tersebut bawa ke petugaa bea cukai untulk di-scan. Apabila sukses dan diverifikasi, perangkat Anda sudah terdaftar dan berfungsi kembali.

Ingat !,

1. Setiap orang hanya bisa membawa 2 HP saja, dan harganya tidak melebihi AS $500 (Sekitar 7-8 juta rupiah). Apabila melebihi, Anda akan dikenakan pajak.

2. Registrasi harus dilakukan di area Bea Cukai, di setiap pintu masuk ke Indonesia.

3. Untuk Turis Asing, registrasi bisa dilaksanakan di gerai operator seluler telekomunikasi Indonesia. HPnya akan diaktifkan selama 90 hari saja.

Beberapa operator lokal juga menyediakan cara mudah untuk melakukan pengecekan nomor IMEI, 

Untuk pengguna Telkomsel, kode USSD *337*1#. 

Pengguna XL bisa menghubungi *123*817#. Ingat, metode ini hanya untuk cek status IMEI saja, bukan untuk registrasi IMEI



Habibibe Kalah Berdebat dengan Santri Madura

Friday, 13 September 2019 2 komentar



Pada zaman Pak Habibie jadi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) di masa pemerintahan Orde Baru, beliau melakukan kunjungan kerja ke salah satu Pondok Pesantren di Madura.
Secara kebetulan Pak Habibie melewati Madrasah Ibtidaiyah/MI (sederajat dengan SD), yang mana para santri pondok itu, sekolah umum di MI tersebut. Di depan MI tersebut terpacak sebuah tiang bendera yang cukup tinggi, tempat dimana para santri melaksanakan upacara bendera.
Ketika Pak Habibie melewati sekumpulan santri yang sedang istirahat di depan MI tersebut, beliau bertanya kepada santri,
"Anak-anak, ayo siapa yang tahu tingginya tiang bendera ini?"
"Siapa yang bisa akan diberikan sepatu.", Sambil tangannya menunjuk ke atas tiang bendera.
Tanpa banyak bicara, ada seorang santri langsung memanjat tiang bendera membawa tali rafia. Sampai di pertengahan tiang bendera, keadaan tiang bendera sudah meliuk-liuk menahan beban. Dengan serta Merta Pak Habibie melambai-lambaikan tangannya, sembari menyuruh turun anak itu.
"Sudah..sudah..turun Nak, nanti jatuh !."
"Kenapa tak dirobohkan saja tiangnya, baru diukur tiang benderanya !", Ujar Pak Habibie setelah santri itu turun dan datang ke hadapannya.
"Kan Bapak menyuruh mengukur tinggi tiang benderanya, makanya saya segera naik Pak." Ujar santri itu membela diri.
"Tiang itu berdiri atau dirobohkan, ukurannya tetap sama Anakku.", Pak Habibie meyakinkan santri tersebut sambil memegang bahunya.
"Ya beda Pak, antara mengukur panjang dan tinggi itu."
"Kalau tinggi itu ukuran dari tanah sampai puncak tiang tersebut, sedangkan kalau dirobohkan itu mengukur panjangnya dari tempat yang datar."
"Karena Bapak menanyakan tingginya tiang bendera, maka saya segera memanjatnya.", Ujar santri dengan percaya dirinya.
"Ya tetap sama juga hasilnya anakku, mengukur tinggi dan panjangnya. Karena barangnya tak berubah.", Pak Habibie meyakinkan kembali santri tersebut.
"Tetap beda Pak, Tinggi untuk mengukur barang yang berdiri dan panjang untuk mengukur barang yang melata atau merayap.", Santri itu tetap bersikukuh dengan jawabannya.
"Buktinya apa Anakku ?", Pak Habibie memancing santri tersebut.
"Ketika Bapak sedang berdiri, pasti orang akan bertanya berapa tingginya, bukan berapa panjangnya.", Jawab santri tersebut sambil tersenyum.
"Pinter dan cerdas Anakku, sudah ini ambil sepatunya!"
"Jangan lupa belajar yang rajin ya, biar seimbang ilmu agama dan dunianya.", Pesan Pak Habibie sambil mengelus bahu santri tersebut.
#Terinspirasi Cerita Cak Nun

Madura Penghasil Garam, Garam Terbaik dari Malaysia

Saturday, 23 March 2019 4 komentar


Madura merupakan salah satu pulau penghasil garam terbesar di Indonesia. Kurang lebih 15.000 hektar lahan garam berada di Madura, maka dari itu Madura mendapat predikat dengan sebutan “Pulau Garam”.

Umumnya di Indonesia hanya memproduksi garam untuk kebutuhan konsumsi saja, yang harganya berkisar sekitar Rp 2.000/Kg. Sedangkan apabila penggunaan teknologi diterapkan, garam biasa bisa menjadi garam farmasi, industri atau garam analisa. Harganya bisa menjadi 150 - 200 ribu/Kg.

Namun sayang tentang penggunnaan teknologi tersebut, petani Madura masih belum mampu menggunakanya (secara tradisional). Padahal kebutuhan garam per tahun, Indonesia memerlukan 4,4 juta Ton. Sedangkan kita hanya memproduksi 1,2 -1,6 juta ton saja.

Garam Malaysia Lebih Baik

Pada Hari Raya tahun lalu, saya menjenguk kawan saya yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pamekasan. Sewaktu antri menunggu panggilan, saya banyak berbicara dengan sesama pengunjung di depan pintu masuk Lapas. Mayoritas mereka ingin menjenguk keluarganya yang sedang terjerat dengan kasus Narkoba (shabu).

Karena Hari Raya, pertemuan antara pengunjung dan penghuni Lapas diberikan kelonggaran, sehingga bisa berbicara dengan  duduk berkelompok. Sewaktu saya tanyakan, Mengapa umumnya para yang datang menjenguk, umumnya keluarganya yang terlibat dengan Narkoba?

Salah seorang dari mereka menjawab ceplas-ceplos,
“Iya wajar saja, karena garam itu bukan barang baru di Madura. Apalagi garam tersebut dengan mudah didapatkan.”

“Disamping itu, pasokan garam paling baik dan mendapat permintaan paling banyak adalah garam dari Malaysia.”, jelasnya sambil menyeruput minuman botolnya.

“Dari tadi ngomongin garam, maksudnya apa ya Pak ?”, tanyaku sengaja meminta penjelasan lanjut.
“Sampeyan ini pura-pura tidak tahu Dik!”
“Maksud garam ini adalah Narkoba jenis shabu-shabu Dik!”, jawabnya sambil menyedot rokoknya dalam-dalam.

Madura, Pusat Pasar Sabu Apa Tempat Transit ?

Madura sebagai pulau yang terkenal agamis dan pulau santri, mendapat serangan dari berbagai penjuru. Salah satu serangan terbesar beberapa tahun belakangan ini adalah  penyalahgunaan Narkoba semakin marak. Hampir setiap kampung ada pemakainya, karena barang ini dengan mudah didapatkannya.

Berdasarkan lintas berita, pasokan Shabu terbesar dan terbanyak berasal dari Negeri Jiran Malaysia. Ada yang diselundupkan via bagasi airport, sehingga banyak yang tertangkap di Bandara Juanda. Adapula yang diselundupkan melalui pelabuhan laut dengan naik Feri

Pada bulan lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap pasangan suami istri dari Madura di Pelabuhan Dumai. Mereka didapati membawa shabu seberat 18.3 Kg dari Malaysia tujuan ke Madura.

Dan modus operandi terbaru jaringan sindiket ini adalah menggunakan jasa pengiriman barang paketan (Cargo) dari Malaysia ke Indonesia. Sindiket sengaja mengirim Shabu dicampur dengan aneka jenis barang paketan kebutuhan sehari-hari, untuk mengelabui petugas Bea dan Cukai serta BNN.

Konon katanya, hadiah 70 juta rupiah setiap kilogram Shabu, yang dapat dibawa dari Malaysia ke Madura. Besarnya nominal sebagai kurir Shabu, membuat sebagian orang menjadi gelap mata. Mereka rela melakukan hal itu, tanpa memikirkan masa depan keluarga dan anak-anaknya.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah pulau Madura itu sebagai target dan pasar Narkoba sindiket internasional ?
Apakah pulau Madura hanya dijadikan transit dan pasar, sebelum dikirimkan ke kota-kota lainnya di Indonesia. Seperti Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Papua.

Sudah saatnya para Aparat kepolisian beserta BNN bekerjasama dengan Alim ulama dan Tokoh masyarakat setempat. Untuk memberikan penanggulangan dan penyuluhan bahayanya Narkotika dan obat-obatan terlarang.
Semoga dengan adanya pesantren, kharisma alim ulama dan tokoh masyarakat mampu meredam pengguna Narkoba semakin terus meningkat.  

Salam dari Kuala Lumpur.

Credit image : www.promise.com
  

Mantan TKI ini, Pasarkan Biji Karet Hingga ke Luar Negeri

Tuesday, 19 February 2019 4 komentar



Indonesia adalah salah satu penghasil karet terbesar dunia, disamping negara Thailand, Malaysia, dan India. Sebagai komoditas penting dalam kehidupan manusia, karet merupakan bahan baku produk yang memerlukan kelenturan/elastis dan tahan goncangan. Seperti ban, pipa/selang minyak, bola, dan sebagainya.

Menurut thedailyrecords.com, luas areal perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2019 ini, mencapai seluas 3,5 juta hektar. Lokasi utama areal perkebunan tersebut meliputi di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Lampung, dan Jawa. Indonesia menyumbang 27,3% produksi karet global, dengan tujuan eksport utama ke USA, Singapura, China, Brazil, dan Jepang.

Untuk saat ini, pohon karet hanya dimaksimalkan pada produksi utamanya, yaitu lateksnya. Sedangkan buah karetnya banyak yang tidak memanfaatkanya. Salah satu alasan utamanya adalah biji karet itu termasuk buah yang mengandung racun. Sehingga mengundang orang malas untuk mengolahnya sebagai sumber makanan.

Padahal pada saat ini, buat karet sudah bisa diolah menjadi aneka makanan dan cemilan. Mulai dari tempe, emping, es krim, dan tepung biji karet. Bahkan biji karet bisa diolah sebagai sumber energi alternatif seperti briket, biokerosin, biopelet, biodiesel, dll.

***

Peluang ekonomi dari buah karet itu diliirik dan dimanfaatkan secara maksimal oleh Ifendayu, ibu rumah tangga dari desa Jati Mulyo, kecamatan Jenggawah, Jember Jawa Timur. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini menjadikan buah karet sebagai sumber penghasilan keluarga. Buah karet yang kurang dimanfaatkan di kampungnya, diolah menjadi cemilan “Biji Karet Goreng” dan dijadikan sumber ekonomi keluarga.

Pada mulanya, Ifendayu hanya menjual biji karet olahannya dalam ruang lingkup kecil. Para tetangga dan para sahabatnya menjadi target pasar utamanya. Kemasannya masih sangat sederhana, hanya dimasukkan ke dalam toples plastik, kemudian hanya diisolasi pada penutupnya saja.

Beberapa waktu kemudian, dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, Ifendayu mulai memasarkan produknya secara gencar dan intensif. Kemasan produknya sudah mulai dikemas dengan apik dan sudah ada brandingnya.


Ada peningkatan dalam kemasan produk biji karet gorengnya, kalau pada awalnya menggunakan toples dengan diisolasi pada penutupnya. Sekarang produk biji karet gorengnya sudah berplastik berzip, dengan kemasan merk berwarna hijau diluarnya.

Disamping itu, kemasan beratnya sudah beragam mulai dari 200 gram hingga 1 kilo gram per bungkusnya. Dan dimasukkan ke dalam sebuah goodie bag dengan logo dan kemasan yang sama pada setiap pembeliannya.

Sekarang pasar biji karet gorengnya, bukan hanya sekedar meliputi kota Jember dan sekitarnya. Namun sudah mendapat permintaan dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan permintaan akan produk “biji Karet Gorengnya” sudah merambah ke luar negeri. Mulai dari Malaysia, singapura, Hongkong, Taiwan, Macau hingga ke Qatar.

Disamping memasarkan biji karet goring, Mantan TKI kreatif ini juga mengolah dan mengemas bawang goreng sebagai produksi ekonomi keluarga. Bahkan mengemas ikan pindang dan plintiran jamu, sebagai usaha sampingan setelah biji karet goreng.

Tidak ada cara mudah mendapatkan kesuksesan dan tidak ada jalan pintas untuk menggapai sebuah mimpi. Ianya memerlukan sebuah proses dan kerja keras yang maksimal. Semoga usaha yang dilakukan Ifendayu, dengan memanfaatkan limbah terbuang menjadi sumber ekonomi keluarga, akan menjadi penyemangat dan motivasi kepada para TKI lainnya.

Salam dari Kuala Lumpur



Tidak Mampu Mengontrol Jarinya, Pekerja Ini Dipecat Perusahaannya

Wednesday, 19 December 2018 3 komentar




Adanya media sosial merupakan suatu rahmat bagi manusia dalam menjalinkan komunikasi dan berinteraksi. Kita harus mengucapkan ribuan terima kasih kepada para pencetus Friendster, My space, atau MiRC. Dikemudian hari media sosial berevolusi, menjadi lebih mudah digunakan dan lebih dijangkau. Maka muncullahmedia sosial baru bernama  Facebook, Twitter, Instagram, youtube dan media sosial lainnya.

Media sosial banyak memberikan manfaat dalam menjalin hubungan serta meningkatkan silaturrahim sesama manusia. Dimanapun dan kapanpun kita bisa berinteraksi, hanya bermodalkan kouta internet dan akun media sosial berkaitan.

Ianya juga bisa dijadikan sarana pertemuan antara penjual dan pembeli, tanpa terikat ruang dan waktu. Hanya dengan memasang foto barang jualan atau mengiklankan secara online, setelah itu tinggal menunggu pembeli menghubunginya.

Proses belajar dan mengajar serta jalan dakwah bisa juga dijalankan dengan menggunakan media sosial. Bahkan hampir perhubungan dalam dunia nyata, bisa diaplikasikan dalam dunia maya melalui media sosial.

Itu semua hal-hal positif yang dapat kita lakukan apabila menggunakan media sosial dengan benar. Berinternet secara sehat dan baik, akan memberikan pulangan yang baik dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Lantas, bagaimana dengan orang dan kelompok yang menggunakan media sosial secara negatif ?

Apabila dalam dunia nyata ada ungkapan “Mulutmu, Harimaumu”, maka sekarang dalam media sosial menjadi lain. “Jarimu, harimaumu” atau “Media Sosialmu, Harimaumu”.

Seberapa banyak netizen atau warganet yang terjebak akibat tidak mampu mengendalikan ujung jarinya, sehingga harus berurusan dengan pihak berwajib. Seberapa banyak warganet harus kehilangan teman, sahabat, serta kolega, akibat keteledoran ujung jarinya.

Lebih parah lagi, bahkan sampai ada yang kehilangan pekerjaan, akibat ujung jari yang tidak mampu dikontrol. Sebagaimana yang terjadi pada salah seorang warganegara Malaysia, baru-baru ini. Beliau digantung kerja sementara (suspended) oleh perusahaan temapt bekerjanya, sebuah dealer penjualan mobil Jepang di Kuala Lumpur.

Berawal dari warganet berinisial CY ini yang mengomentari sebuah postingan tentang seorang pemadam kebakaran Malaysia, yang terkorban dalam kerusuhan berkaitan agama dan kaum di Subang Jaya, Selangor beberapa waktu lalu.

Kasus ini berprofil tinggi dan sangat sensitif, karena apabila tidak ditangani dengan baik, sangat rentan terjadi kerusuhan kaum di Malaysia. Rupanya CY tidak melihat isu sensitivitas dalam kasus ini, beliau berkomentar disinyalir ada unsur rasisme dan ada ujaran kebencian (hate Speech).

Akhirnya komentar CY mendapat respon warganet lainnya dalam postingan tersebut. Dalam secepat kilat, komentar tersebut di-Screenchots oleh warganet lainnya serta dibagikan ke media sosial lainnya. Akhirnya komentar CY menjadi viral dan mendapat  kecaman semua warganet di Malaysia.

Rupanya ada warganet yang meneliti latar belakang CY di profil media sosialnya, dan mengetahui bahwa CY bekerja di sebuah dealer penjualan mobil Jepang di Kuala Lumpur.

Akhirnya fanpage dealer tersebut diserbu oleh warganet, dan meminta pihak dealer untuk memecat serta merta CY, karena bertindak rasisme dan melakukan ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan kericuhan. Akhirnya pihak dealer, menggantung kerja CY selama seminggu mulai hari itu juga.

Karena Cuma dikenakan penggantungan kerja selama seminggu, warganet tidak terima dan meminta dipecat serta merta. Disebabkan tidak ada respon dari dealer tersebut, akhirnya warganet menyerbu perusahaan mobil jepang cabang Amerika dan di pusatnya Jepang sendiri. Tuntutannya hanya meminta CY dipecat serta merta.

Itu adalah salah satu contoh sikap dan aksi negatif dalam media sosial. Apabila ujung jari kita tidak dikontrol dan dikendalikan dengan baik dan benar, maka akan memudharatkan diri sendiri dan warganet lainnya dalam media sosial.

Gunakan media sosial ini untuk memberikan kebaikan dan manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Fikirlah kembali sebelum memposting atau membagikan konten apa saja dalam akun media sosialmu. Karena kalau kita lalai, maka media sosialmu akan menjadi perangkap penyesalam dikemudian hari.

Salam dari Kuala Lumpur.

Suramadu : Sejarah dan Politik Mengiringi Pesonanya

Tuesday, 30 October 2018 2 komentar

Keindahan Jembatan Suramadu tinggal Kenangan (Foto: merahputih/Gesuri) 



Belakangan ini  Jembatan Suramadu menjadi polemik terbuka, mulai dari obrolan sekelas warung kopi hingga media massa. Isu tersebut terkuak, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pembebasan tarif tol jembatan Suramadu, sejak hari Sabtu lalu (27/10/18).

Jembatan Suramadu adalah sebuah jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura, yang mana pacak sebelah selatan berada di kecamatan Kenjeran Surabaya (Jawa) dan pacak sebelah utara berada di Kecamatan Labang, Bangkalan (Madura).

Jembatan yang melintasi Selat Madura ini mempunyai panjang 5.438 meter, telah diinspirasikan sejak era Presiden Soekarno lagi. Namun karena adanya Gerakan 30 September (pemberontakan PKI) dan lengsernya Bung Karno dari kepemerintahan , maka ide pembangunan Jembatan tersebut terbengkalai.

Baru pada tahun 1986, Presiden Soeharto merencanakan kembali pembangunan Jembatan Suramadu dan direalisasikan empat tahun kemudian, yaitu tahun 1990. Namun ide tersebut mendapat bantahan dari beberapa tokoh dan ulama Madura.

Salah satu alasannya adalah dampak industrialisasi atas pembanguna Jembatan Suramadu akan merugikan masyarakat Madura sendiri. Karena waktu itu, sumber daya manusia orang Madura belum siap, yang paling penting adalah realita pulau Batam saat itu.

Para Tokoh dan Ulama Madura takut, pulau Madura akan menjadi Batam kedua. Yang mana pulau Batam maju dari segi ekonomi dan infrastrukturnya, akan tetapi orang Batam sendiri tersingkir dan tidak dapat menikmati kemajuan yang ada di pulau tersebut.

Akhirnya pada tahun 1990, Presiden Soeharto memulakan pembangunan Jembatan Suramadu dan menjadikan sebagai proyek nasional. Namun krisis moneter melanda pada tahun 1997, sehingga memaksa pembangunan tersebut dihentikan.

Kemudian pembangunan jembatan Suramadu, dilaksanakan kembali pada era Presiden Megawati pada tahun 2003, dan diresmikan pada tanggal 10 Juni 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 kilometer menghabiskan anggaran Rp 4,5 triliun.

Perinciannya, Rp 3,5 triliun bersumber dari APBN untuk pembuatan jembatan bentang utara dan selatan. Sementara jembatan bentang tengah Suramadu menelan anggaran Rp 1 triliun bersumber dari hutang luar negeri.

Namun hasil penarikan tarif tol Suramadu rata-rata Rp 209 miliar per tahun, dan sekarang memasuki tahun kesembilan. Ditotal selama sembilan tahun, perolehan tarif tol Suramadu mencapai Rp 1,88 triliun.

Dari total pendapatan tersebut, pinjaman atas pembangunan jembatan Suramadu di bagian tengah telah terlunasi. Mungkin ini juga yang menjadi pertimbangan pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait pembebasan tarif tol jembatan Suramadu alias gratis.

Karena kebijakan itu dikeluarkan dalam tahun politik (masa kampanye), menjelang pemilihan presiden 2019 ini. Maka ianya menjadi bola liar ajang debat para pendukung kedua kubu koalisi Capres/Cawapres.

Kubu penantang mengatakan, ini adalah kebijakan pencitraan dalam memenangkan hati pemilih di Madura, yang mana pada Pilpres lalu, kubu Jokowi kalah jauh dibandingkan Kubu Prabowo. Sedangkan kubu Petahana membantah, sudah sepantasnya apa yang telah dilakukan presiden untuk kemakmuran rakyatnya. Jadi kebijakan seorang presiden jangan selalu diidentikkan dengan pencitraan.

Jembatan suramadu, bukan hanya menjadi komoditas politik saat ini saja. Namun pada Pilpres 2004, Megawati dan SBY berebut pesona Jembatan Suramadu. Mereka berdua mengklaim, bahwa keberadaan jembatan Suramadu merupakan peran dan hasil dari kepemerintahannya masing-masing.

Namun secara pribadi, Saya kurang melihat dari sisi politisnya tentang keberadaan jembatan Suramadu ini. Namun seberapa jauh ianya memberikan manfaat kepada masyarakat  dalam 4 kabupaten di Pulau Madura.

Apakah dengan adanya jembatan Suramadu, ekonomi pulau Madura semakin meningkat ? Apakah dengan Suramadu, investor mau menanamkan modalnya di tanah Madura ? Apakah nilai properti di Madura masih jauh dengan di Surabaya ? Dan apakah pembangunan Infrastruktur  di pulau Madura berjalan dengan baik, setelah adanya Jembatan Suramadu ?

Namun secara pribadi, saya juga belum memahami sistem perawatan (maintenance) Jembatan Suramadu pasca dihapusnya tarif tolnya. Apakah ditanggung oleh Pemerintah kota Surabaya dan pemerintah kabupaten Bangkalan (APBD) atau ditanggung oleh negara melalui APBN-nya ?

Karena selama ini, meskipun ada penarikan tarif tol jembatan Suramadu, tapi perawatannya  seperti hidup segan mati tak mau. Apalagi setelah ada kebijakan pelupusan tarif tol di jembatan Suramadu.
Apakah saya saja yang merasakan, bahwa jembatan Suramadu itu saat ini begitu kusam ? Dan lampu-lampu yang menghiasi Jembatan Suramadu sepertimana di foto pada awal peresmiannya, sekarang hanya tinggal kenangan saja ?

Salam dari seberang
Orang Madura yang melewati Suramadu setahun sekali



Pilpres 2019 : Ketika Para Capres Bersahut-Sahutan di Ruang Publik

Friday, 26 October 2018 1 komentar





Masa kampanye kontestasi terbesar di republik ini telah berjalan lebih dari sebulan. Tepatnya 23 September 2018 lalu, kampanye pemilihan presiden 2019 dimulakan oleh kedua kandidat. Kubu Sang Petahana Joko Widodo dan pasangannya KH. Makruf Amin bernama Koalisi Indonesia Kerja, Sedangkan kubu sang penantang yaitu Prabowo Subianto dan pasangannya Sandiaga Uno bernama Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Dalam masa sebulan ini, kampanye kedua kubu masih sekedar beretorika,  belum masuk ke substansi visi dan misi koalisi masing-masing. Waktu yang telah berjalan selama sebulan, hanya sekedar untuk memanaskan mesin politik masing-masing. Sedangkan waktu menuju hari-H masih tersisa selama 6 bulan lagi.

Uniknya, kedua kubu untuk mengekalkan momentum kepopuleran koalisi masing-masing, lebih kepada melempar isu dan opini ke ruang publik. Namun saya lebih tertarik kepada Sang Calon Presiden kedua belah pihak yang saling sindir-menyindir di ruang publik.

Bermula dari sindiran dan kritikan dari Capres nomor urut dua, Prabowo Subianto yang mengkritisi tentang sistem ekonomi Indonesia saat ini,

“Bahwa sistem ekonomi Indonesia saat ini, terjadi suatu fenomena mengalirnya kekayaan nasional ke luar.”

“Ini bukan ekonomi Neolib lagi, tapi lebih parah dari Neolib, menurut saya ini adalah ekonomi kebodohan, the economic of stupidity.”, disampaikan oleh Prabowo dalam  rapat kerja nasional Lembawa Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurasyidin, Lubang Buaya, Jakarta Timur (11/10/18)

Mendapat kritikan dan sindiran dari lawan politiknya, Capres Petahana Joko Widodo membalas dengan menekankan agar Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, menyebarkan semangat persatuan dan tidak melakukan politik kebohongan. Jokowi malah menekankan dalam suatu kesempatan, agar para Politikus tidak menjadi sontoloyo,

“Sekarang bukan zamannya lagi politik adu domba, politik pecah belah dan politik kebencian.”
“Sekarang zamannya politik dan kontestasi adu program, dan adu ide serta gagasan, tapi kalau masih memakai cara lama seperti itu, namanya politik Sontoloyo.”
, Kata Capres Jokowi di depan para wartawan.

Saling berbalas sindiran di ruang publik telah menambah sedikit banyak tensi dunia politik tanah air naik. Banyaknya perdebatan dan  perang meme antar kedua pendukung, menambah kegaduhan permulaan menjelang mesin politik memasuki gear kedua.

Namun sayang, retorika-retorika yang disampaikan kedua kubu masing-masing hanya sekedar untuk menyenangkan para pendukung di belakangnya saja. Seperti mana layaknya sebuah kampanye politik, menyerang keburukan dan kegagalan kubu lawan masih menjadi prioritas keduanya, daripada menyampaikan apa visi dan misinya, dan apa program unggulan untuk menarik rakyat memilihnya.

Sudah saatnya, kami menerima kampanye positif berupa program-program unggulan kedua kubu masing-masing. Pikatlah kami dengan visi dan misi yang mampu membawa Indonesia bersaing bersama dalam pentas dunia.
Salam dari Seberang.


 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani