Kerapan Sapi : Di Antara Tradisi dan Fatwa MUI

Saturday, 22 October 2011

Kerapan sapi Madura (photo by regional.kompas.com)

Salah satu ciri khas yang identik dengan pulau Madura adalah sebuah tradisi dan kebudayaanya adalah Kerapan Sapi. Kerapan sapi  adalah perlombaan adu kecepatan sepasang sapi yang menarik kereta kayu ( Kaleles) sebagai tempat berdiri jokinya (Tokang tongkok) untuk mengendalikan pasangan sapi tersebut dalam jarak trek sekitar 100-120 meter tergantung jenis kejuaraannya.

Menurut sejarahnya, Kerapan sapi adalah salah satu bentuk budaya yang dilakukan masyarakat Madura setelah musim panen atau pesta panen. Yang mana sapi adalah binatang penting dalam membantu petani Madura untuk menggarap lahan pertaniannya. Lama-kelamaan, karena banyaknya para petani yang menggunakan tenaga sapi untuk menggarap sawahnya secara bersamaan, maka timbullah niat mereka untuk saling berlomba dalam menyelesaikannya. Dan, akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga lomba adu cepat yang disebut kerapan sapi.

Jenis-jenis Kerapan Sapi.

Esok tanggal 23 Okober 2011, merupakan hari kemuncak kompetisi kerapan sapi setelah terjadi penyeleksian dari tiap kecamatan seluruh kabupaten di Madura. Biasanya hari kemuncak itu di laksanakan di Karesidenan Madura yaitu di Stadion R. Sunarto kabupaten Pamekasan. Setiap kabupaten seluruh pulau Madura berhak mengirimkan 4 pasangan terbaiknya untuk memperebutkan Piala Presiden.
Adapun jenis- jenis kerapan sapi tersebut adalah:


  1. Kerap kene' (kerapan kecil),
    Kerapan sapi ini di selenggarakan dalam tingkat kecamatan saja, yang mana jaraknya biasanya kurang lebih 100-110 meter saja. Yang menang dalam seleksi ini berhak untuk mendapatkan tiket ke seleksi selanjutnya yaitu Kerap Rajheh.

  2. Kerap Rajheh (kerapan Besar)
    Kerapan ini adalah di selenggarakan dalam tingkat kabupaten saja, yang mana jaraknya adalah sekitar 120 meter. Dalam seleksi ini para pemilik pasangan sapi berusaha untuk mendapatkan tiket ke acara yang lebih bergengsi yaitu tingkat Karesidenan Madura.

  3. Kerap Gubeng (Piala Presiden)
    Ini adalah kerapan terbesar atau sebagi kemuncaknya dari segala seleksi. Dalam 4 kabupaten di Pulau Madura berhak mengirimkan 4 pasangan terbaiknya untuk memperebutkan piala presiden. Selalunya even ini di adakan di ibukota Karesidenan Madura yaitu Kabupaten Pamekasan.

  4. Kerap Onjangan (kerapan undangan)
    Kerapan sapi  ini adalah pesertanya yang di undang saja atau layaknya hanya sebagai sistem arisan saja. Biasanya di adakan setengah bulan sekali atau untuk memperingati hari-hari tertentu saja.

Setiap
pemilik Sapi kerapan yang sering memenangi kejuaraan akan mendapatkan nama/terkenal dan juga harga sapinya akan melambung tinggi, dari puluhan juta sampai ratusan juta. Di samping perawatan sapi kerapan membutuhkan biaya yang besar, salah satu contohnya  adalah setiap bulan atau menjelang kejuaraan untuk satu sesi jamu saja di butuhkan sampai 400 butir telur sepasangnya. Lain lagi jenis peawatan lainnya seperti urutan dan jenis pemakanannya.

Fatwa MUI melarang kerapan sapi

Seperti mana di laporkan dalam harian Kompas baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengirim surat ke kantor Bakorwil IV Pamekasan Madura , selaku panitia pelaksana Festival Kerapan sapi Piala Presiden yang akan di laksanakan pada tanggal 23 Oktober agar melarang penyiksaan terhadap binatang dalam festi val itu.
Dalam empat tuntutannya itu MUI diantaranya adalah:


  1. MUI meminta praktek penyiksaan dalam kerapan sapi di hapuskan
    Bukan Rahasia lagi kalau Setiap sapi yang akan di adu penuh penyiksaan secara fisikal, di antaranya:

    • Menggunakan kayu yang berisi puluhan paku tajam yang di torehkan di pantatnya sapi

    • Memberikan balsem/rhemason di sekitar kedua mata sapi tersebut.

    • Meletakkan sambal cili/cabe di sekitar dubur sapi

    • mengoleskan spiritus di sekitar tempat luka yang di toreh tadi.

    • Mencambuk beberapa kali sebelum di adu.


  2. MUI meminta Praktek Perjudian dalam kerapan sapi di hapus
    Setiap perlombaan pasti identik dengan perjudian, seperti mana halnya juga dalam kerapan sapi di penuhi unsur judi di antara pemilik sapi kerapan atau para penontonnya.

  3. MUI meminta agar masyarakat tidak mengabaikan sholat lima waktu
    Setiap perlombaan biasanya bermula pukul 10.00 dan biasanya berakhir menjelang Maghrib. Tidak menutup kemungkinan para penggemar kerapan sering meninggalkan sholat di dalamnya.

  4. Para Ulama menentang hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam.
Sekiranya MUI langsung memutuskan kerapan sapi adalah di larang, apakah itu tidak akan membunuh budaya di Indonesia dan Madura pada umumnya karena bertentangan dengan syariat. Apakah tidak diperhalusi saja dulu dan meminimalkan hal-hal yang berbau penyiksaan terhadap binatang.  Karena saya yakin banyak tradisi dan kebudayaan di Indonesia yang bertentangan dengan syariat Islam.


Tulisan ini bisa juga di baca di Kompasiana

2 komentar:

  1. Anonymous said...:

    ok sy tanggapi MARKAS MUI- II kwkwkw
    memang ada penyiksaan disana kalao bisa diganti sprt zaman dulu memakai pelepah pisang so tdk da luka berdarah sprt saat ini... jd tdk da lg balsem atau spertus... + bunyi bunyian kaleng juga bisa...

    mengenai judi itu tergantung pribadinya... so jk ketahuan tangkap saja dimata matain sprt intel... sprt togel aja sudah bnyk yg ditangkap... pemelihan kpl desa sj di judiin.. nonton bola...bukan hanya kerapan sp.. dmn ada p[luang orang yg suka judi akan mngambil kempatan, so petugasnya mn... centaNG wae atuihhh hehe
    bukan alasan itu untuk menghapus budaya...

    sholat insyAllah sholat kok.. disini masjid banyk tdk sprt nonton bola di snayan berangkat shubuh pulang magrib tdk ditegor... insyAllah jk yg sholat akan ttp sholat,,, jk dirumahnya tdk sholat dia akan ttp tdk sholat... kalo tdk percyu cek aja... bnyk kok mrk yg mememng sholat dan ttp sholat... sy juga pernah nonton nganter teman dr jakarta.... msjid bnyk dan penuh dg yg sholat para penonton... apalagi ya... mngkin itu dulu....heee...dodonk A elmaduri

  1. Unknown said...:

    DULUNYA SAYA TIDAK PERCAYA YANG NAMANYA PERAMAL TOGEL,TAPI SEKARANG SAYA PERCAYA AKAN ADANYA PERAMAL TOGEL,KARNA SAYA SUDAH BUKTIKAN BAHWA TERNYATA ANKA RITUAL,AKII DEWA YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA BENAR-BENAR JEBOL DAN SAYA MENANG UANG TUNAI SEBANYAK 200JUTAL,DAN AKHIRNYA DIBULAN INI SAYA SUDAH BISA MEMBAYAR HUTANG SAYA 50JT,DAN 150JT,SAYA JADIKAN MODAL MENGUSAHA RESTORAN,JADI BAGI ANDA YANG INGIN SEPERTI SAYA,HUBUNGI AKII DEWA DI NOMOR [085 293 577 799]

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani