Mengapa Tetanggaku Menjadi TKI ?

Tuesday, 25 October 2011


Meningkatnya perekonomian negara bagi rakyat kecil hanya sekedar mainan angka di sela-sela keterpurukan moral dan maraknya intrik-intrik para politikus. Namun kenyataannya apa yang dirasakan rakyat kecil, harga sembako kian tersenyum sinis melambung tinggi meninggalkan pendapatan mereka yang kadang kala tak cukup untuk membeli sekilo beras dan lima ekor ikan pindang di pasar rakyat. Yang mana lagi harus memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya dan tagihan rekening listrik yang semakin membebankan.

Maka bertebaranlah saudara-saudara kita mulai dari Malaysia, Brunei, Asia Timur sampai di Timur Tengah. Yang mereka cari hanyalah sesuap nasi dan demi mencapai tujuan hidup yang kadangkala menjadi jerat tersendiri baginya. Maksud hati inginkan kehidupan yang setaraf dengan para tetangga, namun pertarungan melawan takdir dalam mencari rupiah tidak semudah yang di harapkan.

Fenomena-fenomena seperti inilah yang kadangkala menimbulkan jalan pintas sebagian dari para saudara kita untuk mencari penghidupan yang lebih layak dengan menjadi seorang TKI. Namun banyak hal yang mempengaruhi dan menyebabkan para saudara kita TKI di antaranya adalah :


  1. Kurangnya lapangan kerja
    Bukan rahasia lagi apabila seseorang yang ingin bekerja dengan pemerintah baik dalam sektor sipil dan militer di butuhkan dana yang besar. Tidak sesuainya antara para pencari kerja dan lowongan/peluang kerja telah menimbulkan gejala-gejala korupsi yang nyata namun tetap di biarkan. Karena para pencari kerja sendiri memberikan kerja sama dan jalan ke arah KKN tersebut. Sehingga sebagian dari para pencari kerja tersebut yang tidak mampu bersaing lebih rela menyumbangkan tenaga dan jasanya ke luar negeri dengan menjadi TKI.

  2. Desakan ekonomi dan kebutuhan hidup
    Ketika seseorang yang di kejar berbagai kebutuhan hidup seperti biaya pendidikan anak-anak, terjerat hutang piutang dan kebutuhan lainnya. Seringkali menimbulkan keinginan untuk berubah dan mengakali hidup dengan merantau ke luar negeri. Mereka hanya berfikir bahwa dengan menjadi TKI yang katanya lebih mudah menjaring rupiah , namun ternyata terkadang kenyataan tak seindah impiannya selama ini.

  3. Krisis rumah tangga.
    Banyak yang menjadi TKI karena di sebabkan kegagalan dalam mengharungi bahtera rumah tangga. Baik yang berstatus duda maupun janda banyak yang membawa diri serta menjadi TKI sebagai pelarian dalam masalah hidupnya.

  4. Tergiur agen-agen nakal
    Sebagai seorang agen (bahasa TKInya adalahTEKONG) sangat bijak mencari peluang dan memanfaatkan seseorang agar menghasilkan keuntungan bagi pihak dirinya. Akhirnya berbagai janji-janji manis di ucapkan kepada calon TKI yang di perangkapnya. Dan TKI yang menjadi korbannya hanya mampu berserah takdir setelah apa yang di hadapinya tidak sesuai dengan apa yang di janjikan.

  5. Fakor famili dan tetangga
    Sudah lumrah di daerah kampung dan pedesaan, apabila salah seorang tetangga atau familinya yang sukses di perantauan. Apabila pulang ke kampung halamannya, mereka akan mengajak saudara maupun teman-temannya untuk mengikuti jejaknya di perantauan.


Sampai kapan para tetanggaku di gerogoti satu persatu dengan merantau ke luar negeri menjadi TKI. Apakah pemerintah tidak menyadari bahwa Indonesia masih tergolong dalam kategori pengeksport buruh kasar dan murah terbesar di dunia. Apakah dengan mengirimkan rakyatnya ke luar negeri secara kontinyu adalah salah satu pelarian pemerintah dalam ketidak mampuannya menyediakan lapangan kerja.

Ayo para wakilku di atas sana !
Jangan hanya pencitraan diri dan partai saja yang dilakukan,tapi nama baik dan nama besar bangsa Indonesia juga harus dijaga di mata dunia.

10 komentar:

  1. Ibnu said...:

    Betul sekali ,sy juga seorang TKI,sebab pertama sy menjadi tki karna beban hutang yg kalau sy mencari di indonesia memang tak dapat.sy berhutang pun untk mencari kerja.kerja tak dapat hutang tertunggak.
    Sebab yg kedua adala opersi militer di aceh .tni akan membunuh siapa saja yg mereka anggap pemberontak.Dan sekarang dgn terpaksa bertahan walau tak seberapa penghasilan.Dan resiko jauh dari keluarga.

  1. mahfudz tejani said...:

    terima kasih bang Ibnuhajar Nurdin !!
    Saya cuma membaca dan merasakan dari sekitar permasalahan para TKI itu sendiri.
    Oh-ya dulu saya banyak dari Aceh sebelum masa Tsunamiyang bekerja di Malaysia.

    salam

  1. Anonymous said...:

    saya pernah mengatakan pada teman kenapa pemerintah kita senang dan mendukung pes tki an....??? teman saya jawab kan negara dapat DEVISA... kalau hanya devisa menjadi tolak ukur dari pemerintah maka itu harus di renungi kembali... jika saja tki bekerja di negara sendiri dan di bikinkan lapangan pkerjaan maka devisa negara mungkin akan jauh lebih banyak.. selain dari itu negara juga akan semakin bisa memenuhi keperluan warganxa sendiri tanpa mengimport..contohnya beras dan daging... para petani dan peternak banyak yang bekerja keluar negeri jadi secara tidak langsung mengganggu keseimbangan dari prnduktivitas ,sebuah negara... dan tidak dipungkiri para ex tki yang dulunya petani dan peternak tidak akan lagi menjadi petani dan peternak . jadi kuranglah petani dan peternak kita..jadi wajar kita mengimport keperluan sehari hari... tki kita export ...makanan kita import.. lumayan negara kita itu pandai di permainkan pihak kapitalis.....

  1. yang jelas sih karena di negri sendiri gak ada lapangan pekerjaan dan tergiur dengan gaji yang besar. Kalau di sana gak di siksa sih gak p2 tapi kalau di siksa rasanya makin perih melihat fenomena ini :|

  1. mahfudz tejani said...:

    Bang Gupran @ sangat Setuju bang...

    Mbak Titis @ majikan dan bos itu ada yang baik atau sebaliknya. Namun terkadang faktor itu datangnya dari TKI itu sendiri. seperti tidak kerasan atau ada Miscom dengan pihak majikan

  1. Unknown said...:

    artikel yang bagus ^^

  1. mahfudz tejani said...:

    Terima kasih Chong...:-)

  1. Unknown said...:

    Terima kasih sahabat hatiku Nyit Nyit

  1. Unknown said...:

    waa,Jos gandhos om...
    Muka pun hmpir mirip pak presiden hehe ( kata tmn2 lhooo )

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani