Ternyata Penyiksa Nirmala Bonat masih bebas !

Friday, 25 November 2011

13222032051836029231
Jalan hidupnya penuh liku-liku
Masih ingatkah kita dengan kasus penderaan yang menimpa salah seorang TKW kita yang bekerja di Malaysia tujuh tahun yang lalu ? Sebuah kasus berprofil tinggi yang menyangkut hubungan dua negara antara Malaysia dan Indonesia.  Sebuah kasus yang menimbulkan banyak bantahan di Indonesia yang di sertai provokasi-provokasi tertentu.
TKW tersebut bernama Nirmala Bonat, seorang gadis yang berasal dari NTT yang bekerja dengan majikan berbangsa Cina bernama Yim Pek Ha. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Nirmala Bonat telah di siksa dan di dera sedemikian rupa di luar batas kemanusiaan. Mulai dari di setrika dadanya, di siram air panas, dipukul dengan tangan dan objek sehingga di khabarkan bahwa kepalanya luka sampai bernanah.
Mengapa Yim Pek Ha Begitu Kebal Terhadap Hukum Malaysia


13222033252003436500
Senyumnya manis namun hatinya penuh duri
Proses hukum kasus Nirmala Bonat adalah proses pengadilan  yang paling lama di antara kasus yang melibatkan TKW Indonesia. proses hukumnya begitu rumit dan terkesan berbelit-belit, Bahkan sampai sekarang Yim Pek Ha masih bebas dan hanya menjalani hukuman sehari setelah di jatuhi hukuman 18 tahun oleh pengadilan tinggi Kuala Lumpur.
Sekitar bulan Mei 2004, pihak pengadilan tinggi Kuala Lumpur telah menjatuhkan vonis 18 tahun kepada majikan Nirmala Bonat yaitu Yim Pek Ha. Namun dengan alasan tertentu pihak pengacara tertuduh mengeluarkan Yim Pek Ha dengan uang jaminan RM 200.000 setelah sehari menginap di penjara.
Dan pada bulan November 2010, Pihak pengadilan tinggi Kuala Lumpur telah memvonis 12 tahun hukuman penjara yang dilakukan dan di jalankan secara serentak atas  tiga pertuduhan yang di dakwakan kepadanya. Namun keputusan pengadilan ini belum mampu menghantarkan majikan kejam ini ke Penjara.
Karena sekitar awal Desember 2010, pihak Yim Pek Ha melalui pengacaranya meminta pengadilan tinggi Kuala Lumpur untuk mempertimbangkan kembali agar hukumanya di tangguhkan. Sekali lagi Pengadilan Kuala lumpur bermurah hati mengabulkan permohonan Yim Pek Ha tersebut. Dengan Alasan Dia ada 4 anak kecil yang harus di rawat dan di jaganya.
Dan keputusan yang terbaru tentang kasus ini adalah kemungkinan kasus ini dilupuskan/di tiadakan, andaikata pihak Nirmala Bonat tidak mampu menyediakan uang sebanyak RM 50.000 sebagai uang jaminan karena Nirmala Bonat adalah warga asing dan  sudah pulang ke Indonesia.
Namun pengacara Nirmala Bonat membantah bahwa tindakan tersebut adalah sangat tidak adil dan bertujuan hanya sekedar untuk menggagalkan pertuduhan Nirmala Bonat terhadap Majikannya. Pengacara tersebut juga meminta pengadilan tinggi Kuala Lumpur agar menolak permohonan pihak majikan tersebut, karena bersifat menekan pihak pengadilan bahwa Nirmala Bonat telah melarikan diri.
Namun dengan alasan yang kukuh, pihak pengacara Nirmala membantah bahwa Nirmala akan melarikan diri, memandangkan dia senantiasa menghadiri persidangan mualai dari 2004 sampai 2009. Lagi pula alamat Nirmala Bonat yang di Indonesia masih boleh di kesan dan bisa di hubungi.
Tapi ternyata pihak pengadilan tinggi Kuala lumpur kemarin telah memutuskan  dan membenarkan majikan Nirmala Bonat YIm Pek Ha dan Suaminya Hi Ik Ting memberikan uang jaminan sebanyak RM5.000 saja. Sambil menunggu pertuduhan selanjutnya dari pihak Nirmala Bonat
Apakah Hukum Seperti Pisau Dapur
Ternyata kebanyakan hukum adalah ibarat Pisau dapur. Ianya tajam dibagian  bawah namun senantiasa tumpul di bagian atas. Dengan makna lain bahwa Hukum tersebut sangat cepat terlaksana untuk rakyat -rakyat kecil dan marhaen, Namun adakalanya  kebal dan tumpul untuk golongan yang berduit dan berpangkat.
Seharusnya kasus berprofil tinggi seperti kasus Nirmala Bonat ini yang melibatkan dua negara, harus di segerakan dan dilaksanakan sungguh-sungguh. Namun kenyataanya jauh daripada yang kita harapkan.
Apakah karena korban dalam hal ini adalah TKW yang otomatis rakyat kecil yang terikat kaki dan tangannya ? Lantas hukum boleh di perjual belikan dan di permain-mainkan seenak perutnya sendiri.
Bagaimana yang akan terjadi andaikata dalam hal ini yang menjadi korban adalah anak orang elit atau keluarganya para ekspatariat ?
Miris dan sedih sekali melihat kenyataan ini.
Sebagai tanda sokongan moral terhadapmu wahai Nirmala Bonatku
saya dedikasikan puisi dari hati ini untukmu

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani