TV Indonesia Online dan Radio Online

Friday, 23 December 2011 0 komentar

Akankah ANGKLUNG Akan Menjadi Isu Klaim Terbaru Malaysia-Indonesia ? ?

Sunday, 18 December 2011 0 komentar

Foto di ambil dari Mingguan Malaysia
Angklung adalah alat musik khas suku Sunda yang terbuat dari bambu.  Yang dimainkan dengan cara di goyang-goyangkan sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam ukuran kecil dan besar.
Masyarakat Baduy telah menggunakan dan memainkan Angklung sejak abad ke 12 lagi sebagai bagian acara ritual sebelum di mulainya penanaman padi.  Dengan harapan untuk memikat Dewi Sri (Dewi Padi) agar turun ke bumi dan memberkahi agar tanaman padinya tumbuh subur.
Apakah Angklung Akan menjadi Isu Klaim Terbaru ?
Membaca koran Mingguan Malaysia pagi ini seketika tersentak, ketika melihat sebuah foto seorang sedang membuat Angklung sedang di perhatikan ketua Pertubuhan Kemajuan Kraftangan Malaysia Datuk Sohaimi Shahadan di sebuah mall di Johor baru yaitu Plaza Angsana.
Perlu di ketahui bahwa negeri Johor baru banyak di diami oleh masyarakat suku Jawa terutama di daerah Muar dan Batupahat. Tapi kalau masyarakat suku Sunda yang berada di Johor Baru apalagi di Malaysia belum terdengar lagi tentang komunitasnya.
Masyarakat suku Jawa yang berada di Johor Baru masih mengamalkan kebudayaan Jawa yang di wariskan secara turun temurun sampai sekarang. Di antaranya adalah Kuda kepang/Lumping, barongan/reog atau  budaya Nasi Ambeng.
Tapi kalau Angklung sendiri, sepertinya rakyat Malaysia sendiri masih asing mendengar atau melihatnya. Sedangkan Angklung sendiri sudah di akui dan terdaftar  di UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non Bendawi Manusia dari Indonesia.

13241714791496105254
Angklung di pasar seni Kuala Lumpur (dok pribadi)
Mungkinkah Hubungan MALINDO Akan Memanas lagi ?
Tidak menutup kemungkinan isu ini akan memanaskan hubungan Malaysia - Indonesia yang kian membaik baik di peringkat Pemerintah maupun peringkat rakyat kedua- duanya.
Berita-berita seperti ini hanya akan memanggil tangan-tangan luar dan anasir tertentu untuk mengocakkan hubungan yang sedia ada. Anasir tertentu akan tersenyum lebar karena mendapatkan modal dan poin tertentu untuk memancing rasa nasionalisme kedua negara, selanjutnya perbalahan dan perdebatan serta hujatan yang di sertai kecaman akan bermain di fikiran rakyat ke dua negara.
Dan tidak menutup kemungkinan berita ini akan di jadikan bahan politik para politikus di kedua negara baik partai pemerintah maupun oposisi untuk meraih dukungan politik nanti.
Seharusnya media massa di Malaysia ataupun Indonesia menghindari hal-hal yang kan menimbulkan isu sensitif yang akan mempengaruhi hubungan kedua negara. Karena Isu pengklaiman kebudayaan baru saja reda, jangan hal sepele seperti ini yang akan merusakkan hubungan baik dan akrab yang ada.
Besar harapan semoga isu-isu terpinggir seperti ini tidak akan menggoyang keakaraban kedua negara.

Seandainya Nusantara Tidak Mengenal Kolonialisme

Saturday, 3 December 2011 1 komentar



Coba kita fikirkan apa yang akan terjadi,  Seandainya Belanda, Inggris, Spanyol, atau Portugis tidak datang bertamu ke Nusantara. Apa yang akan terjadi, seandainya mereka tidak tahu bahwa Nusantara sebuah surga dunia yang ada di belahan Timur dunia. Yang pastinya tidak ada negara Indonesia, tidak ada negara Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina dan Timor Leste. Karena Kolonoalismelah yang menjadikan Nusantara  dipetak-petakkan dan di pisah-pisahkan menurut koloni-koloni yang di kuasai para penjajah tersebut

Marilah Kita berfikir lagi ! Andaikata  kolonialisme tidak menyapa Nusantara, Indonesia akan menjadi pecahan-pecahan kecil yang saling menyaingi untuk menguasai sesama lainnya. Di Jawa akan merasa megah dengan Majapahitnya,  di Sumatera akan disaingi Sriwijaya dan Samudera Pasainya, Kalimantan akan dikuasai Banjar, Gowa akan menguasai Sulawesi, dan kawasan Timur akan di kuasai Ternate dan Tidore.

Apakah kita mampu membayangkan ketika pertama kali , telinga kita mendengarkan penyanyi Inul Daratista mewakili negara Majapahit. Penulis novel Di Bawah Lindungan Ka'baah adalah Hamka berasal dari Negara Sriwijaya. Atau satu contoh lagi seorang yang Genius tentang aerologi yang di Eropa terkenal dengan panggilan Mr.Craks adalah bernama BJ.Habibie berasal dari Pare, tidak jauh dari Makassar Ibukota negara Gowa. Ternyata  Salah satu hikmah adanya penjajahan adalah  menimbulkan sebuah negara besar dan kaya yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah hikmah dalam sejuta Kemudharatan.

Begitu juga Nusantara di sebelah Utara, mungkin Malaysia dan Singapura tidak akan wujud dalam peta dunia, karena yang ada adalah negara Melaka yang meguasai bagian Selatan termasuk Temasik/Singapura, Sedangkan negara Langkasuka yang menguasai Malaysia bagian Utara dan Timur. Negeri Serawak tetap berada di bawah negara Brunei, Dan Sabah serta Mindanau/Filipina di bawah kuasa negara Sulu.

Nenek moyang kita adalah pelaut yang ulung dan seorang perantau yang cekap. Disamping itu, nenek moyang kita adalah peramah dan sangat terbuka dengan dunia luar. Maka jangan heran kalau Agama-agama baru seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam dengan mudahnya bertapak dalam keyakinan nenek moyang kita pada waktu itu.

Bukti nyata kalau nenek  moyang kita adalah perantau dan pelaut ulung, adalah penyebaran dan asimilasi orang-orang terdahulu dalam kawasan Nusantara. Karena pusat peradaban pada waktu itu di Jawa dan Melaka, maka di kedua kawsan tersebut dengan mudahnya kita mencari orang Sulawesi dengan Bugisnya, Kalimantan dengan Banjarnya, Sumatera dengan Minang dan Acehnya, Atau Orang Jawa sendiri yang keluar merantau meninggalkan Jawa.

Contohnya di Malaysia, Negeri Perak umumnya adalah keturunan Banjar dan Bugis, Di Johor umumnya keturunan Bugis, Jawa atau Riau, Di Melaka sendiri umumnya Riau dan Minang, Di pulau Pinang terdiri dari Masyarakat Aceh dan Batak. Dan yang paling istimewa adalah Negeri sembilan, yang sampai sekarang masih bangga dengan adat pepatihnya serta bangga dengan bahasa Minangnya.

Andaikata kita menyingkirkan sementara rasa nasionalisme kita, Dan kita berbicara tentang sejarah Nusantara. Apakah salah kalau masyarakat Jawa di Johor berbahasa Jawa, belajar Kuda kepang dan belajar menjadi dalang wayang kulit serta makan nasi ambang bersama-sama ? Apakah salah kalau keturunan Minang di Negeri Sembilan belajar Tari piring/lilin, belajar sejarah tentang Pagaruyung dan bangga dengan Hamka ?

Apakah salah kalau kita sama-sama menyukai dongeng Malin Kundang dan Nujum Pak belalang ?   mengapa lidah kita sama -sama menyukai sambal belacan dan suka berseloka serta berpantun kalau bicara ? karena semuanya itu berawal daripada budaya yang sama serta dialek bahasa yang hampir serupa, yang berada dalam suatu gugusan yaitu kepulauan Nusantara.

Marilah Kita singkirkan rasa Nasioalisme yang terlalu fanatik,  selama hak dan kedaulatan kita tidak terinjak-injak. Marilah kita jadikan pengalaman dan ikhtibar apa-apa yang berlaku selama ini dan jangan berikan ruang pada anasir-anasir luar untuk melaga-lagakan kita,  Kita harus Ingat dan senantiasa berfikir, bahwa tidak semua orang, komunitas ataupun negara senang dan bangga dengan keakaraban kita..

Dari sriwijaya kembali ke Majapahit
Ke Langkasuka melewati Melaka
Apabila yang di tuliskan terasa sakit
Semata-mata karena sayangkan Nusantara

Tulisan ini bisa di baca juga di Kompasiana

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani