Seandainya Nusantara Tidak Mengenal Kolonialisme

Saturday, 3 December 2011



Coba kita fikirkan apa yang akan terjadi,  Seandainya Belanda, Inggris, Spanyol, atau Portugis tidak datang bertamu ke Nusantara. Apa yang akan terjadi, seandainya mereka tidak tahu bahwa Nusantara sebuah surga dunia yang ada di belahan Timur dunia. Yang pastinya tidak ada negara Indonesia, tidak ada negara Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina dan Timor Leste. Karena Kolonoalismelah yang menjadikan Nusantara  dipetak-petakkan dan di pisah-pisahkan menurut koloni-koloni yang di kuasai para penjajah tersebut

Marilah Kita berfikir lagi ! Andaikata  kolonialisme tidak menyapa Nusantara, Indonesia akan menjadi pecahan-pecahan kecil yang saling menyaingi untuk menguasai sesama lainnya. Di Jawa akan merasa megah dengan Majapahitnya,  di Sumatera akan disaingi Sriwijaya dan Samudera Pasainya, Kalimantan akan dikuasai Banjar, Gowa akan menguasai Sulawesi, dan kawasan Timur akan di kuasai Ternate dan Tidore.

Apakah kita mampu membayangkan ketika pertama kali , telinga kita mendengarkan penyanyi Inul Daratista mewakili negara Majapahit. Penulis novel Di Bawah Lindungan Ka'baah adalah Hamka berasal dari Negara Sriwijaya. Atau satu contoh lagi seorang yang Genius tentang aerologi yang di Eropa terkenal dengan panggilan Mr.Craks adalah bernama BJ.Habibie berasal dari Pare, tidak jauh dari Makassar Ibukota negara Gowa. Ternyata  Salah satu hikmah adanya penjajahan adalah  menimbulkan sebuah negara besar dan kaya yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah hikmah dalam sejuta Kemudharatan.

Begitu juga Nusantara di sebelah Utara, mungkin Malaysia dan Singapura tidak akan wujud dalam peta dunia, karena yang ada adalah negara Melaka yang meguasai bagian Selatan termasuk Temasik/Singapura, Sedangkan negara Langkasuka yang menguasai Malaysia bagian Utara dan Timur. Negeri Serawak tetap berada di bawah negara Brunei, Dan Sabah serta Mindanau/Filipina di bawah kuasa negara Sulu.

Nenek moyang kita adalah pelaut yang ulung dan seorang perantau yang cekap. Disamping itu, nenek moyang kita adalah peramah dan sangat terbuka dengan dunia luar. Maka jangan heran kalau Agama-agama baru seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam dengan mudahnya bertapak dalam keyakinan nenek moyang kita pada waktu itu.

Bukti nyata kalau nenek  moyang kita adalah perantau dan pelaut ulung, adalah penyebaran dan asimilasi orang-orang terdahulu dalam kawasan Nusantara. Karena pusat peradaban pada waktu itu di Jawa dan Melaka, maka di kedua kawsan tersebut dengan mudahnya kita mencari orang Sulawesi dengan Bugisnya, Kalimantan dengan Banjarnya, Sumatera dengan Minang dan Acehnya, Atau Orang Jawa sendiri yang keluar merantau meninggalkan Jawa.

Contohnya di Malaysia, Negeri Perak umumnya adalah keturunan Banjar dan Bugis, Di Johor umumnya keturunan Bugis, Jawa atau Riau, Di Melaka sendiri umumnya Riau dan Minang, Di pulau Pinang terdiri dari Masyarakat Aceh dan Batak. Dan yang paling istimewa adalah Negeri sembilan, yang sampai sekarang masih bangga dengan adat pepatihnya serta bangga dengan bahasa Minangnya.

Andaikata kita menyingkirkan sementara rasa nasionalisme kita, Dan kita berbicara tentang sejarah Nusantara. Apakah salah kalau masyarakat Jawa di Johor berbahasa Jawa, belajar Kuda kepang dan belajar menjadi dalang wayang kulit serta makan nasi ambang bersama-sama ? Apakah salah kalau keturunan Minang di Negeri Sembilan belajar Tari piring/lilin, belajar sejarah tentang Pagaruyung dan bangga dengan Hamka ?

Apakah salah kalau kita sama-sama menyukai dongeng Malin Kundang dan Nujum Pak belalang ?   mengapa lidah kita sama -sama menyukai sambal belacan dan suka berseloka serta berpantun kalau bicara ? karena semuanya itu berawal daripada budaya yang sama serta dialek bahasa yang hampir serupa, yang berada dalam suatu gugusan yaitu kepulauan Nusantara.

Marilah Kita singkirkan rasa Nasioalisme yang terlalu fanatik,  selama hak dan kedaulatan kita tidak terinjak-injak. Marilah kita jadikan pengalaman dan ikhtibar apa-apa yang berlaku selama ini dan jangan berikan ruang pada anasir-anasir luar untuk melaga-lagakan kita,  Kita harus Ingat dan senantiasa berfikir, bahwa tidak semua orang, komunitas ataupun negara senang dan bangga dengan keakaraban kita..

Dari sriwijaya kembali ke Majapahit
Ke Langkasuka melewati Melaka
Apabila yang di tuliskan terasa sakit
Semata-mata karena sayangkan Nusantara

Tulisan ini bisa di baca juga di Kompasiana

1 komentar:

  1. selagi "kedatangan tamu" kolonial tersebut ada yang berdampak positif, setidaknya kita masih mengambil manfaatnya :)

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani