Hari Malaysia : Di Antara Konfrontasi Dan Komunis

Friday, 9 March 2012

Saat Malaysia merdeka dari penjajajah Inggris pada  31 Agustus 1957, namanya masih Persekutuan Tanah Malaya. Dimana area negaranya hanya meliputi Semenanjung Asia saja. 

Baru setelah penyatuan Singapura, Serawak dan Sabah (Borneo Utara) pada 16 September 1963, nama Malaysia diperkenalkan. Dikemudian hari peristiwa itu diperingati dan lebih dikenali sebagai “Hari Malaysia”.

Menjelang Hari Malaysia

Pada 27 Mei 1961, Tuanku Abdul Rahman sebagai Perdana Menteri pada waktu itu, telah mengajukan gagasan untuk membentuk Malaya Raya atau Super Federaration kepada Malcolm McDonald Komisi Jenderal Inggris untuk Asia tenggara. Juga  kepada Komisi Tinggi (Duta Besar) Inggris untuk Tanah Malaya yaitu Geofroy Troy. 

Pada dasarnya pihak Inggris setuju dengan gagasan tersebut. Namun pihak Inggris menyarankan agar pembentukan ke arah Malaya Raya di lakukan secara bertahap. Pihak Inggris menyarankan agar Tanah Malaya bergabung dulu dengan Singapura. 

Dimana pada waktu itu, keadaan politik di Singapura kurang berpihak kepada Inggris. Komunis di Singapura saat  itu semakin kuat,  dikuatiri akan mengalahkan PAP,  partainya Lee Kuan Yew pada pemilu 1964 nanti. 

Apabila Komunis menang di Singapura, pihak Inggris kuatir Singapura akan menjadi negara Kuba Asia Tenggara yang jatuh ke tangan Komunis. Pastinya Inggris akan kehilangan kepentingannya serta pangkalan militernya yang sangat strategis dalam konteks perang dingin ketika itu.

Namun Perdana Menteri Tanah Malaya ketika itu menolak saranan Inggris tersebut, dengan alasan saranan tersebut bermotif politik dan rasisme. Tapi Tuanku Abdul Rahman meminta penggabungan di laksanakan secara serentak dengan Serawak, Brunei, dan Sabah.

Indonesia dan Filipina Membantah

Mendengar rencana penyatuan Persekutuan Tanah Melayu dengan Singapura, Serawak , Brunei dan Sabah akan dilakukan. Presiden Soekarno dan Presiden Filipina Macapagal membantah tentang rencana Tanah Malaya dan Inggris tersebut. 

Presiden Soekarno yang terkenal dengan anti kolonialnya berpendapat, bahwa semua itu adalah helah dan taktik kolonial untuk bertapak dan menjajah kembali di Bumi Nusantara. Bahkan presiden Soekarno mengatakan Tanah Malaya adalah neokolonial dan jelmaan Inggris yang berusaha mengepung dan melemahkan Indonesia.

Sedangkan Presiden Macapagal membantah rencana tersebut, karena beranggapan bahwa Sabah/Borneo Utara adalah masih daerah kekuasaan Filipina. Bantahan tersebut dengan berpandukan, bahwa Sabah masih termasuk kepada daerah Kesultanan Sulu.

Untuk mengurangkan ketegangan-ketegangan antara Indonesia, Tanah Melayu dan Filipina. Maka Presiden Macapagal menyarankan sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Manila. Dimana perjanjian tersebut ditandatangani oleh ketiga Negara tersebut pada tanggal 31 juli 1963.

Inti dari perjanjian Manila tersebut adalah memberikan kuasa kepada PBB untuk mengadakan pemilu yang  bebas dan tidak ada paksaan di Serawak dan Sabah dalam menentukan nasibnya sendiri. 

Namun pengumuman Tuanku Abdur Rahman tentang penubuhan Malaysia pada tanggal 11 September 1963, tanpa menunggu pengumuman laporan Sekretaris Jendral PBB U Thant, telah mencetuskan rasa tidak puas hati Filipina dan Indonesia. Filipina langsung memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia dan Indonesia melakukan konfrontasi dengan Malaysia.

Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Pada mulanya Konfrontasi Indonesia-Malaysia hanya berupa perang kata-kata dan tekanan politik antar dua negara. Namun setelah Indonesia merasa Malaysia telah mengkhianti perjanjian yang telah dipersetujui bersama telah diingkari. Pemerintah dan rakyat Indonesia sangat berang sekali. Serangan Sukarelawan di perbatasan dan penawanan Konsulat Malaysia di Medan memberikan reaksi yang sama di Malaysia.

Akhirnya pada tanggal 17 september 1963, sekumpulan pemuda berarak dari Dewan Klub Sultan Sulaiman di Kg Baru, menuju ke Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk berdemonstrasi. Keadaan menjadi tidak terkawal dan KBRI telah dikuasai sekumpulan pemuda tersebut.

Foto Presiden Soekarno dirobek-robek dan Lambang Garuda Indonesia diturunkan. Kemudian diseret dengan sepeda motor dan skuter secara berkonvoi, menuju ke kediaman Tuanku Abdur Rahman. Mereka meminta Tuanku untuk memijaknya, sebagai membalas kepada Soekarno yang telah melakukan konfrontasi.

Mendengar hal itu, Soekarno sangat marah dan murka dengan aksi anti Indonesia  dan aksi menginjak-injak Lambang Garuda Indonesia. Untuk membalas aksi tersebut, Presiden Soekarno melancarkan gerakan Ganyang Malaysia dan memproklamirkan gerakan tersebut dalam pidato-pidatonya yang senantiasa berapi-api.

Apakah Komunis Mempengaruhi Konfrontasi ?

Pemerintah dan rakyat Malaysia sangat yakin dan mempercayai, bahwa Komunis ikut andil dalam mempengaruhi Soekarno, untuk melaksanakan gerakan konfrontasi dengan Malaysia. Terbukti sewaktu demonstrasi di KBRI pada tanggal 17 september 1963, demonstrasi tersebut membawa spanduk anti PKI dan mengecam menteri luar negeri Indonesia ketika itu yaitu Soebandrio (Tokoh Partai Komunis Indonesia). Salah satu spanduk tersebut berbunyi "Soekarno kuda tunggangan Aidit."

Tapi di dalam Malaysia sendiri, Komunis juga sedang berkembang dan menjalin hubungan yang rapat dengan Indonesia, Singapura dan Vietnam yang berorientasikan kepada negara China. 

Tokoh-tokoh berhaluan kiri Malaysia seperti Ishak haji Muhammad (Pak sako), Burhanuddin Helmi, Ibrahim Yakoob maupun  Samsiah Fakeh. Sering bertukar fikiran dan strategi dengan tokoh Komunis Indonesia. Bahkan Komunis Indonesia sering memberikan bantuan dana kepada pergerakan haluan kiri Malaysia untuk mensukseskan pergerakan mereka.

Kekalutan politik dalaman Indonesia dan kedudukan Presiden yang semakin melemah, dipergunakan sebaik-baiknya oleh PKI. Mereka berlindung dibalik ketokohan Soekarno dengan secara cerdiknya. Mereka mempergunakan kesempatan untuk memupuk kekuatan di tengah Masyarakat. 

Pada tahun 1965 dalam perayaan hari ulang tahun PKI, suasana di tiap kota berubah menjadi lautan komunis. bendera merah bergambar palu dan clurit berkibar di rumah anggota dan simpatisannya, baik di kota maupun di desa.

Pada tanggal 30 September 1965, PKI melakukan pemberontakan dan melakukan Kudeta yang membawa kepada penurunan Soekarno dari tampuk kekuasaan. Maka bermulalah babak baru dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia, setelah Indonesia di pimpin oleh Soeharto.

Maka pada 28 Mei 1966, Pemerintah Indonesia dan Malaysia mengadakan perjanjian di Bangkok, Thailand. Indonesia diwakili oleh Adam Malik dan Malaysia diwakili oleh Abdur Razak. Persetujuan tersebut ditandatangani pada tanggal 11 Agusutus 1966. 

Adapun isi ini Perjanjian Bangkok tersebut adalah sebagai berikut :
1. Rakyat Sabah dan Serawak diberi kesempatan mengenai kedudukan mereka dalam Malaysia.
2. Indonesia dan Malaysia menyetujui pemulihan hubungan diplomatik.
3. Penghentian permusuhan di antara kedua negara

Kemudian berakhirlah konfrontasi Indonesia-Malaysia pada akhir Juni 1966. Selanjutnya diadakan penjanjian perdamaian pada 11 Agustus 1966, dan di resmikan pada tanggal 13 Agustus 1966. Secara resminya Indonesia mengakhiri konfrontasi pada tahun 1967.

Sebagai tanda berakhirnya konfrontasi, serta untuk menghargai usaha Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Suharto. Maka Pemerintah Malaysia menamakan sebuah Felda di Kuala Kubu, dengan nama "Kampung Suharto".

5 komentar:

  1. Anonymous said...:

    Ganyang #eh :))

  1. Anonymous said...:

    Maaf, ditinjau ulang, Rajaratnam bukankah menlu Singapura waktu itu?

  1. Unknown said...:

    Yes kak mahfud tejani memang Is the best

  1. mahfudz tejani said...:

    Terima kasih atas koreksinya Anonymous.

    Oky Suryady @ makasih ya...

  1. Unknown said...:

    bxak orang Malaisia yang tidak suka "ganyang malaysia"

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani