Pintu Gerbang Kampung Soeharto |
KUALA LUMPUR 7 Maret - Hubungan Indonesia Malaysia
sering kali mengalami pasang surut, Ibarat gelombang selat Melaka yang
membatasi Semenanjung Malaysia dan pulau Sumatera. Ada kalanya pasang,
tapi masih dalam batas kenormalan dan adakalanya juga surut ketika
menghadapi kasus-kasus tertentu yang sering mencorakkan hubungan penting
dan keakraban kedua negara tersebut. Mulai dari kasus perbatasan baik darat
maupun lautan sampai kasus masalah tenaga kerja.
Hubungan Indonesia-Malaysia memang sudah terjalin sejak dahulu lagi, jauh sebelum kita lagi mengenal apa itu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam ataupun Filipina. Karena Kolonialisme jualah kita di petak-petakkan. Kemudian gugusan Nusantara dikotak-kotakkan dan di bagi sesama para kolonial.
Belanda yang bagiannya paling besar di Nusantara dari Sabang sampai Merauke diberi nama Indonesia, Kemudian Inggris yang mencaplok Semenanjung Asia, Sabah dan serawak di namakan Malaysia dan juga menguasai Temasik kemudian dinamakan Singapura. Sedangkan Sepanyol yang mencaplok kepulauan Sulu, Mindanao dan Luzon memberikan nama Filipina.
Hubungan Indonesia-Malaysia memang sudah terjalin sejak dahulu lagi, jauh sebelum kita lagi mengenal apa itu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam ataupun Filipina. Karena Kolonialisme jualah kita di petak-petakkan. Kemudian gugusan Nusantara dikotak-kotakkan dan di bagi sesama para kolonial.
Belanda yang bagiannya paling besar di Nusantara dari Sabang sampai Merauke diberi nama Indonesia, Kemudian Inggris yang mencaplok Semenanjung Asia, Sabah dan serawak di namakan Malaysia dan juga menguasai Temasik kemudian dinamakan Singapura. Sedangkan Sepanyol yang mencaplok kepulauan Sulu, Mindanao dan Luzon memberikan nama Filipina.
Mengapa Di Namakan Kampung Soeharto?
Hubungan Indonesia-Malaysia pernah mengalami detik hitam pada tahun 1962-1966, yaitu konfrontasi Indonesia-Malaysia. Ketika itu Indonesia masih di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan Malaysia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Tuanku Abdur Rahman.
Pada dasarnya inti dari permasalahan konfrontasi ini adalah kekhawatiran presiden Soekarno terhadap trik dan intrik kolonialisme yang ingin bertapak kembali di gugusan Nusantara.
Maka dari itu ketika Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan Malaysia di bawah PM kedua yaitu Tun Abdul Razak telah bersepakat serta berusaha untuk menjalin dan membina kembali hubungan Indonesia-Malaysia ke Arah yang lebih baik. Walaupun sebelumnya juga telah di adakan penanda-tanganan dan kesepatan untuk menghentikan Konfrontasi Malaysia-Indonesia pada tanggal 11 Agustus 1966 di Jakarta. Pada masa itu Malaysia di wakili Tun Abdul Razak (Masih Deputy Perdana Menteri) dan Indonesia Di wakili Adam Malik ( Menteri Luar Negeri).
Untuk merealisasikan kesepakatan tersebut, Presiden Soeharto dan Menteri Luar negeri Indonesia pada waktu itu yaitu Adam Malik telah melakukan kunjungan kenegaraan ke Malaysia. Dalam kunjungan tersebut Presiden soeharto juga mengunjungi sebuah kampung yang bernama Felda Sungai Dusun yang terletak di perbatasan antara negeri selangor dan negeri Perak. Dan untuk memperingati hari yang bersejarah tersebut dan juga untuk menghormati Kunjungan kenegaraan tersebut, maka Pemerintah Malaysia telah merubah nama felda sungai Dusun secara resminya menjadi Felda Soeharto
Mengenali Kampung Felda Soeharto
Felda adalah program pemerintah Malaysia yang hampir sama dengan program transmigrasi. Dan umumnya para penduduk felda ini adalah petani yang kebanyakannya adalah menanam Kelapa sawit dan karet.

Nama-nama Jalan yang unik
Felda adalah program pemerintah Malaysia yang hampir sama dengan program transmigrasi. Dan umumnya para penduduk felda ini adalah petani yang kebanyakannya adalah menanam Kelapa sawit dan karet.

Nama-nama Jalan yang unik
![]() |
Berbagai Fasilitas di Kampung Soeharto |
Tanpa terkecuali juga adalah Para penduduk Felda Soeharto ini, yang umumnya terdiri dari keturunan Melayu, Jawa , Banjar dan sebagian kaum India.
Felda Soeharto adalah tereletak di perbatasan Perak dan Selangor, yaitu di Kuala Khubu Baharu daerah Hulu Selangor (Selangor) dan Tanjung Malim (Perak). Namun kampung ini masih termasuk dalam kawasan daerah Hulu Selangor, Negeri selangor Darul Ehsan.

Untuk mencapai kampung Soeharto ini, kita bisa menggunakan jalan bertol Utara Selatan (PLUS) dan keluar di pintu tol Tanjung Malim yang jaraknya sekitar 70 KM dari Kuala lumpur. Kemudian mengikuti arah Kuala khubu Baharu melalui signboard yang ada di setiap persimpangan.
Dari Pekan Tanjung Malim ke kampung Soeharto, anda akan melalui Ladang Pisang , Karet dan Ladang Kelapa Sawit sekitar 30 KM. Setelah itu anda akan melalui sebuah perkampungan orang asli yaitu Kampung Serigala dan perkampungan tradisional melayu Gedangsa.
Link yang bersangkutan :
Hari Malaysia : Di Antara Konfrontasi Dan Komunis
Jadi terharu melihat hal ini,,,,,,,,,,
Salam wisata