Jangan Tersalah Melentur Bambu

Monday, 23 April 2012

Anak adalah Ibarat Bambu, melenturnya dari kecil
Melentur Bambu biarlah  sejak dari rebung lagi. Peribahasa ini selalu dikaitkan dengan usaha dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak kita. Anak-anak adalah ibarat sebuah kain putih, Demikinlah perbandingan yang di berikan kepada anak-anak kita. Terpulanglah kepada kita sebagai Orang tua mau mencorakkan dengan warna apa yang kita sukai  dan apa yang rencanakan.

Tapi sayangnya sebagian dari kita sering terlambat dalam melenturnya, setelah menjadi bambu terkadang baru kita mau memulainya. Akibatnya bambu yang mau di lentur malah mental memukul diri kita sendiri.

Terlalu memanjakan dan sering menuruti kehendaknya adalah cara melentur yang kurang betul. Karena apabila terlalu memanjakan sejak kecil, anak-anak akan mempunyai sikap meminta yang berlebih-lebihan. Mereka akan meminta ini  dan itu tanpa rasa puas, semakin di turuti semakin banyak yang di minta. Andaikata Permintaannya di tolak dan tidak di turuti, Mereka akan marah  bahkan sampai ada yang mengasari kedua orang tuanya.  Semakin mereka membesar, Maka semakin hebat pula permintaannya dan semakin bahaya pula tindakannya. Apakah ketika sudah sampai ke tahap ini , kita baru hendak melenturnya?
Walaupun kita berhak menetukan corak dan warna apa yang akan di pilih dalam menentukan masa depan anak kita, Tapi kadangkala corak dan warna sering bertentangan dengan adab ketimuran dan pegangan agama kita. Karena terlalu mementingkan sekulerisme, maka sejak kecil anak-anak kita telah di biasakan dengan nilai-nilai yang mengutamakan kebendaan. Mereka di ajar dan di biasakan dengan kemewahan, dan terlalu di utamakan kepada perkara-perkara yang terlalu berbentuk kebendaan. 
Nilai-nilai agama di pandang ringan dan pendidikan Agama tidak sungguh-sungguh di berikan. Sebaliknya kebebasan yang di berikan kepada anak-anak kita, kurang kita teliti dan di perhatikan. Semata-mata dengan tujuan dan alasan untuk mematangkan anak-anak kita secara lebih modern.
Akibatnya kebebasan tersebut akan merusakkan pemikkiran dan masa depan anak-anak kita sendiri. Anak-anak akan memilih hidup dengan caranya sendiri, tidak mengormati orang tua lagi, terlibat dengan Narkotika, mengamalkan free sex dan berbagai kegiatan amoral lainnya.
Apakah cara ini akan di teruskan ? Jawabanya ada pada diri kita sendiri selaku orang tua. Karena kita jugalah yang mempunyai tanggung jawab untuk melentur dan mewarnainya sejak kecil lagi.

2 komentar:

  1. Unknown said...:

    mantap boz crtanya...
    link url nya sampean tak tebengin di halaman blog aku ya boz..?'
    muayafir.blogspot.com

  1. mahfudz tejani said...:

    Yup..
    Silahkan Dengan senang hati Mas Saiful..

    Terima kasih ya
    salam

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani