Ketika Pernikahan Di Larang Pada TKI Malaysia

Saturday, 14 April 2012

Akad nikah dalam Pernikahan Siri di Malaysia
Sudah menjadi naluri manusia normal, berhasrat meneruskan silsilah keturunannya serta menyalurkan hasrat biologisnya secara normal dan sah melalui sebuah perkawinan dan pernikahan. Tapi sebagai orang yang  bekerja di luar negeri, pernikahan bagi seorang  TKI sering terbentur dengan undang-undang lokal yang tercantum dalam kontrak kerja yang di telah di tanda tangani sebelumnya.

Sepertimana di Malaysia, TKI tidak di perbolehkan menikah selama masih dalam kontrak kerja baik dengan sesama  pekerja atau dengan penduduk tempatan.

Apabila  Pernikahan Di Larang Dalam Kalangan  TKI ?
Kurang lebih sekitar 2 juta orang warga Negara Indonesia yang menjadi TKI bekerja di Malaysia. Mereka bekerja di berbagai sektor yang di perbolehkan untuk di isi dengan tenaga kerja asing seperti sektor konstruksi, Pabrik, perladangan dan perkebunan, PLRT atau di sektor cleaning service.

Sebagai manusia sosial dan normal, tidak menutup mereka kemungkinan mempunyai sahabat atau kenalan bahkan sampai ke tahap teman tapi mesra. Apalagi di dalam zaman yang semuanya serba di ujung jari, media sosial hampir di kenali di kalangan TKI. Seperti contohnya Facebook dan Twitter yang sebagian besar TKI mempunyai akun di dalamnya.

Maka dari itu apabila hubungan mereka sudah sampai ke tahap yang sangat akrab, tidak menutup kemungkinan gejala-gejala negatif akan memerangkapnya. Mungkin sudah sampai waktunya kedua Negara meneliti kembali tentang kontrak kerja yang berhubungan dengan pernikahan. Ini semuanya demi menghindari gejala-gejala yang tidak sehat di antara sesama TKI. Dan apabila tidak diperhatikan secara teliti dan serius ,maka akan timbul perkara-perkara seperti berikut :

Ø  Pergaulan Bebas
Kurangnya pemantauan, merasa mandiri karena punya penghasilan sendiri  serta  jauhnya dari keluarga, seringkali menjadi alasan  sebagian dari TKI yang bekerja di Malaysia terjerumus dalam pergaulan bebas. Apalagi TKI tersebut tidak punya saudara di di perantauan, Cuma sekedar rekan sekerja.

Karena kalau hanya sebatas teman, mereka tidak akan  terlalu mencampuri urusan-urusan yang bersifat pribadi. Lain pula apabila di bandingkan dengan saudara atau keluarga sendiri. Maka dari itu, apabila pernikahan tidak di perbolehkan sesama TKI, Apakah tidak mengundang gejala tinggal serumah tanpa ikatan apapun (Kumpul Kebo)? Selanjutnya praktek-praktek aborsi akan semakin berleluasa di dalamnya ?

Ø  Kawin Sirri
Kawin sirri adalah pernikahan yang sah secara agama saja, akan tetapi tidak mendaftarkan pernikahannya pada pihak pemerintah. Praktek seperti ini sudah biasa dan lumrah di lakukan sesama TKI.

Memang pernikahan ini di perbolehkan dalam pandangan masyarakat, Akan tetapi andaikata punya anak nantinya, Bagaimana masa depan dan status anaknya tersebut nanti ? Bagaimana dengan urusan warisan, sekolah dan sebagainya kalau tidak ada kepastian hukumnya ?

Ø  Penyalahgunaan Dokumen Palsu
Apabila pasangan tersebut mengandung dan berhasrat untuk melahirkan di Malaysia. Maka mereka harus punya visa kerja yang masih berlaku dan surat nikah sebagai syarat yang di minta di rumah sakit dan beberap klinik di Malaysia. Untuk itu mereka akan mencari surat nikah palsu dan pengesahan dari KBRI yang juga palsu dari agen-agen terselubung di Malaysia.

Biasanya pihak rumah sakit di Malaysia tidak peduli  dengan status  surat nikah tersebut,. Dan juga mungkin mereka merasa tidak punya hak untuk mengatakan sah tidaknya status surat nikah tersebut.
Dan selanjutnya surat nikah palsu tersebut bisa untuk mengajukan permohonan akta kelahiran di pihak Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) Malaysia.

Inisiatif Pihak KBRI
Banyaknya pernikahan -pernikahan yang tidak di daftarkan pada pemerintah oleh para TKI di Malaysia. Maka pihak KBRI Kuala Lumpur mengambil inisiatif untuk meringankan  dan memudahkan pendaftaran pernikahan yang di lakukan di kalangan TKI secara sah .

Bagi pasangan yang berhasrat untuk mendaftarkan pernikahannya, segeralah mendaftarkan diri ke KBRI Kuala Lumpur . Kemudian mengisi formulir yang di sediakan secara gratis dengan benar dan sesuai dengan dokumen yang mereka miliki seperti passport atau identitas lainnya, Sambil menunggu pendaftaran pernikahan dari pasangan lainnya untuk memenuhi kouta minimal 30 pasangan.

Selanjutnya Surat permohonan tadi akan di samapaikan kepada kantor Pengadilan Agama di Jakarta untuk meresponnya dengan mengiimkan perwakilannya untuk bisa melaksanakan Itsbat Nikah tersebut.
Apakah tidak sebaiknya di hapus saja kontrak kerja yang mengatur tentang pernikahan tersebut. Karena pada kenyataanya sendiri, pernikahan itu sendiri terjadi di dalam kalangan TKI.

2 komentar:

  1. Unknown said...:

    Good mas...inisiatif yg bagus

  1. Mahfudz Tejani said...:

    Terima kasih Salimah..

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani