Apakah Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia Mandul ?

Wednesday, 23 May 2012

Rakyat Indonesia senantiasa mendukung Bulu tangkis
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997, bagaikan bola salju yang menggelinding menabrak sendi-sendi negara kita. Krisis ekonomi telah menyebabkan berbagai krisis di indonesia,mulai Krisis politik, krisis kepercayaan yang membawa konflik sosial sampai krisis olahraga di berbagai bidang. Ketidak stabilan politik yang membawa keruntuhan era Soeharto, telah membawa dampak yang sangat mendalam terhadap olahraga Indonesia.
Pendanaan olah raga mengalami goncangan. Olah raga Indonesia mengalami titik kelam. Prestasi di pesta olah raga multievent seperti SEA Games dan Asian Games mengalami penurunan tajam. Indonesia kian kehilangan kultur olah raga dan makin identik dengan crash program daripada program dengan perencanaan jangka panjang.

Bulu Tangkis dan Kemandulan
Bulu Tangkis merupakan Olahraga andalan Indonesia dalam pentas olahraga dunia. Bulu tangkis Juga merupakan Olahraga Harapan rakyat untuk melihat sang Saka merah putih berkibar beriringan dengan negara lainnya dalam pesta-pesta Olahraga Dunia. Tapi sayang sekarang Bulutangkis Indonesia tak mampu lagi melahirkan jago-jago baru dalam segenap sektor. Bulutangkis Indonesia tak mampu lagi melahirkan Taufik-Taufik baru, Alan budikusuma, Ardy BW atau Joko Supriyanto yang baru.
Dan yang paling Ketara adalah pembinaan dalam sektor wanita. Dimana pengganti Mia Audina, Susy Susanti, Rosiana Tendean atau Verawati Fajrin ? Setelah hengkangnya “Si Anak Ajaib” Mia Audina ke Belanda pada tahun 1999, Dunia Bulutangkis Indonesia putri mengalami penurunan dan kemerosotan. Apakah negara lain yang melaju pesat, sedangkan Indonesia hanya berjalan di tempat ? Atau apakah ada yang salah dengan program-program dalam PBSI kita. Marilah kita lihat dan cermati statisitik ranking terbaru para Pebulutangkis kita :
1302916876517373920

Sedangkan Rangkin para pebulu tangkis kita menurut Badminton World Federation (BWF) per 17 Mei 2012 adalah:
*) Dalam ranking Tunggal Putra, Pebulutangkis gaek Taufik Hidayat berada di tangga ke 12 dan Simon Santoso di tangga 9. Sedangkan gererasi penerusnya seperti Tommy Sugiarto dan Dynosius Hayom Rumbaka berada di tangga 18 dan 22. Terdapat perbedaan jauh dalam pengkaderan, bila di bandingkan dengan China. Lin Dan masih bercokol di Rangking Ke 2, tetapi Chen Long, Chen Jin dan Du Pengyu mengikuti di ranking ke 10.
*) Rangking Tunggal Wanita, Adriyanti Firdasari di rangking 39, Lindaweni Fanetri (57) dan Mari Febe Kusumastuti di rangking 33. Ternyata sangat mengenaskan dan saya beranggapan sebagai tragedi dalam sejarah perbulutangkisan negara. Kita berada jauh di bawah Thailand, apalagi China
*)Rangking Ganda Putra, Markis Kido/Hendra Setiawan di rangking 9,Moh. Ahsan/Bona Septano ( 6)dan Alvent Yulianto/Hendra Gunawan (13).
*) Rangking Ganda Wanitanya, Dalam top 20, Ganda putri hanya berada di rangking 13, 14 dan 19yaitu pasangan Greisya Polii/ Meiliana Jauhari (13), Vita Marissa/Nadya Melati (14) dan Anneke Feinya Agustin/N. krishinda (19).
*) sedangkan Ganda campurannya, hanya pasangan pasangan Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir berada  di ranking ke 3 dan pasangan Moh Rijal/Debby Susanto (19) dalam top 20

  PSSI sudah di reformasi, PBSI kapan lagi ?
Sebenarnya kita tidak kekurangan bibit-bibit pebulutangkisnyang handal. Kalau pemain bagus sekelas Simos Santoso tidak mampu berbuat banyak dalam kancah bulutangkis dunia, yang salah adalah pembinanya. ada yang salah dengan sistem kepelatihan di Cipayung. Katanya PBSI selalu ada evaluasi, tetapi kenyataannya tidak pernah ada perbaikan yang nyata. Apa yang dievaluasi tidak pernah ada pelaksanaannya, Ini tentu memprihatinkan.
Seharusnya PBSI harus lebih terbuka dan transparan tentang apa yang semua di rencanakan. Dan jangan jadikan Kritikan serta masukan dari orang luar PBSI yang mencintai Bulu tangkis Indonesia sebagai Alergi. Tapi jadikanlah semuanya itu sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit kegagalan kita.
Banyak program yang dilakukan secara diam-diamoleh PBSI bak misi rahasia saja. Mungkin karena pengurusnya banyak yang berasal dari institusi militer sehingga soal program kerja disimpan rapat-rapat. Seperti di tempatnya berkarya, semuanya harus sesuai perintah komando.
Terbukti pada suatu ketika dengan pengangkatan pelatih baru pada waktu lalu. pengangkatan Li Mao (China) dan asistennya Wong Tat Meng (Malaysia) terkesan ada yang di sembunyikan. Apakah ada yang salah dengan yang dilakukan dengan pengangkatan pelatih baru ini.
Mengapa tidak panggil pulang saja para pelatih-pelatih yang berada di luar negeri, yang telah mengangkat banyak pemain berkelas dunia seperti Rexy mainaky atau Atik jauhari.
Atau memaksimalkan potensi-potensi sistem kepelatihan yang telah ada. Sebenarnya tidak salah kita mengintip sistem kejurulatihan di China, Korea atau Denmark untuk membndingkan dengan sistem kita. Dan yang kami harapkan semoga PBSI mengurangi Politiking dalam pembangunan Bulu tangkis Indonesia ini.

KAMI SAYANG DAN CINTA BULU TANGKIS INDONESIA

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani