Memaknai Hubungan MALINDO Dari Kacamata Kuli Batu

Tuesday, 19 June 2012

1301978674545702616
Keakraban Yang Tak Terbeli


Mengamati Hubungan Malaysia-Indonesia ibarat riak gelombang selat Melaka. Ada kalanya tenang dengan angin lautnya yang menyejukkan, tapi ada kalanya gelombangnya melebihi 3-5 meter menghempas daratan sepanjang sisi utara Pulau Sumatera dan menghempas pantai Baratnya semenanjung Malaysia. Gelombang-gelombang tersebut seringkali di pengaruhi Isu perbatasan/sempadan yang belum selesai, Isu Tenaga kerja yang masih mengambang dengan Mounya, Kebudayaan dan bahasa yang sama, Olahraga dan pengaruh pihak ketiga.

Gelombang 3-5 meter itu semakin ketara sejak dekade belakangan ini. Berawal dari isu Sipadan dan Ligitan, Yang mana Indonesia kalah dalam tuntutan bertindih di ICJ pada tahun 2003. Isu ini sangat mempengaruhi suhu politik di negara masing-masing, karena ini sudah menyangkut kedaulatan negara yang seharusnya di pertahankan.

Di Indonesia populeritas Presiden Megawati menurun tajam, Sehingga di manfaatkan oleh lawan politiknya untuk menjatuhkannya. Sedangkan  di Malaysia PM Mahathir Muhammad beserta Menlunya Syed Hamid Albar ketika itu mampu memberikan kesan terhadap kasus selanjutnya yaitu kasus pertindihan di Pulau Batu putih dengan Singapura.

Dan mencapai puncaknya ketika terjadi pelanggaran kapal peronda kedua negara di kawasan blok minyak Ambalat yang terkenal dengan kasus Ambalat. Dalam kasus ini rasa Nasionalisme kedua negara meningkat mendadak, Tapi Untunglah jalan rundingan dan diplomasi masih menjadi pilihan kedua pemimpin kita.

Isu-isu seterusnya yang sering mempengaruhi hubungan Malindo adalah  kasus penderaan PRT yang seakan-akan tak pernah habisnya. Sampai suatu saat kasus ini sempat di politikkan oleh LSM/NGO kedua-dua negara. Sedangkan dalam bidang sosial Budaya adalah yang paling banyak menimbulkan isu, diantaranya kasus lagu Rasa Sayange, Lagu Negaraku/Bubuy Bulan, rendang,Tarian Reog , Tarian Pendet dan kasus Batik.
Dan yang terbaru belakangan ini adalah kasus klaim Tarian Tor-tor dan Gondang Sembilan yang di amalkan suku Mandailing yang bermukim di Malaysia.

Bermula dari itulah timbul istilah-istilah yang memualkan. seperti Malingsia, Indonesial, Ganyang malaysia dan I hate Indon. perang kata-kata itu sampai ke dunia Maya meliputi Youtube maupun Facebook, Bahkan sampai ada yang mengehack website suatu kementerian di Malaysia.

Dalam Bidang Olahraga atau Sukan dalam bahasa Malaysianya, ketegangan -ketegangan kecil sering berlaku. Terutama dalam dunia Bulutangkis dan Sepak Bola yang merupakan olahraga favorit di kedua negara. Apabila pertandingan/perlawanan melibatkan antara Malaysia dan Indonesia dijamin tiket terjual habis dan Stadion penuh.

Bahkan sampai ada istilah dalam dunia bulutangkis Indonesia “Kalah sama Negara lain nggak apa-apa, asal jangan kalah sama Malaysia”. Dan puncaknya adalah ketika Final AFF tahun lepas yang tidak lagi di penuhi semangat sportifitas. Sebaliknya suatu Perlawanan untuk mempertahankan harga diri dan kedaulatan negara.

Apakah Ada Pihak Ketiga ?
Kehadiran Pihak ketiga juga sering mengeruhkan hubungan Malysia-Indonesia yang laksana hubungan Adik dan Abang. Pihak ketiga merasa bimbang dan cemburu dengan keakraban MALINDO yang sudah terjalin dalam sejarah panjangnya Nusantara.

Kebimbangan tersebut berdasarkan kepada dua faktor utama yaitu kebangkitan Islam dan pengukuhan kuasa ekonomi. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar  di dunia, seringkali menjadi rujukan dalam banyak hal yang berkaitan dengan perkembangan Islam, sedangkan Malaysia dengan kesederhanaan Islamnya telah melonjak sebagai negara Islam yang modern yang cukup di segani. sehingga tidak menutup kemungkinan kebangkitan Islam akan timbul dari rantau Asia tenggara.

Kebangkitan pertumbuhan ekonomi Indonesia belakangan ini membimbangkan pihak ketiga. Bahkan Indonesia di kategorikan sebagai 5 negara yang akan mencorakkan ekonomi dunia yaitu BRIIC ( Brazil, Rusia, Indonesia, India dan China). Kerjasama ekonomi yang erat antara Indonesia dan Malaysia dalam situasi ekonomi saat ini mampu menenggelamkan kekuatan ekonomi negara-negara lainnya.

Yang Dilupakan Kedua Pemerintah

Sebenarnya kedua pemerintah harus lebih agresif dalam menjernihkan keruhnya beberapa gelombang-gelombang tersebut. Dulu ketika saya masih kecil ada satu program/rancangan TV yaitu TITIAN MUHIBBAH, kerjasama TVRI dan RTM, Tapi sekarang kemana program tersebut ?

Faktor kepopuleran Siti Nurhaliza, Raihan, Kris Dayanti , Rossa bisa juga di gunakan untuk mendekatkan dan mengakrabkan hubungan yang telah terjalin ini. Atau Fenomena UPIN dan IPIN yang melanda Indonesia ketika ini bisa juga dimasukkan unsur-unsur yang mampu menghargai hubungan bilateral serta rasa serumpun dan jiran terakrab dalam peringkat rakyat Bawahan. Semua tombol-tombol telah tersedia, tinggal pemerintah tertinnginya untuk menekan tombol tersebut.

Sebenarnya dari sudut hubungan antara pemimpin/pemerintah mungkin tidak mengalami suatu masalah, karena ianya bisa di selesaikan melalaui jalan diplomasi dan meja rundingan. Tapi di peringkat rakyat bawahan, Mereka tidak melihat dari sudut NASIONAL tapi lebih kepada EMOSIONAL. Inilah kelemahan kedua-dua negara dalam mengapresiasikan semangat setia kawan, serumpun dan saudara sebangsa.

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani