Menjaring Nasionalisme Di Negeri Jiran Malaysia

Friday, 17 August 2012

Upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Pekarangan KBRI Kuala Lumpur
Apabila kita berada di negara sendiri, Kibaran Sang Saka Merah Putih setiap harinya terlihat terpacak kokoh di depan kantor-kantor maupun sekolah-sekolah kita. Dan syahdunya lagu kebangsaan  Indonesia Raya terdengar mengawali dan mengakhiri acara di TV dan radio-radio kita setiap harinya.

Tapi bagi kami seorang perantau yang jarang pulang ke pangkuan negara tercinta Indonesia. Semuanya itu hanya menjadi igauan dan mimpi semata-mata. Sang saka Merah putih hanya terpaku di dinding kamar , dan hanya akan di buka dan dikibarkan di Stadion-stadion sewaktu memberikan dukungan kepada para pahlawan olahraga yang kebetulan bertarung di sini.

Atau melihatnya sepintas kibaran megahnya sewaktu melewati Kedutaan Besar Republik Indonesia di jalan Tun Razak Kuala Lumpur. Itupun sudah terasa bangga dan mengingatkan bahwa kami masih anak ibu pertiwi yang suatu saat akan menabur bakti padanya.

Sedangkan kemerduan lagu Indonesia Raya hanya terdengar di stadion sewaktu para pahlawan olahraga akan memulakan perjuangannya dan menjadi bonus kepada kami apabila para pahlawanku mampu menterjemahkan perjuangannya dengan menjadi juara. Maka Lagu Indonesia Raya sekali lagi berkumandang di iringi tangisan dan isakan kemenangan dari kami.

Upacara Bendera Setahun Sekali
Bangun pagi ini terasa istimewa sekali, karena akan menghadiri acara rutin yang selalu kami hadiri setiap tahunnya yaitu upacara bendera dan menunggu detik-detik proklamasi di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Sempat juga  bertegang leher dengan pihak majikan karena meminta libur bukan waktunya libur. Namun setelah dijelaskan tentang makna merdeka bagi kami secara lembut dan penuh kekeluargaan. Akhirnya pihak majikan mengizinkan kami untuk pergi ke KBRI KLuntuk mengikuti upacara bendera di sana.

Suasana Keindonesiaan dan warna Merah Putih memenuhi pekarangan KBRI KL Terpancar dari wajah para saudara-saudara kami di sana yang penuh rasa bangga dan cinta kepada bangsa dan negaranya, Sesuatu yang sudah lama kami cari dan kami nanti-nantikan. Saling bertanya kabar dan bertegur sapa dalam bahasa Indonesia yang begitu kental terasa begitu membangkitkan memori sewaktu masih berada di Indonesia. Setelah sekian lama loghat bahasa Indonesia kami terikut rentak bahasa Melayu bercampur loghat bahasa Cina.

Upacara Bendera dan menunggu detik-detik Proklamasi
Dalam suasana Ramadhan, upacara bendera dan detik-detik Proklamasi sangat begitu berarti sekali bagi bangsa Indonesia dan begitu juga pada kami. Sempat terfikir peristiwa 68 tahun yang lalu di jalan Pegangsaan timur 56, dalam suasana Ramadhan juga teks Proklamasi di bacakan pada hari Jum’at pukul 10.00 WIB. Kami berharap keberkatan Ramadhan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan setanding dengan negar lainnya.

Upacara Bendera dan detik-detik proklamasi akan di mulai, kami mulai merapat dan meluruskan barisan. Terasa begitu kaku dan kikuk melaksanakan aba-aba baris berbaris. Namun berbekalkan rasa Nasionalis dan Patriotis yang masih tertanam rapat, kubiarkan berlalu apa adanya.

Air mataku mengalir dengan sendirinya sewaktu acara menaikkan Sang Saka Merah Putih yang di iringi lagu Indonesia Raya. Ingatan tentang perjalanan bangsa Indonesia terasa seperti lembaran-lembaran hidup yang bergantian memenuhi pemikiranku. Ingatan ketika Ibu pertiwi berjuang untuk mendapatkan kemerdekaanya. Ingatan tentang Ibu Pertiwi yang di khianati dan di ratah tubuh indahnya oleh oknum-oknum yang katanya kaum Borjuis. Ingatan tentang Ibu pertiwi yang terjual dan tergadai tubuh moleknya oleh pemerintah atas nama diplomasi yang basi.

Menjaring rasa Nasionalisme yang semakin Memudar
Tadi sebelum upacara bendera di mulakan, sempat terbersit dalam pemikiranku tentang apa makna sebenarnya Nasionalisme itu sendiri.
Apakah melakukan dan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin itu Nasionalisme ?
Apakah menaikkan bendera Merah Putih di tiang depan rumah kita itu Nasionalisme ?
Apakah mendukung Timnas Olahraga kita setiap waktu itu adalah Nasionalisme?
Dan Apakah para koruptor yang menggerogoti tubuh sintal ibu pertiwi itu tidak Nasionalisme ?
Dan apakah setiap generasi muda yang menjadikan  budaya luar sebagai kiblatnya itu tidak Nasionalisme ?

Sambil berjalan pulang , pertanyaan itu masih memenuhi pemikiranku. Dan Pertanyaan itu akan senantiasa ada, selagi Nasionalisme sendiri tidak menjawab pertanyaan tadi.

2 komentar:

  1. Unknown said...:

    Rugi aku tidak hadir. Tapi bagai mana pun indonesia tetap di hati ku. Hidup indonesia raya

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani