Jangan Biarkan Kepercayaan Itu Memudar (Malindo)

Thursday, 15 November 2012


Belum sampai sebulan , hubungan Malaysia-Indonesia (Malindo) mengalami pasang surut ibarat ombak selat Melaka yang menghempas daratan ke dua belah pihak.
Mulai dari kasus Iklan “TKI On Sale” , sebuah iklan liar yang di tampal di jalan Chowkit Kuala Lumpur seolah- olah memperdagangkan tTenaga Kerja Indonesia (TKI) ibarat sebuah budak atau hamba sahaya di era modern ini.

Tak  lama kemudian dari kasus iklan tersebut hubungan Malindo di uji kembali, Pemerkosaan bergilir yang dilakukan tiga aparatur Malaysia (Polisi) terhadap seorang TKI pada pagi hari di sebuah kamar di sebuah kantor Polisi Seberang Perai , Pulau Pinang ibarat tsunami  menghempas pantai kedua negara.

Keesoakan harinya tsunami susulan berlaku kembali mengguncang hubungan Malindo yang memang panas. Pemerkosaan seorang majikan terhadap pembantu rumahnya yang juga TKI di Seremban, Negeri sembilan. menambah  panas hubungan yang ada.

Dari ketiga kasus tersebut , seakan-akan membuka kembali memory luka hubungan Malindo yang banyak menimbulkan parut-parut luka dalam dekade belakangan ini. setiap ada kasus yang melibatkan rakyat Indonesia di Malysia seakan -akan api kemarahan langsung berkobar dan membara
Mengapa sampai begitu ?
Sepertinya rasa kepercayaaan sebagai tetangga terdekat begitu mudahnya memudar .

Salah Satu Alasan kepercayaan Memudar 

Setelah kalahnya Indonesia dalam sengketa Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia pada tanggal 17 Desember 2002 di Mahkamah Internasional.  Setelah kedua belah negara setuju dan sepakat membawa kasus ini ke Mahkamah internasional pada 1997, hubungan kedua belah negara mulai pasang surut dalam abad ke -21.

Apalagi setelah adanya kasus Ambalat, rasa nasionalisme kedua negara membara mendekati konflik hubungan dua negara bertetangga ini yang di ibaratkan hubungan abang adik . Indonesia sebagai abang karena merdeka lebih dulu dari sang adik yaitu Malaysia.

Bahkan ada yang berkata, bahwa  Indonesia selalu iri dengan kemajuan negara Malaysia yang pesat membangun mulai tahun 80an,Apalagi ketika itu Malaysia di bawah era Tun Mahathir Mohammad. Tapi saya berasumsi, seandainya Indonesia memangn iri dengan Malaysia, mengapa hubungan Malindo dan hubungan Soeharto-Mahathir (G2G) senantiasa membaik dan akrab sebelum kedua kasus di atas ?

Salah satu alasan mengapa kepercayaan rakyat Indonesia terhadap Malaysia semakin memudar  adalah Pemerintah Malaysia kurang memberi perhatian khusus terhadap kasus-kasus berprofil tinggi yang menyangkut dan mempengaruhi hubungan Malindo.

Proses peradilan yang melibatkan kasus-kasus tersebut terkesan bertele-tele dan dilambat-dilambatkan dalam mata rakyat Indonesia.
Salah satu contohnya adalah kasus penderaan Nirmala Bonat yang memakan waktu 8 tahun. Mengapa kasus berprofil tinggi seperti itu memakan waktu yang lama ? artikel berkaitan lambatnya proses peradilan bisa di baca Di Nirmala1 dan Nirmala2. Sepertinya ada orang penting yang ingin menyelamatkan Yim Pek Ha untuk di sumbatkan ke dalam Penjara.

Dan satu lagi kemana kasus Iklan TKI on sale yang katanya mau di tindak dengan tegas melalui UU dan Hukum yang berlaku di Malaysia ?

Maka dari itu Pemerintah dan rakyat Indonesia mempunyai fikiran dan sebab untuk tidak mempercayai dan ragu tentang  ketulusan dan ketegasan proses peradilan tentang kasus -kasus terbaru yang melibatkan hubungan Malindo.

Inilah waktunya pemerintah Malaysia menunjukkan kesungguhannya dengan menindak tegas pelaku-pelaku  dalam dua kasus  pemerkaosaan itu. sekaligus menarik kembali kepercayaan-kepercayaan rakyat Indonesia yang kian memudar.

Dan kami harap juga LSM-LSM tidak tinggal diam dan tidak pilih bulu serta membisu dalam melihat kasus-kasus yang melibatkan hubungan Malindo.

Apapun  ketegasan aparatur pemerintah Malaysia dan pihak Polisi Malaysia (PDRM) dalam kasus ini patut di berikan dukungan positif. Dan juga berharap kasus-kasus ini segera di tuntaskan

Salam dari Kuala Lumpur

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani