Mendirikan Partai Politik Membangun Dinasti

Saturday, 12 January 2013



Tujuan mendirikan sebuah Partai Politik (Parpol) adalah untuk mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Tujuan idealnya adalah bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu, melainkan untuk seluruh bangsa Indonesia. Tidak peduli adanya beberapa perbedaan, baik suku, agama, bahasa, budaya dan sebagainya.

Selain itu sebuah Parpol didirikan bertujuan untuk mengembangkan kehidupan  demokrasi yang berdasarkan Pancasila dan kedaulatan rakyat di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan adanya parpol , kehidupan demokrasi dapat berkembang sehingga kedaulatan rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat bisa tercapai.

Lantas bagaimana apabila sebuah parpol dipenuhi oleh para kerabat, para sahabat dan orang-orang terdekat ? Apakah mereka bukan mendirikan dinasti baru namanya ?

Fenomena suksesi politik Indonesia belakangan ini baik di tingkat nasional maupun daerah yang diramaikan para ahli keluarga dan kerabat yang menjadi kandidat setingkat Pilkades, Pilkdada, Pilgub atau Pilpres. Sehingga seakan-akan politik keluarga mendapatkan legitimasi yang kuat dan menjadi inspirasi  dinasti yang lain ketika para politik keluarga mampu mempertahankan kekuasaannya.

Memang semua warga negara dijamin secara hukum dan perundang-undangan untuk memilih dan dipilih dalam setiap momentum politik pemilihan umum.
Tapi para kandidat tersebut harus mempunyai kemampuan ,intelektualitas, kapasitas , kapabilitas dan keterampilan politik yag ada. Bukan malah mengambil jalan pintas tanpa harus merangkak dari bawah terlebih dahulu untuk menguji kemampuannya.

Politik Dinasti Adalah Hal Biasa
Negara demokrasi semaju Amerika Serikat saja masih sempat diwarnai politik dinasti, lihat saja bagaimana dinasti Kennedy dan Bush menguasai kepemimpinan di Amerika. Kalau di Asia dinasti politik masih berlangsung sehingga hari ini, bahkan di make up serapi mungkin seakan-akan demokrasi berperanan penting di dalamnya.

Contohnya di Asia Selatan seperti India, Pakistan atau Bangladesh, politik dinasti masih dominan dalam perpolitikan di negara tersebut. Dinasti Gandhi dengan Partai Kongres nasional Indianya (Indian National Congress) masih berpengaruh sampai kini di negara seribu kuil tersebut. Dinasti Gandhi berkuasa berawal dari kepemimpinan Jawaharlal Nehru, Indira Gandhi, Rajiv gandhi, Sonia Gandhi hingga Rahul Gandhi yang dipersiapkan dalam kepemimpinan INC dan India pada masa akan datang.

Sedangkan di dunia perpolitikan Pakistan sendiri identik dengan Dinasti Bhuto. Dinasti Bhuto dengan Partai  Rakyat Pakistannya (Pakistan People Party) menguasai dunia politik Pakistan mulai dari Zulfikar Ali Bhuto, Nusrat Bhuto, Benazir Bhuto, Asif Ali Zardari (Suami Benazir) hingga Bilawal Bhuto Zardari. Perlu di ketahui, Bilawal dalam umur 19 tahun sudah memimpin Partai Rakyat Pakistan (PPP).

Lain lagi di Bangladesh, Liga Awami Bangladesh dan Partai Nasionalis Bangladesh ( Bangladesh Nationalist Party) merupakan dua dinasti yang saling bersaing dalam kepemimpinan Bangladesh. Apabila sang Suami yang menjadi pemimpin terbunuh, maka sang Istri yang menggantikannya. Lihat saja Sheik Hasina Wazed dan Begum Khaleda Zia, walaupun kemampuannya diragui, namun tetap dicalonkan oleh partai dan pengikutnya.

Di Singapura , Lee Kuan Yew dengan Partai Aksi Rakyatnya (People's Action  Party) atau PAP mampu menetukan arah tujuan Singapura. Dan sudah sejak dulu lagi , Lee Kuan Yew sudah mempersiapkan kelanjutan dinastinya yaitu Lee Hsien Loong sang PM singapura yang sekarang. Lee Kuan Yew terkenal dengan statement politiknya yaitu seorang pemimpin itu harus ditakuti daripada dihormati.

Bagaimana dengan Indonesia dan Malaysia ?
Dinasti- dinasti perpolitikan di Indonesia dan Malaysia seringkali berorientasikan pada tokoh-tokoh tertentu. Terkadang karena susur galur keturunan tokoh tersebut, seringkali kemampuan , intelektualitas dan kapasitas sebagai calon pemimpin kurang di perhatikan. Secara kasarnya parpol dan ahli di dalamnya hanya menjual darah kepemimpinan seorang tokoh tertentu yang mengalir di tubuhnya.  Namun tidak semuanya tidak berkemampuan karena ada juga kerabat/keluarga tokoh tertentu ternyata sukses dan mempunyai kemampuan untuk memimpin.

Di Malaysia , dinasti politik sudah dianggap hal yang biasa dan hampir kesemuanya Parpol di Malaysia di kuasai dinasti tertentu. Lihat saja di partai Pemerintah seperti UMNO (Melayu), Malaysian Chinese Association (MCA), Malaysian Indian Congress (MIC), Partai Gerakan , PPP dan lainnya dikuasai beberapa dinasti yang saling bergantian kepemimpinannya di dalam partai.

Sama juga dengan pihak oposisi, Partainya Anwar Ibrahim, Partai Keadilan Rakyat (PKR). Wan Azizah (Isteri) dan Nurul Izzah (Anak) semuanya berkecimpung di dalamnya.
Sedangkan Lim Kit Siang dengan DAPnya (Democratic Action People's) membentuk dinasti yang paling ketara di Malaysia. Mulai dari anak hingga menantu semuanya berperanan penting di dalamnya. DAP merupakan partai pecahan dari PAP di Singapura.

Bagaimana dengan Indonesia ?
Politik kekerabatan atau Politik Dinasti masih mengental dan sulit dilepaskan dari atmosfir perpolitikan di Indonesia. Parpol masih dilihat sebagi miliknya sendiri dan masih di lihat sebagai perusahaan terbatas milik keluarga pendiri.Sehingga kerabat dan sanak saudara diletakkan sebagai jajaran direksi dan kepemimpinan tertinggi.

 Tidak bisa dipungkiri, politik dinasti tersebut mempengaruhi kelangsungan demokrasi di dalamnya. Politik dinansti memberikan ruang menganga dan peluang menancapnya pengaruh keluarga tertentu demi kelangsungan dinasti tertentu. Bahkan bisa saja menjadi absolut, ketika ruang kritik tertutup rapat kmudian keputusan dan regulasi kepemimpinan terkesan ekslusif.

Dan selanjutnya apabila politik dinasti berkesempatan menguasai politik negara, maka pemerintahan negara akan kaku dan otoriter. Karena tidak menutup kemungkinan pos-pos peting negara akan diisi dengan sanak saudara dan kerabat dan pemerintahan akan lebih tertumpu pada kepentingan keluarga dan para kroni.

Lihat saja contoh nyata dalam beberapa Parpol di Indonesia pada saat ini, dimana anak atau kerabat dengan mudahnya mengisi pos-pos penting dalam Partai tanpa harus merayap dulu dari bawah. Dan kekentalan kepemimpinannya tidak teruji selayaknya ahli-ahli yang lain.

Sehinngga Partai Politik ruang geraknya dipersempit dan terkesan sebagai jalan ruang perebutan kekuasaan politik selanjutnya dijadikan paspor untuk menuai kekayaaan secara singkat. Sementara rakyat umum dibayar (Money Politics) untuk melegalkan manipulasi politiknya lewat pemilihan umum dan aksi-aksi protes jalanan.

Namun tidak ada salahnya mempraktekan Politik Dinasti , selama calon yang harapkan mempunyai kemampuan,kualitas, kapabiltas serta intelektualitas sebagai calon pemimpin, bukan hanya dilihat sebagai faktor keturunan dan kekerabatan saja.Sepertimana kata Puan Maharani ,

"Tidak ada aturan yang melarang politik dinasti.Politik dinasti dibenarkan sejauh orang yang dipersiapkan memiliki kompetensi kapasitas dan narasi."
Dinasti politik bukan hal yang mengkhawatirkan selama syarat keberadaanya tetap stabil dan berkualitas. Dampak positif dan negatifnya tergantung pada landasan dan filsafat politiknya.
Siapakah calon pemimpin favorit anda dari para calon pemimpin yang lahir dari dinasti politik dalam pesta kepemimpinan 2014 nanti ?
 Apakah Puan Maharani (anak Megawati), Hanafi Rais atau Ibas Yudhoyono ?


Salam dari seberang

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani