TKI Malaysia Belajar Mendongeng Dan Perencanaan Keuangan

Saturday, 30 November 2013 0 komentar

Kiky Harahap memberikan presentasi

Setelah sukses  mengadakan pelatihan singkat tentang pengenalan potensi diri pada Minggu yang lalu. Sekali lagi Edukasi Untuk Bangsa (EUB) menggelar pelatihan kembali terhadap para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) , Yaitu pelatihan mendongeng dan perencanaan keuangan.
Pelatihan tersebut diadakan di tempat yang sama yaitu di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) pada hari Minggu (24/11). Didalam pelatihan tersebut EUB bekerja sama dengan Komunitas Ibu Mengajar menghadirkan tokoh dongeng nusantara yaitu Sidik Budiyanto yang lebih dikenali dengan panggilan Kak Sidik.

Sedangkan pada sesi kedua yaitu tentang perencanaan keuangan , EUB dan Komunitas Ibu Mengajar menghadirkan Kiky Harahap dari Associate Financial Planner Malaysia (AFPM). Kedua pelatihan tersebut merupakan kesinambungan dari pelatihan sebelumnya mendapatkan sambutan sekitar  70 orang peserta yang umumnya para TKI.

Kak Sidik memberikan kiat-kiat khusu dalam mendongeng

Berawal dari mendongeng terhadap anak-anaknya sendiri dan anak para tetangga, Kak Sidik melihat peluang mendongeng cukup cerah. Karena banyaknya panggilan untuk mendongeng, maka kak Sidik terpaksa meninggalkan pekerjaan yang berhubungan IT.

“Saya sudah tidak tahu untuk berbohong lagi dengan perusahaan karena selalu datang lambat, maka saya terpaksa memilih diantara pekerjaan dalam zona nyaman dengan pekerjaan mendongeng”. Ujar kak Sidik di sela-sela presentasinya.
Kak Sidik menceritakan pengalamannya, karena mendongeng pula beliau bisa keliling nusantara. Yang tidak dapat dilupakan adalah ketika mendongeng dihadapan anak-anak di sepanjang  perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Memberikan kenang-kenangan terhadap para peserta


Apakah mendongeng sebuah profesi yang menjanjikan ?
Menurut Kak Sidik jawabannya bisa ya atau tidak. Apabila “ya” jawabannya karena dengan mendongeng kita bisa menjadikan sebuah profesi yang mampu menghasilkan pendapatan antara 500 ribu sampai dengan 8 juta sekali manggung.
Dan apabila jawabannya adalah “tidak”, itu berarti hanya demi untuk berbagi terhadap sesame dan juga demi kepuasan diri sendiri.

Bagaimana Cara Menghabiskan Uang Dengan Benar.

Pada sesi selanjutnya, para TKI disuguhkan dengan pelatihan tentang cara pengurusan dan perencanaan uang. Presentasi tersebut disampaikan oleh Kiky Harahap dari AFPM,  memberikan presentasi dengan   judul  “Ngabisin duit yukk !! dan bagaimana cara menghabiskan uang dengan benar.
Pemilik nama asli Rizki Laila Harahap ini memberikan kiat-kiat  bagaimana cara mengurus gaji dengan benar. Setelah berinteraksi dan bertanya dengan para TKI , Bagaimana cara mereka menghabiskan uang gajinya dan apakah cukup atau tidak gajai yang diterima.
Tanya jawab seputar perencanaan Uang

Dari respon yang diterima, ternyata umumnya para TKI banyak yang tidak cukup cukup dengan gajinya. Karena mereka tidak tahu mengatur keuangannya dan banyak cara salah dalam menghabiskan uang gajinya.
Kiky memberikan sebuah solusi dalam mengurus keuangan para TKI, dengan mendahulukan utang dan kewajiban , tabungan pribadi dan sisanya adalah kebutuhan harian.

Beliau memberikan analogi dari setiap gaji yang diterima adalah 30% untuk utang (maksimum utang), 30% untuk tabungan dan 30-40% untuk kebutuhan pribadi atau sehari-hari.
Kiky menasehatkan para TKI agar berhati-hati dengan yang namanya hutang, Dan jangan sampai lebih dari 30% dari penghasilan. Dalam hutang, beliau juga menjelaskan bahwa ada hutang yang boleh dan ada hutang yang tidak boleh.

Hutang yang boleh dinamakan hutang produktif , yang berarti karena bisa menghasilkan uang dan bisa digunakan untu hidup. Seperti  cicilan rumah, mobil atau motor.

Sedangkan hutang yang tidak boleh dinamakan hutang konsumtif, bermakna hutang yang yang apabila kita tinggalkan tidak apa-apa. Seperti  alat elektronk, pesta atau bahkan isi pulsa HP. Disamping itu , Kiky juga memberikan kiat-kiat menabung dan investasi yang benar kepada para TKI.

Pengurus EUB Aulia Badar memberikan pin dan sertifikat kepada kak Sidik

Pengurus EUB Aulia Badar memberikan pin dan sertifikat kepada Kiky Harahap

Jangan Panggil Kami INDON, Tapi Indonesia !

Wednesday, 13 November 2013 24 komentar

Panggilah Kami Indonesia

Dalam minggu ini, perkataan "INDON" menjadi polemik lagi dalam media sosial . Semuanya tersebut menjadi panas kembali terpicu oleh sebuah pemberitaan sebuah media massa di Malaysia pada kolom olahraganya yaitu Arena. Sebenarnya tidak ada yang kontroversi di dalam pemberitaannya, tetapi judul artikel tersebut yang menyentuh rasa sensitif masyarakat Indonesia (WNI) di Malaysia.

Apa sih makna kata "Indon" tersebut dilihat dari perspektif Malaysia dan Indonesia ?
Bagi media dan rakyat Malaysia, pengertian  kata "Indon"  adalah bermakna istilah singkat yang ditujukan kepada Indonesia atau hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat dan warga Indonesia. Contohnya Minah Indon artinya perempuan Indonesia , Mat Indon artinya pemuda/lelaki Indonesia atau pekerja Indon artinya pekerja yang berasal dari Indonesia.

Sedangkan makna Indon bagi  Indonesia sendiri adalah perkataan yang bermaksud atau berkonotasi negatif  dan terkadang sampai tahap melecehkan atau penghinaan. Namun dari pihak Malaysia sendiri menyangkal bahwa perkataan "Indon" tersebut adalah sebuah penghinaan atau pelecehan. Karena katanya kata "Indon" tersebut hanya panggilan biasa yang bermaksud Indonesia.
Sedangkan saya cari kata Indon didalam kamus dwibahasa Oxford fajar Malaysia-Inggris edisi ke-empat (2007), tidak ditemukan kata tersebut. Namun pada kamus dwibahasa Oxford fajar Malaysia-Inggris (2011) telah ditambahkan kata "Indo" , Descendent  of a native ( with no connotation to a particular race unless specified ). Yang membawa artian kurang lebihnya adalah keturunan Asli (tanpa konotasi kepada ras tertentu).
Dan saya coba telusuri melalui google translate  dari Inggris-Malaysia atau sebaliknya  , kata "Indon" tidak memberikan makna apapun tetap kata "Indon".

Perlu diketahui bahwa dalam beberapa kata, orang Malaysia mempunyai kebiasaan  menyingkat-nyingkat sebuah nama atau panggilan. Seperti nama Mohammad menjadi Mat, Sudah menjadi Dah atau Pergi menjadi Gi. Kalau yang merujuk kepada nama negara adalah Bangladesh disingkat Bangla. Lalu timbul dalam pertanyaan dalam fikiran saya, Mengapa orang Pakistan di Malaysia tidak disebut Pakis ? atau orang Thailand tidak disebut Thai ?
Dan ada lagi kebiasaan yang orang Malaysia ( biasanya orang China) sering lakukan adalah menyebut atau memanggil seseorang berdasarkan bentuk fisikalnya. Contohnya adalah apabila orangnya tinggi dan kurus maka akan dipanggil "Panjang", Kalau orangnya agak subur sedikit maka akan dipanggil "Gemuk" atau kalau orangnya kurang tinggi, maka akan dipanggil "Pendek"

Sayapun kurang pasti sejak kapan orang Indonesia di panggil sebagai Indon.Dan yang anehnya banyak orang Indonesia sendiri membahasakan dirinya sebagai Indon.Terutama dalam sektor konstruksi/bangunan, perkataan Indon adalah hal yang lumrah kedengarannya. Terus siapa yang salah dalam hal ini ? dan mungkin juga sudah bukan waktunya memperdebatkan tentang hal ini. Namun kita sebagai orang Indonesia sendiri mempunyai tanggung jawab sosial untuk merubah persepsi tentang hal itu.
Artikel  kontroversi harian Metro 


Sebenarnya pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur telah melakukan bantahan dengan mengirimkan surat protes kepada media dan pemerintah Malaysia sendiri pada tanggal 13 Mei 2007. Dan mendapat respon positif dari mereka, sehingga pada tanggal 24 Mei 2007, Datuk Seri Zainuddin Maidin melalui kementerian penerangan Malaysia menghimbau kepada warga dan medianya agar tidak menggunakan kata "Indon" lagi karena perkataan tersebut membawa makna konotasi negatif bagi Indonesia.

Maka sejak itu, perkataan "Indon" mulai berkurangan dalam menggambarkan orang Indonesia di dalam media massa Malaysia. Namun pada tahun 2011, sebuah koran harian Malaysia yaitu Berita harian membuat ulah kembali. Mereka memuat sebuah artikel dengan judul "Taktik Kotor Indon", sebuah artikel tentang ketidakpuasan Malaysia, Karena Indonesia sebagai tuan rumah Sea games menambha beberapa cabang olahraga yang menguntungkan Indonesia sebagai tuan rumah.
Dan yang terbaru adalah pada hari Sabtu tanggal 9 November 2013 yang lalu, harian Metro memuat artikel dengan judul "Messi Indon". Walaupun isi artikel tersebut tidak ada yang kontroversi mengenai Andik Vermansyah, namun judul tersebut membelakangkan etika jurnalistik. Dan secara kebetulan kedua korn tersebut bernaung dibawah New Strait Times Press (NSTP) Malaysia Berhad.

Apa Yang Harus Kita Lakukan ?

Untuk mengubah persepsi negatif tersebut, kita harus berinisiatif sendiri. KBRI Kuala Lumpur sebagai wakil pemerintah harus bekerja sama dan saling bahu membahu dengan beberapa organisasi masyarakat Indonesia dan paguyuban-paguyuban WNI di Malaysia.

KBRI Kuala Lumpur, di samping menyampaikan bantahan dan surat protes kepada pihak media dan Pemerintah Malaysia. Juga senantiasa menghimbau para WNI di Malaysia agar tidak membahasakan dirinya dengan menyebut "Indon". KBRI bisa menggunakan saluran-saluran alternatif dan media sosial seperti Facebook, twitter bahkan membuat video di youtube untuk menyampaikan pesan kepada WNI di Malaysia.

Organisasi Masyarakat, seperti Persatuan Malaysia Indonesia (Permai) atau Ikatan Komunitas Merah Putih (IKMP) dan ormas lainnya senantiasa membantu KBRI mensosialisakan kepada anggota , masyarakat Indonesia dan warganegara Malaysia sendiri bahwa perkataan "Indon" membawa makna negatif bagi orang Indonesia.

Warganegara Indonesia (WNI) sendiri saling menginformasikan sesama WNI, bahwa jangan sesekali menyebut dirinya orang "Indon". Dan menegur secara sopan siapa saja yang menyebut dan memanggil orang Indonesia sebagai Indon. Dan memulakan dari dirinya sendiri, keluarga  serta lingkungan sosialisanya.

Apabila hal tersebut dilakukan, saya yakin penggunaan kata "Indon" akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi hala ini membutuhkan waktu serta komitmen dari kita semua.
Dan kami harap kepada warga Malaysia dan medianya jangan paggil kami lagi "Indon". Andaikata tidak mau menulis atau menyebut penuh Indonesia, bisa paggil atau menulis Indonesia dengan INA sebagaimana nama akronim resmi Indonesia di dunia Internasional.

Salam damai tanpa prejudis



 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani