Jangan Panggil Kami INDON, Tapi Indonesia !

Wednesday, 13 November 2013

Panggilah Kami Indonesia

Dalam minggu ini, perkataan "INDON" menjadi polemik lagi dalam media sosial . Semuanya tersebut menjadi panas kembali terpicu oleh sebuah pemberitaan sebuah media massa di Malaysia pada kolom olahraganya yaitu Arena. Sebenarnya tidak ada yang kontroversi di dalam pemberitaannya, tetapi judul artikel tersebut yang menyentuh rasa sensitif masyarakat Indonesia (WNI) di Malaysia.

Apa sih makna kata "Indon" tersebut dilihat dari perspektif Malaysia dan Indonesia ?
Bagi media dan rakyat Malaysia, pengertian  kata "Indon"  adalah bermakna istilah singkat yang ditujukan kepada Indonesia atau hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat dan warga Indonesia. Contohnya Minah Indon artinya perempuan Indonesia , Mat Indon artinya pemuda/lelaki Indonesia atau pekerja Indon artinya pekerja yang berasal dari Indonesia.

Sedangkan makna Indon bagi  Indonesia sendiri adalah perkataan yang bermaksud atau berkonotasi negatif  dan terkadang sampai tahap melecehkan atau penghinaan. Namun dari pihak Malaysia sendiri menyangkal bahwa perkataan "Indon" tersebut adalah sebuah penghinaan atau pelecehan. Karena katanya kata "Indon" tersebut hanya panggilan biasa yang bermaksud Indonesia.
Sedangkan saya cari kata Indon didalam kamus dwibahasa Oxford fajar Malaysia-Inggris edisi ke-empat (2007), tidak ditemukan kata tersebut. Namun pada kamus dwibahasa Oxford fajar Malaysia-Inggris (2011) telah ditambahkan kata "Indo" , Descendent  of a native ( with no connotation to a particular race unless specified ). Yang membawa artian kurang lebihnya adalah keturunan Asli (tanpa konotasi kepada ras tertentu).
Dan saya coba telusuri melalui google translate  dari Inggris-Malaysia atau sebaliknya  , kata "Indon" tidak memberikan makna apapun tetap kata "Indon".

Perlu diketahui bahwa dalam beberapa kata, orang Malaysia mempunyai kebiasaan  menyingkat-nyingkat sebuah nama atau panggilan. Seperti nama Mohammad menjadi Mat, Sudah menjadi Dah atau Pergi menjadi Gi. Kalau yang merujuk kepada nama negara adalah Bangladesh disingkat Bangla. Lalu timbul dalam pertanyaan dalam fikiran saya, Mengapa orang Pakistan di Malaysia tidak disebut Pakis ? atau orang Thailand tidak disebut Thai ?
Dan ada lagi kebiasaan yang orang Malaysia ( biasanya orang China) sering lakukan adalah menyebut atau memanggil seseorang berdasarkan bentuk fisikalnya. Contohnya adalah apabila orangnya tinggi dan kurus maka akan dipanggil "Panjang", Kalau orangnya agak subur sedikit maka akan dipanggil "Gemuk" atau kalau orangnya kurang tinggi, maka akan dipanggil "Pendek"

Sayapun kurang pasti sejak kapan orang Indonesia di panggil sebagai Indon.Dan yang anehnya banyak orang Indonesia sendiri membahasakan dirinya sebagai Indon.Terutama dalam sektor konstruksi/bangunan, perkataan Indon adalah hal yang lumrah kedengarannya. Terus siapa yang salah dalam hal ini ? dan mungkin juga sudah bukan waktunya memperdebatkan tentang hal ini. Namun kita sebagai orang Indonesia sendiri mempunyai tanggung jawab sosial untuk merubah persepsi tentang hal itu.
Artikel  kontroversi harian Metro 


Sebenarnya pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur telah melakukan bantahan dengan mengirimkan surat protes kepada media dan pemerintah Malaysia sendiri pada tanggal 13 Mei 2007. Dan mendapat respon positif dari mereka, sehingga pada tanggal 24 Mei 2007, Datuk Seri Zainuddin Maidin melalui kementerian penerangan Malaysia menghimbau kepada warga dan medianya agar tidak menggunakan kata "Indon" lagi karena perkataan tersebut membawa makna konotasi negatif bagi Indonesia.

Maka sejak itu, perkataan "Indon" mulai berkurangan dalam menggambarkan orang Indonesia di dalam media massa Malaysia. Namun pada tahun 2011, sebuah koran harian Malaysia yaitu Berita harian membuat ulah kembali. Mereka memuat sebuah artikel dengan judul "Taktik Kotor Indon", sebuah artikel tentang ketidakpuasan Malaysia, Karena Indonesia sebagai tuan rumah Sea games menambha beberapa cabang olahraga yang menguntungkan Indonesia sebagai tuan rumah.
Dan yang terbaru adalah pada hari Sabtu tanggal 9 November 2013 yang lalu, harian Metro memuat artikel dengan judul "Messi Indon". Walaupun isi artikel tersebut tidak ada yang kontroversi mengenai Andik Vermansyah, namun judul tersebut membelakangkan etika jurnalistik. Dan secara kebetulan kedua korn tersebut bernaung dibawah New Strait Times Press (NSTP) Malaysia Berhad.

Apa Yang Harus Kita Lakukan ?

Untuk mengubah persepsi negatif tersebut, kita harus berinisiatif sendiri. KBRI Kuala Lumpur sebagai wakil pemerintah harus bekerja sama dan saling bahu membahu dengan beberapa organisasi masyarakat Indonesia dan paguyuban-paguyuban WNI di Malaysia.

KBRI Kuala Lumpur, di samping menyampaikan bantahan dan surat protes kepada pihak media dan Pemerintah Malaysia. Juga senantiasa menghimbau para WNI di Malaysia agar tidak membahasakan dirinya dengan menyebut "Indon". KBRI bisa menggunakan saluran-saluran alternatif dan media sosial seperti Facebook, twitter bahkan membuat video di youtube untuk menyampaikan pesan kepada WNI di Malaysia.

Organisasi Masyarakat, seperti Persatuan Malaysia Indonesia (Permai) atau Ikatan Komunitas Merah Putih (IKMP) dan ormas lainnya senantiasa membantu KBRI mensosialisakan kepada anggota , masyarakat Indonesia dan warganegara Malaysia sendiri bahwa perkataan "Indon" membawa makna negatif bagi orang Indonesia.

Warganegara Indonesia (WNI) sendiri saling menginformasikan sesama WNI, bahwa jangan sesekali menyebut dirinya orang "Indon". Dan menegur secara sopan siapa saja yang menyebut dan memanggil orang Indonesia sebagai Indon. Dan memulakan dari dirinya sendiri, keluarga  serta lingkungan sosialisanya.

Apabila hal tersebut dilakukan, saya yakin penggunaan kata "Indon" akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi hala ini membutuhkan waktu serta komitmen dari kita semua.
Dan kami harap kepada warga Malaysia dan medianya jangan paggil kami lagi "Indon". Andaikata tidak mau menulis atau menyebut penuh Indonesia, bisa paggil atau menulis Indonesia dengan INA sebagaimana nama akronim resmi Indonesia di dunia Internasional.

Salam damai tanpa prejudis



24 komentar:

  1. Kevin said...:

    artikel yang bagus mas, tapi kita harus memulai dari diri kita sendiri, contohya tidak menyebut Malaysia dengan kata "Malay". Karena menurut saya Malay berarti pemalas (bahasa anak muda Jakata). Sekali lagi I Love Indonesia <3.

  1. Kevin said...:

    mampir juga ke http://tipstrikharian.blogspot.com/2013/11/review-asus-fonepad.html

  1. mahfudz tejani said...:

    Terima kasih bang Kevin !!
    Tentunya hal tersebut akan menyakitkan mereka juga. Bahasa mudahnya jangan mencubit kalau tidak mau dicubit.

    siap meluncur ke lapaknya bang..

    salam

  1. Unknown said...:

    I love this artical......teruskan!!

  1. Unknown said...:

    I love this artical......teruskan!!

  1. Anonymous said...:

    di panggil indon ke malay tak penting niwaitu mesti ikhlas dan baik.. pak jangan terlalu sensitif sensasikan perkara yang remeh. asal kita satu rumpum juga .

  1. Anonymous said...:

    oh, baru saya tahu.. mohon maaf kepada rakyat indonesia atas kesilapan kami rakyat malaysia. :)

  1. mahfudz tejani said...:

    Terima kasih Simon Sri Utami dan Aisy Lastatie

    salam damai

  1. Damai Dunia said...:

    Saya jati teringat pernyataan seorang penulis: "Salah satu ciri orang inferior adalah orang mudah tersinggung.."..
    Pertanyaan pentingnya: mengapa kita tersinggung?.. Setahu saya, orang malaysia memang suka mempersingkat penyebutan, misalnya: Bangladesh jadi Bangla, Singapura jadi S'pore dll..
    Bahkan, bukankah kita juga suka mempersingkat sebutan negara orang? misalnya : Amrik (Amerika Serika), Aussie (Australia)...
    Jadi, kenapa hanya kita harus tersinggung? Jangan2 memang karena kita merasa inferior...
    Hemat saya, meminta orang lain mengubah diri itu tidak mungkin... yang dapat kita lakukan adalah, mari kita ubah persepsi kita bahwa kata-kata begitu bukanlah sebuah penghinaan, tapi murni sebuah penyingkatan...
    Terima kasih..

  1. bitter heart said...:

    untuk kefahaman anda , kami memang telah menggunakan laras bahasa singkatan bagi bahasa pasar ( sinkof ) kependekan kata bagi sesetengah perkataan contohnya sudah jadi dah . Indeed , hanya di dalam pertuturan seharian sahaja ( colloquial) instead di dalam media rasmi atau tatacara formal laras bahasa ini tidak digunakan jika digunakan ianya salah . Dan Thailand memang disebut Thai dlm bahasa harian , contoh orang thai , sempadan thai , sos thai .. tq

  1. mahfudz tejani said...:

    Damai Dunia@ Dulu sebelum tinggal di Malaysia, saya kurang peduli dengan istilah penyingkatan kata tersebut. Tapi bagi orang yang sudah pernah tinggal di Malaysia akan merasakan suatu kelainan.
    Terima kasih atas sarannya
    dan terima kasih udah mampir

    salam

  1. mahfudz tejani said...:

    Bitter Heart @ tapi tidak untuk kata Indonesia kan ?
    Namun kami sadar juga, banyak dari kami sendiri yang membiasakan menyebut diri mereka dngan sebutan tersebut.
    Tapi Alhamdulillah secara perlahan, mereka sudah mulai memahami dan mulai berubahnya

    salam damai tanpa Prejudis

  1. Anonymous said...:

    indon ke indo ke tetap manusia...
    korang xya la nak kecoh benda2 kecik nie...
    selagi korang hormat manusia lain n pandai cari makan da cukup...
    nie semua duniawi semata jgn la kisah sangat...
    manusia sekarang semua nak panggil benda2 yg singkat..
    so otak pon singkat la
    #mohonterasa korang jgn heran ngn kami mmg selalu panggil indon untuk jd pelacur gak adessss

  1. Daherbal said...:

    artikel yang menarik , terimakasih .

  1. Unknown said...:

    Kitorang mane la tau

  1. Apahal cuba? Dalam kamus english,Malay is Melayu,tpi boleh pula tuk panggil "Malay"sia.
    Indonesia pula "Indon"sia,tiada makna dalam kata Indon..tpi yg saya nampak saat ini banyak org indonesia yg tulis Indo & malay,apa cuba tu? Masa org lain ga boleh singkat nama? Yg penting tu maknanya dah diketahui

  1. Paling banyak sih didalam sebuah Game,banyak nampak kata2 tu

  1. Mestinya kita respect,menghargai kebiasaan & bahasa masing2,kerna bahasa kita pun sama berasal dari Melayu.masa kerna hal kecil/remeh macam ini boleh memula kan konflik/perkelahian/gaduh.??? Apa kata negara2 lain? "Tetangga masa gitu" 😥

  1. Walaupun saya bukan org indonesia/malaysia tpi singapura,saya juga seorang Melayu,tpi tahan saya lihat permusuhan & konflik tejadi hanya kerna hal kecilll macam ini!!!!

  1. Anonymous said...:

    orang Singapura/Brunei DS pun merujuk orang Indonesia sebagai orang Indon tapi tiada pulak bantahan apakah benar Indonesia obses dengan Singapura? bila Malaysia sebut Indon ramai yang tersinggung

  1. taufan lesus said...:

    kalau menurut aku sih wajar kalau penyingkatan untuk kata sudah menjadi dah,tapi kalau asal asal singkat apalagi yang disingkat ada unsur negara bisa jadi masalah,sebab kata indonesia termasuk negara,dan negara ada sistem pemeeintahan didalamnya,punya peraturan konstitusi dan perundang undangan,jadi kalau masalah kata negara indonesia kembali lagi ke masyarakat dan pemerintah indonesia,kira kira mau tidak nama negara disingkat jadi indon ??? sebab dalam kata indon itu ada masyarakat dan pemerintah di dalamnya...salam perantau 🙋

  1. Unknown said...:

    Artikel ini..tidak mengambil conteks yg menyeluruh hanya ditumpukan ke malaysia sahaja..bagaimana filipina..australia..singapura dan juga negara indobesia yg suka menyingkatkan perkataan untuk negara lain..Tepuk dada selera hanya kerana kalian merasa perkataan indon merasa negatif kenapa bngsa kalian menywbutnya dan menggunakan akar indon untuk menjadi sebuah negara indonesia..jgn hipokrit..

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani