WNI Gelar Kuda Lumping Di Malaysia

Monday, 8 December 2014 1 komentar





Hubungan Indonesia-Malaysia ibarat gelombang selat Melaka, adakalanya gelombangnya tinggi menghantam daratan pulau Sumatera dan daratan pantai barat semenanjung Malaysia. Dan adakalanya gelombangnya datar serta diiringi angin semilir yang kadangkala membuat terlena keduabelak pihak.

Aneka kasus sering mewarnai kedua negara bertetangga ini, mulai dari kasus perbatasan, isu tenaga kerja bahkan sampai isu klaim mengklaim seni dan budaya. Namun karena adanya persefahaman serta hubungan erat kedua pemerintah, maka hal tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akrab.
Usaha-usaha untuk menambah eratnya hubungan kedua belah pihak, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, namun diperingkat bawahan antara kedua rakyat terjalin dengan baik. Sebagaimana yang dilakukan oleh warganegara Indonesia asal Banyuwangi dan Masyarakat lokal yaitu rakyat Malaysia itu sendiri. 

Minggu, 7 Desember kemarin, mereka menggelar “Acara Ramah Mesra” Masyarakat Indonesia asal Banyuwangi bersama penduduk kampung Bukit Kapar. Sekaligus pelancaran kesenian tradisional banyuwangi yaitu kuda kedang “Sekar Wangi”.
Acara yang diprakarsai oleh Irzal Maryanto sebagai wakil tokoh masyarakat Banyuwangi di Malaysia dan Tuan Haji Mat Zain bin Haji Sahli sebagai perwakilan tokoh masyarakat Bukit Kapar. Dan secara kebetulan Tuan Haji Mat Zain bin Haji Sahli merupakan generasi ketiga keturunan Jawa asal Banyuwangi.

Acara tersbut juga dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia Marsekal (purn) Herman Prayitno dan ahli parlimen Meru Klang Negeri Selangor, Dr Haji Abdul Rani Osman. Para tamu undangan disuguhi dengan tari pembuka  khas Banyuwangi , yaitu “Tari Jejer Gandrung” dan setelah itu diikuti dengan persembahan kuda lumping/jaranan atau di Malaysia sendiri lebih dikenali dengan “Kuda Kepang”


Uniknya, persembahan kuda lumping dan tari-tarian tersebut dibawakan oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi di sekitar Selangor. Untuk kostum penari, Gamelan dan kuda kepangnya dibawa langsung dari banyuwangi, sedangkan pentas dan topengnya dibuat sendiri di sela-sela waktu bekerjanya.

Duta Besar, Herman Prayitno memberikan respon positif dengan adanya kegiatan ini dan berpesan

 “Hal berkaitan dengan pelaksanan seni budaya yang dilakukan oleh WNI di Malaysia, sebelum diadakan haruslah terlebih dahulu dikomunikasikan dengan pejabat-pejabat terkait dan tokoh masyarakat setempat.”


Hal tersebut senada mendapat tanggapan dan respon positif juga dari Ahli Parlimen Meru, Dr Abdul Rani Osman,

“Saya menyambut baik usaha-usaha yang telah dilakukan, semoga hubungan dua hala Indonesia-Malaysia tetap membaik. Baik diperingkat akar umbi dan di tingkat pemerintah.”


Lailatu Fitriyah, Antara Melestarikan dan Mempromosikan
Pada dasarnya Banyuwangi kaya akan seni budaya dan kuliner khas Banyuwangi. Mulai dari seni  tari-tarian sehingga  keseniaan Jaranana atau kuda kepang. Dan kulinernya ada Sego Cawuk, Rujak Soto bahkan sego tempong. Namun masih kurang dikenali oleh masyarakat luar , baik Indonesia maupun mancanegara. Sudah tanggung jawab masyarakat Banyuwangi sendiri untuk mempromosikan dan melestarikan kekayaan tersebut.



Seperti mana yang telah dilakukan oleh salah seorang putri asal Banyuwangi yaitu Lailatul Fitriyah. Perempuan yang berasal dari desa Sempu Genteng banyuwangi ini merupaka salah seorang TKI yang bekerja di sektor perpabrikan di Johor Baru. Perempuan mungil yang berumur 27 tahun ini sangat aktif dan penuh semangat untuk melestarikan serta mempromosikan tarian khas Banyuwangi, seperti tari Jejer Gandrung dan Tari Punjari. 

Di sela-sela kesibukan bekerjanya , beliau masih sempat mengajarkan seni tari khas Banyuwangi tersebut kepada rekan-rekan sekerjanya sesama Indonesia. Ada yang berasal dari Medan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa timur. Mereka kesemuanya belajar bersama di sebuah sanggar tari yang bernama “Manunggal Budaya” yang didirikan oleh Irzal Maryanto pria kelahiran Watu Kebo Rogojampi Banyuwangi.

Semangat untuk memperkenalkan kesenian Tradisonal kepada sesama pekerja Indonesia serta pekerja asing lainnya di Malaysia perlu diberikan apresiasi. Ini semua selaras dengan harapan  bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anaz  program memperkenal Banyuwangi kepada dunia internasional yaitu Banyuwangi Go International.
Semangat yang ditunjukan oleh Lailatul Fitriyah ini patut di contohi oleh WNI di Malaysia lainnya. Beliau merelakan waktu kerjanya melakukukan persembahan dalam acara Ramah mesra antara komunitas keluarga  banyuwangi di Selangor bersama warga lokal Malaysia. Waktu perjalanan 5 jam dari Johor Baru ke Selangor dilakukan dengan sukarela demi untuk mempromosikan kesenian khas Banyuwangi.

Persembahan yang dilakukan oleh Lailatul Fitiriyah mendapat tepuk tangan yang meriah serta mendapat respon positif dari Duta Besar republik Indonesia untuk Malaysia, Herman Prayitno dan Ahli Parlimen Meru Klang Selangor, Dr Haji Abdul Rani Osman dalam acara pembuka di program tersebut.

Semoga dengan adanya program begini akan menbuat hubungan Indonesia-Malaysia senantiasa membaik kedepannya nanti. Dan akan memberikan impak positif dalam hubungan dalam bidang lainnya selain hubungan seni dan budaya.

Salam dari Kuala Lumpur

Ilmu Parenting : Solusi Dampak Sosial Pengiriman TKI Ke Luar Negeri

Monday, 1 December 2014 0 komentar



Dra.Mahyi Dinilyas sedang mempresentasikan "ilmu Parenting" dihadapan para TKI



Pemimpin politik dan militer Perancis abad-18, Napoleon Bonaparte mengatakan “Tangan kanan seorang perempuan mengayunkan buaian, Namun tangan kirinya mampu menggoncangkan dunia”. Pepatah itu memberikan banyak penafsiran yang pada dasarnya adalah masa depan suatu bangsa dapat dicorakkan dan ditentukan oleh seorang wanita yang berada dalam struktur unit/institusi  terkecil dalam sebuah negara yaitu keluarga.

Seorang wanita yang bergelar seorang ibu pastinya paling banyak mempunyai waktu bersama keluarga. Untuk itu seorang ibu haruslah mempunyai  ilmu yang mencukupi dalam mendidik anak sesuai dengan zamannya. Karena cara-cara mendidik anak senantiasa berubah dan bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Tidak mungkin disamakan cara mengasuh, membimbing  dan mendidik anak pada zaman kita dulu dengan zaman sekarang, tantangan dan halangan pastinya berbeda. Apabila pada zaman kecil kita dulu, pegangan dan alat permainnanya adalah kelereng dan karet. Namun anak-anak sekarang alat permainnnanya semuanya berada dalam genggaman tangannnya , yang hanya tinggal sentuh dan pencet saja.

Ilmu –ilmu Parenting atau tentang ilmu cara mengasuh, membimbing dan mendidik anak tersebut tidak diajarkan dalam kurikulum persekolahan. Namun bisa didapatkan dari pengalaman seseorang atau kajian yang telah dilakukan oleh para pakar tentang ilmu tersebut didalamnya

Pentingnya Ilmu Parenting Bagi Seorang TKI

Keberadaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih dilihat dari faktor segi ekonomi saja oleh pemerintah. TKI masih diagung-agungkan sebagai pahlawan sumber devisa negara, yang mana hasil keringatnya yang dikirimkan ke Indonesia (Remitansi) mampu mencorakkan ekonomi di peringkat dasar pada negara.

Dan pengiriman TKI ke luar negeri masih dijadikan sebuah solusi oleh pemerintah, dalam ketidak-mampuannya menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi rakyatnya. Namun dampak sosial yang ditimbulkan oleh hal tersebut  masih belum terfikirkan secara nyata oleh pemerintah.

Pemerintah hanya memfokuskan kepada sisi TKI itu sendiri, baik mulai dari pemberian keterampilan praTKI, penempatan hingga perlindungan selama berada di negara tujuan. Pernahkan pemerintah memikirkan dan membicarakan tentang dampak sosial pengiriman TKI dan kesannya kepada keluarga dan anak TKI tersebut selama ditinggalkan di kampung ?

Bagaimana perkembangan keluarga dan anak-anak yang ditinggalkan minimal selama 2 tahun untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKI ?
Tidak sedikit keluarga mereka berakhir dengan perceraian dan tidak sedikit anak-anak mereka menjadi korban dan berantakan perkembangannya. Dan yang paling banyak mendapat kesan dari dampak sosial ini adalah anak-anak TKI itu sendiri.
Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia Hermono memberikan sambutan di Aula KBRI Kuala Lumpur


Menurut Hermono, Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Sebagian besar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia adalah sudah mempunyai keluarga baik di Malaysia ataupun di Indonesia dan 70% didalamnya adalah perempuan.

Maka dari itu, diperlukan pemberian pelatihan dan pendidikan kepada para TKI itu sendiri dalam menanggulangi atau setidaknya meminimalisir kesan dari dampak sosial yang ditimbulkan oleh pengiriman TKI ke luar negeri tersebut. Salah satunya adalah memberikan dan menekankan pentingnya ilmu parenting kepada TKI itu sendiri.
 Seperti mana yang telah dilakukan oleh MS- Cerdas baru-baru ini, yaitu memberikan pendidikan dan seminar tentang ilmu parenting kepada para TKI di beberapa titik yang menjadi tumpuan TKI di Malaysia. 

MS Cerdas yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari MS Cargo, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman barang/paket door to door ke Indonesia. Telah melakukan road show memperkenalkan ilmu parenting kepada para TKI dalam 2 hari berturut-turut.
Mulai dari shelter TKI di KBRI Kuala Lumpur, bekerjasama dengan komunitas-komunitas WNI di Malaysia seperti Fatayat NU Cabang Istimewa Malaysia dan IKMA (Ikatan Keluarga Madura) hingga asrama-asrama pekerja pabrik/kilang di Senawang , Negeri Sembilan.
Salah satu audien tak mampu menhan emosinya dalam sesi tanya jawab seputar Ilmu Parenting

MS Cerdas mendatangkan pakar ilmu parenting, yaitu Dra. Mahyi Dinilyas seorang Trainer dari Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta dalam road show tersebut. Aneka tema keparentingan dipresentasikan berdasarkan latar belakang dan tahap pendidikan para TKI itu sendiri . Mulai dari ‘Persiapan Pra Nikah”, “Cara Memilih pasangan yang Baik” hingga “Tantangan Mendidik Anak Di Era Digital.”

Berdasarkan reaksi dan interaksi antara pembicara/trainer dan para TKI, pendidikan Ilmu Parenting mendapat sambutan aktif. Terbukti dari banyaknya tanya jawab, mulai dari seputar hubungan pranikah hingga tantangan dan permasalahan membesarkan anak yang ditinggalkan di kampung masing-masing.

Seharusnya program baik seperti ini, mendapat dukungan penuh pemerintah dan kalau perlu dijadikan program unggulan/nasional untuk kedepannya nanti. Dan tidak hanya dalam bentuk seminar belaka, Namun bisa dijadikan mata pelajaran wajib dalam kurikulum persekolahan di Indonesia.

Saya tetap berkeyakinan untuk mencapai negara yang kuat dan bermartabat, tidak ada cara instant untuk merealisasikan. Pemerintah dan seluruh elemen bangsa harus bersatu dari sekarang untuk mempersiapkan para generasi dan anak-anak yang sehat dan cerdas baik fisik dan emosi. Dan tumpuan yang utama adalah memperkasakan institusi terkecil negara yaitu bermula dari dalam sebuah keluarga.

Salam dari Kuala Lumpur.

Bersama Ikatan Keluarga Madura (IKMA)

Bersama Fatayat NU Cabang istimewa Malaysia

Bersama para pekerja Pabrik/kilang di Senawang

Madura : Keterikatan Warna Dengan Alam

Tuesday, 4 November 2014 2 komentar



File ini diambil dari www.zymco.co.uk



Sebuah taksi meluncur perlahan karena mendekati persimpangan jalan yang secara kebetulan lampu lalu lintasnya sudah menunjukkan warna kuning. Empat penumpang di dalam taksi itu adalah semuanya orang Madura yang sedang membicarakan seputar pekerjaanya sambil menunggu lampu lalu lintas yang sedang menunjukkan warna merah.

Beberapa saat kemudian lampu lalulintas sudah berubah warna menjadi hijau, namun mobil yang didepan taksi mereka masih belum beranjak mau jalan. Akhirnya salah seorang dari mereka menggerutu sendiri , 

Abbeh lampunah la Bhiruh, mak gitak ajhelen motor e adhek reyah.” ( Lah lampunya sudah warna biru, kok belum berjalan mobil didepan ini ).

Dari dialog diatas, orang Madura tetap menyebut warna BIRU untuk menyebutkan warna HIJAU, tepatnya BIRU DAUN atau Bhiruh Deun. Mengapa demikian ?
Karena di Madura tidak ada kosa kata tentang warna yang menunjukkan warna Hijau.

Warna-Warna Dasar Orang Madura

Pada Dasarnya, orang Madura hanya mengenal warna Hitam, Putih, Merah, Biru dan Kuning. Ini terbukti dan dapat dilihat pada rumah-rumah lama orang Madura yang dipenuhi warna-warna kontras seperti Merah, Biru, Hijau  (Biru Daun) dan Kuning.

Dan warna-warna kontras tersebut dapat juga dilihat  pada peralatan kesenian atau kebudayaan seperti batik Madura, pecut, Keleles kerapan sapi (kereta/tempat jokinya berdiri), kipas atau hiasan pada gagang celurit serta pisau.
 
Pecut Khas Madura (balakurawaernut.blogspot.com)

Namun dari warna-warna dasar tersebut berkembang menjadi aneka pilihan warna. Dan keunikannya adalah, masyarakat Madura selalu mengkaitkan warna pilihan itu dengan tumbuhan atau hewan. Contohnya adalah,

Untuk Warna Biru ada Bhiruh Deun/ Biru Daun (Hijau Tua), Bhiruh Ompos/ Biru Pucuk Daun (Hijau muda), Bhiruh Langngik (Biru Langit), Bhiruh Tasek (Biru laut), Bhiruh E’tek (Biru yang sewarna dengan telur itik) Dan sebagainya.

Untuk warna Merah ada  Me’ra Ateh/ Merah Hati (merah pekat), Me’ra Delimah/Merah Delima/Merah muda, Me’ra Manggis/Merah Manggis Dan sebagainya.

Untuk Warna Kuning ada Kone’ng Telor/Kuning Telur (Oranye), Kone’ng Konyik (Kuning Kunyit), Kone’ng Gedding (Kuning Gading), Kone’ng Sabuh (kuning Sawo) Dan sebagainya.

Mengapa masyarakat Madura selalu menyebutkan warna dengan diikuti nama tumbuhan atau hewan (Alam ) ? Saya menyimpulkan , bahwa kehidupan masyarakat Madura begitu dekat dengan alam dan tidak dapat dipisahkan dengan alam.

Bahkan dalam kehidupan sehari-harinya, ketika menyampaikan pesan kepada keluarganya sering kali menggunakan kiasan pada binatang. Contohnya,

Mun Odhik jek gey-nganggey, ngabber tak tenggih ngaleh tak dhelem ( Dalam hidup itu jangan seperti Anggey ( Serangga yang beterbangan mencari lampu kalau malam),  Terbang tidak tinggi menggali tidak dalam.

Yang membawa maksud dalam hidup itu harus konsisten dan berkomitmen. Serta jangan nanggung atau separuh-separuh dalam mengerjakan sesuatu apapun

Apapun tentang warna HIAJU itu sendiri  bagi masayarakat Madura seringkali menjadi joke-joke hangat ketika merantau keluar Madura. Ada yang bertanya apakah di Madura ada bubur kacang hijau ?
Apakah program penghijauan pemerintah di Madura berhasil ?
Dan yang pastinya warna-warna dalam lampu lalu lintas hanya ada Merah, Kuning dan Biru bagi masyarakat Madura.

Jadi ketika sudah membaca tulisan ini, jangan sampai beranggapan bahwa orang Madura itu buta warna.. he..he..he..
Namun orang Madura lebih kreatif dalam menempatkan alam dalam bahasa sehari-harinya.

Salam dari Kuala Lumpur.

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani