Ibnu Khaldun Memperingatkan Para Politisi

Thursday, 27 February 2014



Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif tinggal menghitung hari lagi. Andaikata tidak ada perubahan lagi , pemilu tersebut akan dilaksanakan pada hari Rabu, 9 April 2014. Namun untuk Warganegara Indonesia (WNI) yang ada di Malaysia, Pemilu Legistaltif dimajukan 3 hari yaitu pada hari Minggu, 6 April 2014.

Menjelang pemilu legislatif tersebut, para politisi yang mencalonkan diri mulai tidak nyaman duduknya. Mereka mulai menguar-uarkan segala visi dan misinya andaikata terpilih nanti. Melakukan long march dan turun ke bawah setiap ada kegiatan di sekitar daerah pilihannya (dapil) sambil mengedarkan kartu namanya. page-page baru dalam media sosial bermunculan dan bersuara ibarat nyanyian kodok sehabis hujan.

Banyaknya para politisi yang berubah arah dan pandangan setelah dirinya duduk di kursi kekuasaan, Membuat rakyat kecil yang semakin tidak mempercayai para anggota dewan. Angka golongan putih (golput) semakin tahun semakin naik angkanya. Ditambah lagi peran serta media yang menjadikan perilaku buruk para politisi di muka depan koran terbitannya. Mulai dari korupsi, politik uang hingga berita-berita miring tentang perselingkuhan mereka.

Ibnu Khaldun : Kemegahan , Kekuasaan dan Wanita.

Mengapa para politisi yang telah terpilih tersebut berubah arah dan pandangan ? Dan mengapa para politisi yang telah duduk di kursi kekuasaan banyak yang melupakan visi dan misinya ?
Ternyata Ibnu Khaldun ( 1332- 1405 M ) sudah memprediksikan apa yang sering menjadi kendala dan hambatan para politisi apabila sudah duduk dalam kekuasaan.
Sosiolog muslim terkemuka abad ke-15 ini mengatakan:

"Kedudukan dan status seseorang yang berkuasa dengan mudahnya dipengaruhi berbagai godaan kemegahan, harta dan wanita. Semakin tinggi kedudukan seseorang itu maka semakin juga bertambah kuat godaan yang menyerang naluri dan emosi."
Bahkan Ibnu Khaldun  menyimpulkan jenis dan bentuk godaan tersebut kepada 3 bagian , Yaitu
Yang Pertama, adalah kekuasaan itu cenderung membangkitkan rasa puas hati, senang dan merasa megah saat dipuji dan sanjungan yang dilemparkan kepadanya.
Dan mereka akan semakin sulit menerima kritikan dan teguran, bahkan teguran dan kritikan yang diberikan kepadanya akan dianggap sebagai penghalang. Sehingga akan mencari seribu daya agar undang-undang akan berpihak kepadanya serta kelanggengan kekuasaannya.

Yang Kedua  adalah Kemegahan, Seorang pemimpin ketika berada di puncak kekauasaanya akan merasakan nikmat dan megahnya sebuah kekuasaan. Sehingga dengan kekuasaan tersebut dia mampu berbuat apa saja dan seringkali menyalahgunakan kekeuasaan itu sendiri.

Pada ketika itu, sikap tamak akan menyelubungi, sehingga pemimpin tersebut mulai berangan-angan membina kekayaan pribadi dan pemerintahannya menjadi lebih otoriter. Dan masalah tentang negara dan rakyat menjadi kurang diperhatikan. Hukum dan moral semakin menipis dan yang menebal hanyalah aset dan kekayaan pribadi semata.

Akibat dari perbuatan dan sikap pemimpin yang lalai dengan tujuan awalnya ini, akan membangkitkan emosi kemarahan rakyat. Konflik, pemberontakan serta desakan penyingkiran (people Power) terhadap pemimpin tersebut tidak dapat di elakkan.Ketika  dipaksa menyerah diri atas kuasa rakyat, maka semakin banyaklah skandal dan penyalahgunaan kuasa yang dilakukan akan bermunculan ke permukaan.
Lihatlah peristiwa 21 Mei 1998 di Indonesia, people power Filipina 1982 atau kemelut yang melanda negara-negara di dunia Arab belakangan ini.

Yang Ketiga adalah Wanita, Seorang makhluk lemah pada zahirnya akan tetapi mampu mencairkan iman seseorang. Seperti mana kata Napoleon Bonaparte, pemimpin politik dan militer Perancis abad-18, Tangan kanan seorang wanita mengayunkan buaian, namun tangan kirinya mampu menggoncangkan dunia.

Sejarah telah mencatatkan bahwa seorang wanita mampu menentukan bangkit tidaknya sebuah negara. Banyak pemimpin terperosok karena terpedaya oleh kelemahan dan kelembutan wanita. Lihatlah bagaimana Cleopatra mampu mempengaruhi Julius Caesar, Tentu kita masih ingat bagaimana seorang Bill Clinton digoyang dari kekuasaannya di sebabkan kelembutan Monica Lewinsky. Bagaimana seorang wanita mampu menggugat pengaruh seorang presiden sebuah negara adi kuasa seperti Amerika Serikat.


Maka dari itu, Ibnu Khaldun meletakkan agama sebagai perisai dan pendinding dalam menghadapi 3 godaan tersebut diatas. Agama adalah asas terpenting untuk membentuk sebuah komunitas dan institusi terkecil yang hebat.
Disamping agama, seorang pemimpin harus mempunyai ilmu yang cukup untuk memimpin sebuah negara. Dan bukan hanya bermodalkan harta dan pengaruh semata. Dengan ilmu tersebut tidak seharusnya digunakan untuk menindas, akan tetapi hendaknya bersama iman dan akal membentuk rakyat-rakyat berjiwa besar yang mampu memberikan poinlebih kepada sebuah negara.

Salam dari seberang

Artikel bersangkutan :
PPLN Kuala Lumpur Membuka Klinik Pemilu
Bagaimana Kalau Dapil Jakarta II Dipisahkan ?


2 komentar:

  1. Euisry Noor said...:

    Menarik Mas. Keren2 para cendekiawan muslim dahulu. Saya bulan2 kemarin baca biografi singkat Ibnu Khaldun. Namun mau bikin review bukunya kerepotan, terlalu banyak hiruk-pikuk politik yg pernah dialami Ibnu Khaldun. Sementara saya kurang suka menulis topik politik :D.
    Salam

  1. Mahfudz Tejani said...:

    Terima kasih
    Saya hanya menjabarkan sekelumit ucapan singkat Ibnu Khaldun yang berhubungan dengan politik.
    terima kasih

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani