Kisah Pembantu Rumah Sebelahku

Friday, 25 April 2014 2 komentar


Hari ini, di halaman depan sebuah koran utama di Malaysia membicarakan tentang pembantu rumah asing yang melarikan diri dari majikannya.  Para majikan di Malaysia dirugikan hampir 1 milyar ringgit Malayisia atau sekitar 3 trilyun rupiah . Sejak 2008 sudah 105,119 orang yang melarikan diri, dan 94,529 didalamnya adalah pembantu rumah dari Indonesia. Dan untuk tahun 2013 saja ada 11,508 yang melarikan diri dari majikannya dan pembantu rumah dari Indonesia di dalamnya adalah 9,025 orang.

Pembantu rumah di Malaysia umumnya dipanggil amah, orang gaji atau bibik. Mereka sebagian besar datang dari negara Asean seperti Indonesia, Filipina, Kamboja, Vietnam dan Myanmar. Sedangkan diluar itu yang dari Srilangka dan India. Walaupun sebagian besar datangnya dari Indonesia, namun masalah gaji masih kalah jauh dengan pembantu rumah dari Filipina. Yang membedakan  dengan pembantu rumah dari Filipina adalah dari segi komunikasi dan keterampilan.

Mengapa banyak pembantu rumah melarikan iri dari majikan ?
Banyak faktor dan isu yang melingkupi permasalahan- permasalahan diatas. Bisa juga datangnya dari masalah dalaman yang dihadapi pembantu rumah itu sendiri dan faktor luar yang dipengaruhi oleh majikan atau agen yang menyalurkan. 

Faktor dari Pembantu Rumah
Ada beberapa kasus pembantu rumah melarikan diri dari majikan karena pembantu itu sendiri mempunya masalah pribadi. Seperti faktor :
  1. 1.  Faktor kejiwaan sang pembantu yang labil
  2. 2. Tidak kerasan/betah
  3. 3. Dipengaruhi orang luar baik teman lelaki atau saudara sendiri yang ada di Malaysia. 
  4. 4. Atau tergiur dengan gaji yang lebih tinggi di luar.

Faktor dari Majikan
Kendala yang disebabkan oleh Majikan sehingga pembantu rumahnya melarikan diri adalah
  1. 1. Penderaan secara mental dan fisik termasuk didalamnya penderaan secara seksual
  2. 2. Ditekan secara berlebihan oleh pihak majikan dan keluarga
  3. 3. Tidak dibayar gaji
  4. 4. Perbedaan budaya dan agama, contohnya pembantu muslim disuruh memasak babi atau      memandikan anjing di rumah majikan non muslim

Faktor dari Agensi/Penyalur tenaga kerja
Faktor yang terakhir adalah dari agensi sendiri yang hanya menekan pihak pembantu rumah atau pihak majikan sendiri . Agensi hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memikirkan masalah-masalah yang dihadapi pembantu rumah dan pihak majikan. Akhirnya yang dirugikan adalah pembantu itu sendiri dan majikan yang telah mengeluarkan uang pendahuluan yang banyak.

Kasus-kasus antara majikan, pembantu rumah serta pihak agensi tidak ada habisnya. Sehingga menimbulkan aneka persepsi negatif baik yang diterima pembantu rumah dan pihak majikan.  Namun tidak semuanya majikan itu jahat waima pembantu rumah jahat , Ada juga yang baik. Walaupun dalam media yang diberitakan adalah penderaan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh majikan, Atau pembantu rumah yang melarikan barang perhiasan dan membunuh majikan.

Inilah beberapa kisah pertalian istimewa antara majikan dan pembantu rumah(PRT)  :
Sebut saja namanya Kasmini, PRT asal pulau Jawa yang bekerja dengan majikan beretnis China. Kasmini sudah dianggap seperti bagian keluarga sendiri. Di Malaysia, Kasmini diperhatikan pendidikannya dengan dikuliahkan dan sering dibawa keluar negeri untuk liburan

Kisahnya hampir sama dengan Desi , PRT asal Temanggung Jawa Tengah. Desi yang bekerja dengan majikan Melayu yang mempunyai butik di Shah Alam. Desi juga dibenarkan membawa mobil sendiri dan diberikan dorongan untuk menyambung studinya di Malaysia.

Atau Haliyah, PRT asal Madura yang bekerja hampir 16 tahun dengan seorang majikan Melayu asal negeri Kelantan. Haliyah pernah menamatkan kontrak dengan majikannya dan berniat pulang selamanya ke Madura. Namun Anak majikannya yang diasuhnya sejak kecil, menyusul ke Madura dan meminta sambil menangis Haliyah kembali lagi ke Malaysia. Setiap hari raya Qurban, Majikannya mengirimkan uang ke Madura untuk dibelikan sapi dan di kurbankan di sana.

Itulah beberapa kisah dan hubungan baik yang dijalin dan dijalani antara pihak majikan dan pembantu rumah. Namun tidak semuanya kisah pembantu rumah di Malaysia berjalan seperti di atas. Beberapa hari yang lalu pihak Imigrasi Malaysia telah menyelamatkan seorang Warganegara Indonesia yang terkurung dan terkorban dalam sindiket pemerdagangan manusia.

Semoga beberapa sebab di atas yang menyebabkan  pembantu rumah melarikan dari majikan menjadi dasar bagi kita agar tida cepat menyalahkan pihak majikan atau pembantu rumah sendiri. Sudah saatnya pemerintah Indonesia maupun Malaysia membuat sistem dan mekanisme baru dalam pengiriman dan pengambilan tenaga kerja sektor Pembantu rumah.

Agar tidak ada yang dirugikan atau penyesalan di belakangnya, Tidak ada salahnya pemerintah Indonesia meniru sistem dan mekanisme Filipina dalam mengontrol dan mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negeri. Agar para pekerja kita yang katanya pahlawan devisa itu merasa terbela dan tidak diabaikan.

Salam dari Kuala Lumpur

Mengapa Pemilu Legislatif Di Kuala Lumpur Hambar ?

Sunday, 6 April 2014 3 komentar

Pendaftaran dan pengecekan sebelum mencoblos

Setelah beberapa bulan di tunggu dan dinantikan pesta demokrasi itu telah bergulir hari ini. Pada hari ini 6 April 2014, Pemilihan Umum legislatif di adakan secara serentak di  di beberapa negara termasuk Malaysia, Singapura dan Taiwan. Tentunya para calon legislatif Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta II tidak nyaman duduk memikirkan berapa suara yang dapat di dulang dari suara WNI di luar negeri.

Daftar Pemilih Tetap Luar Negeri (DPTLN) adalah 2,010,290 pemilih dan 53 % dari pemilih terdaftar tersebut datangnya dari Malaysia, yaitu 1,059,219 suara. Sehingga WNI di Malaysia yang mayoritas adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) begitu istimewa dalam pandangan para calon legislatif .Dapil DKI Jakarta II.

Dari 53 % DPTLN di Malaysia, daftar tersebut berdasarkan Panitia Pemilihan Luar Negeri  Kuala Lumpur (PPLN KL) yang membawahi Wilayah Persekutuan (Kuala Lumpur dan Putrajaya), Selangor, Perak, Terengganu dan Kelantan mempunyai daftar pemilih tetap 38 % (402,537) diikuti  PPLN Johor Baru 31 %, PPLN Kota Kinabalu 14 %, PPLN Kuching 9%, PPLN Penang 4 % dan PPLN Tawau 4%.

Sistem Pemilu Di Malaysia
Di Malaysia, Pemilihan umum menggunakan tiga sistem yaitu sistem pemilihan via Pos, Sistem pemilihan Dropbox dan sistem pemilihan langsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS) terpilih.
Pemilihan langsung di TPS


Sistem pemilihan via pos telah dilaksanakan atau dikirimkan via Pos Malaysia pada tanggal 24 Maret yang lalu.  Melalui pemilihan via pos ini, PPLN mensasarkan pemilih di luar lingkaran Kuala Lumpur dan Selangor, Yaitu di tumpukan pada pemilih di negeri Perak, Terengganu dan Kelantan yang tidak tinggal di daerah /Asrama Perpabrikan dan perladangan.

Sekitar 35 ribu suara pos di harapkan sampai ke PPLN KL sebelum tanggal 6 April 2014. Perbaikan dari pemilu sebelumnya adalah cara pengiriman dibuat lebih sistematis dengan penggunaan kantong suara berkunci (Lock Bag)

Sedangkan Pemilihan via dropbox telah dilaksanakan secara berperingkat sejak tanggal 23 Maret. Daerah tumpuan melaui sistem ini adalah daerah perpabrikan dan perladangan . Petugas Dropbox akan mengakomodasikan daerahnya mulai daerah perpabrikan sekitar Kuala Lumpur hingga daerah perladangan di luar kota negeri  Kelantan.

Pemilihan via TPS, Pemilihan langsung yang dilakukan di TPS yang di adakan di sekitar Kuala Lumpur dan Selangor dengan  menempatkan 15 lokasi yang mudah dijangkau oleh para pemilih. Daerah tumpuan pemilih adalah beberapa TPS di Kedutaan Besar Republik Indonesia  (KBRI) Kuala Lumpur, Wisma Duta (Rumah Dubes) dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Pemilu Legislatif  Hambar

Animo Warganegara Indonesia (WNI) di Kuala Lumpur untuk datang memilih ke TPS kurang mendapat sambutan. Informasi dari berbagai lokasi TPS di sekitar Kuala lumpur dan Selangor terasa hambar. Penulis sendiri yang memilih di Sekolah Indonesia Kuala lumpur (SIKL) melihat hal yang serupa. Masih lebih banyak antrian para WNI yang berhubungan dengan KBRI setiap harinya.

Target yang direncanakan PPLN KL untuk melebihi 20% dari DPTLN sepertinya tidak akan tercapai. Perlu diketahui bahwa pada pemilu 2009 hanya 20% dari DPTLN yang ada ketika itu memberikan hak suaranya. Apakah hal ini juga akan berlaku pada Pemilu Legislatif 6 April 2014 ini ?
Suasana di salah satu TPS di Kuala Lumpur


Walaupun PPLN telah melakukan tugas dengan maksimal seperti penambahan jumlah TPS, melakukan sosialisai pemilu ke tempat tumpuan WNI, mangadakan Klinik Pemilu di area menunggu KBRI, mengadakan pertemuan dengan berbagai parpol, komunitas dan ormas , mensosialisakan pemilu melalui Blast SMS dengan bekerja sama dengan operator telekomunikasi Malaysia serta memudahkan pendaftaran pemilih baik langsung, via sms atau online.

Namun keluhan-keluhan kekurangan dan kelemahan tetap bermunculan. Seperti surat suara tidak sampai ke alamat yang didaftarkan, Alamat pemilih berjauhan dengan TPS. Bahkan ada seorang pemilih yang saya temui tadi berasal dari Tronoh (perak) namun memilihnya di TPS SIKL Kuala Lumpur.

Kelemahan itu sendiri juga datangnya dari WNI Sendiri, Dimana samapi hari H juga belum mendaftarkan diri sebagai pemilih tetap. Banyak kasus dan fakta di lapangan, 2-3 hari menjelang pemilu legislatif banyak yang tidak tahu dimana mereka akan memilih.
Atau datangnya dari keengganan para WNI sendiri yang tidak mau memilih , sedangkan pemilu legislatif pada kali ini dilakukan pada hari Minggu (libur). Atau apakah kehambaran pemilu legsilatif di Kuala Lumpur ini berkaitan dengan meningkatnya angka Golongan putih (golput) yang semakin meningkat ?

Kelemahan dan kekuarangan ini harus dijadikan PR bagi PPLN atau Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada masa akan datang. Kehambaran ini jangan dibiarkan dari pemilu ke pemilu sehingga menimbulkan kecaman dan kecurigaan yang berlebihan dengan sistem pemilu di luar negeri.

Apapun semoga yang terpilih dalam dapil DKI Jakarta II ini bisa menjadi kepanjangan suara para WNI di luar negeri yang umumnya para TKI.
Salam dari Kuala Lumpur

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani