TKI Di Malaysia berbagi Peduli Untuk Palestina

Friday, 18 July 2014 0 komentar

Kotak Amal Peduli Untuk Palestina (foto Emawati)

Setiap penyerangan dan invasi terancang Zionisme Israel ke tanah Palestina, Umat manusia tanpa mengira agama, kaum dan bangsa mengutuk dan mengecam kebiadaban Zionisme. Karena apa ? Pada dasarnya fitrah manusia itu sendiri menolak kekerasan, kekejaman dan sesuatu yang dilakukan diluar perikemanusian.

Bukan rahasia lagi kalau Israel seringkali melanggar Konvensi Jenewa yang mengandung empat perjanjian yang menjadi dasar kepada undang-undang kemanusiaan di seluruh dunia. Dan melanggar konvensi yang telah disepakati seluruh negra di dunia. Konvensi-konvensi Jenewa terdiri dari dari berbagai aturan yang berlaku pada masa konflik bersenjata dengan tujuan melindungi orang yang sudah tidak lagi dan terlibat dengan permusuhan seperti : Tentara yang sedang terluka dan cedera, tawanan perang, publik biasa dan para medis dan agamawan.

Dari 4 konvensi yang telah disepakati, Israel seringkali melanggar konvensi Jenewa yang keempat ( Fourth Genewa Convention) yaitu mengenai perlindungan orang sipil di masa perang yang telah disepakati sejak tahun 1949. Korban-korban berjatuhan dari pihak sipil mulai dari anak-anak, perempuan hingga orang tua. maka dari itu, kecaman dan kutukan datang dari berbagai pihak di seluruh dunia.

Mereka turun ke jalan secara aman dengan tujuan akhir adalah  berorasi dan memberikan surat bantahan kepada Kedutaan Israel bagi negara yang ada hubungan diplomatik dengan negara Zionis tersebut. Namun bagi negara yang tidak mempunyai hubungan diploamati seperti Indonesia dan Malaysia, mereka akan melakukan bantahan ke Kedutaan Amerika Serikat di negara berkenaan.

TKI di Malaysia Berbagi Peduli Untuk Palestina
Penyerangan di luar rasa kemanusia di dalam bulan ramadhan , penggusuran dan penghancuran sarana pendidikan dan ekonomi serta melarang dan membatasi umat beragama untuk melakukan beribadah yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina menggugah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia untuk saling berbagi rasa dan saling peduli.

Mereka dengan rasa pedulinya yang sangat tinggi menggalang donasi untuk Palestina di sela-sela kesibukan dan jam istirahat setelah bekerja. Mereka membentuk kelompok peduli sendiri yang dianggotai oleh para TKI yang umumnya bekerja di sektor perkilangan (Perpabrikan). Ada beberapa pekerja dari berlainan kilang/pabrik di sekitar Kuala Lumpur yang menyatu dengan kelompok tersebut menggalang donasi di tempat kerja masing-masing.

Mereka membuat kotak amal dan peduli dengan mensasarkan daerah-daerah tumpuan teman sekilang/sepabrik seperti kantin, hostel dan asrama pekerja serta toko dan warung bernuansa Indonesia yang menjadi tumpuan para pekerja Indonesia.

Walaupun terkadang harus main kucing-kucingan dengan pihak aparatur kilang sendiri, yang mana apabila ingin membuat penggalangan donasi di sekitar kilang membutuhkan birokarasi yang ribet. Bahkan kalau nasib tidak berpihak pada mereka, pihak kilang tidak segan-segan melarang dan menghentikan penggalangan tersebut.

Bergabung Dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Malaysia
Kebanyakan dari para TKI yang menggalang donasi tersebut adalah para TKI yang juga sekaligus mahasiswa Universitas Terbuka pokjar Kuala Lumpur (UT-KL). Jadi dari sekian hasil penggalangan  yang dilakukan akan di kumpulkan kepada PPI UT-KL. Selanjutnya PPI UT-KL akan menerima seterusnya di salurkan kepada PPI-Malaysia sebagai PPI Induk di Malaysia. Dan menurut infonya , hasil dari penggalangan dana dari PPI-PPI di bawah PPIM akan disatukan untuk dikirimkan ke LSM/NGO yang terpercaya di Indonesia.
Brosur dari Persatuan Pelajar Indonesia - di Malaysia (PPI-M)


Penggalangan donasi dan kepedulian terhadap rakyat Palestina bukan hanya tertumpu di Kuala Lumpur saja. Ada yang dari kilang Subang Jaya, Shah Alam, Bangi bahkan ada yang dari bebrapa kilang di negeri Perak. Apa yang membanggakan, adalah rasa penderitaan rakyat Palestina juga ikut dirasakan oleh para TKI memlangkaui suku, bangsa dan agama.

Mereka sadar , bahwa dengan cara inilah para TKI di Malaysia memberikan dukungan moral kepada sesama bangsa yang sma-sama pernah merasakan penderitaan akibat penjajahan. Dan mereka tetap berpegang teguh pada kalimat dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi :

"Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan peri keadilan "


Salam dari Kuala Lumpur

Di Malaysia : Bandung Mempunyai Arti Berbeda

Tuesday, 15 July 2014 4 komentar

Mi Bandung Muar
Mendengar kata "Bandung", pastinya pemikiran kita membayangkan kota Bandung yang identik dengan sebutan kota Kembang atau Paris Van Java di Jawa Barat. Dan kota Bandung merupakan salah satu tujuan utama turis Malaysia ke Indonesia. Dengan penerbangan terus dari Kuala Lumpur - Bandung yang hanya memakan waktu 2 jam, turis Malaysia ada dua alasan berlibur ke Bandung. Yang pertama adalah adanya gunung Tangkuban Parahu dan yang kedua adalah syurganya  shopping maniak.

Tapi tahukah anda , bahwa kata "Bandung" mempunyai arti berbeda di Malaysia. Sebenarnya kata "Bandung" adalah sebuah kata di dalam bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal kepada bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di Malaysia. Namun kurang digunakan didalam percakapan dan pergaulan sehari-hari. Bahkan orang Melayu sendiripun , banyak yang tidak tahu apa makna sesungguhnya kata "Bandung" tersebut.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata"Bandung" mempunyai arti benda yang dirangkaikan (dua buah) atau pasang. Sebandung berarti  1. dua serangkai, dua benda yang dirangkaikan : Sepasang. 2. kembar dari satu telur.

Sedangkan di dalam kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP)/ kamus bahasa Melayu(Malaysia), Kata "Bandung" memberikan arti yang sama dengan KBBI. yaitu dua benda yang dirangkaikan atau sepasang atau dua serangkai.
Namun sayang, di Malaysia sendiri kata bandung jarang digunakan lagi, dan hanya populer dalam bentuk kuliner saja.yaitu Sirap Bandung dan Mi Bandung.

Pengalaman penulis ketika pertama kali tinggal di Malaysia, penasaran dengan kuliner Sirap bandung dan mi bandung. Sempat terfikir bahwa itu adalah sebuah kuliner khas kota Bandung yang dijual pendatang asal Indonesia di Malaysia.
Ternyata sangkaan itu meleset, karena kedua kuliner tersebut tidak sangkut pautnya dengan kota Bandung.

Sirap Bandung

Sirap/sirup bandung adalah jenis kuliner berbentuk minuman yang terdiri dari susu kental manis/krimer dicampur dengan sirup bunga mawar. Namun sekarang sudah ada yang ditambahi dengan cincau/jelly hitam dan biji selasih.

Sedangkan mi bandung adalah sebuah masakan tradisional terkenal berasal dari kota Muar, Johor. sebuah kuliner yang terdiri dari mi dan telur saja dengan aneka bumbu termasuk belacan dan ebi didalamnya. Namun sekarang sudah ditambah dengan udang, aneka sayur, daging dan fish ball.

Banyak hikmah didalam sebuah perantauan, ianya memperkaya pengalaman, menambah wawasan, menambah persaudaraan dan persahabatan dan mengenali budaya serta bahasa orang lain. Sungguh ini adalah sebuah nikmat dari Sang Khalik kepada hamba_Nya, bahwa Bumi_Nya teramat luas untuk dijelajahi dan didatangi

Salam dari Kuala Lumpur

Antusias Berbeda Dalam Pilpres Di Kuala Lumpur

Saturday, 5 July 2014 3 komentar

Pendaftaran surat Suara
Setelah sekian lama setelah ditunggu dan diharapkan setelah pemilihan leg (lalu. Warga Negara Indonesia di bawah area Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Kuala Lampur dan PPLN Johor Baru telah memilih presidennya yang di gelar hari ini Sabtu 5 Juli 2014.
Sedangkan PPLN Pulau Pinang , PPLN Kuching dan PPLN kota Kinabalu akan di adakan esok Minggu tanggal 6 Juli 2014.

PPLN Kuala Lumpur yang membawahi area Kuala Lumpur, Putrajaya, Selangor, Terengganu dan Kelantan, mengadakan pemilihan presiden (Pilpres) di dua tempat yaitu di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Apabila di KBRI Kuala Lumpur, Pihak PPLN KL menyediakan 22 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan nomer urut TPS KBRI 1 sehingga  TPS KBRI 22, sedangkan di SIKL menyediakan 38 TPS dengan nomer urut TPS SIKL 23 - TPS SIKL60.

Arus kedatanagn pemilih senantiasa mengalir

Antusiasisme para memilih begitu berbeda pada Pilpres  kali ini apabila dibandingkan dengan pileg 6 April yang lalu. Kalau pada pileg yang lalu, banyak petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) yang goyang kaki dan berbicara dengan teman semejanya.

Namun pada pilpres kali ini, kedatangan pemilih begitu berbeda dengan ketara sekali. Sejak jam 09.00 pagi pekarangan luar area Sekolah Indonesia Kuala Lumpur sudah penuh dengan aneka jenis kenderaan. Para masyarakat Indonesia di sekitar Kuala Lumpur  berdatangan dan harus antri sewaktu mau mendaftar yang di atur oleh para petugas KPPSLN.

Kemudian setelah mendaftar para pemilih diantar oleh Petugas KPPSLN masuk ke ruangan kelas yang telah di jadikan TPS dan bilik suara. Petugas KPPSLN kembali mencocokan kembali surat pendaftaran dengan data yang ada, dan kemudian di berikan surat suara.

Setelah itu pemilih ditunjukann TPS mana yang akan dimasuki untuk area tempat pencoblosan. Setelah keluar dari bilik suara, pemilih ditunjukkan untuk memasukkan surat suara yang telah dicoblos ke dalam kotak suara. seterusnya ke bagian akhir yaitu mencelupkan jari tangan ke dalam tinta sebagai tanda sudah melaksanakan kewajiban politik dengan memilih pilpres.

Sekolah Indonesia Kuala Lumpur menjadi tumpuan masyarakat Indonesia untuk memilih presiden pada kali ini dibandingkan memilih di KBRI KL. Dengan alasan sarana transportasi yang dekat dengan stasiun Kereta api Putra dan tempat parkirnya lebih luas dan gratis. Serta TPS yang lebih banyak apabila dibandingkan TPS KBRI KL.

Panwaslu KL menurunkan banner salah satu sponsor yang mengandungi perkataan atribut salah satu kandidat

Sesuai dengan kesepakatan antara PPLN  dan kedua tim sukses para kandidat pilpres kali ini. Para pemilih lebih dimudahkan penyertaannya dalam pilpres, meskipun tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap Luar Negeri (DPTLN), calon pemilih masih bisa menentukan hak suaranya hanya dengan membawa identitas yang menunjukkan WNI seperti  Pasport, KTP atau SIM yang masih berlaku.

Bahkan para pemilih bebas menentukan dimana akan memilih baik di KBRI ataupun SIKL tanpa prosedur yang rumit mengenai pemindahan TPS. Namun masih banyak kesalahfahaman yang ditimbulkan oleh para pemilih lewat POS. Ada yang masih membawa surat suara Pos ke tempat TPS dan mau menyerahkan kepada petugas KPPSLN. Namun karena mekanisme dan waktu yang berbeda, maka surat suara POS diserahkan kepada PPLN untuk ditukar dengan surat suara yang bisa memilih secara langsung di TPS. Dan ini harus dijadikan inspeksi oleh PPLN dan Panwaslu, agar kedepannya nanti dapat diminimalisir dengan memperbanyak penyuluhan dan sosialisasi ke tempat tumpuan WNI.

Sampai pukul 13.00 tengah hari, arus kedatangan para pemilih di SIKL masih terus ramai berdatangan. Kalau pada pagi harinya yang banyak kelihatan adalah para ibu rumah tangga, kaum ekspatriat dan para pelajar. Sedangkan setelah jam 12.00, golongan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berbagai sektor mulai berdatangan. Sepertimana yang dikatakan salah seorang TKI asal Madiun Agus Purwanto (27),

"Teman-teman dari Shah Alam sedang menunggu bus untuk datang memilih. Mereka banyak yang meminta cuti atau bekerja setengah hari."

Sempat terfikir , mengapa pada pileg yang lalu tahap kedatangan  hanya di bawah 25 % , sedangkan pada pilpres kali ini mendapat sambutan berbeda. Ketika ditanyakan kepada salah satu petugas PPLN KL, Masrur (32) mengatakan,

" Ada dua indikasi yang membedakan kehadiran para pemilih di pileg dan pilpres, yaitu Masyarakat Indonesia di Malaysia masih menganggap pileg sebagai jalan pintas sebagaian caleg untuk mendapat kekuasaan. Apalagi para pemilih umumnya nggak kenal siapa yang akan dipilih. 
Beda dengan pilpres, para pemilih lebih mengetahui siapa yang akan dipilih apalagi dibantu pihak media baiuk media massa, elektronik dan media sosial yang menggembar gemburkan."

Apapun semoga pilpres yang mencatat sejarah tersendiri , begitu ketat dan penuh persaingan dapat mengantarkan seorang pemimpin yang benar-benar mampu mengemban amanat yang diembannya. Yang kalah masih bisa membangun negara dengan menjadi oposisi yang baik dan kritis sehingga yang memegang tampuk kekuasaan tetap dalam rel yang benar. Yang menang harus segera melaksanakan semua janji-janji serta visi dan misinya yang ditawarkan sewaktu kampanye.

selamat memilih
salam dari Kuala Lumpur

Mendapat liputan dari agensi berita asing salah satunya Bernama Malaysia

Mantan pebulutangkis Indonesia Hendrawan beserta duta besar Indonesia Herman Prayitno



Dibantu oleh pihak PDRM Polisi Malaysia



Mendapat pengamanan ekstar dari Polri


Felixia Yeap : Berhijab Sebelum Muallaf Lagi

Friday, 4 July 2014 3 komentar

Ketika Hidayah tidak mengenal latar belakang (file dari felixiayeap.blogspot.com)


Hidayah tidak mengenal latar belakang , etnis , status , gender atauapun  gelar. Entah itu bekas preman, bromocorah atau sampai seorang penghibur malam pun apabila sudah mendapat hidayah, hidupnya akan berubah.

Apalagi hidayah itu berupa cahaya iman dan islam bagi seorang non muslim. Pastinya memerlukan perjuangan yang hebat untuk beradaptasi dengan agama barunya. Tekanan baik berupa perasaan dan bathin senantiasa datang di awal memeluk agama barunya. Baik dari keluarga, lingkungan tempat kerja atau dari para sahabat dan handai taulan.

Felixia Yeap (28) seoarang gadis beretnis Tionghua asal Malaysia yang merupakan mantan model majalah Playboy telah berubah total dengan berhijab 7 bulan yang lalu dan mempelajari Islam secara perlahan-lahan . Gadis yang mempunyai tinggi 173 cm ini telah mencari Tuhannya di geraja Khatolik selama 2 tahun dan mencari makna dalam penyembahan Dewa Kuan Yin bahkan mengaku pernah mencoba mengamalkan ajaran Buddha di dalam hidupnya. Namun ketenangan dan merasa dekat dengan Tuhan tak pernah dirasakan.

Namun setelah mulai mendekati Islam , hatinya mulai tenang dan lebih ridho serta lebih bersederhana dalam hidupnya. Maka setelah lama memntapkan hati untuk memeluk agama Islam, Kemarin Khamis 3 Juli 2014 dan bertepatan dengan 5 Ramadhan 1435 H pada jam 6.30 sore , beliau secara resmi mengucapkan Dua Kalimah Syahadah. Salah sebuah Mesjid di Taman Tun Dokter Ismail (TTDI) Damansara menjadi saksi bisu  Felixia Yeap menemui jalan kembali pulang.

Felixia Yeap Menemui jalan kembali pulang


Marilah kita resapi suara hatinya yang saya copas dari blog pribadinya Felixia Yeap , marilah kita cerna perlahan apa yang menjadi kendala dan rintangan sebelum dan setelah beliau memeluk agama Islam :

3 Julai : Hari Kelahiran Semula Ku - Felixia Yeap

Assalammualaikum.

Sejak beberapa bulan ini, dari saat saya bertekad sebulat hati mengenakan hijab walaupun sebagai seorang yang belum Islam hatinya, hingga ke saat ini (3 Julai, sekarang pukul 6 pagi baru lepas Sahur), di mana saya telah Islam di hati, cuma tinggal perasmian sebagai seorang Islam di atas kertas dan di depan 4 orang saksi...saya telah mengharungi pelbagai dugaan.

Bantahan.

Makian.

Sindiran.

Fitnah.

Penyisihan.

Tekanan.

Tetapi syukur Alhamdullilah...saya juga dapat sokongan yang begitu hebat, yang menyentuh hati dan sokongan positif inilah yang serba sedikit menyumbang kepada saya untuk terus beristiqamah.

Dan saya harus berterima kasih juga dengan kedegilan saya. 
Terkenal juga dengan kepala batu saya, saya tidak mudah mengalah. 

Ya...saya mengaku, banyak kali saya rasa tumpas, tewas dan menangis atas semua yang negatif dan kasar terhadap saya. 

Namun, saya tetap tidak tanggalkan hijab saya.

Saya tetap teruskan perjalanan. 

Saya bertuah kerana dikurniakan seorang ibu yang bukan sahaja tabah untuk membesarkan saya dan adik dalam keluarga, tetapi rahmat yang terbesar adalah apabila beliau, seorang yang bukan Islam, langsung tidak mengetahui tentang agama Islam (kecuali yang Islam tak boleh makan khinzir) dan seringkali disindir saudara mara yang lain kerana anak perempuannya bertudung sehingga ke muka depan suratkhabar dan sebagainya...tidak membantah, malah merestui keputusan saya ini apabila saya memberitahu beliau yang saya sedang mempelajari tentang agama Islam dan bercadang untuk memeluknya.
Ibu kata saya sudah banyak berubah lebih baik.
Ibu kata saya dah matang, dah dewasa akhirnya.
Dalam dialek Kantonis, bila saya bermanja dan menanya kenapa beliau merestui keputusan saya, beliau menjawab, "Sang seng jor lor, dai gor nui la...kwai jor hou dor."
Ibu saya senyum, dan saya menahan air mata.

Rata-rata, ramai mualaf yang dibuang keluarga dan disisihkan keluarga kerana keputusan yang sama, dan ada segolongan pula yang terpaksa menyembunyikan identiti mereka sebagai seorang Islam daripada keluarga dan orang ramai kerana takut dibuang keluarga dan disisihkan. 

Saya mengaku, jika ayah saya tidak meninggalkan kami sekeluarga, mungkin perkara yang sama akan berlaku pada diri saya. Tetapi Allah Maha Mengetahui. 

Mungkin ini juga salah satu hikmah dari penceraian ibu dan ayah.
(Ibu saya jauhhhh lebih bahagia sekarang juga, ALHAMDULLILAH!)

Ia memaksa saya untuk berdikari pada usia muda, menjaga adik sehingga saya habis SPM dan terus meninggalkan Ipoh untuk mencuba nasib seorang diri di Kuala Lumpur dengan hanya RM300 sebulan sementara saya belajar di sebuah IPTS. Apabila sudah dihentikan saluran duit satu hari, saya keluar bekerja kerana saya tidak ingin melihat ibu saya terus bersusah payah menggunakan duit simpanan beliau yang tidak seberapa untuk menyara kami adik-beradik. Tambahan pula, adik saya perlu (dan saya pastikan) menyambung pelajaran dan perlu wang untuk membiayai yurannya. 

Saya mula memikul tanggungjawab menyara keluarga.

Pada masa itu, saya tidak ada agama (saya dibesarkan di keluarga yang tidak percaya kepada mana-mana agama atau Tuhan), tidak ada apa-apa bimbingan agama...cuma berbekalkan nasihat dari ibu saya; iaitu jangan menyusahkan orang lain, jangan membiarkan mana-mana lelaki mengambil kesempatan, jangan berbuat jahat, jangan tertipu dengan orang di bandar dan jaga diri baik-baik.

Namun sebagai seorang naif yang tidak tahu apa-apa tentang dunia, tipu helah dan godaan manusia (Ya, keputusan SPM yang baik tidak menjamin anda akan selamat dengan tipu helah dunia)...saya juga mula terikut-ikut dengan orang di sekeliling saya. TETAPI, saya cuba sedaya upaya yang boleh untuk melindungi diri saya dan pada masa yang sama mencari nafkah untuk dihantar balik ke rumah untuk ibu dan adik. Saya kekalkan pendirian untuk tidak sentuh arak, rokok, atau dadah. 
Pernah banyak kali dipaksa, tetapi kedegilan saya untuk menurut paksaan dan suruhan orang lain menyelamatkan saya dari terjerumus sekali dengan yang lain.

Dengan mata saya sendiri saya sepanjang hampir 10 tahun saya terlibat dalam bidang modeling, saya pernah lihat pelbagai jenis manusia dan cara kehidupan yang dikatakan "mewah" dan bahagia.
Mewah juga disamakan dengan kebahagiaan. 
Orang di sekeliling saya pada masa itu kebanyakkannya mengukur kebahagiaan dengan kekayaan teman lelaki, apa parti yang paling "happening" yang mereka dapat pergi, rasa "happy" janji dapat minum dan mabuk, berapa yang boleh dikikis dari lelaki kaya yang memikat, dan kebanyakkan mendahagakan kemewahan dan dicari tanpa mempedulikan harga diri.

Tetapi bagi saya, itu bukan kemewahan yang saya cari. Sebab apa gunanya punyai kemewahan tetapi hidup rasa kosong, tidak bermakna dan bergelumangan dengan dosa?
Itu bukan kebahagiaan yang saya carikan.

Saya pernah cuba mencari Tuhan.
Cuba mendekati diri dengan Tuhan.
Saya pernah pergi ke gereja Katolik setiap Ahad petang selama 2 tahun.
Saya pernah cuba memahami agama Kristian.
Saya pernah cuba mencari makna dalam penyembahan berhala Dewa Kuan Yin dan sebagainya.
Saya juga pernah cuba mengamalkan amalan seorang penganut Buddha.

Tetapi hati saya tidak pernah merasa dekat dengan Tuhan.
Hati saya tidak pernah rasa tersentuh.

***Harap jangan salah faham, di sini saya cuma ingin menekankan bahawa saya rasa lebih dekat dengan agama Islam, dengan Allah SWT. Saya hanya menjelaskan apa yang saya rasa dari hati.

Sejak saya mula mengenali ajaran-ajaran agama Islam, saya lebih redha, lebih tenang dan lebih senang bersyukur dengan hidup yang serba sederhana.
Duit dan kemewahan tidak lagi menarik perhatian saya sepertimana dahulu. 
Saya tidak lagi rasa "impressed" atau teruja dengan kereta sport, bag mahal, kehidupan glamor, atau cita-cita tinggal di rumah besar dan mewah.

Ya, tidak dapat dinafikan, jika ada semua ini, bukan benda yang buruk, malah bonus kehidupan...tetapi wang dan kemewahan tidak dapat membeli rasa bertaubat, rasa ingin menjadi seorang yang lebih baik, ketenangan, keredhaan dan kebahagiaan.

Sepanjang hampir 7 bulan saya berhijab dan mengenali agama Islam, saya banyak menangis. 
Bukan dalam kesedihan, tetapi dalam rasa penyesalan kehidupan yang dulu dan rasa ingin bertaubat.

Seringkali saya merintih dalam bisikkan yang saya ulang tanpa henti, "Ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa saya!"

Pada kali pertama saya melihat video pengislaman dan pengucapan seorang wanita, saya tidak dapat henti menangis.
Pada saya, dia amat bertuah kerana Allah SWT memilih dia untuk diselamatkan.

Masa itu...saya masih tidak tahu apa itu hidayah dan taufiq.

Dan pada hari ini, iaitu hari bersejarah dalam hidup saya...saya akan menjadi seorang Islam secara rasmi. 

3 Julai 2014, bersamaan dengan 5 Ramadhan 1435.

Saya yang telah Islam di hati (tanpa disedari), kini akan mengucapkan 2 kalimah syahadah saya di depan keluarga terdekat saya, dan juga para kenalan yang telah seringkali menyokong dan memberi galakkan pada saya supaya terus istiqamah.

Tidak ada sebarang media yang akan hadir.

Hari ini bukan hanya saja Hari Lahir saya...tetapi juga Hari Kelahiran Semula saya. 
Hari saya kembali akhirnya selepas 28 tahun mencari jalan pulang.
P.S: Saya masih berbangsa Cina, dan akan berkeras mengekalkan nama Cina yang diberi ibu saya. Nama Cina saya dalam bermaksud "Ketenangan, Keanggunan" atau di dalam bahasa Inggeris, "Silent Grace". 
Saya cuma akan menambah nama kurniaan dari mimpi saya di hadapan nama asal.

4 Langkah Mudah Menghilangkan Gambar Capres Di Surat Undangan

4 komentar

Jangan mudah gampang terprovokasi


Hebohnya hilangnya gambar kandidat capres/cawapres nomer urut 2 yaitu Joko Widodo-Jusuf Kalla menuai aneka kontroversi dan pertelingkahan di media sosial. Saling hujat menghujat antar kedua pendukung menampakkan ketidakmatangan dalam menghadapi masalah politik.

Padahal itu hanyalah berita hoax belaka, dengan artian bahwa sebuah berita palsu yang sengaja direka-reka  atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita atau gambar tersebut adalah palsu. Sehingga menimbulkan persengketaan dan saling caci maki antar simpatisan kedua pendukung.

Inilah gambar asli yang saya akan edit


Padahal untuk membuat gambar tersebut sangatlah mudah dan sederhana sekali dengan menggunakan photoshop.Teknik ini sangat simple dengan menggunakan tool Clone Stamp Tool. Karena tools Paint Photoshop dapat menggunakan brush lembut, yang dapat memperhalus tepi stamp, membuat stroke lebih bisa dipercaya karena akan terlihat menyatu dengan baik. Inilah 4 langkah mudah tersebut.

1.Buka photoshop dan masukkan gambar, kemudian aktifkan tool Clone Stamp Tool



2. Tekan Alt+ Klik pada area yang ingin di gandakan.
3.Kemudian seret mouse kepada area yang ingin disamarkan atau dihapus.



4. Ulangi juga pada gambar sebelahnya seperti mana di atas , dan inilah hasilnya. Mudah bukan !!






Semoga tips dan trik sederhana mampu meredakan gejolak panansnya suhu politik tanah air. Namun apapun kita harus menghormati pilihan orang lain , apabila orang lain ingin juga menghormati pilihan kita.
Jangan lupa untuk memilih dan jangan sia-siakan suara kita



Etika Berpolitik Dalam Ramadhan

Thursday, 3 July 2014 0 komentar

Ayo Memilih dan jangan sia-siakan suara anda (image from gambardp.com)

Beberapa hari lagi kita akan menorehkan sejarah baru tentang perjalanan bangsa kita Indonesia, yaitu pemilihan presiden (Pilpres). Negara Indonesia akan memilih presiden baru yang ke-7 pada tanggal 09 Juli 2014 mendatang , Namun untuk Warganegara Indonesia (WNI) di Malaysia akan memilih pada tanggal 5 Juli 2014 dan 6 Juli 2014 untuk kawasan di bawah Panitia Pemilih Luar Negeri (PPLN) Pinang.

Para kandidat capres dan cawapres pada pilpres kali ini terdiri dari 2 kandidat. Kandidat pertama dengan nomer urut 1 yaitu Prabowo Subianto sebagai capres dan Hatta Rajasa sebagai cawapres di usung oleh koalisi yang terdiri dari partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Golongan Karya (Golkar), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Namun belakangan ini Partai Demokrat (PD) yang kelihatan menjaga jarak dengan kedua kandidat berakhir mendukung ke dalam koalisi di atas.

Sedangkan kandidat dengan nomer urut 2 mengusung capres Joko Widodo yang lebih dikenali dengan Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Cawapres. Kandidat no 2 ini diusung oleh Koalisi yang terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hanura dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Pemilihan presiden secara langsung untuk yang ketiga kalinya merupakan pilpres terketat dan persaingan cukup rapat di antara keduanya. Dan ini merupakan pilres yang pertama yang menampilkan 2 kandidat seawal pilpres putaran pertama lagi.

Persaingan tersebut kelihatan sekali dan begitu ketara dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia, baik di perkotaan, pedesaan maupun pedalaman. Mereka berdua begitu arif dan bijaksana dalam memanfaatkan setiap momen dan media sosial baik Twitter, Facebook, blog, instagram dan sms berantai yang dikirimkan melalui media chatting seperti Whatsup maupun wechat.

Namun sayang etika dan adab dalam bersosial di dalamnya banyak dikesampingkan. Mulai dari kampanye negatif sehinggan kampanye hitam seperti fitnah dan pemberitaan yang sengaja diada-adakan seringkali menghiasi di dalamnya. Yang lebih tragis lagi isu SARA seperti ras/etnis dan agama sengaja dihembuskan oleh pendukung maupun simpatisan kedua belah pihak. Apabila tidak ditangani secara serius akan berdampak kepada perpecahan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dan secara kebetulan  pilpres kali  ini bersamaan dengan bulan suci Ramadhan, yang mana di dalamnya umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia melaksanakan ibadah puasa. Seharusnya dengan datangnya bulan Ramadhan, kampanye hitam dan negatif akan tiada atau setidaknya berkurangan. Namun para partisan dan simpatisan yang cukup fanatik seharusnya menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum titik awal pemilihan presiden yang bersih, jujur, adil dan  kampanye tanpa fitnah serta menjunjung tinggi asas-asas keagamaan dalam berpolitik.

Seorang Filsuf Yunani (384 SM- 322 SM) Aristoteles, salah seorang murid Plato mengatakan politik adalah seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama (Common  and Highest  good) untuk sebuah Negara. Bahkan menurutnya , Ilmu politik dan semua cabang  ilmu yang lain di bawahnya bertujuan untuk menciptakan  kehidupan social yang nyaman dan baik.

Seharusnya politik dan Ramadhan bertemu dalam suatu titik dalam memberikan kebaikan dalam kelangsungan bernegara yang ditentukan melalui pemilihan presiden. Namun sayang , persepsi yang berkembang di dalam pemikiran publik, politik sudah identik  dengan kecurangan dan permainan kotor menuju sebuah kekuasaan. Politik sudah cenderung di anggap sebuah dunia yang dipenuhi manipulasi dan penuh intrik. Bahkan para kandidat capres dan cawapres beserta tim suksesnya di belakangnya yang beraktivitas  di dalam bulan Ramadhan atau mengunjungi beberapa pesantren tetap dianggap penuh sintimen kecurigaan dengan niat hanya untuk kepentingan pilpres semata. Dan yang anehnya, tidak sedikit juga orang-orang yang bergelut di dalamnya terkadang berpresepsi dan memahami politik memang begitu adanya (kotor dan penuh intrik).

Seharusnya dengan adanya Ramadhan , para elite politik , partisan dan para simpatisan di belakangnya menjadikan Ramadhan sebagai ajang muhasabah diri , instropeksi diri membersihka diri serta memperbetulkan tujuan visi dan misi dalam memperjuangkan masa depan Negara. Berpolitik juga termasuk ibadah, selagi mana nilai-nilai agama diterapkan didalamnya. Seperti menghindarkan fitnaf dan difitnah, memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam berbangsa dan bernegara.

Menjelang hari-hari terakhir dalam memilih pemimpin Indonesia 5 tahun akan datang , kita masih ada waktu untuk instropeksi diri . Siapa agaknya menurut hati kita yang pantas dan patut membawa kemudi bangsa Indonesia kita. Renungkanlah dengan akal, rasakanlah dengan hati dan buktikan dengan jari-jari tangan kita dengan mencoblos pilihan kita pada waktu pemilihan nanti. Jadilah pemilih yang cerdas, karena ini menyangkut kelangsungan bangsa dan negara kita.

Selamat memilih dan semoga anda memilih kandidat yang tepat.

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani