Etika Berpolitik Dalam Ramadhan

Thursday, 3 July 2014

Ayo Memilih dan jangan sia-siakan suara anda (image from gambardp.com)

Beberapa hari lagi kita akan menorehkan sejarah baru tentang perjalanan bangsa kita Indonesia, yaitu pemilihan presiden (Pilpres). Negara Indonesia akan memilih presiden baru yang ke-7 pada tanggal 09 Juli 2014 mendatang , Namun untuk Warganegara Indonesia (WNI) di Malaysia akan memilih pada tanggal 5 Juli 2014 dan 6 Juli 2014 untuk kawasan di bawah Panitia Pemilih Luar Negeri (PPLN) Pinang.

Para kandidat capres dan cawapres pada pilpres kali ini terdiri dari 2 kandidat. Kandidat pertama dengan nomer urut 1 yaitu Prabowo Subianto sebagai capres dan Hatta Rajasa sebagai cawapres di usung oleh koalisi yang terdiri dari partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Golongan Karya (Golkar), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Namun belakangan ini Partai Demokrat (PD) yang kelihatan menjaga jarak dengan kedua kandidat berakhir mendukung ke dalam koalisi di atas.

Sedangkan kandidat dengan nomer urut 2 mengusung capres Joko Widodo yang lebih dikenali dengan Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Cawapres. Kandidat no 2 ini diusung oleh Koalisi yang terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hanura dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Pemilihan presiden secara langsung untuk yang ketiga kalinya merupakan pilpres terketat dan persaingan cukup rapat di antara keduanya. Dan ini merupakan pilres yang pertama yang menampilkan 2 kandidat seawal pilpres putaran pertama lagi.

Persaingan tersebut kelihatan sekali dan begitu ketara dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia, baik di perkotaan, pedesaan maupun pedalaman. Mereka berdua begitu arif dan bijaksana dalam memanfaatkan setiap momen dan media sosial baik Twitter, Facebook, blog, instagram dan sms berantai yang dikirimkan melalui media chatting seperti Whatsup maupun wechat.

Namun sayang etika dan adab dalam bersosial di dalamnya banyak dikesampingkan. Mulai dari kampanye negatif sehinggan kampanye hitam seperti fitnah dan pemberitaan yang sengaja diada-adakan seringkali menghiasi di dalamnya. Yang lebih tragis lagi isu SARA seperti ras/etnis dan agama sengaja dihembuskan oleh pendukung maupun simpatisan kedua belah pihak. Apabila tidak ditangani secara serius akan berdampak kepada perpecahan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dan secara kebetulan  pilpres kali  ini bersamaan dengan bulan suci Ramadhan, yang mana di dalamnya umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia melaksanakan ibadah puasa. Seharusnya dengan datangnya bulan Ramadhan, kampanye hitam dan negatif akan tiada atau setidaknya berkurangan. Namun para partisan dan simpatisan yang cukup fanatik seharusnya menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum titik awal pemilihan presiden yang bersih, jujur, adil dan  kampanye tanpa fitnah serta menjunjung tinggi asas-asas keagamaan dalam berpolitik.

Seorang Filsuf Yunani (384 SM- 322 SM) Aristoteles, salah seorang murid Plato mengatakan politik adalah seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama (Common  and Highest  good) untuk sebuah Negara. Bahkan menurutnya , Ilmu politik dan semua cabang  ilmu yang lain di bawahnya bertujuan untuk menciptakan  kehidupan social yang nyaman dan baik.

Seharusnya politik dan Ramadhan bertemu dalam suatu titik dalam memberikan kebaikan dalam kelangsungan bernegara yang ditentukan melalui pemilihan presiden. Namun sayang , persepsi yang berkembang di dalam pemikiran publik, politik sudah identik  dengan kecurangan dan permainan kotor menuju sebuah kekuasaan. Politik sudah cenderung di anggap sebuah dunia yang dipenuhi manipulasi dan penuh intrik. Bahkan para kandidat capres dan cawapres beserta tim suksesnya di belakangnya yang beraktivitas  di dalam bulan Ramadhan atau mengunjungi beberapa pesantren tetap dianggap penuh sintimen kecurigaan dengan niat hanya untuk kepentingan pilpres semata. Dan yang anehnya, tidak sedikit juga orang-orang yang bergelut di dalamnya terkadang berpresepsi dan memahami politik memang begitu adanya (kotor dan penuh intrik).

Seharusnya dengan adanya Ramadhan , para elite politik , partisan dan para simpatisan di belakangnya menjadikan Ramadhan sebagai ajang muhasabah diri , instropeksi diri membersihka diri serta memperbetulkan tujuan visi dan misi dalam memperjuangkan masa depan Negara. Berpolitik juga termasuk ibadah, selagi mana nilai-nilai agama diterapkan didalamnya. Seperti menghindarkan fitnaf dan difitnah, memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam berbangsa dan bernegara.

Menjelang hari-hari terakhir dalam memilih pemimpin Indonesia 5 tahun akan datang , kita masih ada waktu untuk instropeksi diri . Siapa agaknya menurut hati kita yang pantas dan patut membawa kemudi bangsa Indonesia kita. Renungkanlah dengan akal, rasakanlah dengan hati dan buktikan dengan jari-jari tangan kita dengan mencoblos pilihan kita pada waktu pemilihan nanti. Jadilah pemilih yang cerdas, karena ini menyangkut kelangsungan bangsa dan negara kita.

Selamat memilih dan semoga anda memilih kandidat yang tepat.

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani