Kenaikan BBM dan Mafia Migas

Tuesday, 26 August 2014 4 komentar



Ura-ura kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) menimbulkan aneka pendapat belakangan ini. Apakah BBM itu dinaikkan ketika pemerintahan SBY sekarang, Atau setelah pemerintahan baru nanti pada era JW-JK nanti. Semuanya menimbulkan pro dan kontra diantara keduanya, sehingga menimbulkan perdebatan ke arah area politik.

Sudah menjadi lumrah apabila terjadi kenaikan BBM, masyarkat di peringkat bawah tentunya yang paling banyak menerima tempiasnya. Karena ada persepsi, setiap kenaikan BBM akan diikuti kenaikan bahan utama sembako. Dan kenaikan BBM pula akan melebar kepada sektor perkhidmatan utama lainnya, dalam hal ini transportasi.

Apakah masih wajar pemerintah mengalokasikan dana berbentuk subsidi yang besar kepada BBM saja ? Bayangkan ratusan triliyun rupiah mengalir begitu saja untuk menyuplai harga BBM agar senantiasa murah dan tidak mengalami kenaikan harga secara drastis. Yang tentunya akan berakibat buruk terhadap ekonomi masyarakat bawah, dan yang pastinya pemerintah akan mengalami tekanan dari pihak bawah berupa kenaikan bahan utama lainnya tak terkontrol dan tekanan secara politik. Yang apabila tidak ditangani secara intensif akan berakibat fatal baik secara ekonomi dan politik.

Enam bulan pertama tahun 2014, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, mengatakan realisasi penyaluran BBM bersubsidi mencapai 22,91 juta kiloliter (KL) lebih tinggi dari yang direncanakan yaitu 22,81 KL. Sedangkan pada periode yang sama pada tahun 2013 yang lalu baru sebesar 22,74 KL.

Lalu timbul dalam fikiran kita, Mengapa kita sebagai bangsa yang suatu ketika dulu termasuk dalam pengekspor minyak , tapi rakyatnya tidak menikmati harga murah BBM dan kadangkala kesulitan mendapatkannya ketika harga BBM mulai naik ?

Saya pernah mempertanyakan kepada seorang kawan yang bekerja di sektor perminyakan di Malaysia, Mengapa harga BBM di Indonesia Mahal ? Beliau menjawab :
" Cadangan minyak mentah kita di prediksi akan habis dalam tahun 2024 dan pada saat ini sedang dicari sumber-sumber minyak baru.
Kita banyak sumber minyak, namun kita hanya mampu mengeluarkan minyak mentah saja (crude oil). Setelah itu, minyak mentah tadi kita ekspor ke negara luar."

"Negara luar mengolahnya menjadi minyak, baru kita mengimportnya kembali dengan harga berlipat ganda. Sebenarnya Indonesia mampu mendirikan pabrik atau kilang pengolahan minyak sendiri. Namun ada orang-orang tertentu yang menguasai dunia eksport dan import minyak negara kita."

"Dan mereka tentunya tidak rela apabila kilang pemrosesan minyak mentah didirikan di Indonesia. Orang-orang dibalik ini akan kehilangan keuntungan dan komisi yang didapatkan dari bisnis eksport import miyak ini. Dan mereka ini  mempunyai jaringan kuat baik di Indonesia atau di luar negeri, jadi susah untuk merealisasikan harga BBM menjadi murah di Indonesia selagi proksi ini tidak diberantas."

Undang Undang Dasar (UUD) 1945 Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan kesejahteraan sosial pasal 23 ayat 2 :
"Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat orang banyak dikuasasi oleh negara."

Pasal 3 berbunyi :
"Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Bagaimana kalau hanya sebaggian orang/proksi tertentu yang hanya menikmati keuntungan dari hasil bumi kita ? sedangkan rakyat kecil dijadikan tumbal dan pasar keuntungan untuk pribadi dan golongannnya saja.
Pemerintah dalam hal ini harus lebih tegas memberantas orang-orang di sebalik semua ini.

Subsidi terhadap BBM terlalu banyak dan memberikan beban terhadap APBN negara. Pengurangan terhadap subsidi BBM wajar dilakukan dan menumpukan pada sektor lainnya seperti pendidikan. Banyak cara pemrintah yang dapat lakukan untuk mengurangi subsidi BBM tersebut, diantaranya :

  • 1. Mendirikan Kilang pemrosesan minyak sendiri

  • 2. Memberikan bantuan langsung pada sasaran (rakyat kecil)

  • 3. Memmberantas mafia-mafia eksport-import migas



Kenaikan BBM akan diikuti oleh kenaikan barang-barang dan pelayanan lainnya. Kami harap pemerintah akan lebih memikirkan kehidupan rakyat kecil pasca kenaikan BBM. Pengurangan subsidi wajar dikurangkan dengan menumpukan pada subsidi sektor lainnya. Ketegasan pemerintah yangkan datang diperlukan dlam hal ini untuk memberantas mafia-mafia yang mengatasnamakan kemakmuran bersama.

Salam dari Kuala Lumpur

Meresapi Perjalanan Bangsa Merdeka

Monday, 18 August 2014 0 komentar



Kuala Lumpur, 17 Agustus 2014

Akhirnya tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika mengenangkan kembali bagaimana bangsa ini dilahirkan
Ketika membayangkan kembali bagaimana bangsa ini diperjuangkan
Bangsa ini tidak lahir begitu saja
Dan bangsa ini tidak jaya begitu saja
Ada sejuta kisah yang tidak diceritakan
Dan ada sejuta resah menyelimuti wajah wajah yang haus akan kemerdekaan

Akhirnya tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika mendengarkan lauangan Allahu Akbar menyatu dengan derap semangat perjuangan
Melesat meluru diantara desingan peluru-peluru yang menjemput kematian
Namun mereka tetap berdiri menusukan bambu runcing yang tergenggam di tangan
Biarpun panasnya sang peluru bersarang di badan
Biarpun amis darah memenuhi sekujur badan

Akhirnya tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika melihat perjalanan bangsa  mempertahankan kemerdekaannya
Aneka pengkhianatan terhadap ideologi dan cemuhan kepada dasar negara
Dibayar dengan aliran darah bangsa sendiri yang tumpah di ribaan pertiwi
Lihatlah genangan darah itu mengalir dari ujung Sumatera
Lihatlah Jeritan itu tersedak di pinggiran Jakarta
Lihatlah erangan itu berhenti di Makasar menuju Ambon Manise

Akhirnya Tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika menerawang ketenangan pertiwi mulai digelitik kembali
Penjarahan dan rusuhan kaum berbicara atas nama reformasi
Dimana-mana berkoar dan berteriak dalam selubung demonstrasi
Namun hasilnya hanya membenturkan keinginan dan suara hati
Tikus-tikus berdansa di dalam meja dan laci Korupsi
Pemerasan dibungkus rapi diantara bobroknya birokrasi

Akhirnya Tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika meresapi kedaulatan bangsa yang semakin dipertanyakan
Para anasir luar mulai mengusik pulau-pulau kecil dan perbatasan
Kemana perginya Timor Loro Saeku...
Kemana menghilangnya Sipadan dan Ligitan..
Kemana perginya hasil alam yang bertaburan..

Akhirnya Tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika memaknai arti sebua keMerdekaan
Apakah rakyat Indonesia sudah merdeka ?
Ketika mereka memenuhi lorong-lorong negeri tetangga
Apakah ekonomi kita sudah merdeka ?
Ketika kita masih terbungkuk-bungkuk di depan kuasa dunia
Apakah budaya kita sudah merdeka ?
Ketika anak muda kita lebih menjadikan budaya luar sebagai ikutan

Namun yang pasti ,
Airmata ini tak akan kubiarkan tumpah kembali
Keyakinan kepada kebangkitan bangsa ini masih membara di dalam hati.
Bangkitlah bangsaku
Bangkitlah nusaku
Kamu tidak sendirian ,

Karena lembutnya pangkuanmu senantiasa kurindukan

Intai Buku : Green Card, Kartu Ajaib Impian Para Imigran

Tuesday, 12 August 2014 0 komentar


Sudah lumrah manusia, senantiasa mempunyai keinginan dan cita-cita untuk berubah. Baik dari pekerjaan, status sosial dan semua yang mempengaruhi kehidupannya. Begitu juga rakyat Indonesia karena keinginan berubahnya yang kuat, Jiwa perantaunya yang diwarisi secara turun temurun oleh nenek moyang kita tetap bergelora sepanjang zaman. Mulai dari Urbanisasi, Transmigrasi bahkan menjadi imigran ke luar negeri baik secara legal dan ilegal.

Petualangan demi petualangan yang dialami mereka, seakan menjadi cerita bisu menemani perjalanan bangsa Indonesia. Lihatlah anak-anak bangsa yang bertaburan di semenanjung Malaysia, Asia Timur seperti Hongkong, Taiwan dan Korea. Bahkan ke Timur Tengah mulai dari Qatar hingga Arab Saudi. Namun apa kita pernah membayangkan, Bahwa anak-anak Bangsa itu bukan hanya bertaburan Benua Asia saja ? Lihatlah di Australia ! Di  benua Eropa bahkan sampai benua Amerika
Apa yang mereka cari ? sebuah penghidupan yang lebih layak dan lebih baik dari sebelumnya yang terasa sulit tercapai di negerinya sendiri.

Membaca sebuah novel Green Card karya Dani Sirait ini memberikan inspirasi dan pengetahuan baru. Bagaimana kita bertahan hidup dan bagaimana cara mengakali hidup di sebuah kota yang tak pernah diam dan berhenti dengan kehidupannya seperti di kota New York, Pintu gerbang ekonomi Amerika Serikat. Ada lebih 60 ribu orang Indonesia saja yang tinggal di Amerika Serikat baik yang berstatus "Illegal Immigrants" maupun yang mempunyai kartu istimewa seperti Grenn Card.

Green Card adalah sebuah kartu identitas yang membuktikan status penduduk tetap (Permanent residence) di Amerika Serikat untuk tinggal dan bekerja secara permanen. Namun tidak mempunyai hak dan kewajiban untuk memilih dan dipilih.

Bagi Imigran, Green Card adalah sebuah kartu sakti dan menjadi sebuah impian untuk bekerja dan hidup lebih nyaman  di Amerika.Sebagai seorang mantan Kepala Biro Kantor Berita Antara di New York, Dani Sirait mempunyai banyak kisah di sebalik Green Card yang di sampaikan melalui cerita novel.

Kita akan dibawa menjelajahi dan berpetualang bersama-sama dalam mendapatkan kartu sakti tersebut. Bagaimana para imigran asal Indonesia masuk ke Amerika ? Bagaimana cara mendapatkan sebuah Green Card ? Ternyata dalam mendapatkan kartu impian tersebut, seribu cara di gunakan dan dilakukan oleh imigran asal Indonesia.

Ada yang melalui perkawinan dengan warganegara Amerika yang secara otomatis mendapatkan Green Card, dan ada juga yang mengawini pemegang Green Card itu sendiri baik sesama warganegara Indonesia maupun warganegara asing lainnya. Melalui perkawinan yang terakhir itu tersebut, banyak terjadi pemerasan dan intimidasi terhadap pemburu Green Card itu sendiri.

Bagi saya pribadi, novel ini adalah kisah nyata sebagian para imigran asal Indonesia yang berada di Amerika. Dan banyak inspirasi yang saya dapatkan dari novel ini. Intinya sebuah hidup itu membutuhkan sebuah perjuangan dan pengorbanan. Apalagi sebagai imigran atau tenaga kerja Indonesia yang bertebaran di seluruh dunia.

Ada yang saya garis bawahi dari ucapan tokoh dalam novel ini yaitu Rafli kepada kawannya :
"Jadi walaupun media-media di Indonesia selalu bilang bahwa kita adalah pahlawan devisa, sebutan itu nggak perlubuat kita.
Karena yang jauh lebih penting, kita adalah pahlawan buat kita sendiri dan buat keluarga kita.
Tidak ada yang bisa diandalkan  selain diri kita sendiri dan keluarga kita"

Dani Sirait memberikan presentasi tentang novelnya dihadapan para WNI di Kuala Lumpur

Foto Bareng bersama para WNI

Aksi spontan sepasang WNI dengan novel Green Card



 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani