Meresapi Perjalanan Bangsa Merdeka

Monday, 18 August 2014



Kuala Lumpur, 17 Agustus 2014

Akhirnya tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika mengenangkan kembali bagaimana bangsa ini dilahirkan
Ketika membayangkan kembali bagaimana bangsa ini diperjuangkan
Bangsa ini tidak lahir begitu saja
Dan bangsa ini tidak jaya begitu saja
Ada sejuta kisah yang tidak diceritakan
Dan ada sejuta resah menyelimuti wajah wajah yang haus akan kemerdekaan

Akhirnya tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika mendengarkan lauangan Allahu Akbar menyatu dengan derap semangat perjuangan
Melesat meluru diantara desingan peluru-peluru yang menjemput kematian
Namun mereka tetap berdiri menusukan bambu runcing yang tergenggam di tangan
Biarpun panasnya sang peluru bersarang di badan
Biarpun amis darah memenuhi sekujur badan

Akhirnya tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika melihat perjalanan bangsa  mempertahankan kemerdekaannya
Aneka pengkhianatan terhadap ideologi dan cemuhan kepada dasar negara
Dibayar dengan aliran darah bangsa sendiri yang tumpah di ribaan pertiwi
Lihatlah genangan darah itu mengalir dari ujung Sumatera
Lihatlah Jeritan itu tersedak di pinggiran Jakarta
Lihatlah erangan itu berhenti di Makasar menuju Ambon Manise

Akhirnya Tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika menerawang ketenangan pertiwi mulai digelitik kembali
Penjarahan dan rusuhan kaum berbicara atas nama reformasi
Dimana-mana berkoar dan berteriak dalam selubung demonstrasi
Namun hasilnya hanya membenturkan keinginan dan suara hati
Tikus-tikus berdansa di dalam meja dan laci Korupsi
Pemerasan dibungkus rapi diantara bobroknya birokrasi

Akhirnya Tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika meresapi kedaulatan bangsa yang semakin dipertanyakan
Para anasir luar mulai mengusik pulau-pulau kecil dan perbatasan
Kemana perginya Timor Loro Saeku...
Kemana menghilangnya Sipadan dan Ligitan..
Kemana perginya hasil alam yang bertaburan..

Akhirnya Tumpah juga
Genangan airmata yang tertahan di ujung kelopak mata
Ketika memaknai arti sebua keMerdekaan
Apakah rakyat Indonesia sudah merdeka ?
Ketika mereka memenuhi lorong-lorong negeri tetangga
Apakah ekonomi kita sudah merdeka ?
Ketika kita masih terbungkuk-bungkuk di depan kuasa dunia
Apakah budaya kita sudah merdeka ?
Ketika anak muda kita lebih menjadikan budaya luar sebagai ikutan

Namun yang pasti ,
Airmata ini tak akan kubiarkan tumpah kembali
Keyakinan kepada kebangkitan bangsa ini masih membara di dalam hati.
Bangkitlah bangsaku
Bangkitlah nusaku
Kamu tidak sendirian ,

Karena lembutnya pangkuanmu senantiasa kurindukan

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani