Madura : Keterikatan Warna Dengan Alam

Tuesday, 4 November 2014 2 komentar



File ini diambil dari www.zymco.co.uk



Sebuah taksi meluncur perlahan karena mendekati persimpangan jalan yang secara kebetulan lampu lalu lintasnya sudah menunjukkan warna kuning. Empat penumpang di dalam taksi itu adalah semuanya orang Madura yang sedang membicarakan seputar pekerjaanya sambil menunggu lampu lalu lintas yang sedang menunjukkan warna merah.

Beberapa saat kemudian lampu lalulintas sudah berubah warna menjadi hijau, namun mobil yang didepan taksi mereka masih belum beranjak mau jalan. Akhirnya salah seorang dari mereka menggerutu sendiri , 

Abbeh lampunah la Bhiruh, mak gitak ajhelen motor e adhek reyah.” ( Lah lampunya sudah warna biru, kok belum berjalan mobil didepan ini ).

Dari dialog diatas, orang Madura tetap menyebut warna BIRU untuk menyebutkan warna HIJAU, tepatnya BIRU DAUN atau Bhiruh Deun. Mengapa demikian ?
Karena di Madura tidak ada kosa kata tentang warna yang menunjukkan warna Hijau.

Warna-Warna Dasar Orang Madura

Pada Dasarnya, orang Madura hanya mengenal warna Hitam, Putih, Merah, Biru dan Kuning. Ini terbukti dan dapat dilihat pada rumah-rumah lama orang Madura yang dipenuhi warna-warna kontras seperti Merah, Biru, Hijau  (Biru Daun) dan Kuning.

Dan warna-warna kontras tersebut dapat juga dilihat  pada peralatan kesenian atau kebudayaan seperti batik Madura, pecut, Keleles kerapan sapi (kereta/tempat jokinya berdiri), kipas atau hiasan pada gagang celurit serta pisau.
 
Pecut Khas Madura (balakurawaernut.blogspot.com)

Namun dari warna-warna dasar tersebut berkembang menjadi aneka pilihan warna. Dan keunikannya adalah, masyarakat Madura selalu mengkaitkan warna pilihan itu dengan tumbuhan atau hewan. Contohnya adalah,

Untuk Warna Biru ada Bhiruh Deun/ Biru Daun (Hijau Tua), Bhiruh Ompos/ Biru Pucuk Daun (Hijau muda), Bhiruh Langngik (Biru Langit), Bhiruh Tasek (Biru laut), Bhiruh E’tek (Biru yang sewarna dengan telur itik) Dan sebagainya.

Untuk warna Merah ada  Me’ra Ateh/ Merah Hati (merah pekat), Me’ra Delimah/Merah Delima/Merah muda, Me’ra Manggis/Merah Manggis Dan sebagainya.

Untuk Warna Kuning ada Kone’ng Telor/Kuning Telur (Oranye), Kone’ng Konyik (Kuning Kunyit), Kone’ng Gedding (Kuning Gading), Kone’ng Sabuh (kuning Sawo) Dan sebagainya.

Mengapa masyarakat Madura selalu menyebutkan warna dengan diikuti nama tumbuhan atau hewan (Alam ) ? Saya menyimpulkan , bahwa kehidupan masyarakat Madura begitu dekat dengan alam dan tidak dapat dipisahkan dengan alam.

Bahkan dalam kehidupan sehari-harinya, ketika menyampaikan pesan kepada keluarganya sering kali menggunakan kiasan pada binatang. Contohnya,

Mun Odhik jek gey-nganggey, ngabber tak tenggih ngaleh tak dhelem ( Dalam hidup itu jangan seperti Anggey ( Serangga yang beterbangan mencari lampu kalau malam),  Terbang tidak tinggi menggali tidak dalam.

Yang membawa maksud dalam hidup itu harus konsisten dan berkomitmen. Serta jangan nanggung atau separuh-separuh dalam mengerjakan sesuatu apapun

Apapun tentang warna HIAJU itu sendiri  bagi masayarakat Madura seringkali menjadi joke-joke hangat ketika merantau keluar Madura. Ada yang bertanya apakah di Madura ada bubur kacang hijau ?
Apakah program penghijauan pemerintah di Madura berhasil ?
Dan yang pastinya warna-warna dalam lampu lalu lintas hanya ada Merah, Kuning dan Biru bagi masyarakat Madura.

Jadi ketika sudah membaca tulisan ini, jangan sampai beranggapan bahwa orang Madura itu buta warna.. he..he..he..
Namun orang Madura lebih kreatif dalam menempatkan alam dalam bahasa sehari-harinya.

Salam dari Kuala Lumpur.

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani