Ilmu Parenting : Solusi Dampak Sosial Pengiriman TKI Ke Luar Negeri

Monday, 1 December 2014



Dra.Mahyi Dinilyas sedang mempresentasikan "ilmu Parenting" dihadapan para TKI



Pemimpin politik dan militer Perancis abad-18, Napoleon Bonaparte mengatakan “Tangan kanan seorang perempuan mengayunkan buaian, Namun tangan kirinya mampu menggoncangkan dunia”. Pepatah itu memberikan banyak penafsiran yang pada dasarnya adalah masa depan suatu bangsa dapat dicorakkan dan ditentukan oleh seorang wanita yang berada dalam struktur unit/institusi  terkecil dalam sebuah negara yaitu keluarga.

Seorang wanita yang bergelar seorang ibu pastinya paling banyak mempunyai waktu bersama keluarga. Untuk itu seorang ibu haruslah mempunyai  ilmu yang mencukupi dalam mendidik anak sesuai dengan zamannya. Karena cara-cara mendidik anak senantiasa berubah dan bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Tidak mungkin disamakan cara mengasuh, membimbing  dan mendidik anak pada zaman kita dulu dengan zaman sekarang, tantangan dan halangan pastinya berbeda. Apabila pada zaman kecil kita dulu, pegangan dan alat permainnanya adalah kelereng dan karet. Namun anak-anak sekarang alat permainnnanya semuanya berada dalam genggaman tangannnya , yang hanya tinggal sentuh dan pencet saja.

Ilmu –ilmu Parenting atau tentang ilmu cara mengasuh, membimbing dan mendidik anak tersebut tidak diajarkan dalam kurikulum persekolahan. Namun bisa didapatkan dari pengalaman seseorang atau kajian yang telah dilakukan oleh para pakar tentang ilmu tersebut didalamnya

Pentingnya Ilmu Parenting Bagi Seorang TKI

Keberadaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih dilihat dari faktor segi ekonomi saja oleh pemerintah. TKI masih diagung-agungkan sebagai pahlawan sumber devisa negara, yang mana hasil keringatnya yang dikirimkan ke Indonesia (Remitansi) mampu mencorakkan ekonomi di peringkat dasar pada negara.

Dan pengiriman TKI ke luar negeri masih dijadikan sebuah solusi oleh pemerintah, dalam ketidak-mampuannya menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi rakyatnya. Namun dampak sosial yang ditimbulkan oleh hal tersebut  masih belum terfikirkan secara nyata oleh pemerintah.

Pemerintah hanya memfokuskan kepada sisi TKI itu sendiri, baik mulai dari pemberian keterampilan praTKI, penempatan hingga perlindungan selama berada di negara tujuan. Pernahkan pemerintah memikirkan dan membicarakan tentang dampak sosial pengiriman TKI dan kesannya kepada keluarga dan anak TKI tersebut selama ditinggalkan di kampung ?

Bagaimana perkembangan keluarga dan anak-anak yang ditinggalkan minimal selama 2 tahun untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKI ?
Tidak sedikit keluarga mereka berakhir dengan perceraian dan tidak sedikit anak-anak mereka menjadi korban dan berantakan perkembangannya. Dan yang paling banyak mendapat kesan dari dampak sosial ini adalah anak-anak TKI itu sendiri.
Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia Hermono memberikan sambutan di Aula KBRI Kuala Lumpur


Menurut Hermono, Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Sebagian besar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia adalah sudah mempunyai keluarga baik di Malaysia ataupun di Indonesia dan 70% didalamnya adalah perempuan.

Maka dari itu, diperlukan pemberian pelatihan dan pendidikan kepada para TKI itu sendiri dalam menanggulangi atau setidaknya meminimalisir kesan dari dampak sosial yang ditimbulkan oleh pengiriman TKI ke luar negeri tersebut. Salah satunya adalah memberikan dan menekankan pentingnya ilmu parenting kepada TKI itu sendiri.
 Seperti mana yang telah dilakukan oleh MS- Cerdas baru-baru ini, yaitu memberikan pendidikan dan seminar tentang ilmu parenting kepada para TKI di beberapa titik yang menjadi tumpuan TKI di Malaysia. 

MS Cerdas yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari MS Cargo, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman barang/paket door to door ke Indonesia. Telah melakukan road show memperkenalkan ilmu parenting kepada para TKI dalam 2 hari berturut-turut.
Mulai dari shelter TKI di KBRI Kuala Lumpur, bekerjasama dengan komunitas-komunitas WNI di Malaysia seperti Fatayat NU Cabang Istimewa Malaysia dan IKMA (Ikatan Keluarga Madura) hingga asrama-asrama pekerja pabrik/kilang di Senawang , Negeri Sembilan.
Salah satu audien tak mampu menhan emosinya dalam sesi tanya jawab seputar Ilmu Parenting

MS Cerdas mendatangkan pakar ilmu parenting, yaitu Dra. Mahyi Dinilyas seorang Trainer dari Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta dalam road show tersebut. Aneka tema keparentingan dipresentasikan berdasarkan latar belakang dan tahap pendidikan para TKI itu sendiri . Mulai dari ‘Persiapan Pra Nikah”, “Cara Memilih pasangan yang Baik” hingga “Tantangan Mendidik Anak Di Era Digital.”

Berdasarkan reaksi dan interaksi antara pembicara/trainer dan para TKI, pendidikan Ilmu Parenting mendapat sambutan aktif. Terbukti dari banyaknya tanya jawab, mulai dari seputar hubungan pranikah hingga tantangan dan permasalahan membesarkan anak yang ditinggalkan di kampung masing-masing.

Seharusnya program baik seperti ini, mendapat dukungan penuh pemerintah dan kalau perlu dijadikan program unggulan/nasional untuk kedepannya nanti. Dan tidak hanya dalam bentuk seminar belaka, Namun bisa dijadikan mata pelajaran wajib dalam kurikulum persekolahan di Indonesia.

Saya tetap berkeyakinan untuk mencapai negara yang kuat dan bermartabat, tidak ada cara instant untuk merealisasikan. Pemerintah dan seluruh elemen bangsa harus bersatu dari sekarang untuk mempersiapkan para generasi dan anak-anak yang sehat dan cerdas baik fisik dan emosi. Dan tumpuan yang utama adalah memperkasakan institusi terkecil negara yaitu bermula dari dalam sebuah keluarga.

Salam dari Kuala Lumpur.

Bersama Ikatan Keluarga Madura (IKMA)

Bersama Fatayat NU Cabang istimewa Malaysia

Bersama para pekerja Pabrik/kilang di Senawang

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani