Ruang Angkasa Malaysia Masih Berasap

Monday, 19 October 2015

Ruang angkasa Malaysia masih berasap sampai hari ini. (Highway PLUS exit Kajang/Bangi dekat Kuala Lumpur)

 Membicarakan topik pencemaran udara yang diakibatkan  oleh kebakaran hutan di pulau Sumatera dan Kalimantan, seakan sudah lali kita membaca dan mendengarnya. Namun pencemaran udara yang sudah mencapai tahap kritis tersebut tak kunjung selesai dan titik-titik api masih terus bermunculan di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Lebih hampir sebulan ruang angkasa di Malaysia senantiasa diseliputi asap dan seakan-akan berkabut laksana pagi atau senja hari. Namun yang menjadi pembeda adalah rona merah dilangit sebelah barat dan timur tak kelihatan. Kerinduan melihat sinar matahari dan birunya ruang angkasa hampir dirasakan oleh segenap rakyat Malaysia pada umumnya tanpa terkecuali 3 juta jiwa rakyat Indonesia disana.

Banyak inisiatif telah dilaksanakan oleh pemerintah Malaysia dalam mengantipasi pencemaran udara yang melanda ruang angkasanya, yaitu seringkali melaksanakan hujan buatan, mengirimkan bantuan armada pemadam kebakarannya dan melaksanakan sholat Hajat sebagai bentuk  ikhtiar rohaninya. Namun pencemaran tersebut masih terus berlaku dan berkelanjutan sampai saat ini.

Singkirkan Ego Over Nasionalisme
Apabila hal-hal dan sesuatu yang menyangkut hubungan dan interaksi berkaitan Indonesia-Malaysia, seringkali kita mengedepankan nasionalisme. Seperti even olahraga, budaya atau kepada sesuatu yang berbentuk persaingan. Itu sesuatu yang bagus dan harus terus kita pupuk. namun apabila semuanya dilihat dan diukur dari faktor nasionalisme tanpa mengira rasa kemanusian dan persaudaraan, Ianya hanya akan memebrikan kesan negatif dan menimbulkan bibit -bibit yang mengusik silaturrahim dan semangat kebersamaan.

Pada awalnya, saya pribadi juga merasa terusik rasa nasionalisme saya. Ketika di media sosial disindir sedemikian rupa berkaitan dengan kiriman kabut asap dari Indonesia. Seterusnya sindir- menyindir terjadi antara pengguna media sosial kedua Negara. Seperti hastag #TerimakasihIndonesia menjadi trending dan Viral di Malaysia. Bahkan di Singapura , dibuatkan sebuah situs satira untuk menyindir  kabut asap ayng menyelimuti angkasa Singapura “Thank you Indonesia for 11 months air clean”.

Semuanya itu berawal atas komentar Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla di media yang mengatakan tak seharusnya  warga Malaysia dan Singapura marah atas bencana kabut asap. Sebab sebelum kabut asap melanda, Indonesia sudah menyumbang udara yang baik ke dua negara tetangga tersebut. (okezone.com, 18 September 2015).

Namun setelah difikirkan kembali dengan hati yang tenang, krisis kebakaran hutan ini tak mampu dipikul oleh Indonesia sendirian. Hasrat baik dari Singapura dan Malaysia untuk membantu harus dilihat sebagi bentuk rasa kebersamaan dan tetangga yang baik.

Kesan dari  pencemaran kabut asap tersebut tidak hanya dialami oleh rakyat Malaysia dan Singapura saja , Namun rakyat Indonesia yang berada di kedua negara tersebut juga merasakan kesannya. Khususnya Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di bagian luar seperti sektor perkebunan dan konstruksi.


Suasana di Sampit Kalmantan Tengah 2 hari yang lalu (Kiriman dari Sahabat via WhatssApp)

Bayangkan kesan yang disebabkan  secara tidak langsung  oleh pencemaran tersebut sudah membuat mata perih dan kering berterusan tenggorokan kami sebagai TKI yang bekerja di sektor konstruksi. Bagaimana pula dengan kesan yang dialami secara langsung oleh saudara-saudara kami yang berada di Sumatera dan Kalimantan. Pekatnya kabut asap yang mengganggu kehidupan seharian mereka tak mampu kami bayangkan dari sini.

Tindakan nyata dari pemerintah masih dilhat kurang maksimal lagi, terutama tindakan secara hukum. Oknum-oknum dan perusahaan yang terbukti bersalah harus dimejahijaukan dan jangan sampai terkesan tebang pilih serta pandang bulu. Berikan mnereka tindakan keras, karena mereka telah melakukan tindakan kriminal sosial sekaligus kriminal lingkungan.
Saya yakin pemerintah Indonesia mampu melakukan dan melaksanakan tindakan tersebut sekaligus memulihkan kepercayaan Asean dan dunia Internasional pada umumnya

1 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani