Jakarta - Kuala Lumpur, Suhu Politik Memanas Di Bulan November

Monday, 31 October 2016 2 komentar

Demonstration image by newfirst.lk

Iringan lagu piano begitu syahdu dan menyentuh dalam lagu “ November Rain”, Lagu balad terbaik dari grup rocker Amerika, Guns N Roses ini menjadi siulan generasi 80an. Lagu tersebut merupakan  lagu yang saya sukai, disamping lagu “Holiday” dan “Wind Of Change” karya grup Scorpion dari Jerman.

Namun kesyahduan lagu “November Rain”, tidak menyentuh 2 ibukota negara ASEAN yaitu Jakarta dan Kuala Lumpur. Karena disebabkan isu dan rumor, Demonstrasi yang berawal dari kegaduhan politik lokal di negara masing-masing.

Apabila Jakarta akan diputihkan oleh umat Islam dengan laungan “Allahu Akbar”, pada 4 November mendatang, yang mengambil momen relijius, setelah pelaksanaan  sholat hari Jum’at. Demonstrasi yang berpunca dari kegaduhan politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta ini, disulut oleh salah seorang calon petahana yang berpunca karena disinyalir melakukan penistaan terhadap agama Islam.
Demo jild I anti Ahok (Foto Harianterbit.com)


Kecaman dan ancaman terhadap calon tersebut, membaur sekali dengan aroma kegaduhan politik menjelang Pilkada yang semakin memanas. Beberapa organisasi berbasiskan Islam telah sepakat dan bersatu, untuk melakukan demonstrasi jilid ke-II untuk meminta pemerintah memejahijaukan calon tersebut. Walaupun  si calon tadi sebelumnya telah meminta maaf atas apa yang dilakukan.

Aroma November juga sepertinya tidak membawa kesyahduan politik di kota Kuala Lumpur. Pertembungan demonstrasi antara kelompok kuning dan merah sepertinya akan terjadi. Kelompok Kuning yang merupakan LSM pro oposisi, akan melakukan demonstarasi pada 19 November mendatang di Kuala Lumpur.

Sidang media Bersih 5 (foto dari nmalaysiakini.com)

Kelompok yang terkenal dengan sebutan “Bersih’ ini, telah melakukan demontrasi tahunan sejak 2007 lagi, dan kali ini memasuki jilid yang ke-5 tahun ini. Demo ini dilakukan dengan tujuan awal  meminta pemilihan Umum Malaysia harus dilakukan dengan adil, namun telah membesar menjadi isu politik seputar isu korupsi dan kebijakan pemerintah Malaysia . Dan umumnya diikuti oleh partisan dari pakatan partai politik oposisi Malaysia dan LSM-LSM pro Oposisi.

Namun ianya juga mendapat tentangan dari kelompok “Merah “ yang merupakan kumpulan pro pemerintah. Dan tahun lalu , hampir saja terjadi gesekan fisik secara langsung antara kedua kelompok tersebut. Terutama di pusat tumpuan Kuala Lumpur seperti di Bukit Bintang dan Sekitar Menara Petronas KLCC.

Ada sedikit kesamaan yang mewarnai dan memicu mengapa kedua demonstrasi itu terjadi.  Semuanya berawal dari pertembungan dan perbedaan politik lokal yang terjadi. Serta peran serta media sosial yang mejadi alat propaganda dari mereka, baik yang pro pemerintah maupun oposisi.

Namun apapun yang terjadi, semoga demonstrasi tersebut tidak menyisakan luka dan dendam yang berkepanjangan. Yang pastinya panasnya Jakarta dan Kuala lumpur, akan mengundang anasir-anasir luar ikut menari didalamnya. Karena panasnya Jakarta dan Kuala Lumpur juga, akan membuat mereka tertawa  sambil menunggu momen tepat, untuk menembakkan strategi jangka panjangnya.


Jangan biarkan mereka Menari dan tertawa
Salam Dari Kuala Lumpur.

Passport, Rhoma Irama Dan 1001 Macam Pekerjaan

Wednesday, 26 October 2016 3 komentar

 
Paspor Indonesia (foto dari depok.imigrasi.go.id)

Sambil menunggu antrian pengambilan pasport, di ruangan sebelah kiri Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Kupasangkan handsfree ke telingaku sambil mendengarkan lagu favorit yang terkumpul di telefonku.
Secara kebetulan, lagu yang terputar adalah lagu Rhoma Irama yang berjudul "1001 Macam". Yang menceritakan tentang jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan manusia, mulai dari kelas rendah sampai kelas presiden, mulai dari yang halal sampai yang memudar dan abu-abu kehalalannya.

Petikan gitar Bang Haji dan alunan suling dari lagu itu, mengantarkanku pada sebuah cerita, bagaimana perjalanan WNI di Kuala Lumpur untuk mendapatkan sebuah pasport ?
Perjalanan tersebut bermula dari pagi buta, saat mereka berbaris antri di depan pintu gerbang KBRI, yang berada di jalan Tun Razak Kuala Lumpur itu, Mereka sudah antri dari sebelum adzan shubuh berkumandang lagi. Biasanya bagi WNI yang datang dari luar Kuala Lumpur, mereka telah datang lebih awal lagi untuk memperebutkan antrian paling depan lagi.

Kelibat orang-orang menawarkan aneka jasa dan penjual asongan ikut juga berbaur diantara antrian para WNI tersebut. Suasana tersebut sangat identik sekali dengan suasana serba rasa Indonesia. Mulai dari bau rasa kuliner dari kantin sebelah KBRI, hingga rayuan -rayuan berbisa dari para makelar yang menawarkan aneka jasanya. Mulai dari rayuan akan cepat dilayani, hingga mampu menguruskan kemudahan-kemudahan pelayanan lewat jalur pintas.

Mereka begitu arif sekali, dengan aneka persoalan para WNI yang jarang datang ke KBRI. Mulai dari menjual bolpen hingga menjual sepatu karet yang dijajakan di luar pintu gerbang KBRI Kuala Lumpur. Ada ruang sedikit mengambil kesempatan dalam kebingungan WNI tadi. sepatu karet yang seharga RM10 di pasar Chow Kit, dipatoknya menjadi RM30 melebihi keuntungan pada umumnya. Kalau nasib lagi baik, dapatlah kiranya harganya menjadi RM25.

Begitu juga para makelar yang berpakaian sedikit necis, bergerak kesana kemari menberikan informasi, bahwa untuk penukaran pasport tidak disediakan formulir. Segala informasi terkait harus ditulis dibalik fotokopi pasport yang ada. Dan kata mereka , bagi yang tidak lengkap akan disuruh pulang.

Brakkk..
Satu dayungan, dua pulau terlewati. Dalam artian, menyampaikan informasi sekaligus menakuti-nakuti WNI yang sedang antri tadi. Nampaklah kegelisahan dari sebagian wajah-wajah WNI yang beratur.
Makelar tadi mendekati dan membisiki bersedia membantunya. Ongkos jasanya beragam dari RM10-RM20. Ternyata dibalik kertas fotokopi tadi hanya menuliskan nama, alamat dan nomer telefon di Malaysia dan Indonesia. Kalau mampu mempengaruhi minimal 5 WNI dalam 1 jam, penghasilannya hampir setaraf dengan gaji tukang di bangunan dalam 8 jam kerja.

Menjelang jam 7.30 pagi, pintu gerbang KBRI sudah mulai dibuka. WNI dari berbagai latar belakang pekerjaan, beratur kembali untuk mendapatkan nomer antrian sesuai keperluannya. Petugas keamanan mewanti-wanti agar tidak saling berebut, dan membiasakan budaya mengantri. Segala peraturan dan persyaratan pelayanan yang disediakan KBRI, dijelaskan satu persatu dengan bahasa yang sangat sederhana.

Setelah mendapatkan nomer antrian sesuai dengan kebutuhananya, mereka akan dipersilahkan duduk didalam ruangan yang berAC, sambil menunggu nomernya dipanggil sekaligus terpampang di layar monitor yang dipasang di depan (atas loket) dan dan diruang menunggu lainnya.

Banyak fasilitas yang diberikan secara gratis oleh KBRI Kuala Lumpur, seperti fotokopi dokumen dan pas photo untuk passport atau Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP). Dan kemudahan toilet yang semakin banyak dengan petugas kebersihannya sekali , hingga kantin yang lebih nyaman dan lebih luas dibagian belakang KBRI.

Bagi pemohon passport baru ( baik karena rusak, hilang atau habis masa tempohnya), Apabila semua persyaratan dan ketentuan telah terpenuhi. Pemohon diberikan nomer antrian lagi untuk menunggu pemotretan dan sidik jari. Baru setelah itu diberikan kwitansi pembayaran sekaligus surat pengambilan passport.

“Fahmi Ali Mahfudz, asal Pamekasan Jawa Timur, harap segera antri didepan loket 29”, terperanjat seketika membuyarkan lamunanku. Namaku dipanggil oleh petugas ibu berkacamata dari dalam loket 29. Kulepaskan handsfree dan kumatikan seketika player MP3 di HPku, sambal bergegas berdiri mengikuti barisan yang ada. Untuk menunggu pembagian passport menurut nomer antrian yang telah dikumpulkan.

Ketika keluar dari pintu KBRI, segerombolan tukang taksi sudah menunggu sambil menanyakan tujuan, dan mau pulang kemana. Supir-supir  taksi ini termasuk dalam jenis cekik darah , menurut sebutan orang Malaysia. Mereka tidak menggunakan argometer, tapi menerapkan tarif per kepala. Contohnya perjalanan dari KBRI ke Kotaraya yang biasanya tarifnya sekitar RM10, tapi dihitung per kepala dari RM10 – RM15. Bayangkan kalau penumpangnya 5 orang, tinggal dikalikan tarif tadi. Berkali lipat keuntungan supir-supir taksi yang antri didepan KBRI.

Ternyata perjalanan untuk mendapatkan sebuah passport, mempertemukan dengan 1001 macam pekerjaan. Mulai dari para makelar, petugas keamanan, petugas cleaner, hingga supir-supir taksi jenis  cekik darah. Seperti bait lagu bang Haji tadi ,

“Ada cara yang halal ada cara yang haram
Silahkan pilih mau cara mana
Namun semua cara ada tanggung jawabnya
Di hadapan tuhan dan manusia”

Ruang Tunggu KBRI Kuala Lumpur, 25 Oktober 2016




Bila TKI Tidak Berdokumen Sakit..

Tuesday, 11 October 2016 0 komentar


(photo by www.liveolive.com)

Sudah hampir 5 hari Bu Marwiyah (37 tahun / nama samaran) tidak keluar dari dalam kamarnya. Demam yang disertai batuk tersebut tak kunjung sembuh, sejak ianya cuti kerja seminggu lalu. Beberapa botol air mineral dan kepingan tablet sakit kepala,  diletakkan di sebelah pembaringannya sebelah kanannya. Koyo persegi empat masih menghiasi wajahnya yang semakin memucat.

Kamar berdindingkan triplek berukuran 2 x 3 meter itu, kelihatan pengap bercampur bau baju kotor. Yang ditumpuk di ujung pojok sebelah kiri lemari terbuat dari triplek juga. Maklum saja, Pak Wiranto (40 tahun / nama smaaran) tidak punya waktu banyak untuk membantu kerja yang biasa dilakukan istrinya.

Kamar Pak Wiranto merupakan kamar berbentuk bedeng panjang yang dihuni oleh puluhan pekerja di area proyek bangunan. Para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) biasa menyebutnya dengan panggilan “rumah kongsi”. Rumah sementara untuk pekerja di sebuah proyek sebuah bangunan yang sedang dalam proses penyelesaian.

Pak Wiranto di bangunan tersebut bekerja sebagai tukang pasang batu, dan Bu Marwiyah menjadi pelayan para tukang yang satu grup dengan suaminya. Biasanya di lokasi rumah kongsi, prasarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) sangat memprihatinkan sekali. Tempat mandi yang dikumpulkan antara pekerja laki-laki dan perempuan tanpa sekatan apapun , Tempat buang air besar yang terbatas dan fasilitas tidur seadanya.

Dalam seminggu ini, Bu Marwiyah hanya mengandalkan kepingan tablet obat sakit kepala sebagai alternatif penyembuhan sakitnya. Beliau sendiri belum tahu apa penyebab sakitnya, hanya berandai-andai kalau sakit kepala dan demam  , minum tablet sakit kepala pasti sembuh dalam sehari dua.

Ada keinginan dari Pak Wiranto untuk membawa istrinya tersebut ke klinik terdekat. Tapi karena faktor yang dirinya tidak mempunyai dokumen lengkap serta rasa takut tertangkap aparatur Malaysia, ianya mengurungkan niat tersebut. Dan hanya menunggu faktor keberuntungan dan nasib, siapa tahu dalam sehari dua ini demam istrinya akan sembuh. Tapi nyatanya hingga saat ini, keadaan bu Marwiyah semakin lemah dan memburuk. Sudah dari kemarin Bu Marwiyah tidak makan dan parahnya lagi disertai muntah-muntah setiap disuapkan makanan.

Akhirnya ada solusi dari teman-teman satu kongsi, walaupun akan berakibat fatal kalau ketahuan. Karena Bu Marwiyah tidak mempunyai dokumen kerja yang sah, maka dipinjamkan passport yang ada visa kerja salah seorang perempuan yang agak mirip dengan beliau. Lalu difotokopi passport tadi, dengan harapan lebih buram foto pada halaman depannya. Sehingga nanti di klinik kurang banyak pertanyaan, cukup dengan satu alasan mudah yaitu passport asli dipegang oleh majikan.

Akhirnya Bu Marwiyah diantarkan ke klinik terdekat oleh kepala kerjanya menggunakan taksi langganan pekerja bangunan tersebut. Pak Wiranto sebenanya ingin ikut, tapi apa daya dokumennya juga tidak lengkap. Beliau hanya mampu berdo’a disebalik kekhawatiran akan keselamatan istrinya.

Dua jam kemudian, taksi yang membawa bu Marwiyah kelihatan dari balik pintu gerbang bangunan di ujung sebelah kanan. Semua pekerja datang menyambutnya, kemudian membantu memapahnya masuk kedalam kamarnya. Menurut informasi dari kepala kerja yang menemaninya, ternyata Bu Marwiyah mengidap penyakit demam denggi (demam berdarah).

Rupanya faktor lingkungan dan sanitasi yang tidak sehat, menyumbang kepada terciptanya beberapa penyakit di lingkungan pekerja bangunan. Tapi ketegaran dan ketabahan TKI di sektor konstruksi  mampu melalui keadaan tersebut. Karena yang ada dalam fikiran mereka adalah kesejahteraan dan masa depan keluarga di kampung halaman.
Dan semoga keadaan yang serba daif ini mendapat perhatian pemerintah melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk dijadikan rujukan kedepannya nanti


#TKIJugaManusia
#MemanusiakanTKI

Seandainya A Hok Itu Muslim ...

Monday, 10 October 2016 3 komentar

A Hok dalam pakaian Betawi (Foto diambil dari www.tempo.co)


Kegaduhan politik terkait Pemilihan Gubenur (Pilgub) Daerah Khusus  Istimewa  Jakarta cukup menyita perhatian publik baru-baru ini. Isu yang begitu dominan adalah berkaitan agama dan etnik sang calon yang akan beradu keberuntungan nanti. Rencananya pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 akan dilaksanakan 15 Februari 2017 nanti.

Berbagai opini dan pendapat saling berbalasan sesama pendukung, terutama dari pendukung Sang Petahana Ahok – Djarot dengan pendukung Anies-Sandiaga. Sedangkan pendukung dari Agus-Sylviana lebih kepada menyimpan energi, belum melemparkan isu penting dan krusial ke hadapan publik.

Menyikapi isu Pilgub Jakarta, Saya cukup tertarik dengan salah satu karya Sastrawan Negara Malaysia yaitu Usman Awang. Karya puisi tersebut berjudul “ Melayu”, yang berisi kritikan halus atas sikap dan kondisi bangsa Melayu di Malaysia. Saya tertarik pada bait ketiga dari puisi tersebut yaitu ,

Melayu di tanah Semenanjung luas maknanya:

Jawa itu Melayu, Bugis itu Melayu
Banjar juga disebut Melayu, Minangkabau
memang Melayu,
Keturunan Acheh adalah Melayu,
Jakun dan Sakai asli Melayu,
Arab dan Pakistani, semua Melayu
Mamak dan Malbari serap ke Melayu
Malah mua’alaf bertakrif Melayu
(Setelah disunat anunya itu)

Di Malaysia, Keterkaitan dan hubungan antara makna Melayu dan Islam begitu kuat sekali. Sehingga di Malaysia. timbul persepsi bahwa Melayu itu Islam dan Islam itu Melayu. Contohnya adalah masyarakat India muslim di Malaysia, mereka akan menampakkan identitas melayu seperti berbaju melayu, berbahasa melayu dan melaksanakan adat-adat melayu dalam kehidupan sehari-hari.

Dan ini juga terjadi pada masyarakat keturunan Arab, Pakistan, Siam bahkan minoritas Cina Muslim. Mereka sudah membaur menjadi bangsa Melayu, dalam artian kasar bahwa Melayu itu adalah warganegara Islam yang mengamalkan adat-adat Melayu. Yang mana orang melayu di Malaysia mempunyai keistimewaan dalam sosial, politik dan ekonomi.

Keistimewaan –keistimewaan tersebut seperti anak-anak Melayu mudah mendapatkan beasiswa, orang melayu memegang penuh izin perniagaan/ bisnis , Dalam membeli property, masyarakat Melayu mendapatkan diskon sebesar 10% dari harga penjualan.

Dalam segi politik, sudah jelas bahwa pemimpin negara seperti perdana menteri  di Malaysia adalah orang Melayu yang beragama Islam. Ini berkaitan rapat  dengan peruntukan perlembagan persekutuan 153 tentang hak keistimewaan Melayu, Bahasa Melayu dan agama Islam sebagai agama resmi persekutuan. Namun belakangan ini, isu perdana menteri Malaysia harus Islam dan Melayu mendapat tentangan dari partai oposisi yang berlatarbelakangkan bangsa Cina dan India yaitu DAP.

Isu latar belakang pemimpin negara tersebut, juga terjadi di Indonesia sendiri. Apabila sebelumnya UUD 1945 pasal 6 yang mengatur syarat calon presiden dan wakil presiden harus orang Indonesia Asli, diubah dan ditukar lebih longgar . Menjadi warganegara  Indonesia yang sejak kelahiranya tidak  pernah kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri. Jadi dengan sendirinya suku/etnik apa saja dan keturunan darimana saja berkemungkinan bisa menjadi pemimpin Indonesia.

Yang menjadi isu dominan dalam pilgub Jakarta belakangan ini adalah terkait latar belakang agama salah seorang calon gubernur. Isu agama bergulir mengalir mengalahkan isu “apa visi dan misi para pasangan calon gubernur yang bertanding”. Dominasi isu seputar agama sengaja dihembuskan dan diuar-urakan mengalahkan faktor politik itu sendiri.

Sempat terfikir, bagaimana seandainya kalau Basuki Tjahaja  Purnama atau yang lebih dikenali Ahok itu adalah muslim ? Apakah suara-suara yang menolak Ahok karena non muslim, akan balik mendukungnya atau setidaknya mengiyakan meskipun ianya datang dari latar belakang non pribumi.

Indonesia adalah sebagai negara yang plural dalam artian multi agama, multi etnis, multi bahasa dan multi budaya. Kasus Ahok ini sebenarnya hal yang menarik untuk kita bicarakan, yang mana beliau adalah non muslim dan berasal dari keturunan etnis Tionghua. Bagaimana seandainya partai politik  yang berlatarbelakangkan Islam seperti PAN, PKB, PPP, PBB serta PKS berada di kubu Ahok-Djarot ? Pastinya isu-isu yang dilemparkan tidak akan sepanas isu agama yang dilemparkan belakangan ini.

Politik kepartaian tetap memegang peranan penting disebalik isu pemilihan umum baik pilkada, pilgub hingga  pilpres. Politik kepartaian tetap berupaya bagaimana kekuasaan itu terbagi sesuai dengan kesepakatan dan porsi yang ditetapkan . Sebagaimana kata Carl Joachim Freiderich,

Partai Politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan pemerintah bagi pemimpin Partainya, dan berdasarkan penguasan ini memberikan kepada anggota Partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materil”

Namun bagaimanapun kuatnya partai politik pendukung suatu calon pemimpin, itu semua terpulang kepada suara rakyat itu sendiri. Karena suara rakyat itu adalah puncak kekuasan dan mandat itu datang. Yang pastinya pemikiran dan arah politik rakyat Indonesia semakin dewasa dan semakin terbuka.

Selamat berdemokrasi  



 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani