Bila TKI Tidak Berdokumen Sakit..

Tuesday, 11 October 2016


(photo by www.liveolive.com)

Sudah hampir 5 hari Bu Marwiyah (37 tahun / nama samaran) tidak keluar dari dalam kamarnya. Demam yang disertai batuk tersebut tak kunjung sembuh, sejak ianya cuti kerja seminggu lalu. Beberapa botol air mineral dan kepingan tablet sakit kepala,  diletakkan di sebelah pembaringannya sebelah kanannya. Koyo persegi empat masih menghiasi wajahnya yang semakin memucat.

Kamar berdindingkan triplek berukuran 2 x 3 meter itu, kelihatan pengap bercampur bau baju kotor. Yang ditumpuk di ujung pojok sebelah kiri lemari terbuat dari triplek juga. Maklum saja, Pak Wiranto (40 tahun / nama smaaran) tidak punya waktu banyak untuk membantu kerja yang biasa dilakukan istrinya.

Kamar Pak Wiranto merupakan kamar berbentuk bedeng panjang yang dihuni oleh puluhan pekerja di area proyek bangunan. Para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) biasa menyebutnya dengan panggilan “rumah kongsi”. Rumah sementara untuk pekerja di sebuah proyek sebuah bangunan yang sedang dalam proses penyelesaian.

Pak Wiranto di bangunan tersebut bekerja sebagai tukang pasang batu, dan Bu Marwiyah menjadi pelayan para tukang yang satu grup dengan suaminya. Biasanya di lokasi rumah kongsi, prasarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) sangat memprihatinkan sekali. Tempat mandi yang dikumpulkan antara pekerja laki-laki dan perempuan tanpa sekatan apapun , Tempat buang air besar yang terbatas dan fasilitas tidur seadanya.

Dalam seminggu ini, Bu Marwiyah hanya mengandalkan kepingan tablet obat sakit kepala sebagai alternatif penyembuhan sakitnya. Beliau sendiri belum tahu apa penyebab sakitnya, hanya berandai-andai kalau sakit kepala dan demam  , minum tablet sakit kepala pasti sembuh dalam sehari dua.

Ada keinginan dari Pak Wiranto untuk membawa istrinya tersebut ke klinik terdekat. Tapi karena faktor yang dirinya tidak mempunyai dokumen lengkap serta rasa takut tertangkap aparatur Malaysia, ianya mengurungkan niat tersebut. Dan hanya menunggu faktor keberuntungan dan nasib, siapa tahu dalam sehari dua ini demam istrinya akan sembuh. Tapi nyatanya hingga saat ini, keadaan bu Marwiyah semakin lemah dan memburuk. Sudah dari kemarin Bu Marwiyah tidak makan dan parahnya lagi disertai muntah-muntah setiap disuapkan makanan.

Akhirnya ada solusi dari teman-teman satu kongsi, walaupun akan berakibat fatal kalau ketahuan. Karena Bu Marwiyah tidak mempunyai dokumen kerja yang sah, maka dipinjamkan passport yang ada visa kerja salah seorang perempuan yang agak mirip dengan beliau. Lalu difotokopi passport tadi, dengan harapan lebih buram foto pada halaman depannya. Sehingga nanti di klinik kurang banyak pertanyaan, cukup dengan satu alasan mudah yaitu passport asli dipegang oleh majikan.

Akhirnya Bu Marwiyah diantarkan ke klinik terdekat oleh kepala kerjanya menggunakan taksi langganan pekerja bangunan tersebut. Pak Wiranto sebenanya ingin ikut, tapi apa daya dokumennya juga tidak lengkap. Beliau hanya mampu berdo’a disebalik kekhawatiran akan keselamatan istrinya.

Dua jam kemudian, taksi yang membawa bu Marwiyah kelihatan dari balik pintu gerbang bangunan di ujung sebelah kanan. Semua pekerja datang menyambutnya, kemudian membantu memapahnya masuk kedalam kamarnya. Menurut informasi dari kepala kerja yang menemaninya, ternyata Bu Marwiyah mengidap penyakit demam denggi (demam berdarah).

Rupanya faktor lingkungan dan sanitasi yang tidak sehat, menyumbang kepada terciptanya beberapa penyakit di lingkungan pekerja bangunan. Tapi ketegaran dan ketabahan TKI di sektor konstruksi  mampu melalui keadaan tersebut. Karena yang ada dalam fikiran mereka adalah kesejahteraan dan masa depan keluarga di kampung halaman.
Dan semoga keadaan yang serba daif ini mendapat perhatian pemerintah melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk dijadikan rujukan kedepannya nanti


#TKIJugaManusia
#MemanusiakanTKI

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani