TKI Asal Ponorogo Meraih Gelar Sarjana Di Malaysia

Sunday, 13 November 2016 4 komentar

Imam Basuki mendapat ucapan selamat dari Prof Tian,, didampingai Dubes Herman Prayitno , Aditbud KBRI KL Prof Ari Purbayanto dan Kepala UPBJJ Batam Drh Ismet Sawir (Photo by Jhonz Legowo)
Dunia saat ini diwarnai dengan persaingan yang cukup ketat. Indonesia sebagai negara besar yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang semakin positif, menjadi tumpuan pasar ekonomi regional dan internasional. Apalagi dengan diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), membutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai nilai tawar yang tinggi , untuk menghadapi persaingan dalam bursa tenaga kerja yang semakin meningkat.

Bertempat di Aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, sebanyak 20 mahasiswa Universitas Terbuka KelompokBelajar (Pokjar) Kuala Lumpur, Pokjar Johor Bahru dan Pokjar Singapura diwisuda pada hari Minggu (13/11). Pelaksanaan wisuda yang penuh khidmat tersebut, dihadiri sekitar 200 orang yang terdiri dari para tamu undangan, keluarga wisudawan dan beberapa mahasiswa terpilih.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk MaLaysia Marsekal TNI (Purn) Herman Prayitno S.IP , MM , Rektor Universitas Terbuka Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed, Ph.D , Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Haris Nugroho, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Prof.Dr.Ir.H. Ari Purbayanto, M.Sc , Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Batam Drh Ismet Sawir serta home staff KBRI Kuala Lumpur yang lain.
Imam Basuki , TKI asal Ponorogo Jawa Timur.


Kesemua mahasiswa yang diwisuda pada kesempatan kali ini, umumnya adalah para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di berbagai sektor di Malaysia. Salah satunya adalah Imam Basuki (41 tahun), Salah satu TKI asal Ponorogo Jawa Timur,  yang bekerja di peternakan sarang walet di Pahang Malaysia.
Bapak satu anak ini,  mengambil program studi Ilmu Sosial dan Politik jurusan Ilmu pemerintahan, mengambil waktu 4 tahun untuk meyelesaikan studinya.

“ Harapan saya dengan tercapainya meraih gelar sarjana ini, dapat memicu dan memotivasi teman-teman TKI di mana saja. “

“Semoga dengan semakin mudahnya akses pendidikan di Malaysia, dapat meningkatkan nilai tawar para TKI dalam persaingan sesama pekerja asing di Malaysia.” Ujarnya setelah pelaksanaan kirab wisuda di aula KBRI Kuala Lumpur.


Dalam sambutanya , Tian Belawati mengatakan, “Universitas Terbuka hadir di 28 negara , sebagai fasilitator dan mediator para WNI untuk meningkatkan taraf dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.”

“Dan ini merupakan acara kirab wisuda UT yang diadakan di Malaysia, setelah menindaklanjuti perbincangan bersama dengan duta besar dan atase pendidikan dan kebudayaan KBRI Kuala Lumpur pada 15 April 2015 lalu.

Di Malaysia, Mahasiswa UT berjumlah 796 mahasiswa, dengan rincian UT Pokjar Kuala Lumpur (415), UT Pokar Johor Bahru (160), UT Pokjar Penang (145) dan UT Pokjar Kota Kinabalu dan Tawau (76). UT Pokjar Kota Kinabalu dan Tawau merupakan pokjar terbaru di Malaysia, ianya digagas serta dibentuk pada April 2015 yang lalu. Yang menyasarkan para TKI/ WNI dan meningkatkan taraf pendidikan para pengajar di Community Learning Centre (CLC) yang masih belum sarjana.

“UT merupakan akses pendidikan kepada WNI dimana saja berada, dan ianya membuktikan negara hadir dalam meningkatkan taraf pendidikan rakyatnya yang terbelenggu dengan masalah jarak dan waktu untuk belajar.” Ujar Ari Purbayanto dalam sambutannya.

“Dan pelaksanaan acara kirab Wisuda UT ini merupakan hadiah kepada bapak Dubes dan Ibu Rektor yang akan segera mengakhiri masa jabatannya tak lama lagi.”

“ Dan beliau berdua mempunyai andil yang cukup besar, atas pelaksanaan acara kirab Wisuda UT di aula KBRI Kuala Lumpur ini.”

Semoga dengan mudahnya akses pendidikan yang disedikan pemerintah, akan meningkatkan sumber daya manusia rakyat Indonesia di masa mendatang. Dan siap bersaing dengan tenaga kerja dari mana saja dalam menghadapi persaingan kerja yang semakin terbuka.
Salam dari Kuala Lumpur.


Selat Melaka Bukan Kuburan Massal TKI

Wednesday, 2 November 2016 3 komentar

Evakuasi korban TKI tenggelam di perairan Keppri (foto ; wartakepri.co.id)
Kapal sayur yang lebih dikenali kapal Pompom itu, bergerak dari Malaysia menuju Tanjung Mamban - Teluk Mata Ikan Nongsa Batam. Ianya bergerak lewat tengah malam (2/11/2016), untuk menghindari patroli aparatur Malaysia dan Indonesia.
Siapa sangka kapal yang membawa 93 TKI itu oleng dan karam , akibat diterjang ombak yang membabi buta di tengah lautan pagi dini hari itu. Kapal yang kelebihan muatan dan penumpang itu , berkecai memuntahkan muatannya ke lautan lepas.
Akibatnya, 59 orang terkorban dan 34 orang masih hilang ( rilis dari wartakepri.co.id , 2/11). Umumnya para penumpang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tak mampu membayangkan , saat detik-detik kapal tersebut karam terbenam ke dasar lautan. Bagaimana kepanikan dan jeritan para awak kapal dan penumpang, mempertahankan diri dari amukan dan gulungan ombak ganas tersebut.?
Keganasan Selat Melaka tak pernah ditakuti oleh para TKI di Malaysia. Panjangnya Selat Melaka, telah menjadi kuburan massal TKI sejak puluhan tahun yang lalu.Karena situasi dan keadaan jualah, yang memaksa mereka menggagahkan diri, melintasi lautan ganas tersebut.
Sudah bukan waktunya lagi, kita saling menyalahkan atas tragedi musiman ini. Selagi ada permintaan dan kesempatan, selagi itulah nyawa-nyawa TKI akan meregang di selat Melaka ini. Sudah saatnya, pemerintah membentuk kebijakan khusus serta tumpuan khusus dalam mencari solusi terbaik, Mengapa para TKI masih menggunakan jalur tersebut, untuk keluar dan masuk ke Malaysia.
Kedua pemerintah, baik Malaysia maupun Indonesia harus mengurangi hal-hal birokratis untuk menangani kasus TKI ilegal. Faktanya, mereka merasa diribetkan seputar mengurus dokumen pelegalan diri. Apalagi oknum-oknum yang sering menjadikan mereka sebagai sumber penghasilan, terutama yang berkedok penipuan.Dan kurangilah memandang mereka sebagai sumber lahan bisnis, baik bisnis pribadi apalagi bisnis besar yang diuruskan negara.
Semuanya harus duduk semeja lagi, sambil mencari solusi pencegahan baik di hulu maupun di hilir. Baik permasalahan di Indonesia atau di negara penempatan, yaitu Malaysia.Alasan karena faktor ranah hukum dan ranah kebijakan negara tujuan, jadi pemerintah tidak berhak campur tangan, itu hanya jawaban diplomatis dan kelemahan jaringan diplomasi kita.
Jadi sudah seharusnya perlu gerak aktif lewat jalur diplomasi cerdas tapi tegas, untuk menghindari bertambah banyaknya nyawa menghilang begitu saja di lautan lepas. Tindak tegas, para tekong-tekong yang memanfaatkan keluguan para teman-teman TKI demi keuntungan pribadi. Perwakilan Indonesia harus lebih aktif lagi, dalam menyampaikan informasi seputar ketenagakerjaan.
Karena setiap informasi yang disampaikan oleh perwakilan Indonesia di media sosial, selalunya mendapat sambutan dan respon positif oleh para TKI. Jangan menunggu musiman untuk menjalin hubungan dengan para TKI, manfaatkan kelebihan media sosial yang umumnya semua TKI mejangkaunya.
Saya harap pemerintah memandang serius kasus ini, jangan tenggelam begitu saja, karena ditutupi oleh isu pentas politik yang membosankan. Para manteman TKI tidak membutuhkan gelaran Pahlawan Devisa semata, kalau pelayanan terhadap mereka ibarat cuci tangan di baskom saja.
Salam dari Malaysia

#TKIJugaManusia
#MemanusikanTKI


 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani