Inilah Alasanya, Mengapa Narkoba Menyerang Kita ?

Tuesday, 28 March 2017 0 komentar

Bea Cukai Juanda Surabaya gagalkan sabu 3,2 KG dari Malaysia ( Foto by Sindonews)


Tertangkapnya salah seorang artis berinisial RR, karena memiliki Narkoba jenis sabu-sabu (25/3/17), Menjadi viral dan topik pembicaraan di media sosial belakangan ini. Publik merasa tidak percaya dengan kenyataan yang ada, bagaimana mungkin seorang yang dikenal baik. Pendiam,  dan tidak kontroversial. Namun terperangkap dalam dunia semu penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba).

Penyalahgunaan Narkoba merupakan salah satu musuh negara yang harus diberantas dan diperangi bersama. Serangan Narkoba tidak memilih status dan kedudukan, ianya menyerang segenap lapisan masyarakat. Mulai dari tokoh masyarakat, idola publik, hingga kepada anak-anak remaja kita. Menyerang masyarakat perkotaan hingga meluluhlantakan sebagian generasi muda kita  di pedesaan.

Narkoba harus diperangi bersama, tanpa harus terus bergantung kepada pemerintah dan aparatur negara seperti Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Namun ianya memerlukan sikap aktif semua pihak lapisan masyarakat, terutamanya para ulama sebagai backup spiritual masyarakat dan peran serta keluarga sebagai benteng utama dalam menanggulangi serangan Narkoba.

Ada beberapa alasan dan pola yang saya perhatikan ketika pulang kampung , mengapa mereka menggunakan dan terjebak dalam najis Narkoba ( dalam hal ini sabu-sabu). Diantaranya adalah :

  • 1.   Alasan sekedar coba-coba, mereka hanya ingin sekedar mencicipi dan merasakan apa itu sabu. Disamping itu juga sebagai tekanan dan bujukan dari teman-teman sepergaulan.
  • 2  Alasan pengaruh sosial, mereka menjadi pemakai karena ingin gaya-gayaan dan diakui oleh kelompok sosialnya.
  • 3. Alasan karena faktor keadaan, Manfaat Narkoba (sabu-sabu) yang seringkali dihembuskan adalah obat pereda tekanan, penghilang depresi dan stress dan stimulan peningkat libido. Alasan inilah yang seringkali digunakan oleh tokoh/ idola publik , mengapa ianya terjebak didalamnya.
  • 4 Alasan kebiasaan dan ketergantungan, pemakai yang sudah biasa menjadikan narkoba sebagai pelarian dalam menghadapi masalah, akan mengalami suatu ketergantungan kepada narkoba . Ianya sebagai bentuk reaksi dari fisik dan fikiran, akan melakukan segala cara dan tindakan untuk mendapatkan narkoba. Termasuk didalamnya tindakan-tindakan negative seperti mencuri dan menipu.


Faktor dan pola diatas terus terjadi,  karena mendapat suplai yang begitu mudah. Salah satu tugas kita bersama adalah bagaimana kita memutuskan mata rantai penyuplaian Narkoba tersebut. Dan saya yakin, suplai sabu ini bukan hanya dari pasaran lokal saja, tapi sudah mendapat pasokan internasional.

Salah satu buktinya adalah (untuk pasaran Jawa Timur dan pulau Madura ), ada beberapa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang dari Malaysia membawa Sabu-sabu dalam bagasinya. Yang terbaru adalah TKI asal Sampang ditangkap oleh pihak Bea Cukai Bandara Juanda Surabaya, karena didapati membawa sabu 3,2 KG dari Malaysia (17/2/17). Apakah itu sebagai kurir narkoba, kepanjangan perdagangan kartel internasional atau sekedar inisiatif pribadi saja sebagai pengedar perorangan ? itu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua.

Disamping penanggulangan seperti operasi pencegahan  diperketat di setiap pintu masuk negara dan ketatnya undang-undang tentang Narkoba di Indonesia. Pemerintah dan segenap anasir masyarakat harus juga lebih mengefektifkan pencegahan preventif dalam menanggulangi serangan penyalahgunaaan Narkoba.

Kita harus menyuburkan aktifitas pencegahan lewat 3 tumpuan masyarakat yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan. Seperti memperapat hubungan antar keluarga sebagai benteng utama, sehingga kita tahu apabila salah satu anggota keluarga kita menunjukkan perilaku yang tidak seperti biasanya.
Dalam sekolah baik formal dan informal , kita bisa mengenalkan bahaya dan mudharat narkoba sejak dini lagi . Para ulama dan guru seiring sejalan dalam memantapkan nila-nilai keyakinan diri para siswa/santrinya. Sehingga bahaya Narkoba tak mampu menggiring mereka kedalam jebakan najis Narkoba.

Sedangkan dalam lingkungan, pemerintah harus mendukung setiap kegiatan / aktifitas sehat dan positif yang diadakan oleh karang taruna maupun komunitas kepemudaan di setiap kampung. Karena secara logikanya, lingkungan dan komunitas yang sehat akan menciptakan jiwa dan pemikiran yang sehat juga.

Adapun semua diatas tidak akan tercapai dengan maksimal, apabila tidak mendapat dukungan semua pihak. Dan apabila generasi mudanya sudah tercemari najis narkoba pada masa kini, maka tunggulah kehancuran negara tersebut pada masa akan datang. Semoga kita semua terlepas dari jangkauan najis Narkoba.
Salam dari seberang


Menunggu Sosok Pahlawan Di Atas Politik Adu Domba

Friday, 24 March 2017 0 komentar



Indonesia adalah negara khatulistiwa yang sangat kaya dan pintu penghubung yang sangat strategis. Kaya akan hasil alamnya, kaya akan kebudayaanya , luas wilayahnya, dan ramai penduduknya. Kelebihan seperti itu sangat berpotensi menjadikan Indonesia sebagai negara besar di kemudian hari. Tidak dinafikan bahwa Indonesia itu adalah sebuah raksasa. Namun masih tertidur pulas di hamparan sumber daya manusia yang masih belum memadai dan belum tereksploitasi sepenuhnya.

Disamping itu, Indonesia adalah sebuah negara yang sangat beragam dan penuh warna-warni. Mempunyai lebih 17.000 pulau, 34 provinsi, 516 kabupaten/kotamadya, 700 suku, 1100 bahasa daerah, dan berbagai aneka agama serta keyakinan bertapak di Indonesia. Sungguh suatu keanekaragaman yang sangat luar biasa untuk kita syukuri, namun patut juga kita perlu waspadai.

Kekayaan dan keanekaragaman Indonesia mengundang rasa cemburu pihak-pihak yang haus kekuasaan dan ambisius, serta anasir luar yang berpotensi melemahkan kekuatan Indonesia melalui penyusupan (infiltrasi) yang begitu halus di segala bidang.

Disebalik kebesaran dan kemegahan itu, Indonesia sangat rentan pecah (disintegrasi) dan mudah diadu domba. Lihat saja bagaimana sejarah perjalanan Indonesia, bagaimana isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) begitu efektif sebagai pemicu perpecahan. Indonesia yang pada awalanya lebih dikenal dan dirasakan sebagai negara yang sangat  toleran, namun belakangan ini lebih dirasakan sebagai negara yang intoleran dan mudah terprovokasi.

Namun aneka provokasi itu tidak datang dan timbul dengan sendirinya. Ada kuasa besar (Grand Design) yang tidak kita sadari, berada di belakang semua provokasi-provokasi yang bergulir di Indonesia belakangan ini. Mereka tahu, untuk menguasai Indonesia secara nyata sangatlah tidak mudah dilakukan. Maka mereka lebih memilih cara infiltrasi di segala bidang dan politik pecah belah ( devide et impera).

Dalam artian, mereka menyusup dan memecah belah kelompok besar di Indonesia menjadi kelompok-kelompok kecil. Dan berupaya semaksimal mungkin, menjaga beberapa kelompok kecil agar tidak berupaya menjadi kekuatan besar. Dengan harapan, agar Indonesia mudah dikuasai dan mudah ditaklukan.

Dalam usahanya untuk terus memaksimalkan upayanya memecah belah keheterogenan bangsa Indonesia, mereka menggunakan aksi dan provokasi. Membenturkan konflik antar golongan, menciptakan desas-desus yang meresahkan masyarakat, memelihara kebiasaan saling fitnah, dan berusaha menciptakan ketidakpercayaan antara pemerintah dan rakyatnya. Mereka menyerang di segala bidang, mulai dari politik, militer, hingga ekonomi.

Lihat saja isu dan aksi yang mereka hembuskan belakangan ini, bagaimana mereka membenturkan hubungan toleransi antar umat beragama. Bagaimana mereka membenturkan antar umat seagama dengan isu frontal yang berpotensi memancing perdebatan dan pertikaian. Bagaimana mereka meresahkan masyarakat, dengan menciptakan isu sensitif di peringkat bawahan..

Mereka begitu arif akan  isu sensitif yang berpotensi merebak lebih cepat diciptakan. Mulai dari isu Syiah yang akan menguasai Indonesia, bahaya laten kemunculan PKI baru, bahkan mengompori perselisihan faham antara NU dan Wahabi. 

Semuanya di atas tidak berjalan dan tercipta dengan sendirinya, tanpa adanya cita-cita dan kekuatan besar dibelakangnya. Tidak ada asap tanpa ada api, tidak ada provokasi dan aksi tanpa ada kepentingan yang mengekorinya.Semua keresahan dan kepincangan yang telah diciptakan oleh mereka dengan dana tak terbatasnya.

Pada langkah selanjutnya, mereka  akan memunculkan sosok baru, yang seakan-akan bertindak menjadi pahlawan dan juru selamat akan kesimpangsiuran dan ketimpangan perjalanan bangsa ini. Politik pecah belah meraka tidak akan sukses, tanpa adanya kerjasama daripada pihak yang ambisius dan haus kekuasaan.

Merekalah yang menguasai media yang menjadi cernaan kita sehari-hari. Tanpa kita sadari juga, bahwa melalui media mereka jugalah propagandanya sampai kepada kita. Kita mempunyai kebiasaan terkesima dengan nilai sebuah judul berita, tanpa membaca habis isi berita yang disampaikan. Kemudian kita begitu mudahnya  saling berbagi di berbagai media sosial tanpa koreksi dan konfirmasi terlebih dahulu.

Ketika senantiasa kita sibuk saling menyalahkan, tanpa disadari kita  telah terperangkap dalam politik pecah belah dan adu domba mereka. Sang sosok  bergelar pahlawan sedang sibuk mengelap kursinya dan menikmati kemewahan atas pengkhianatan terhadap bangsanya. 

Siapakah sosok pahlawan itu ? Apakah kita termasuk kandidat didalamnya ?
Tepuk dada tanya selera.



Salam dari Kuala Lumpur


Aturan Baru Imigrasi, Perketat Pembuatan Paspor

Friday, 17 March 2017 0 komentar

Paspor Indonesia.
Pada dasarnya, saya setuju dengan surat edaran Direktorat Jenderal Imigrasi yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor IMI-0277.GR.02.06 Tahun 2017 tentang Pencegahan Tenaga Kerja Indonesia Non Prosedural.

Yang mana pada intinya, isi surat edaran tersebut adalah Warga negara Indonesia (WNI) yang ingin membuat paspor (apabila dicurigai akan menjadi TKI non prosedural ,diharuskan menunjukkan bukti rekening uang jaminan atau deposit, dengan jumlah yang lumayan besar, yakni Rp 25 juta.
Aturan baru tersebut dibuat semata-mata sebagai langkah awal dalam melindungi WNI dari Tindak Pidana Pemerdagangan Orang (TPPO) yang semakin mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Sepertimana yang disebutkan dalam Surat Edaran tersebut, banyak WNI yang diduga akan bekerja ke luar negeri (TKI Non Prosedural) dengan alasan ibadah haji/umrah, magang, program bursa kerja khusus, beasiswa dan sebagai duta budaya. Namun setelah kegiatan tersebut diatas selesai, mereka diduga menghilangkan diri dan bekerja sebagai TKI NonProsedural.
Dalam surat tersebut juga dijelaskan, bahwa pihak imigrasi akan bekerjasama dan berkoordinasi membentuk forum kerja sama dengan pihak Dinas Tenaga Kerja, BP3TKI, Kanwil Kementerian Agama, dan Polda untuk tingkat provinsi. Dalam rangka upaya untuk meminimalisir sekaligus pencegahan TKI Non Prosedural.
Namun alangkah baiknya juga, pihak Imigrasi dan dinas terkait juga memikirkan dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh pemberlakuan adanya surat edaran ini. Sehingga usaha dan iktikad baik pemerintah ini, tidak seperti program KTKLN.
Program KTKLN pada dasarnya bertujuan baik, namun aparatur yang menyalahgunakan tidak amanah dan menjahanamkan program tersebut. Sehingga menimbulkan bantahan-bantahan dari para TKI dan LSM berlatarbelakangkan TKI. Untuk itu saya mengharapkan :
1. Pihak Imigrasi dan dinas terkait juga melakukan penindakan dan mendaftar-hitamkan pihak agensi, PJTKI, dan travel yang terbukti melakukan TPPO terhadap WNI.
2. Pihak pemerintah juga memantau aparatur negara berkaitan yang melakukan Surat Edaran ini, untuk tidak menyalahgunakan atau sebagai bentuk alat pemerasan baru terhadap TKI.
3. Pihak pemerintah terkait harus seringkali melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak), karena aturan ini telah diberlakukan di beberapa kantor Imigrasi tumpuan TKI.
4. Pihak Imigrasi dan dinas terkait harus melakukan sosialisasi aktif dengan adanya surat Edaran ini. Dengan harapan semua elemen bangsa faham , mengapa dan apa tujuan surat edaran ini diberlakukan.
Apapun , saya pribadi menyambut baik usaha dan iktikad baik pemerintah dalam melindungi warganegaranya. Namun pemantauan secara aktif harus tetap dan terus dijaklankan. Karena ini semuanya berkaitan rapat dengan hak asasi manusia dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang pemerintah sendiri dalam hal ini banyak kekurangannya.


 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani