Menunggu Sosok Pahlawan Di Atas Politik Adu Domba

Friday, 24 March 2017



Indonesia adalah negara khatulistiwa yang sangat kaya dan pintu penghubung yang sangat strategis. Kaya akan hasil alamnya, kaya akan kebudayaanya , luas wilayahnya, dan ramai penduduknya. Kelebihan seperti itu sangat berpotensi menjadikan Indonesia sebagai negara besar di kemudian hari. Tidak dinafikan bahwa Indonesia itu adalah sebuah raksasa. Namun masih tertidur pulas di hamparan sumber daya manusia yang masih belum memadai dan belum tereksploitasi sepenuhnya.

Disamping itu, Indonesia adalah sebuah negara yang sangat beragam dan penuh warna-warni. Mempunyai lebih 17.000 pulau, 34 provinsi, 516 kabupaten/kotamadya, 700 suku, 1100 bahasa daerah, dan berbagai aneka agama serta keyakinan bertapak di Indonesia. Sungguh suatu keanekaragaman yang sangat luar biasa untuk kita syukuri, namun patut juga kita perlu waspadai.

Kekayaan dan keanekaragaman Indonesia mengundang rasa cemburu pihak-pihak yang haus kekuasaan dan ambisius, serta anasir luar yang berpotensi melemahkan kekuatan Indonesia melalui penyusupan (infiltrasi) yang begitu halus di segala bidang.

Disebalik kebesaran dan kemegahan itu, Indonesia sangat rentan pecah (disintegrasi) dan mudah diadu domba. Lihat saja bagaimana sejarah perjalanan Indonesia, bagaimana isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) begitu efektif sebagai pemicu perpecahan. Indonesia yang pada awalanya lebih dikenal dan dirasakan sebagai negara yang sangat  toleran, namun belakangan ini lebih dirasakan sebagai negara yang intoleran dan mudah terprovokasi.

Namun aneka provokasi itu tidak datang dan timbul dengan sendirinya. Ada kuasa besar (Grand Design) yang tidak kita sadari, berada di belakang semua provokasi-provokasi yang bergulir di Indonesia belakangan ini. Mereka tahu, untuk menguasai Indonesia secara nyata sangatlah tidak mudah dilakukan. Maka mereka lebih memilih cara infiltrasi di segala bidang dan politik pecah belah ( devide et impera).

Dalam artian, mereka menyusup dan memecah belah kelompok besar di Indonesia menjadi kelompok-kelompok kecil. Dan berupaya semaksimal mungkin, menjaga beberapa kelompok kecil agar tidak berupaya menjadi kekuatan besar. Dengan harapan, agar Indonesia mudah dikuasai dan mudah ditaklukan.

Dalam usahanya untuk terus memaksimalkan upayanya memecah belah keheterogenan bangsa Indonesia, mereka menggunakan aksi dan provokasi. Membenturkan konflik antar golongan, menciptakan desas-desus yang meresahkan masyarakat, memelihara kebiasaan saling fitnah, dan berusaha menciptakan ketidakpercayaan antara pemerintah dan rakyatnya. Mereka menyerang di segala bidang, mulai dari politik, militer, hingga ekonomi.

Lihat saja isu dan aksi yang mereka hembuskan belakangan ini, bagaimana mereka membenturkan hubungan toleransi antar umat beragama. Bagaimana mereka membenturkan antar umat seagama dengan isu frontal yang berpotensi memancing perdebatan dan pertikaian. Bagaimana mereka meresahkan masyarakat, dengan menciptakan isu sensitif di peringkat bawahan..

Mereka begitu arif akan  isu sensitif yang berpotensi merebak lebih cepat diciptakan. Mulai dari isu Syiah yang akan menguasai Indonesia, bahaya laten kemunculan PKI baru, bahkan mengompori perselisihan faham antara NU dan Wahabi. 

Semuanya di atas tidak berjalan dan tercipta dengan sendirinya, tanpa adanya cita-cita dan kekuatan besar dibelakangnya. Tidak ada asap tanpa ada api, tidak ada provokasi dan aksi tanpa ada kepentingan yang mengekorinya.Semua keresahan dan kepincangan yang telah diciptakan oleh mereka dengan dana tak terbatasnya.

Pada langkah selanjutnya, mereka  akan memunculkan sosok baru, yang seakan-akan bertindak menjadi pahlawan dan juru selamat akan kesimpangsiuran dan ketimpangan perjalanan bangsa ini. Politik pecah belah meraka tidak akan sukses, tanpa adanya kerjasama daripada pihak yang ambisius dan haus kekuasaan.

Merekalah yang menguasai media yang menjadi cernaan kita sehari-hari. Tanpa kita sadari juga, bahwa melalui media mereka jugalah propagandanya sampai kepada kita. Kita mempunyai kebiasaan terkesima dengan nilai sebuah judul berita, tanpa membaca habis isi berita yang disampaikan. Kemudian kita begitu mudahnya  saling berbagi di berbagai media sosial tanpa koreksi dan konfirmasi terlebih dahulu.

Ketika senantiasa kita sibuk saling menyalahkan, tanpa disadari kita  telah terperangkap dalam politik pecah belah dan adu domba mereka. Sang sosok  bergelar pahlawan sedang sibuk mengelap kursinya dan menikmati kemewahan atas pengkhianatan terhadap bangsanya. 

Siapakah sosok pahlawan itu ? Apakah kita termasuk kandidat didalamnya ?
Tepuk dada tanya selera.



Salam dari Kuala Lumpur


0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar-komentar anda
Saya akan berusaha membalasnya semaksimal mungkin

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani