Cerita Raya Dari Balik Lapas Pamekasan : Memanusiakan Manusia (Bag. Akhir)

Tuesday, 27 June 2017 0 komentar



"Mereka bukan sampah masyarakat, namun sekelompok manusia yang tersilap langkap dalam mencari makna hidup sesungguhnya." 


Settong.. Enol..Sanga’…
Satu.. Enol.. Sembilan..

Nomer antrian dipanggil dalam versi 2 bahasa untuk memudahkan pemanggilan dan mencepatkan pergerakan antrian. Beberapa petugan berseragam abu-abu dengan logo pohon beringin, sibuk mengatur barisan dan sesekali memberikan arahan agar memberikan kerjasama kepada para petugas.
Mereka meminta agar tidak membawa  H/P ke dalam Lapas, menyimpannya di dalam kotak yang telah disediakan. Mereka juga meminta agar tidak membawa tas tangan, namun meletakkan di tempat meja  penitipan barang.

Dalam satu barisan antrian, para perempuan diletakkan dalam barisan depan diikuti oleh kaum lelaki di belakangnya.  Kemudian petugas menghitung satu-persatu antrian sesuai dengan yang tertera dalam kartu antrian yang didaftarkan.  Seterusnya dipersilahkan masuk satu persatu , sambil petugas selanjutnya memasangkan gelang bertuliskan angka nomer urut yang disediakan.

Setelah itu, semuanya diarahkan masuk ke dalam satu ruangan untuk diperiksa satu persatu. Sedangkan yang laki-laki dimasukkan ke dalam ruangan kecil, untuk diperiksa satu persatu secara lebih mendetail.

“Maaf Bapak-Bapak !, saya sedang bertugas. Apakah sudah siap diperiksa? Apakah Bapak-Bapak siap menanggung resiko, apabila ditemukan barang-barang yang dilarang dibawa masuk ke dalam ? Ayo buka bajunya satu persatu ! “, ujar petugas berkacamata itu tegas.

Setelah proses pengecekan selesai, diarahkan oleh petugas  agar memasuki pintu selanjutnya satu persatu. Di pintu ini, semuanya distempel di tangan kanannya dengan warna merah, sambil petugas disebelahnya dengan cekatan mencatat nomer gelang yang dipasangkan di pintu pertama.
Di pekarangan dalam ini, para pembezuk disambut oleh sekelompok Narapidana yang memasarkan hasil karyanya yang disusun rapi di atas meja. Hasil karya kreatif mereka berupa lukisan, kerajinan tangan, hingga layang-layang bermotif warna-warni.

Selanjutnya para pembezuk disambut kelompok band musik yang dianggotai oleh para penghuni Lapas. Aneka jenis musik dipermainkan dengan nyaman sekali, mulai dari musik pop hingga dangdut koplo. Mulai dari lagu jaman dulu hingga lagu masa kini yang sedang ngetop di pasaran.

Suasana di pekarang dalam tempat pertemuan semakin ramai namun tertib,  dipenuhi penghuni Lapas dan keluarga yang membezuknya. Rompi berwarna oren menjadi pembeda antara pembezuk dan penghuni Lapas ini. Dan dua ruangan berbeda disediakan untuk Napi kasus Narkoba dan Napi kasus kriminal.

Para Napi kasus Narkoba diletakkan di dalam aula besar, tepat berhadapan dengan pintu masuk kedua. Sedangkan untuk napi kasus Kriminal diletakkan di ruangan yang lebih terbuka, dihadapan kantin sebelah pintu ketiga.

Suasana  penuh kekeluargaan dan harmoni , sambil para Napi dikelilingi para keluarganya. Suasana terlihat begitu syahdu, tatkala saling maaf-maafkan dan saling bertanya khabar. Terlihat juga di sebelah saya, seorang Napi sedang memeluk dan menciumi anak balitanya, yang dibawa oleh isterinya yang datang membezuknya.

Asap rokok berkepul-kepul dengan deretan minuman botol yang dipesan dari kantin di dekat ruangan perjumpaan. Sesekali juga diriuhkan oleh suara alunan musik yang sedang dimainkan, seakan-akan terlupa sejenak, bahwa kita sedang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan.

Saya jadi teringat dengan peristiwa 5 tahun yang lalu, tatkala membezuk teman TKI di penjara Kajang Malaysia. Waktu itu, kami hanya bertemu dan berbicara dibatasi dinding kaca berkawat, dan media telefon menjadi alat penghubung untuk berbicara dengan teman yang berada di dalamnya. Suasana begitu kontras sekali, apabila dibandingkan dengan suasana yang dirasakan saat ini.

Tak lama kemudian, seorang petugas memberitahukan bahwa membezuk akan berakhir sebentar lagi. Semuanya saling bersalaman untuk pamit pulang, sambil memberikan kata-kata semangat kepada keluarganya yang sedang menjalani masa hukumannya. Suasana bertambah sedih, tatkala grup musik menyanyikan lagu ‘Kemesraan-nya’ Iwan Fals.

Para pembezuk akhirnya pulang, dan mengikuti prosedur serta tahapan-tahapan sepertimana yang dilakukan tatkala mau masuk tadi. Terlihat juga beberapa pembezuk , matanya memerah menahan jatuhnya airmata perpisahan dengan anggota keluarga yang dikasihinya.

Semoga gedung putih berpagar tinggi ini, mampu menempa penghuni didalamnya menjadi manusia-manusia kreatif dan berguna bagi bangsa, agama dan lingkunganya. Buang dan hapuskan pandangan negatif terhadap mereka, namun rangkul dan berikan peluang untuk membuktikan perubahannya pada masyarakat.

Mereka bukan sampah masyarakat, namun sekelompok manusia yang tersilap langkap dalam mencari makna hidup sesungguhnya.

Salam dari Lapas Pamekasan, 27 Juni 2017


Cerita Raya Dari Balik Lapas Pamekasan : Narkoba Dan Instropeksi Diri (Bagian I)

Monday, 26 June 2017 0 komentar




“Anak saya ditangkap karena membawa syabu 7 gram, dan dihukum 7 tahun setelah menghabiskan uang hampir 100 juta .” 

Pamekasan, 27 Juni 2017,- Suasana hari raya masih begitu terasa begitu kental sekali, ucapan maaf-maafan dan saling mengunjungi antar tetangga masih terus berkelanjutan sehingga hari ini. Ucapan-ucapan sedemikian rupa juga berlangsung di dunia maya, saluran-saluran media sosial menjadi media penghubung silaturrahim untuk yang tidak sempat bersua secara tatap muka.

Namun bagaimana dengan suasana hari rayanya para saudara kita yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan /Lapas ? Apakah suasana keceriaan hari raya yang sama juga dialami oleh mereka disana ?

Syawal hari kedua ini, saya menngunjungi sahabat saya yang sedang menjalani hukuman pidana  di Lapas Pamekasan Jawa Timur. Bangunan berpagar tinggi yang dibangun 1912 ini, tepat berada di belakang kantor Pemerintah Daerah Pamekasan. Bangunanyang  hanya dibatasi sebuah parit kecil dengan Pemda ini, Khabarnya mampu menampung ratusan Narapidana kasus Kriminal dan Narkoba dari berbagai kota di Madura.

Sesampai disana , pekarangan depan Lapas Klas II-A ini sudah dipenuhi oleh ahli keluarga yang mau membezuk sanak familinya yang sedang menjalani hukuman di Gedung peninggalan Belanda ini. Saya langsung mendaftarkan diri dengan cara menyerahkan tanda pengenalan diri, selanjutnya menunggu untuk mendapatkan nomer antrian.

Sambil menunggu nomer antrian dipanggil, saya menyempatkan diri untuk membaca aneka pengumuman yang ditempelkan di tempat menunggu. Kursi-kursi yang disediakan pihak Lapas, tidak mencukupi menampung pengunjung yang datang membludak pada hari raya kedua ini. Sehingga banyak yang memanfaatkan keteduhan pohon-pohon pekarangan Lapas, untuk berkumpul sesama mereka.

Banyak dari sebagian pengunjung yang membawa makanan sendiri, rokok, dan  baju baru untuk diberikan kepada keluarganya di dalam sana. Bahkan terlihat juga ada seorang ibu separuh baya yang sedang antri  membawa sekantong beras, untuk dibawa kedalam juga.

Dalam menunggu kebosanan, saya coba berbual-bual dengan ibu-ibu yang berada di depan saya. Disela-sela perbualan, saya coba menanyakan kepada mereka siapa yang akan dibezuknya dan kasus apa yang menimpanya. Secara kebetulan kedua ibu didepan saya ini, sedang mengunjungi anaknya yang terlibat dengan kasus Narkoba.

“Saya berangkat pagi-pagi dari Kamal Bangkalan dik, untuk mengunjungi anak saya yang sedang menjalani hukuman 7 tahun karena kasus Narkoba.”

“Anak saya ditangkap karena membawa syabu 7 gram, dan dihukum 7 tahun setelah menghabiskan uang hampir 100 juta .” tutur ibu separuh baya yang memakai baju berwarna hijau ini berapi-api.
Kemudian ibu di sebelahnya yang berasal dari Pegantenan Pamekasan ikut menimpali,

“Anak saya terjebak ketika menagih hutang  seseorang di rumahnya, rupanya di rumahnya sedang ada pesta narkoba. Secara kebetulan rumah itu sedang menjadi target operasi pihak kepolisian.”
“ Anak saya dijatuhi hukuman 13 bulan, setelah menghabiskan 30 juta untuk meringankan keputusan pihak pengadilan.”

“Saya tambah sedih, setelah beberapa bulan menjalani hukuman. Istrinya jatuh sakit dan beberapa lama kemudian meninggal dunia dengan meninggalkan 2 anak kecil.” Sambal kedua matanya berkaca-kaca.

Terfikir juga, berapa banyak perputaran rupiah yang bermain setiap kasus narkoba yang sedang ditangani pengadilan. Secara tidak langsung, aparatur hukum tidak amanah  tersebut telah membantu maraknya pengedaran Narkoba di masyarakat.

Aparatur hukum seharusnya menjadi garda utama dalam memerangi pengedaran Narkoba di masyarakat. Bukan malah menjadikan pengadilan, sebagai pasar tawar menawar kasus narkoba untuk meringankan pemakai dan pengedar penyalahgunaan obat-obatan terlarang.


Ayo pak hentikan !!
Sebelum kanker Narkoba menyerang lebih jauh ke dalam ranah-ranah sentral struktur masyarakat Indonesia.
Masyarakat Bebas Narkoba, Negara Akan Menjadi Kuat

( bersambung)

Video Viral TKI : Karena Nila Setitik, Rusaklah Susu Sebelanga

Thursday, 15 June 2017 6 komentar

Potongan video yang sedang viral

Sedih, geram dan kecewa tatkala menonton sebuah video yang lagi viral di Malaysia saat ini. Sampai dini hari 15/06/17 tadi , video tersebut telah ditonton lebih 1,6 juta kali, dibagikan lebih 13 ribu  kali dengan aneka komen pro-kontra lebih dari 22 ribu komentar.

Video tersebut menceritakan tentang seorang pembantu rumah asal Indonesia yang bekerja kepada seorang Datuk kosmetik terkenal sekaligus figur publik di Malaysia. Dinyatakan dalam video yang disiarkan secara langsung via facebook tersebut, bahwa pembantu rumah tadi telah mencuri uang sebesar RM100 dan kain sutera bertabur batu swarozski. Kain sutera bermerk terkenal tersebut dibelinya di Itali , sebagai hadiah buat istri sang Datuk (majikan). Disamping dsiarkan secara langsung di facebook, video tersebut juga diupload di youtube.

Datuk yang mempunyai 4 pembantu tersebut menumpahkan rasa marah dan kecewanya kepada pembantu tadi, karena mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan selama ini. Dengan mengatakan bahwa selama ini, beliau telah melayannya dengan baik kepada para pembantunya. Namun salah satu pembantunya telah mengkhianti dengan cara mencuri barangan pribadinya.

Di dalam video tersebut, sang pembantu telah memohon maaf berulang kali, tatkala sang majikan akan memenjarakan dengan memanggil pihak polisi. Adakalanya sang pembantu menyembah-nyembah dengan menghiba di hadapan sang majikan. Namun sang majikan tetap tidak bergeming dengan keputusannya untuk terus memenjarakan sang pembantu yang telah mencuri barang kesayangannya.

Andaikata saya berada di pihak sang majikan, terus terang saya akan marah dan kecewa, Karena orang yang telah berada di sekelilingnya mengkhianati kepercayaanya. Namun dengan cara menyiarkan secara langsung  di media sosial pribadinya saat-saat menginterogasi pembantunya, telah menimbulkan aneka pro kontra komentar di dalamnya. Apalagi ada komentar-komentar yang  melibatkan dan mengaitkan  kerakyatan dan kewarganegaraan seseorang.

Mungkin sang majikan ingin memberikan efek jera kepada sang pembantu, namun secara tidak langsung telah mengaibkan sang pembantu tersebut. Menyiarkan aib secara langsung di media sosial bukan langkah yang elok untuk menumpahkan rasa kecewa dan marah terhadap sesuatu yang dialaminya. Bukannya Nabi Muhammad SAW bersabda , “  Dan barangsiapa yang menutupi (aib)  seorang muslim sewaktu di dunia,  maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat.” ( HR. At-Tirmidzi).

Sang pembantu walau bagaimanapun tetap salah, dan harus diproses secara hukum menurut undang-undang yang berlaku. Serahkan kepada pihak yang berwenang (polisi) agar diusut kesalahannya, andaikata pintu maaf sang majikan telah tertutup rapat. Janganlah ketika kita diberikan kelebihan dan kemuliaan melebihi orang lain, menjadikan kita lebih baik dan merendahkan orang lain. Apalagi sampai menyebarkan keburukan dan aib orang lain di media sosial.

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga buat teman-teman TKI di luar sana. Disamping anda bekerja disini, secara tidak langsung anda juga sekaligus berfungsi sebagai duta bangsa yang membawa nama baik negara. Janganlah berbuat keburukan dan sesuatu yang bertentangan dengan hukum suatu negara (kriminalitas), karena disamping berimbas kepada diri anda sendiri dan keluarga, juga berimbas kepada nama baik bangsa kita sendiri.

Orang tua-tua dahulu mengatakan karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga, karena kesalahan yang diperbuat beberapa oknum, maka semua TKI ( khususnya Pembantu rumah tangga) disamaratakan dengan oknum tadi. Masih banyak PRT kita yang berkelakuan baik, bahkan tetap menjalin dan menjaga hubungan tali silaturrahim, meskipun telah pulang ke Indonesia.

Sebagai manusia biasa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Salah dan khilaf tetap menjadi tolak ukur kita dalam menjalani kehidupan ini. Semoga Allah tetap menjaga terbukanya aib dan keburukank ita selama ini.
Amien

Salam Damai Tanpa Prejudis.




 kredit video buat "terlajak laris TV" (youtube)

Diplomasi Kecil Di Belakang Pasar Chow kit

Thursday, 8 June 2017 0 komentar


Suasana Keramaian Chow Kit , Kuala Lumpur

Menjelang Hari Raya, semua pusat perbelanjaan mulai menghiasi diri dengan ornamen bernuansa hari raya dengan  diiringi lagu-lagu bertema lebaran. Pasar-pasar basah pun semakin ketara kesibukannya, dengan banyaknya  pembeli yang semakin bertambah dibandingkan hari-hari biasanya.

Tidak ketinggalan juga para Warganegara Indonesia (WNI) yang berada di Malaysia juga menyambut gembira kedatangan 1 Syawal sebentar lagi. Mereka mulai berfikir tentang berapa ringgit yang akan dikirimkan kepada keluaraga di Indonesia dan berapa ringgit yang akan digunakan untuk keperluannya disini ?

Biasanya para WNI di sekitar  Kuala Lumpur akan mengunjungi daerah  Chow Kit, Kotaraya, Pasar Seni , dan Masjid Jamik, Untuk mencari barang keperluan persiapan Hari Raya Nanti. Baik WNI yang berdokumen lengkap atau yang hanya hanya mengandalkan paspor saja, ikut tumpah ruah memenuhi pelataran daerah tersebut untuk membeli barangan Hari Raya.

Namun bagi WNI yang hanya mengandalkan paspor saja ( kosongan), ianya merupakan suatu tantangan tersendiri bagi mereka. Karena dalam situasi begini, biasanya polisi Malaysia akan meningkatkan rondaan dengan menambah personilnya, di setiap kawasan tumpuan orang umum. Sehingga bagi  para manteman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kosongan akan menambah awas pandangan sekelilingnya dalam berjalan dalam kerumunan massa.

Pernah suatu ketika, ada dua orang TKI kosongan datang ke pasar Chow Kit untuk berbelanja persiapan hari raya, mereka kepergok Polisi di bus stop tatkala sedang menunggu bus untuk pulang ke rumahnya. Rupanya gelagat mencurigakan dua orang TKI itu menarik perhatian  dua polisi yang sedang meronda di sekitar kawasan tersebut.

Akhirnya kedua TKI tersebut dihampiri dan ditanyakan dokumen perjalanannya seperti paspor dan visa kerjanya. Karena jawabannya tidak memuaskan, kedua TKI tersebut dibawanya ke lorong kosong di belakang pasar Chow Kit . Kedua polisi tersebut mengikuti dari belakang sambil memegangi lubang ikat pinggang celana kedua TKI tersebut.

Di dalam situasi seperti ini, aneka diplomasi, penawaran, negoisasi  bermain diantara polisi dan kedua TKI tersebut. Sang polisi akan memainkan “Diplomasi Gertak Belai” untuk mempengaruhi mental dan psikologi kedua TKI tersebut. Dengan harapan , kedua TKI tersebut akan mengikuti permintaan yang ditawarkan kepada TKI tersebut.

Maksud ”Diplomasi Gertak Belai” adalah satu polisi akan menggertak dan mengancam  sambil memarahinya. Biasanya ancamannya adalah berupa  “Kerana awak tak ada dokumen, saya akan bawa awak ke balai” atau 
. Sedangkan polisi satunya biasanya lebih koperatif dan menawarkan negoisasi, “Sudahlah ! lebih baik awak bagi uang minum, awak ada berapa ?”

Namun sang TKI tak kehabisan akal juga, mereka juga akan berdrama dengan menggunakan “Diplomasi Memelas dan Merayu”. Dalam artian mereka akan menggunakan segala cara agar terlepas dari kedua polisi tersebut, atau setidaknya tidak membayar uang yang lebih kepada mereka. Mereka akan memelas sambil berpura-pura, “ Maaf Tuan, uang sebanyak itu tidak ada, sedangkan majikan saya lari membawa uang gaji saya.” Atau “ Ampun Tuan, saya baru sampai di Malaysia, itupun saya juga kena tipu oleh Tekong.”

Akhirnya, setelah proses negoisasi dilakukan  dan kesepakatan terjadi diantara mereka. Biasanya diakhiri dengan “Diplomasi Uang”, yang mana sang TKI terpaksa menyogok kedua Polisi tersebut agar tidak dibawa ke pos polisi terdekat. Namun apabila Diplomasi Memelas dan Merayunya lebih meyakinkan, ada juga yang dilepaskan begitu saja, tanpa harus membayar uang sepeserpun.


Sebenarnya,  dimana saja, polisi itu sama dalam melakukan interogasi dan bernegoisasi dengan seseorang. Sebagai manusia biasa. Mereka ada  yang berperangai buruk, namun ada pula yang baik dengan mengutamakan sisi kemanusiaannya. Tapi akan lebih baik pula, apabila para manteman TKI juga memperlengkapkan dokumen pengenalan dirinya masing-masing juga. Dengan mengikuti perundang-undangan setempat dan taat pada hukum yang berlaku dimana ia bekerja.
Anda berdokumen lengkap, anda akan melalui hari-hari dengan lebih tenang dan nyaman.

Salam dari Kuala Lumpur

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani