Lebaran Ketupat Ala Masyarakat Madura

Saturday, 1 July 2017 6 komentar


Penjual kelongsongan ketupat di Pasar Waru Pamekasan


Setelah berakhirnya puasa Sunnah 6 hari di awal bulan Syawal, biasanya dirayakan dengan Lebaran Ketupat. Lebaran Ketupat merupakan sebuah proses sosial perpaduan kebudayaan tanpa menghilangkan kebudayaan asal (akulturasi), antara kebudayaan Nusantara (ketupat) dengan Islam.

Dalam masyarakat Madura, Lebaran Ketupat lebih dikenali sebagai Telasan Katopak / Topak. Namun ada juga yang menyebutnya dengan Telasan Pettok ( hari raya ketujuh). Yang mana umumnya mereka merayakan juga dengan acara Tahlilan di Masjid, Surau atau area pekuburan secara berjamaah. Setelah itu diakhiri dengan ziarah kubur dan saling kunjung-mengunjungi antar tetangga dan saudara.

Dan uniknya pula dalam Telasan Pettok ini, hampir semuanya membuat ketupat sebagai bahan menu utama masakan hari rayanya. Ada 2 jenis bahan anyaman ketupat yaitu,  dari janur kuning kelapa dan dari daun pocok (daun pohon siwalan). Sedangkan jenisnya hampir sama dengan kebanyakan ketupat Nusantara pada umumnya, namun belakangan ini mulai bervariasi dari berbentuk hewan seperti kuda, burung, dan buah-buahan ( Nenas ).

Sedangkan lauk peneman dari ketupat sendiri adalah berbahan santan pekat seperti opor ayam, atau berasaskan kuah sup seperti soto ayam, kaldu kokot (kaki sapi) dan kaldu kikil (Kaki Kambing). Namun seiring perkembangan zaman, makanan luar Madura seperti bakso, gado-gado , dan lainnya mulai menjadi pilihan setiap telasan katopak.

Kaldu kokot ( Kaki Sapi)


Keberadaan telasan katopak masih cukup penting dan meriah, disamping  telasan agung ( Hari Raya Idul Fitri). Karena biasanya para pemudik yang pulang ( toron), akan kembali ke rantauan (ongghe) kembali setelah berakhirnya telasan pettok.

Maksud budaya toron ( turun) dalam hal ini adalah sebuah istilah untuk menyebutkan perantau Madura yang pulang/mudik dari luar pulau Madura. Biasanya orang Madura merantau ke tanah Jawa, Jakarta, Jabah Laok (Malang dan sekitarnya), atau Jabah Daja (Kalimantan). Sekitar awal 1980-an, orang Madura mulai merantau ke luar negeri seperti Tanah Arab dan Malaysia.

Sedangkan budaya ongghe adalah sebaliknya, yaitu perantau Madura yang akan kembali lagi ke tanah perantauan, dimana ia mencari nafkah sebelumnya. Biasanya ketika ongghe ini, masyarakat Madura akan membawa beberapa sanak familinya untuk dibawa ikut serta ke tanah rantauan. Jadi wajarlah ,apabila di tanah perantauan komunitas Madura dari waku ke waktu semakin banyak dan meluas.

Keunikan-keunikan perayaan lebaran ketupat setiap daerah di Nusanatara ini pastinya berbeda dalam penyajian dan konsepnya, namun tetap sama dalam makna dan tujuannya. Berharap tradisi-tradisi ini akan menjadi kekuatan dalam kepelbagaian kebudayaan nasional.

Salam 

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani