Bertemu Pelantun Tembang "Kodung Mera" Di Kuala Lumpur

Friday, 27 October 2017 0 komentar

Ustadz Syafiih yang memakai sorban (4 dari kiri)

Hampir semua orang Madura atau yang mengerti Bahasa Madura, pastinya pernah mendengarkan lagu Madura berjudul “Kodung Mera (Kerudung merah)”. Lagu berirama gambus ini mengisahkan sebuah kekaguman seorang lelaki terhadap seorang perempuan berkerudung merah. Lirik-liriknya indah bertautan layaknya sebuah syair Madura yang disampaikan penuh perasaan.

Pelantun lagu ini adalah Ustadz Syafiih, merupakan tokoh utama penggerak Orkes Gambus Al-Ifroh, Sampang Madura bersama Ustadz Sholehuddin. Ustadz dengan berpenampilan unik ini cukup terkenal di Madura,  khususnya Sampang dan Pamekasan. Apalagi ditambah dengan kemerduan suara dan keunikan lirik-liriknya, dengan cepat terpaut di hati orang Madura.

Satu lagi lagunya yang mendapat sambutan adalah lagu “Abinih Duwek / Beristri dua”, lagu duet bersama ustadz Sholehudin bersama O.G Al-Ifroh. Lagu tersebut dibawakan  masih tetap dalam genre Irama Gambus, dengan lirik penuh humor dan sindiran tentang kisah orang yang berisitri dua.
Kedua  lagu tersebut terus menghuni daftar lagu dalam telefon dan laptop saya, karena tatkala bosan dengan pekerjaan. Lagu tersebut mampu menjadi tonik alternatif untuk menghilangkan stress sementara waktu. Salah satau faktornya adalah kekuatan lirik-liriknya yang mengingatkan pada indahnya syair-syair khas Madura.

Namun  siapa sangka, saya bisa bertatap muka secara langsung dengan penyanyi Madura yang saya kagumi tersebut. Momen tersebut terjadi saat, beliau dan rombongan dari Madura hadir dalam acara peresmian Griya Gusdurian Kuala Lumpur, yang dihadiri juga oleh Mbak Anita Wahid (Putri Almarhum Gus Dur). Acara tersebut juga dilaksanakan dalam rangka memperingati ‘Hari Santri Nasional 2017”.

Berswafoto dengan Ustadz Syafiih

Beliau dan rombongan ke Malaysia, dalam rangka tour sekaligus pembuatan video klip untuk grup Sholawat The Kufiah. Sebuah grup berbentuk terapi sholawat dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Palengaan Pamekasan.


Sebuah kebahagiaan tersendiri, apabila orang yang kita kagumi tanpa disangka hadir di hadapan kita. Diberikan kesempatan bertatap muka sambil berbicara ala kadarnya. Apapun sukses terus buat Ustadz Syafiih dan sukses juga buat The Kufiah PP MUBA, semoga senantiasa memberikan manfaat buat orang lain, khususnya orang Madura di mana saja berada.

Tak Ada Micin Di Malaysia, Tapi....

Tuesday, 17 October 2017 3 komentar



Beberapa tahun yang lalu, saya pernah tinggal di daerah Bukit Beruntung dekat Rawang Negeri Selangor Darul Ehsan. Karena masak sendiri untuk menghemat biaya hidup, maka untuk mengurangi biaya pengeluaran,  barang-barang dapurnya harus dibeli dari pasar basah. Secara kebetulan, pasar basah yang terdekat berada di Bukit Sentosa, Bandar terdekat dari Bukit Beruntung.

Kami berbelanja secara bersama-sama dengan kawan serumah yang semuanya berstatus bujangan. Ada yang bujangan permanen dan ada juga yang bujangan sementara ( jauh dari istri dan anak). Ketika berbelanja ke pasar pertama kali, kami membeli barang belanjaan dengan semangat sekali berdasarkan daftar yang ditulis dari rumah.

Ada sebuah kisah lucu yang tidak mungkin dilupakan ketika proses tawar menawar dengan penjaga kedai bumbu dapur di pasar. Semua daftar belanjaan sudah terbeli, hanya tinggal satu saja yang tertinggal yaitu micin ( vetsin). Akhirnya, saya menuju kedau berdekatan untuk menanyakan barang tersebut kepada penjaganya . Perempuan separuh baya  seumuran dengn emak saya, maka saya memanggilnya dengan Mak cik.

“Mak Cik, ada jual micin ? “ , tanyaku dengan perlahan-lahan.
“Iye saye, ada yang boleh saye bantu?”, roman wajah Mak Cik penjaga kedai sedikit kebingungan.
“Mak Cik, ada jual micin ? “ , tanyaku kembali dengan suara sedikit kuat
“ Micin itu ape Nak, Saye tak jual barang itu.” , Wajah Mak Cik masih itu penuh tanda tanya.
“Itu Makcik, vetsin lah yang macam garam itu”.
“ Vetsin itu apa Nak, saye tak pahamlah”. Mak Cik Penjual malah balik bertanya.

Akhirnya saya menjelaskan lebih rinci, kalau micin itu adalah bahan penyedap rasa masakan. Warnanya putih dan sedikit halus hampir mirip fungsinya dengan garam. Kalau garam untuk mengasinkan masakan, sedangkan micin untuk menggurihkan makanan (penyedap rasa).

“Oh itu, bukan micin namanya tapi Ajinomoto Nak!”, Kata Mak Cik sambil tersenyum.
“Oh iya Ajinomoto Mak Cik, Bagi saya 3 bungkus!”, Tegasku sambil menahan senyum juga.

Fikiranku langsung ingat kepada Swallow, Sanyo dan Honda. Aneka merek barang yang menjadi sebutan lumrah di Indonesia untk mewakili produk yang dijualnya. Karena yang terkenal atau pertama kali menjual sandal jepit di Indonesia adalah Swallow, maka umumnya orang Indonesia menamakan dengan swallow. Begitu juga dengan pompa air listrik disebut Sanyo dan sepeda motor bebek, juga banyak yang menyebutnya dengan Honda.

Maka dari itu, saya yakin kalau penyedap rasa (micin/vetsin) yang dijual pertama kali di Malaysia adalah bermerek Ajinomoto. Padahal di Malaysia sekarang, sudah banyak penyedap rasa yang bermerek Miwon, Mak Aji dan Maggi, Tapi orang Malaysia tetap menyebutnya dengan Ajinomoto . Tapi adakalanya juga disingkat menjadi moto saja.
Lain padang lain belalang, Lain lubuk lain ikannya


Bangi, 17 Oktober 2017

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani