Tidak Mampu Mengontrol Jarinya, Pekerja Ini Dipecat Perusahaannya

Wednesday, 19 December 2018 3 komentar




Adanya media sosial merupakan suatu rahmat bagi manusia dalam menjalinkan komunikasi dan berinteraksi. Kita harus mengucapkan ribuan terima kasih kepada para pencetus Friendster, My space, atau MiRC. Dikemudian hari media sosial berevolusi, menjadi lebih mudah digunakan dan lebih dijangkau. Maka muncullahmedia sosial baru bernama  Facebook, Twitter, Instagram, youtube dan media sosial lainnya.

Media sosial banyak memberikan manfaat dalam menjalin hubungan serta meningkatkan silaturrahim sesama manusia. Dimanapun dan kapanpun kita bisa berinteraksi, hanya bermodalkan kouta internet dan akun media sosial berkaitan.

Ianya juga bisa dijadikan sarana pertemuan antara penjual dan pembeli, tanpa terikat ruang dan waktu. Hanya dengan memasang foto barang jualan atau mengiklankan secara online, setelah itu tinggal menunggu pembeli menghubunginya.

Proses belajar dan mengajar serta jalan dakwah bisa juga dijalankan dengan menggunakan media sosial. Bahkan hampir perhubungan dalam dunia nyata, bisa diaplikasikan dalam dunia maya melalui media sosial.

Itu semua hal-hal positif yang dapat kita lakukan apabila menggunakan media sosial dengan benar. Berinternet secara sehat dan baik, akan memberikan pulangan yang baik dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Lantas, bagaimana dengan orang dan kelompok yang menggunakan media sosial secara negatif ?

Apabila dalam dunia nyata ada ungkapan “Mulutmu, Harimaumu”, maka sekarang dalam media sosial menjadi lain. “Jarimu, harimaumu” atau “Media Sosialmu, Harimaumu”.

Seberapa banyak netizen atau warganet yang terjebak akibat tidak mampu mengendalikan ujung jarinya, sehingga harus berurusan dengan pihak berwajib. Seberapa banyak warganet harus kehilangan teman, sahabat, serta kolega, akibat keteledoran ujung jarinya.

Lebih parah lagi, bahkan sampai ada yang kehilangan pekerjaan, akibat ujung jari yang tidak mampu dikontrol. Sebagaimana yang terjadi pada salah seorang warganegara Malaysia, baru-baru ini. Beliau digantung kerja sementara (suspended) oleh perusahaan temapt bekerjanya, sebuah dealer penjualan mobil Jepang di Kuala Lumpur.

Berawal dari warganet berinisial CY ini yang mengomentari sebuah postingan tentang seorang pemadam kebakaran Malaysia, yang terkorban dalam kerusuhan berkaitan agama dan kaum di Subang Jaya, Selangor beberapa waktu lalu.

Kasus ini berprofil tinggi dan sangat sensitif, karena apabila tidak ditangani dengan baik, sangat rentan terjadi kerusuhan kaum di Malaysia. Rupanya CY tidak melihat isu sensitivitas dalam kasus ini, beliau berkomentar disinyalir ada unsur rasisme dan ada ujaran kebencian (hate Speech).

Akhirnya komentar CY mendapat respon warganet lainnya dalam postingan tersebut. Dalam secepat kilat, komentar tersebut di-Screenchots oleh warganet lainnya serta dibagikan ke media sosial lainnya. Akhirnya komentar CY menjadi viral dan mendapat  kecaman semua warganet di Malaysia.

Rupanya ada warganet yang meneliti latar belakang CY di profil media sosialnya, dan mengetahui bahwa CY bekerja di sebuah dealer penjualan mobil Jepang di Kuala Lumpur.

Akhirnya fanpage dealer tersebut diserbu oleh warganet, dan meminta pihak dealer untuk memecat serta merta CY, karena bertindak rasisme dan melakukan ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan kericuhan. Akhirnya pihak dealer, menggantung kerja CY selama seminggu mulai hari itu juga.

Karena Cuma dikenakan penggantungan kerja selama seminggu, warganet tidak terima dan meminta dipecat serta merta. Disebabkan tidak ada respon dari dealer tersebut, akhirnya warganet menyerbu perusahaan mobil jepang cabang Amerika dan di pusatnya Jepang sendiri. Tuntutannya hanya meminta CY dipecat serta merta.

Itu adalah salah satu contoh sikap dan aksi negatif dalam media sosial. Apabila ujung jari kita tidak dikontrol dan dikendalikan dengan baik dan benar, maka akan memudharatkan diri sendiri dan warganet lainnya dalam media sosial.

Gunakan media sosial ini untuk memberikan kebaikan dan manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Fikirlah kembali sebelum memposting atau membagikan konten apa saja dalam akun media sosialmu. Karena kalau kita lalai, maka media sosialmu akan menjadi perangkap penyesalam dikemudian hari.

Salam dari Kuala Lumpur.

Suramadu : Sejarah dan Politik Mengiringi Pesonanya

Tuesday, 30 October 2018 2 komentar

Keindahan Jembatan Suramadu tinggal Kenangan (Foto: merahputih/Gesuri) 



Belakangan ini  Jembatan Suramadu menjadi polemik terbuka, mulai dari obrolan sekelas warung kopi hingga media massa. Isu tersebut terkuak, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pembebasan tarif tol jembatan Suramadu, sejak hari Sabtu lalu (27/10/18).

Jembatan Suramadu adalah sebuah jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura, yang mana pacak sebelah selatan berada di kecamatan Kenjeran Surabaya (Jawa) dan pacak sebelah utara berada di Kecamatan Labang, Bangkalan (Madura).

Jembatan yang melintasi Selat Madura ini mempunyai panjang 5.438 meter, telah diinspirasikan sejak era Presiden Soekarno lagi. Namun karena adanya Gerakan 30 September (pemberontakan PKI) dan lengsernya Bung Karno dari kepemerintahan , maka ide pembangunan Jembatan tersebut terbengkalai.

Baru pada tahun 1986, Presiden Soeharto merencanakan kembali pembangunan Jembatan Suramadu dan direalisasikan empat tahun kemudian, yaitu tahun 1990. Namun ide tersebut mendapat bantahan dari beberapa tokoh dan ulama Madura.

Salah satu alasannya adalah dampak industrialisasi atas pembanguna Jembatan Suramadu akan merugikan masyarakat Madura sendiri. Karena waktu itu, sumber daya manusia orang Madura belum siap, yang paling penting adalah realita pulau Batam saat itu.

Para Tokoh dan Ulama Madura takut, pulau Madura akan menjadi Batam kedua. Yang mana pulau Batam maju dari segi ekonomi dan infrastrukturnya, akan tetapi orang Batam sendiri tersingkir dan tidak dapat menikmati kemajuan yang ada di pulau tersebut.

Akhirnya pada tahun 1990, Presiden Soeharto memulakan pembangunan Jembatan Suramadu dan menjadikan sebagai proyek nasional. Namun krisis moneter melanda pada tahun 1997, sehingga memaksa pembangunan tersebut dihentikan.

Kemudian pembangunan jembatan Suramadu, dilaksanakan kembali pada era Presiden Megawati pada tahun 2003, dan diresmikan pada tanggal 10 Juni 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 kilometer menghabiskan anggaran Rp 4,5 triliun.

Perinciannya, Rp 3,5 triliun bersumber dari APBN untuk pembuatan jembatan bentang utara dan selatan. Sementara jembatan bentang tengah Suramadu menelan anggaran Rp 1 triliun bersumber dari hutang luar negeri.

Namun hasil penarikan tarif tol Suramadu rata-rata Rp 209 miliar per tahun, dan sekarang memasuki tahun kesembilan. Ditotal selama sembilan tahun, perolehan tarif tol Suramadu mencapai Rp 1,88 triliun.

Dari total pendapatan tersebut, pinjaman atas pembangunan jembatan Suramadu di bagian tengah telah terlunasi. Mungkin ini juga yang menjadi pertimbangan pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait pembebasan tarif tol jembatan Suramadu alias gratis.

Karena kebijakan itu dikeluarkan dalam tahun politik (masa kampanye), menjelang pemilihan presiden 2019 ini. Maka ianya menjadi bola liar ajang debat para pendukung kedua kubu koalisi Capres/Cawapres.

Kubu penantang mengatakan, ini adalah kebijakan pencitraan dalam memenangkan hati pemilih di Madura, yang mana pada Pilpres lalu, kubu Jokowi kalah jauh dibandingkan Kubu Prabowo. Sedangkan kubu Petahana membantah, sudah sepantasnya apa yang telah dilakukan presiden untuk kemakmuran rakyatnya. Jadi kebijakan seorang presiden jangan selalu diidentikkan dengan pencitraan.

Jembatan suramadu, bukan hanya menjadi komoditas politik saat ini saja. Namun pada Pilpres 2004, Megawati dan SBY berebut pesona Jembatan Suramadu. Mereka berdua mengklaim, bahwa keberadaan jembatan Suramadu merupakan peran dan hasil dari kepemerintahannya masing-masing.

Namun secara pribadi, Saya kurang melihat dari sisi politisnya tentang keberadaan jembatan Suramadu ini. Namun seberapa jauh ianya memberikan manfaat kepada masyarakat  dalam 4 kabupaten di Pulau Madura.

Apakah dengan adanya jembatan Suramadu, ekonomi pulau Madura semakin meningkat ? Apakah dengan Suramadu, investor mau menanamkan modalnya di tanah Madura ? Apakah nilai properti di Madura masih jauh dengan di Surabaya ? Dan apakah pembangunan Infrastruktur  di pulau Madura berjalan dengan baik, setelah adanya Jembatan Suramadu ?

Namun secara pribadi, saya juga belum memahami sistem perawatan (maintenance) Jembatan Suramadu pasca dihapusnya tarif tolnya. Apakah ditanggung oleh Pemerintah kota Surabaya dan pemerintah kabupaten Bangkalan (APBD) atau ditanggung oleh negara melalui APBN-nya ?

Karena selama ini, meskipun ada penarikan tarif tol jembatan Suramadu, tapi perawatannya  seperti hidup segan mati tak mau. Apalagi setelah ada kebijakan pelupusan tarif tol di jembatan Suramadu.
Apakah saya saja yang merasakan, bahwa jembatan Suramadu itu saat ini begitu kusam ? Dan lampu-lampu yang menghiasi Jembatan Suramadu sepertimana di foto pada awal peresmiannya, sekarang hanya tinggal kenangan saja ?

Salam dari seberang
Orang Madura yang melewati Suramadu setahun sekali



Pilpres 2019 : Ketika Para Capres Bersahut-Sahutan di Ruang Publik

Friday, 26 October 2018 1 komentar





Masa kampanye kontestasi terbesar di republik ini telah berjalan lebih dari sebulan. Tepatnya 23 September 2018 lalu, kampanye pemilihan presiden 2019 dimulakan oleh kedua kandidat. Kubu Sang Petahana Joko Widodo dan pasangannya KH. Makruf Amin bernama Koalisi Indonesia Kerja, Sedangkan kubu sang penantang yaitu Prabowo Subianto dan pasangannya Sandiaga Uno bernama Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Dalam masa sebulan ini, kampanye kedua kubu masih sekedar beretorika,  belum masuk ke substansi visi dan misi koalisi masing-masing. Waktu yang telah berjalan selama sebulan, hanya sekedar untuk memanaskan mesin politik masing-masing. Sedangkan waktu menuju hari-H masih tersisa selama 6 bulan lagi.

Uniknya, kedua kubu untuk mengekalkan momentum kepopuleran koalisi masing-masing, lebih kepada melempar isu dan opini ke ruang publik. Namun saya lebih tertarik kepada Sang Calon Presiden kedua belah pihak yang saling sindir-menyindir di ruang publik.

Bermula dari sindiran dan kritikan dari Capres nomor urut dua, Prabowo Subianto yang mengkritisi tentang sistem ekonomi Indonesia saat ini,

“Bahwa sistem ekonomi Indonesia saat ini, terjadi suatu fenomena mengalirnya kekayaan nasional ke luar.”

“Ini bukan ekonomi Neolib lagi, tapi lebih parah dari Neolib, menurut saya ini adalah ekonomi kebodohan, the economic of stupidity.”, disampaikan oleh Prabowo dalam  rapat kerja nasional Lembawa Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurasyidin, Lubang Buaya, Jakarta Timur (11/10/18)

Mendapat kritikan dan sindiran dari lawan politiknya, Capres Petahana Joko Widodo membalas dengan menekankan agar Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, menyebarkan semangat persatuan dan tidak melakukan politik kebohongan. Jokowi malah menekankan dalam suatu kesempatan, agar para Politikus tidak menjadi sontoloyo,

“Sekarang bukan zamannya lagi politik adu domba, politik pecah belah dan politik kebencian.”
“Sekarang zamannya politik dan kontestasi adu program, dan adu ide serta gagasan, tapi kalau masih memakai cara lama seperti itu, namanya politik Sontoloyo.”
, Kata Capres Jokowi di depan para wartawan.

Saling berbalas sindiran di ruang publik telah menambah sedikit banyak tensi dunia politik tanah air naik. Banyaknya perdebatan dan  perang meme antar kedua pendukung, menambah kegaduhan permulaan menjelang mesin politik memasuki gear kedua.

Namun sayang, retorika-retorika yang disampaikan kedua kubu masing-masing hanya sekedar untuk menyenangkan para pendukung di belakangnya saja. Seperti mana layaknya sebuah kampanye politik, menyerang keburukan dan kegagalan kubu lawan masih menjadi prioritas keduanya, daripada menyampaikan apa visi dan misinya, dan apa program unggulan untuk menarik rakyat memilihnya.

Sudah saatnya, kami menerima kampanye positif berupa program-program unggulan kedua kubu masing-masing. Pikatlah kami dengan visi dan misi yang mampu membawa Indonesia bersaing bersama dalam pentas dunia.
Salam dari Seberang.


Apakah Kita Bangsa yang Mudah Terprovokasi ?

Friday, 24 August 2018 0 komentar



Soal jiwa nasionalisme dan rasa patriotisme, saya tidak pernah meragukan semangat itu menghuni segenap rakyat Indonesia. Namun terlalu ultra nasionalisme juga tidak begitu baik adanya. Salah satu kelemahan kita adalah mudah terprovokasi dan tersulut emosinya. Kita terlalu mudah memberikan reaksi berlebihan terhadap suatu isu, yang mana isu tersebut masih mampu melakukan musyawarah untuk mencari solusi penyelesaiannya.

Tanda-tanda tersebut begitu ketara sejak pra Pemilihan Presiden (Pilpres 2014), Ianya  menghinggapi saya, kalian, dan mereka semua pecah menjadi tiga bagian. Satu bagian pro kelompok A, satu bagian pro kelompok B, dan satu bagian tidak berada diantara kelompok A dan B.

Setiap hal sesuatu yang terjadi di negeri kita ini, dimaknai dengan pertikaian dan pertembungan kontelasi politik yang  mulai berlangsung. Setiap isu yang terjadi mendapat reaksi berlebihan dari kedua kubu, mulai dari saling membuli hingga saling adu nyinyiran. Mulai dari isu pribadi hingga yang berkaitan suku, agama, ras, dan antar golongan. Parahnya lagi, isu bencana yang terjadi baru-baru ini, dipolitisasi sedemikian rupa oleh keduanya.

Peritnya mengharungi tahun-tahun politik pasca Pilpres 2014 dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, meninggalkan penggalan-penggalan dua kelompok dan perseteruan yang tak pernah reda (dikotomi). Rakyat Indonesia pecah menjadi dua bagian, terpengaruh oleh dua kelompok yang sama-sama mempunyai kepentingan (Polarisasi).

Apakah dalam tahun mendatang (Pra dan Pasca Pilpres 2019),kita akan mengalami hal yang serupa seperti masa-masa yang lalu? Ianya bisa diredam dan diminimalisir, andaikata unsur-unsur yang terlibat didalamnya sepakat untuk berkampanye secara positif dan tidak melakukan provokasi berlebihan.

Unsur yang pertama adalah para elit politik, mereka harus sepakat sesama para elit politik berkomitmen untuk saling hormat-menghormati selama proses konstelasi politik berlangsung. Mereka juga harus bersepakat, agar berhati-hati dalam memberikan pernyataan politik dan tidak mengompori serta memprovokasi isu-isu yang ada.

Unsur yang kedua adalah para media, untuk saat ini mencari media yang betul-betul netral hampir tidak mungkin, semuanya serba keberpihakan  . Publik sudah memberikan cop/tanda kepada media utama tertentu , baik media massa ataupu media elektronik. Untuk itu, cara mengurangi ketegangan politik yang ada adalah, media-media harus lebih selektif dalam mempublikasikan berita dan laporannya. Hal-hal yang dikuatiri mengundang pertikaian dan perdebatan, artikelnya bisa diperhalus lagi sebelum dipublikasikan.

Unsur yang terakhir adalah para tim sukses, setiap kubu baik pemerintah ataupun oposisi ada tim pemenangan masing-masing. Mereka mempunyai tugas dari bagian logistik hingga bagian serangan udara ( cybermedia team). Para tim sukses mempunyai kendali dan peranan penting, agar konstelasi politik tahun ini dalam batas normal. Merekalah ujung tombak koalisi yang berhadapan langsung dengan publik.

Andaikata ada kesepakatan awal diantara ketiganya, yakinlah pesta demokrasi ini akan berlangsung dengan meriah dan menarik. Perbedaan dan arah politik dalam dunia demokrasi adalah sebuah keharusan, namun yang paling penting adalah bagaimana meramu perbedaan-perbedaan itu menjadi tonik kebangkitan bangsa Indonesia ini.

Salam dari Kuala Lumpur



Tunjuk Ego: Malaysia Memaki, Indonesia Mencaci

Tuesday, 31 July 2018 0 komentar



Dalam seminggu ini, media sosial Indonesia-Malaysia heboh, gaduh, ribut, dan gempar. Pemicunya disebabkan karena salah seorang pemain tim nasional Malaysia U-16, mengunggah sebuah foto dalam instagramnya. Dalam foto itu, pemain tersebut menterbalikkan bendera Indonesia dengan latar belakang Timnas Malaysia U-16.

Seketika itu juga, tindakan pemain tersebut mendapat reaksi keras dari netizen Indonesia. Mereka mengutuk tindakan kurang bijak pemain tersebut, bahkan ada juga yang lebih keras dengan cara mengumpat dan memaki. Kedua netizen Indonesia dan Malaysia saling balas-membalas cacian di kolom komentar akun Instagram pemain tersebut.

Rupanya perang komentar, tidak hanya terjadi di akun Instagram pemain tersbeut. Namun berlanjutan ke akun-akun, grup, bahkan fanpage facebook berbagai komunitas kedua negara tersebut. Komentar-komentar di dalamnya, umumnya berisi hasutan, caci-maki, dan kata-kata rasis berhamburan dilontarkan.

Mulailah permasalahan tersebut, merambat kepada kisah-kisah perseteruan masa lalu. Seperti isu klaim-mengklaim, isu perbatasan dan perang, isu pergesekan supporter, bahkan sampai bendera dan lagu negara. Saling tunjuk ego dan tak mau mengakui kesalahannya, saling tunjuk suara dan tak mau intropeksi kesalahan masing-masing.

Pada bulan lalu, tensi antar netizen kedua negara juga sempat memanas. Tatkala pemain Timnas Malaysia U-19 dilempari botol oleh beberapa supporter ketika permainan antara Indonesia melawan Malaysia selesai. Tindakan kurang bijak itu terjadi, disebabkan kekalahan Indonesia pada Malaysia, dalam semifinal AFF U-19 yang diadakan di Sidoarjo Jawa Timur.

Berkaca pada kejadian dan tindakan kurang bijak kedua kasus tersebut, bukan semuanya bereaksi secara membabi buta. Ada sebagian netizen kedua negara tersebut yang netral dan lebih memilih menjadi penyejuk kedua aksi tersebut. Bahkan menyarankan agar tidak melakukan tindakan dan aksi kontroversi, yang mengundang perseteruan dan kegaduhan dalam media sosial.

Dalam kasus bendera terbalik, ada netizen Malaysia yang menegur cara kurang bijak pemain tersebut. Mereka mengatakan agar pemain seperti dirinya, lebih baik fokus pada permainan dan prestasi saja. Bahkan ada yang menyarankan, agar menghapus postingan tersebut, kemudian meminta maaf secara terbuka.

Sedangkan dalam kasus pelemparan botol terhadap pemain Malaysia, banyak netizen Indonesia yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan beberapa supporter saat itu. Tidak patut melampiaskan kekalahan dengan cara mengintimidasi pemain lawan, apalagi Indonesia sebagai tuan rumah. Adat tuan rumah seharusnya menghormati tamu dan memberikan perlindungan kepada mereka, bukan malah memprovokasi secara berlebihan. Kalah dan menang adalah adat sebuah pertandingan, di dalam pertandingan kita lawan, namun setelah itu kita adalah kawan.

Dunia Maya Vs Kehidupan Sehari-hari.
Pada dasarnya, kegaduhan tersebut hanya terjadi dalam media sosial dunia maya saja.  Keributan laksana mau perang itu, hanya terjadi di dalam komentar masing-masing grup media sosial masing-masing. Karena fakta di alam nyata (di Malaysia), hubungan sosial di peringkat person to person senantiasa baik dan harmonis.

Saling usik, saling sindir dan bercanda berkaitan pertembungan Indonesia-Malaysia berkaitan olahraga,  senantiasa ada dan terjadi. Namun itu hanya sebatas interaksi biasa dan sepintas saja, setelah itu hubungan akrab terjalin seperti biasanya. Artinya apa yang terjadi di media sosial itu, bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam perhubungan rakyat Indonesia dan Malaysia dalam kehidupan sehari-hari.

Malaysia-Indonesia itu ibarat gigi dan lidah dalam mulut kita, dari begitu dekatnya seringkali tergigit dan timbul pergesekan di antara keduanya. Gigitan dan gesekan itu sebenarnya bukti kedekatan di antara mereka, disamping saling memerlukan juga saling bekerjasama dalam mengunyah sebuah makanan (tujuan bersama).

Hubungan emosional (keluarga dan kekerabatan) antara keduanya begitu kuat sekali. Ditambah mempunyai susur sejarah yang saling berkaitan, kebudayaan dan tradisi yang tidak jauh berbeda, dan mayoritas keyakinan beragama yang sama. Tidak mungkin hubungan emosional itu akan terlerai begitu saja, tidak mungkin hubungan dua negara bertetangga ini akan keruh begitu saja.

Marilah kita maknai pergesekan ini dengan kepala dingin dan hati terbuka! Silahkan saling usik-mengusik dan terus saling gigit-menggigit! Namun jangan lupa bersalaman dan saling berpelukan setelah itu. Karena Indonesia dan Malaysia itu begitu dekat dan rapat, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti, kita akan saling berpapasan sambil menguntum sebuah senyuman bersama.

Salam tanpa prejudis

Ghuruh Tolang : Pembentuk Kerangka Beragama Masyarakat Madura

Sunday, 3 June 2018 0 komentar




Masyarakat Madura terkenal dengan ketaatan pada agamanya serta kepatuhan kepada guru/ulamanya. Pesan dan perintah dari ulamanya bagaikan titah dari seorang raja terhadap rakyatnya. Mereka tanpa berfikir panjang, akan melaksanakan apa yang  yang dipesankannya, serta melakukan apa yang diperintahkannya.
Alasannya sangat sederhana, yang pertama, tidak ada guru atau ulama yang akan menjerumuskan santri-santrinya kepada sesuatu yang tidak baik. Alasan kedua, melaksanakan pesan dan perintahnya sebagai bentuk rasa ketaatan kepada guru/kyainya, yang mana tujuan akhirnya adalah mengharapkan barokah dalam ilmu yang dipelajarinya serta kebarokahan hidupnya di masa akan datang.

Ada beberapa istilah guru (ustaz dan kyai) di dalam struktur masyarakat Madura, Ghuruh Tolang (guru tulang) dan Gruruh Dheging (Guru Daging). Ghuruh tolang adalah seorang guru di sekitar tempat tinggalnya  yang mengajarkan kerangka-kerangka dasar dalam beragama.

Mereka juga dikenali sebagai ghuruh lip-alipan (alif-ba-ta-tsa), yang mana beliaulah yang mengajarkan huruf hijaiyah, mulai dari membacanya, mengucapkannya, hingga cara menulisnya. Mereka juga yang mengajarkan dua kalimat syahadat, cara bersuci baik hadast kecil dan besar, cara mendirikan salat, hingga mengajarkan aneka bacaan zikir dan berselawat.

Sedangkan ghuruh dheging adalah adalah seorang guru yang mengajarkan ilmu agama lebih tinggi dan lebih khusus penjabarannya. Biasanya mereka berada di madrasah-madrasah dan pondok pesantren, tingkatan cara pembelajarannya lebih terarah serta sistematis. Mereka biasanya mengajarkan tentang ilmu Nahwu, Tajwid, ilmu fiqh hingga mempelajari aneka macam kitab kuning di dalamnya.

Ghuruh Tolang melambangkan sebuah sikap keikhlasan, keuletan, dan kesabaran dalam membentuk karakteristik masyarakatnya. Bagaimana tidak, mereka ikhlas mengajar Lip-alipan tanpa dibayar dan tidak pernah mengukur apa yang dilakukannya dengan nilai sebuah materi. Mereka meluangkan waktu istirahatnya di malam hari, mulai dari sebelum masuk waktu maghrib hingga menjelang matahari terbit.

Mereka dengan ulet mengajar santri-santrinya tentang dasar-dasar ilmu agama dan adab sopan santun dalam bermasyarakat. Mereka dengan sabar melayani sikap anak santrinya dengan aneka jenis karakter. Mereka juga yang membangunkan anak santrinya, tatkala waktu shubuh telah tiba. Menyiram dengan air tatkala ada anak santrinya yang susah bangun, kemudian mengantarkan ke sumur atau sungai terdekat. Itu hanya berlaku untuk santri laki-laki saja, yang diwajibkan menginap hingga pagi, sedangkan santri perempuan dibenarkan pulang setelah salat waktu isya’.

Umumnya anak santri yang diasuhnya mulai umur 5 tahun hingga 15 tahun, biasanya mereka adalah anak-anak tetangga di sekitar rumahnya. Ghuruh Tolang tidak pernah dibayar dan juga tidak pernah meminta sesuatu bayaran. Suatu ketika dulu, para orang tua santri hanya dibebankan membayar uang minyak tanah (karena menggunakan lampu petromaks atau lampu templok), sekarang lebih kepada membantu membayar uang listrik yang digunakannya sendiri.

Biasanya masyarakat Madura ketika akan pergi merantau, baik mencari ilmu atau pekerjaaan, mereka akan sowan terlebih dahulu terhadap para guru-gurunya. Mereka akan minta petunjuk, nasehat, sekaligus pamit dan minta izin untuk pergi merantau. Begitu juga ketika masa akan menikah tiba, mereka juga sowan kembali, sekaligus meminta untuk mendampingi orang tuanya sampai acara selesai.

Tatkala  para anak santrinya pulang dari rantauan, mereka akan menziarahi para guru-gurunya kembali. Mereka membawakan buah tangan untuk keluarganya dan menceritakan apa yang telah dilakukan selama di perantauan. Namun apa yang dilakukan oleh anak santrinya tersebut adalah kecil, apabila dibandingkan dengan keihklasan dan kesabaran para ghuruh tolang dalam membentuk karakteristik masyarakat Madura.

Namun sayang, para ghuruh tolang saya semuanya telah menghadap Sang Penciptanya. Setiap pulang ke kampung halaman, hanya mampu menziarahi ke kuburannya dan berusaha berbuat baik dengan keluarganya. Padahal saya masih mengharapkan jewerannya tentang lika-liku kehidupan dan merindukan mencium tangannya yang penuh guratan kasar kehidupan.

Al-Fatihah buat semua para Ghuruh Tolang
Mator Sakalangkong karena pernah ditempeleng dan disuruh berdiri satu kaki di penjuru Masjid, karena kesannya dirasakan pada saat ini.

 Image By : www.bharata.co.id


PEMILU : Perbedaan Antara Indonesia dan Malaysia

Tuesday, 8 May 2018 0 komentar




Suasana agak menghangat menyelubungi dua negara bertetangga di Asia Tenggara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Naiknya suhu di kedua negara tersebut, bukan dikarenakan kiriman asap musiman atau pergolakan di kawasan perbatasan kedua negara. Namun ianya disebabkan naiknya tensi politik internal kedua negara tersebut.

Apabila di Indonesia, tensi politik naik disebabkan ura-ura riuhnya pra pencalonan Presiden dan Wakil Presiden, menjelang pemilihan umum 2019 nanti. Sedangkan di Malaysia, tensi politiknya lebih tinggi sejak bulan lalu, apalagi esok 9 Mei 2018, merupakan hari penentuan arah politik pemerintah Malaysia, yaitu Pilihan Raya Malaysia yang ke-14.

Ada beberapa perbedaan dalam perhelatan penentuan arah politik, dalam pemilihan umum antara kedua negara ini. Walaupun secara kultur dan budaya mempunyai kemiripan, tapi secara sistem pemerintahan jauh berbeda.

Malaysia mengamalkan sistem pemerintahannya dengan Demokrasi Berparlimen di bawah pentadbiran Raja Berperlembagaan dan  Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agong sebagai Ketua Negara. Sedangkan Indonesia sendiri sistem pemerintahannya adalah Presidensial dengan republik sebagai bentuk pemerintahannya.

Di Malaysia, pesta demokrasinya dinamakan Pilihan Raya yang dilaksanakan untuk pertama kalinya sejak tahun 1959 dengan memperebutkan 104 buah kursi. Sedangkan Indonesia pemilihan umum pertama kalinya diadakan pada tahun 1955 , memperebutkan 257 kursi, yang mana Partai Nasional Indonesia dan Masyumi sama-sama mendapatkan kursi yang sama, yaitu 57 kursi.

Apabila Indonesia sudah melaksanakan Pemilu sebanyak 11 kali, dan selanjutnya akan dilaksanakan 17 April 2019 nanti dengan memperebutkan 560 kursi, dengan diikuti oleh 16 partai + 6 partai local Aceh. Sedangkan Malaysia, esok 9 Mei 2018 akan memasuki pilihan raya yang ke-14, dengan memperebutkan 222 kursi. Dalam artian apabila, diantara ketiga koalisi partai (Barisan Nasional, Pakatan Harapan, dan Pas dkk) mendapatkan 112 kursi , maka secara mutlak dapat memerintah Malaysia 5 tahun kedepan.

Apabila di Indonesia, tanggal penentuan pemilu telah diketahui per 5 tahun sekali, tapi tidak di Malaysia. Karena yang berhak menentukan tanggal dan kapan  pemilu akan diadakan adalah pemerintah yang berkuasa. Mereka yang berhak mengajukan kepada Yang DiPertuan Agung untuk pembubaran Parlimen. Selanjutnya pemerintah berkuasa bebas menentukan kapan diadakan Pemilu, paling lambat 60 hari selepas pembubaran parlimen dilakukan.

Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR) adalah lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan pemilihan umum di Malaysia , dengan Tan Sri Mohd Hashim Abdullah sebagai Ketua SPR Malaysia (2016 - Sekarang). Sedangkan lembaga negara yang menyelenggarakan di Indonesia adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU), dengan Ketuanya adalah Arief Budiman (2017 – 2022)

Tempat Pemungutan Suara (TPS), di Malaysia lebih dikenali sebagai tempat membuang undi. Mereka akan memangkah kertas undi (Kertas suara) sesuai dengan partai yang dipilihnya. Biasanya diadakan di sekolah-sekolah dan dewan orang ramai (sejenis kantor kepala desa).

Apabila TNI dan POLRI tidak mempunyai hak memilih di Indonesia, lain lagi di Malaysia. Mereka diberikan kebebasan mengundi pada waktu 2 hari sebelum tanggal pengundian, jadi mereka bisa bertugas  seperti biasa pada waktu pilihan raya, dan biasanya mereka, mengundi lewat pos.

Yang lebih unik lagi adalah tentang jadwal kampanye, apabila di Indonesia ada masa tenang , dimana tidak diperkenankan ada kerumunan massa seminggu menjelang hari Pemilu. Lain pula dengan di Malaysia, karena sampai hari H, petugas partai dam tim sukses masih boleh berkampanye secara aktif. Apalagi di jalan protokol menuju tempat membuang undi, mereka saling berkampanye dan merayu undi di tepi jalan kepada orang-orang yang datang mau menjalankan tanggung jawabnya mengundi.

Itulah sekelumit perbedaan dasar pemilihan umum antara negara Indonesia dan Malaysia. Apapun, semoga kedua negara mampu menjalankan pesta demokrasinya dengan sukses dan sempurna. Dan  juga mampu memilih wakilnya dalam menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik kedepannya. Sehingga keduanya bisa memberikan manfaat rakyat dan negaranya secara khusus, dan juga mampu mencorakkan ekonomi, politik dan keamanan kepada regional ASEAN dengan lebih baik.
Amiin

Kuala Lumpur, 8 Mei 2018


Pengalaman Paling Konyol dan Melucukan di Kereta Api

Thursday, 19 April 2018 0 komentar


Menjadi suatu kebiasaan bagi saya pribadi, setiap hari Khamis akan pulang lebih awal ke rumah. Dan berusaha sampai di rumah sebelum waktu Maghrib tiba. Alasanya mudah dan sederhana, sebagai orang Madura, kami bersama keluarga terdekat dan teman-teman masih mengekalkan kebiasaan Yasinan dan Tahlilan bersama di rumah. Jadi semua yang tinggal bersama serumah, sama-sama berkomitmen untuk pulang lebih awal.
Karena sepeda motor saya waktu itu sedang  bermasalah, maka saya memutuskan untuk naik kereta api dari Bangi ke Kuala Lumpur. Saya memilih gerbong paling terakhir, karena ketika sampai di stasiun KL Sentral, pintu keluarnya lebih dekat dengan tangga eskalator yang menuju ke pintu keluar. Untunglah kursi panjang dalam gerbong masih kosong, lalu kukeluarkan buku sambil duduk bersandar di ujung sebelah kanan.
**
Pada stesen berikutnya, masuklah segerombolan 3 orang cewek dan duduk berhadapan didepanku. Kuturunkan buku dua inci, untuk sekedar mengintip wajah-wajah yang ketawa-ketiwi sambil bersenda gurau. Seorang memakai jilbab dengan baju kurung ala pakaian Melayu, sedangkan duanya hanya pakai T-shirt yang dipadukan dengan celana jins.
Dari loghat bahasanya, saya sudah tahu, kalau ketiga cewek didepanku ini adalah sama-sama pemegang passport hijau, sepertimana diriku ini. Fokus membacaku terganggu oleh obrolan cewek-cewek manis yang mencuit hati. Bagaimana tidak, yang diobrolin adalah tentang masalah tipe cowok yang menjadi teman dekatnya saat ini.
“Sri, bagaimana kelanjutan tentang cowokmu , yang kau kenalkan di KFC Kajang minggu lalu ?”, ujar cewek berkaos merah pada teman di sebelah kirinya.
“Nggak jadilah, rupanya dia orang Madura.”, jawabnya datar.
“Memangnya kenapa kalau orang Madura ? toh sama-sama orang Indonesianya.” , cewek yang berjilbab biru berusaha menengahi.
“Katanya sih, kalau orang Madura nggak baik dan kasar.”, Kata Sri memberikan alasan.
Si cewek yang berjilbab biru Cuma tersenyum dan tetap berusaha menengahi,
“Ya nggak semuanya lah Sri, setiap suku itu ada sisi hitam putihnya kan.”
“Emang begitulah kalau orang Madura sifatnya, disamping itu suka modusin semua cewek. Dan kalau menikah nanti, sering diduakan.” Jawab cewek berkaos merah dengan ketus.
“Ah, nggaklah ! bukan semuanya seperti Itu.”
“Oh, iya ! Bagaimana pula dengan mas Fendi, cowokmu yang sekarang ?”, Tanya cewek berjilbab biru pada cewek berkaos merah.
“Kalau mas Fendi, orangnya baik, rajin sembahyang dan suka menasehati.”
“Dia juga tidak merokok, sopan dan tidak pernah marah padaku.”, katanya dengan bangga.
“Memangnya mas Fendimu itu asalnya darimana ?”, tanyanya lagi penuh penasaran.
“Kalau mas Fendi asalnya dari Pamekasan(*), Jawa Timur.”, jawab cewek berkaos merah penuh percaya diri.
Mak jlebbb !!!
Saya didepannya sakit perut menahan ketawa, buku yang kubaca kututupkan ke mulutku agar mereka tidak menyangka, bahwa saya sebenarnya mengikuti obrolan mereka dari tadi. Ternyata stereotip negatif orang Madura masih cukup menebal dikalangan masyarakat luar Madura.
Padahal setiap bangsa/ras di dunia mempunyai sisi gelap dan terang, mempunyai sisi hitam dan putih masing-masing. Ini tugas berat untuk orang Madura, khususnya generasi milinneal, bagaimana agar meyakinkan mereka , bahwa persepsi dan stereotip seperti itu tidak benar. Salah satunya adalah, dengan cara menjaga sikap, bicara dan perbuatan sesama sendiri dan terhadap orang lain.
Salam Damai Tanpa Prejudis
(*) #Pamekasan adalah salah satu kabupaten di Pulau Madura, selain Bangkalan, Sampang dan Sumenep.

Naga Itu Mengekori Paslon Politik

Wednesday, 18 April 2018 0 komentar


Saya yakin, semua pasangan calon (Paslon) di setiap pemilihan umum ada naga-naga yang mendukung di belakangnya. Jangankan pemilihan Capres atau Cagub, pemilihan Calon kepala desa (Cakades) saja ada naga-naga juga di belakangnya.
Entah Naga itu berasal dari Naga lokal/pribumi atau naga asing. Entah Naga itu berdiri sendiri, Naga Institusi atau berbentuk negara. Semuanya ada kepentingan dalam setiap paslon yang didukungnya. Tergantung kapasitas dan kepentingan atas paslon di kawasan teritorial yang menjadi daerah pemilihannya.
Kepentingan itu bisa berbentuk kemudahan ekonomi, dalam setiap proyek yang dikendalikan dalam wilayah Paslon yang didukungnya. Atau setidaknya dapat mempengaruhi setiap kebijakan lokal atau negara, tergantung kapasitas paslon yang didukungnya.
Tidak ada dana kampanye yang gratis dalam setiap pemilihan, ianya meminta timbal balik dan pulangan atas uang, barang atau jasa yang disumbangkan dan dikeluarkan. Baik dana kampanye yang realitas/ transparan atau abu-abu, semuanya meminta bagian, apabila paslon yang didukungnya menang.
Dana abu-abu disini maksudnya adalah dana kampanye yang tak tertulis sesuai ketetapan dan ketentuan Peraturan Komisi Pemilihan Umum No 13 Tahun 2016 pasal 7 tentang Dana Kampanye.
Apabila mengikuti dana kampanye yang dibatasi sesuai peratuaran di atas , dana tersebut paling tidak hanya mampu mencetak kaos dan baliho saja. Jadi darimana datangnya biaya pencitraaan, biaya sembako, biaya iklan dan biaya serangan fajar ? Yah pastinya Naga-naga tersebut yang menyediakan.
Jadi siapapun calonnya, entah itu Pilpres, Pilgub, Pilbup atau Pilkades, ada naga-naga yang mendukung di belakangnya. Dan dimanapun itu pemilihan umumnya diadakan, baik di Amerika, Turki, Inggris, Iran, Malaysia hingga Indonesia, ada naga-naga di belakangnya.
Yang penting pilihlah sesuai kata hati nurani, yang paling banyak manfaatnya, paling sedikit mudharatnya bagi rakyat di kawasan tersebut dan umat manusia pada umumnya.

Manggis, Manis Isinya Bermanfaat Kulitnya

Monday, 16 April 2018 0 komentar



Hamparan menghijau yang menghiasi kepulauan Nusantara, menandakan kesuburan alamnya. Zamrud Khatulistiwa, seringkali dunia luar menyebutnya, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi menyebut kepulauan nusantara sebagai cebisan tanah syurga.
Bukan tanpa alasan mereka menyebut demikian, karena disebabkan kekayaan alamnya mulai dari hasil buminya, hasil hutannya, hingga kekayaan empon-emponnya ( jamu / ramuan tardisionalnya). Salah satu dari ribuan kekayaan hasil alamnya, saya lebih tertarik kepada “Buah Manggis”, buah ajaib yang menjadi pujaan nenek moyang kita.
Buah Manggis sangat familiar dan begitu dekat bagi nenek moyang kita. Kedekatan tersebut terbukti dari beberapa peribahasa dan kiasan, “Ingin buah manggis hutan, masak ranum tergantung tinggi”. Artinya adalah perumpamaan seseorang yang mempunyai keinginan yang tak mungkin tercapai. “Seperti buah manggis”, biarpun hitam manis orangnya atau biarpun hitam, tapi hatinya baik.
Ternyata disebalik kemanisan isi buah manggis, ianya juga mempunyai aneka manfaat. Yaitu terletak kepada kulit buah manggis itu sendiri, yang terkadang kita buang setelah memakannya. Kulit manggis mengandung 62% air, 0.63% lemak, 0.72 protein, dan 62% karbohidrat. Nilai gizi yang dimiliki kulit manggis mempunyai kontribusi yang besar dalam melawan segala jenis bibit penyakit yang mengancam tubuh.
Diantaranya adalah sebagai zat antipati kanker, gangguan pencernaan ,kelenjar getah kuning, diabetes dan ampuh untuk membantu sistem kekebalan tubuh. Bahkan zat akti oksidan dalam kulit manggis berguna juga untuk perawatan kulit. Cukup dengan dikerok isi dalamkulit manggis, kemudian diblender sampai halus. Bisa dicampur susu kambing dengan madu sampai jadi krim, kemudian dioleskan pada wajah.
Banyak cara dalam memaksimalkan manfaat kulit manggis, bisa dengan dibuat jus, langsung direbus untuk diambil airnya ( cara instan). Ada juga yang dijemur terlebih dahulu , kemudian direbus atau ditumbuk jadi serbuk (Jamu). Biasanya cara yang terakhir tersebut, sebagai persiapan dan kegunaan di kemudian hari.
Kegunaan kulit Manggis belakangan ini menjadi pembicaraan di media sosial, karena khabarnya juga berguna untuk alat intim para wanita. Apabila ektrak kulit manggis (baik rebusan atau jus) diminum secara teratur dalam kuantitas biasa, akan mengesatkan alat intim kaum hawa. Dan yang pastinya ini hanya digunakan oleh mereka yang sudah berumah tangga.
Namun disebalik multiguna kulit manggis, apabila digunakan secara berlebihan ianya akan memberikan efek samping pada penggunanya. Biasanya akan mempengaruhi lambung dan ginjal kita, karena ianya susah diserap oleh usus kita. Jadi untuk mengantipasinya adalah, jangan berlebihan dalam pemakaiannya dan perbanyak minum air putih setiap menggunakan ekstrak kulit manggis.
Sungguh bertuah kita hidup di kepulauan nusantara ini, setiap jengkal tanahnya memberikan manfaat pada penghuni diatasnya. Mari kita rawat dan terus lestarikan kekayaan alam kita, demi manfaatnya untuk umat manusia dan demi anak cucu kita di masa akan datang.

Swasembada Beras Dan Garam, Mengapa Tidak ?

Monday, 19 March 2018 0 komentar

www.mahfudztejani.com


Salah satu prestasi yang tidak bisa kita pungkiri dari pemerintahan Orde Baru adalah sukses dalam bidang produksi pangan yaitu, Swasembada Beras. Saat itu pemerinta Orba mampu mengubah Indonesia, dari negara pengimpor beras menjadi negara pengekspor beras terbesar dunia, buah manis dari rencana Pelita I.

Ketika tahun 60-an, Indonesia mengimpor beras sekitar 0,6 juta ton dan terus meningkat mencapai 2 juta ton di tahun 80-an. Namun setelah itu, di tahun 1981 jumlah impor beras Indonesia terus menurun, dan sukses merubah total di tahun 1984 menjadi negara swasembada Beras.

Pemerintah Orba betul-betul mengoptimalkan potensi besar sebagai negara agraris, dengan memfokuskan kepada bidang pertanian dan produksi pangan. Baru lima belas tahun kemudian atau masa Pelita III, swasembada beras sukses dilaksanakan.

Semuanya ini tercapai dengan wujudnya Revolusi Agraria di masa itu melalui empat langkahnya, yaitu intensifikasi (pengolahan secara intensif), ekstensifikasi (perluasan areal pertanian), diversifikasi (penganekaragaman jenis tanaman) dan rehabilitasi pertanian (Perbaikan lahan yang tidak produktif).

Puncaknya, Presiden Soeharto mendapat penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO) pada tahun 1986. Atas usahanya mampu menyumbang gabah sebanyak 100.000 ton untuk disalurkan kepada warga-warga dunia yang kelaparan, khususnya di Benua Afrika. Dan uniknya sumbangan itu dikumpulkan secara gotong royong dan sukarela oleh para petani Indonesia dikala itu.

Berkaca keberhasilan rezim Orba di era 80-an yang sukses memanfaatkan lahan pertanian dengan Revolusi Agrarianya, sehingga mencapai swasembada beras. Apakah sistem dan teori berkenaan bisa diaplikasikan dalam bidang pertanian garam, sehingga Indonesia bukan lagi negara pengimpor garam. Tapi tidak mustahil , beberapa tahun kemudian Indonesia berubah menjadi negara pengekspor garam.

Saya yakin pemerintahan Presiden Jokowi mampu melakukan hal serupa, apalagi pemerintahan saat ini berkomitmen  ingin mengembalikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. Revolusi Maritim telah digaung-gaungkan sejak awal lagi, dan menekankan langsung hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, salah satunya adalah sektor perikanan.

Dan berharap sekali, pemerintah terus melakukan modernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan kemaritiman dan kelautan. Apalagi potensi laut Indonesia sangat besar dan belum tereksplorasi dengan sepenuhnya.

Dan berharap lagi, rakyat Indonesia akan terus bangga berpredikat sebagai negara agraris dan negara maritim, Apabila dari tanah dan lautnya yang dibanggakan,  mampu memberikan kemakmuran dan manfaat sepenuhnya untuk rakyat Indonesia itu sendiri.
Aamiin

#IndonesiaTanahSyurga
#CebisanTanahSyurga

Berhati-hatilah : Jangan Jadi Panadol Di Malaysia

Thursday, 15 March 2018 7 komentar

sekedar gambar hiasan


Hati ini tersentak dan marah, tatkala membaca berita pemerkosaan yang diakhiri dengan pembunuhan. Seorang warganegara Indonesia terbunuh, mayatnya disumbat ke dalam sebuah almari di asrama teman lelakinya, seorang waraganegara Nepal. Kejadian ini berlaku di sebuah rumah di Paya Terubung, George Town Pulau Pinang kemarin( Astro Awani, 14/3).

Seminggu sebelumnya, kasus yang sama juga berlaku di Kajang Putra, Selangor. Dimana seorang warganegara Indonesia dirogol dan disekap selama 3 hari oleh teman lelakinya, yang secara kebetulan juga berwarganegara Nepal ( Berita Harian, 7/3).

Membaca kasus pemerkosaan yang menimpa warganegara Indonesia di Malaysia, trendnya sekarang sudah berubah. Apabila kasus-kasus sebelumnya, pelakunya adalah warganegara Pakistan, Bangladesh, pihak majikan, dan sesama orang Indonesia sendiri. Namun belakangan ini, keterlibatan warganegara Nepal telah muncul berulangkali, baik yang terungkap ke media maupun yang menjadi cerita under cover TKI di Malaysia.

Kasus-kasus seperti ini seringkali berlaku di sektor Perkilangan/ pabrik (Manufacturing), karena umumnya pekerja kilang di Malaysia adalah didominasi oleh wanita Indonesia dan pekerja asing dari Bangladesh, Nepal dan Myanmar. Interaksi sosial yang berlaku setiap hari diantara mereka telah menimbulkan bibit-bibit asmara, apabila tak terkontrol  hanya akan menimbulkan kejadian yang tidak kita inginkan bersama.

Menurut sebuah penelitian, hampir 80% terjadinya kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan itu justeru dilakukan oleh orang yang telah dikenali. Misalnya Keluarga, saudara, pacar, tetangga, guru, atasan bahkan pemuka agama yang dihormati. Dan ada juga kasus yang terjadi karena teman yang baru dikenali baik yang dikenali secara tatap muka atau dikenali di media sosial seperti Facebook, twitter atau media chatting lainnya. Pergaulan sehari-hari dan lingkungan juga mempengaruhinya, bagaimana kita berinteraksi dan dengan siapa kita menghabiskan waktu serta berinteraksi sosial setiap harinya.

Sudah seringkali, diingatkan kepada saudari-saudari kami di Malaysia, agar senantiasa berhati-hati dan menjaga jarak apabila berhubungan dengan sesama pekerja asing di Malaysia. Karena kesan dan dampak terbesarnya, hanya  akan dirasakan oleh pihak wanita itu sendiri. Bahkan ada yang lebih ekstrim dilakukan  dalam mengingatkan mereka, yaitu memperingatkan langsung di depan mereka berdua ketika berpacaran di luar. Sehingga sampai ada yang dipukuli pihak lelakinya, apabila ada perlawanan dari mereka.

Memang cinta itu adalah buta, cinta tidak mengenal jarak, tidak mengenal bangsa dan tidak mengenal agama. Namun jangan lupa, kita tidak hidup sendirian  dan masih ada keluarga serta sahabat di sekitar kita. Janganlah hanya mementingkan cinta sesaat, namun kesannya berpanjangan terhadap diri kita dan orang-orang di sekeliling kita.

Andaikata terjadi keterlanjuran dalam berhubungan dan mempunyai anak, bagaimana nasib dan masa depan anak tersebut ? sedangkan jarak antara Indonesia dengan negara teman asing tersebut sangat jauh sekali, dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Yang pastinya secara ekonomi juga tidak jauh berbeda, karena sesama perantau dan pekerja asing di Malaysia.

Sudah banyak kasus yang sama dari dulu, yang bisa dijadikan sandaran dan bahan interopeksi diri bersama. Banyak saudari-saudari saya di Malaysia hanya sekedar dijadikan Panadol , dijadikan obat sakit kepala saja oleh mereka. Kita harus berubah, mulai dari  cara berfikir dan cara berinteraksi dalam bergaul dengan mereka.

Yakinlah!! Mereka hanya sekedar memanfaatkan kalian saja selama di Malaysia. Berkacalah pada kasus-kasus yang sama, yang telah berlaku selama ini baik yang terjadi di Malaysia, Singapura, maupun di Timur Tengah. Mereka hanya memanfaatkan kalian semua selama di perantauan, tidak ada cinta sejati bagi mereka, melainkan hanya pelampiasan nafsu semata.

Ayo berubahlah dan senantiasa saling ingat-mengingatkan sesama satu bangsa dan negara di perantauan. Karena nasib tidak baik yang menimpa kalian, juga kami rasakan bersama disini.



Partai Baru Pemilu 2019, Akankah Mampu Bertahan ?

Thursday, 8 March 2018 0 komentar

Keempat Logo Partai Baru 2019.


Gebyar-gebyar riuhnya Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 semakin kita rasakan. Genderang-genderang partai telah dibunyikan, ada yang ditabuh secara samar dan sembunyi. Namun ada juga yang ditabuh dengan cara terang-terangan, disertai tarian-tarian pemikat suara pada pemilu akan datang.

Hampir sebulan para partai kontestan Pemilu 2019  telah  diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), tepatnya 17 Februari yang lalu. Ketika pada awalnya ada 14 partai peserta pemilu yang akan bertarung memperebutkan suara rakyat Indonesia, namun ada penambahan partai baru disaat akhir, yaitu Partai Bulan Bintang.

Lima belas partai peserta kontestan Pemilu 2019 itu adalah :
1. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
2. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
4. Partai Golangan Karya (Golkar)
5. Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
6. Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda)
7. Partai Berkarya
8. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
9. Partai Persatuan Indonesia (Perindo)
10. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
11 Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
12. Partai Amanat Nasional (PAN)
13. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
14. Partai Demokrat
19. Partai Bulan Bintang (PBB)

Dalam kelimabelas partai diatas, ada 4 kontestan baru dalam Pemilu 2019 nanti, yaitu : Garuda, Berkarya, Perindo, Dan PSI. Pastinya kita masih merasa asing dan penuh tanda tanya dari keempat partai tersebut. Ada partai yang memang baru dan diisi dengan wajah-wajah baru, namun ada juga partai baru akan tetapi diisi oleh muka-muka lama dalam dunia politik Indonesia. Dalam artian pemain lama, namun baju dan warnanya baru, mencoba nasib dalam pesta demokrasi akan datang.

Dari keempat partai tersebut, hanya 2 partai yang tokoh utamanya telah dikenali sebelumnya dalam dunia perpartaian Indonesia. Yaitu Perindo dengan Hary Tanoesoedibjo sebagai Ketua Umumnya dan Berkarya dengan Tommy Soeharto sebagai Dewan Pembinanya.

Perindo sendiri didirikan pada tanggal 7 Februari 2015, pastinya mempunyai kelebihan yang cukup besar dibandingkan partai kontenstan lainnya. Kelebihan dana dan propaganda yang dimiliki Hary Tanoe sebagai jutawan media Indonesia, akan membuatkan Perindo lebih popular di dalam masyarakat.

Sedangkan Berkarya, meskipun partai baru seumur jagung yang didirikan pada 15 Juli 2016, jaringan-jaringan di peringkat bawah telah terbina sekian lama. Dan pastinya, Tommy Soeharto akan memanfaatkan pengaruh-pengaruh partai Golkar yang mengakar kuat suatu ketika dulu. Ditambah lagi sisa-sisa Soehartoisme masih cukup besar di dalam lapisan masyarakat.

Namun begitu,Tommy dan Partai Berkaryanya harus bekerja serta berusaha ekstra keras untuk bersaing memperebutkan suara dengan partai pecahan Golkar itu sendiri. Kita sebut saja Gerindra, Demokrat, Nasdem,Hanura, dan Partai Gokar sendiri. Rasanya masih sangat sulit untuk saat ini, Berkarya mengembalikan kegemilangan Soehartoisme suatu ketika dulu.

Selanjutnya partai baru lainnya adalah Partai Solidaritas Indonesia yang didirikan 16 November 2014. PSI merupakan partai dengan wajah-wajah baru dan wajah-wajah muda dalam dunia politik Indonesia. PSI dikemudikan oleh Grace Natalia, mantan Presenter diberbagai TV Indonesia. Wajah-wajah muda dari berbagai bidang berada dalam partai bernuansa merah ini, kita sebut saja Arbi Hariyanto, Giring Nidji, hingga Tsamara Amany, mahasiswi cantik yang cukup getol membela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apabila tidak melakukan blunder dan tidak terjebak dalam pusaran partai lama, partai ini akan menjadi pilihan pemilih muda yang kurang mempercayai partai kontestan lama.

Dan yang terakhir adalah Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) yang didirikan pada 15 April 2015. Ketua umumnya adalah Ahmad Ridha Sabana, mantan Presiden Direktur PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Isunya berdirinya partai ini ada keterlibatan putri Soeharto, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut). Namun Ahmad Ridha membantah dengan keras, bahwa Partai Garuda tidak ada hubungannya dan keterlibatan Mbak Tutut didalamnya.

Dengan hadirnya keempat partai baru tersebut akan memberikan suasana baru dalam dunia demokrasi Indonesia. Memberikan banyak pilihan kepada pemilih-pemilih baru serta mampu meningkatkan kualitas perpolitikan Indonesia.


Andaikata tidak mampu menjawab tantangan-tantangan seperti yang diharapkan kebanyakan rakyat Indonesia, siap-siaplah nama partainya akan tercatat sekali dalam sejarah pesta demokrasi Indonesia.

Salam dari Kuala Lumpur.


Santri-Santri Kecil Menguasai Aneka Bahasa Asing

Sunday, 28 January 2018 0 komentar

Para santri sedang berinteraksi dalam bahasa asing

Iring-iringan mobil yang membawa tamu dikawal mobil patrol polisi membelah kesesakan kota Pamekasan. Di dalam rombongan tersebut, beberapa tamu kehormatan dengan berbagai latar belakang, profesi, dan negara diundang ke acara Pekan Ngaji III Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Palengaan Pamekasan Jawa Timur.

Seminar Pekan Ngaji III ini dilakukan dari tanggal 18 – 28 Januari ini menghadirkan beberapa tokoh nasional dan internasional yang sukses serta berkompeten di bidangnya. Mulai dari ngaji kebudayaan, ngaji kemanajemenan, ngaji kepenulisan, hingga ngaji kewirausahaan yang diadakan secara beruntun selama seminggu.

Kami mendampingi pimpinan Direktur Mandiri Sejahtera Cargo, H. Wawan Syakir Darmawan, Lc, M.A memberikan ilmu dan pengalamanya dalam bidang kewirausahaan (Ngaji Kewirausahaan) kepada ratusan santri, pada hari kelima seminar pekan ngaji tersebut. Dalam iring-iringan tersebut, hadir juga Prof.Dr.H.Imam Suprayogo dari Malang, serta beberapa tokoh akademik lainnya dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) serta tokoh akademik dari Brunei Darussalam.

Hampir 15 menit iring-iringan membelah kota Pamekasan, mulailah terlihat baliho-baliho dan spanduk tema Pekan Ngaji III menghiasi sepanjang jalanan kecamatan Palengaan. Wajah-wajah penuh ketaatan yang memakai sarung , kemeja berlengan panjang, dan memakai kopiah telah menunggu. Mereka berbaris di kanan-kiri jalan menuju Pondok Pesantren Mambaul Ulum, sambil menundukkan kepala sembari memegang kedua tangannya dihadapannya.



Tibalah kami di halaman pondok disambut ribuan santri, seterusnya dipersilahkan masuk ruangan utama untuk sesi ramah tamah dengan Pengurus dan Dewan A’wan Pondok Pesantren Mambaul Ulum. KH.Thohir bin KH. Abdul Majid membuka wacana  menceritakan sejarah berdirinya Pondok Pesantren dan Seminar Pekan Ngaji melalui video yang disampaikan melalui proyektor.

Beliau juga menceritakan bahwa santri PP.Mambaul Ulumitu  datang dari berbagai golongan itu kurang lebih 9300 orang. Beliau menerangkan bahwa, pondok pesantren tidak menetapkan syarat-syarat khusus  (akademik) kemasukan ke pesantren serta dengan biaya per bulan yang sangat murah sekali. Setelah itu, para rombongan diberikan kesempatan menyaksikan kemahiran santrinya membaca kitab kuning dan berbual dalam beberapa bahasa aneka asing.



Para rombongan terkesima, dengan keterampilan beberapa santri dalam lingkup usia 12 tahunan tersebut namun mahir berbahasa asing. Mulai dari bahasa Arab, Inggris, Jepang, Mandarin,Perancis, Jerman hingga bahasa Spanyol. Para tetamu juga diberikan kesempatan berinteraksi dengan mereka, kemudian para santri tersebut menjawab dalam bahasa asing.

KH.Thohir Abdul Majid menjelaskan, bahwa tutornya adalah para santri PP.Mambaul Ulum itu sendiri yang dikursuskan ke akademi bahasa asing, kemudian mengajarkan kembali kepada teman-teman sesama santri melalui kelas bilingual. Tatkala sebagian tetamu menanyakan berapa biaya untuk mengikuti kelas bahasa asing tersebut.

“Dalam 3 bulan, umumnya mereka sudah bisa berinteraksi dalam bahasa asing yang diikutinya. Selama 3 bulan tersebut hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp.75 ribu, artinya per bulan hanya 25 ribu rupiah saja.”, tutur KH Thohir kepada para tetamu. Penjelasan tersebut membuat para tetamu seakan tidak percaya, karena dengan biaya serendah itu mampu menghasilkan keterampilan berbahasa diatas rata-rata.

Sempat berfikir, bahwa banyak pondok pesantren itu telah menciptakan dan menyimpan permata-permata, namun ianya  masih tersembunyi diantara pepasir di pulau Madura. Bagaimana pemerintah dan masyarakat mengoptimalkannya dalam kemajuan Madura kedepannya nanti. Bagaimana juga memaksimalkan peran santri ketika terjun didalam masyarakat nanti. Sehingga suatu saat nanti, masyarakat Madura menjadi masyarakat yang tetap agamis dan berbudaya, namun berfikiran terbuka dan modern yang dilandasi nilai-nilai Islami.

Amien.

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani