Pengalaman Paling Konyol dan Melucukan di Kereta Api

Thursday, 19 April 2018 0 komentar


Menjadi suatu kebiasaan bagi saya pribadi, setiap hari Khamis akan pulang lebih awal ke rumah. Dan berusaha sampai di rumah sebelum waktu Maghrib tiba. Alasanya mudah dan sederhana, sebagai orang Madura, kami bersama keluarga terdekat dan teman-teman masih mengekalkan kebiasaan Yasinan dan Tahlilan bersama di rumah. Jadi semua yang tinggal bersama serumah, sama-sama berkomitmen untuk pulang lebih awal.
Karena sepeda motor saya waktu itu sedang  bermasalah, maka saya memutuskan untuk naik kereta api dari Bangi ke Kuala Lumpur. Saya memilih gerbong paling terakhir, karena ketika sampai di stasiun KL Sentral, pintu keluarnya lebih dekat dengan tangga eskalator yang menuju ke pintu keluar. Untunglah kursi panjang dalam gerbong masih kosong, lalu kukeluarkan buku sambil duduk bersandar di ujung sebelah kanan.
**
Pada stesen berikutnya, masuklah segerombolan 3 orang cewek dan duduk berhadapan didepanku. Kuturunkan buku dua inci, untuk sekedar mengintip wajah-wajah yang ketawa-ketiwi sambil bersenda gurau. Seorang memakai jilbab dengan baju kurung ala pakaian Melayu, sedangkan duanya hanya pakai T-shirt yang dipadukan dengan celana jins.
Dari loghat bahasanya, saya sudah tahu, kalau ketiga cewek didepanku ini adalah sama-sama pemegang passport hijau, sepertimana diriku ini. Fokus membacaku terganggu oleh obrolan cewek-cewek manis yang mencuit hati. Bagaimana tidak, yang diobrolin adalah tentang masalah tipe cowok yang menjadi teman dekatnya saat ini.
“Sri, bagaimana kelanjutan tentang cowokmu , yang kau kenalkan di KFC Kajang minggu lalu ?”, ujar cewek berkaos merah pada teman di sebelah kirinya.
“Nggak jadilah, rupanya dia orang Madura.”, jawabnya datar.
“Memangnya kenapa kalau orang Madura ? toh sama-sama orang Indonesianya.” , cewek yang berjilbab biru berusaha menengahi.
“Katanya sih, kalau orang Madura nggak baik dan kasar.”, Kata Sri memberikan alasan.
Si cewek yang berjilbab biru Cuma tersenyum dan tetap berusaha menengahi,
“Ya nggak semuanya lah Sri, setiap suku itu ada sisi hitam putihnya kan.”
“Emang begitulah kalau orang Madura sifatnya, disamping itu suka modusin semua cewek. Dan kalau menikah nanti, sering diduakan.” Jawab cewek berkaos merah dengan ketus.
“Ah, nggaklah ! bukan semuanya seperti Itu.”
“Oh, iya ! Bagaimana pula dengan mas Fendi, cowokmu yang sekarang ?”, Tanya cewek berjilbab biru pada cewek berkaos merah.
“Kalau mas Fendi, orangnya baik, rajin sembahyang dan suka menasehati.”
“Dia juga tidak merokok, sopan dan tidak pernah marah padaku.”, katanya dengan bangga.
“Memangnya mas Fendimu itu asalnya darimana ?”, tanyanya lagi penuh penasaran.
“Kalau mas Fendi asalnya dari Pamekasan(*), Jawa Timur.”, jawab cewek berkaos merah penuh percaya diri.
Mak jlebbb !!!
Saya didepannya sakit perut menahan ketawa, buku yang kubaca kututupkan ke mulutku agar mereka tidak menyangka, bahwa saya sebenarnya mengikuti obrolan mereka dari tadi. Ternyata stereotip negatif orang Madura masih cukup menebal dikalangan masyarakat luar Madura.
Padahal setiap bangsa/ras di dunia mempunyai sisi gelap dan terang, mempunyai sisi hitam dan putih masing-masing. Ini tugas berat untuk orang Madura, khususnya generasi milinneal, bagaimana agar meyakinkan mereka , bahwa persepsi dan stereotip seperti itu tidak benar. Salah satunya adalah, dengan cara menjaga sikap, bicara dan perbuatan sesama sendiri dan terhadap orang lain.
Salam Damai Tanpa Prejudis
(*) #Pamekasan adalah salah satu kabupaten di Pulau Madura, selain Bangkalan, Sampang dan Sumenep.

Naga Itu Mengekori Paslon Politik

Wednesday, 18 April 2018 0 komentar


Saya yakin, semua pasangan calon (Paslon) di setiap pemilihan umum ada naga-naga yang mendukung di belakangnya. Jangankan pemilihan Capres atau Cagub, pemilihan Calon kepala desa (Cakades) saja ada naga-naga juga di belakangnya.
Entah Naga itu berasal dari Naga lokal/pribumi atau naga asing. Entah Naga itu berdiri sendiri, Naga Institusi atau berbentuk negara. Semuanya ada kepentingan dalam setiap paslon yang didukungnya. Tergantung kapasitas dan kepentingan atas paslon di kawasan teritorial yang menjadi daerah pemilihannya.
Kepentingan itu bisa berbentuk kemudahan ekonomi, dalam setiap proyek yang dikendalikan dalam wilayah Paslon yang didukungnya. Atau setidaknya dapat mempengaruhi setiap kebijakan lokal atau negara, tergantung kapasitas paslon yang didukungnya.
Tidak ada dana kampanye yang gratis dalam setiap pemilihan, ianya meminta timbal balik dan pulangan atas uang, barang atau jasa yang disumbangkan dan dikeluarkan. Baik dana kampanye yang realitas/ transparan atau abu-abu, semuanya meminta bagian, apabila paslon yang didukungnya menang.
Dana abu-abu disini maksudnya adalah dana kampanye yang tak tertulis sesuai ketetapan dan ketentuan Peraturan Komisi Pemilihan Umum No 13 Tahun 2016 pasal 7 tentang Dana Kampanye.
Apabila mengikuti dana kampanye yang dibatasi sesuai peratuaran di atas , dana tersebut paling tidak hanya mampu mencetak kaos dan baliho saja. Jadi darimana datangnya biaya pencitraaan, biaya sembako, biaya iklan dan biaya serangan fajar ? Yah pastinya Naga-naga tersebut yang menyediakan.
Jadi siapapun calonnya, entah itu Pilpres, Pilgub, Pilbup atau Pilkades, ada naga-naga yang mendukung di belakangnya. Dan dimanapun itu pemilihan umumnya diadakan, baik di Amerika, Turki, Inggris, Iran, Malaysia hingga Indonesia, ada naga-naga di belakangnya.
Yang penting pilihlah sesuai kata hati nurani, yang paling banyak manfaatnya, paling sedikit mudharatnya bagi rakyat di kawasan tersebut dan umat manusia pada umumnya.

Manggis, Manis Isinya Bermanfaat Kulitnya

Monday, 16 April 2018 0 komentar



Hamparan menghijau yang menghiasi kepulauan Nusantara, menandakan kesuburan alamnya. Zamrud Khatulistiwa, seringkali dunia luar menyebutnya, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi menyebut kepulauan nusantara sebagai cebisan tanah syurga.
Bukan tanpa alasan mereka menyebut demikian, karena disebabkan kekayaan alamnya mulai dari hasil buminya, hasil hutannya, hingga kekayaan empon-emponnya ( jamu / ramuan tardisionalnya). Salah satu dari ribuan kekayaan hasil alamnya, saya lebih tertarik kepada “Buah Manggis”, buah ajaib yang menjadi pujaan nenek moyang kita.
Buah Manggis sangat familiar dan begitu dekat bagi nenek moyang kita. Kedekatan tersebut terbukti dari beberapa peribahasa dan kiasan, “Ingin buah manggis hutan, masak ranum tergantung tinggi”. Artinya adalah perumpamaan seseorang yang mempunyai keinginan yang tak mungkin tercapai. “Seperti buah manggis”, biarpun hitam manis orangnya atau biarpun hitam, tapi hatinya baik.
Ternyata disebalik kemanisan isi buah manggis, ianya juga mempunyai aneka manfaat. Yaitu terletak kepada kulit buah manggis itu sendiri, yang terkadang kita buang setelah memakannya. Kulit manggis mengandung 62% air, 0.63% lemak, 0.72 protein, dan 62% karbohidrat. Nilai gizi yang dimiliki kulit manggis mempunyai kontribusi yang besar dalam melawan segala jenis bibit penyakit yang mengancam tubuh.
Diantaranya adalah sebagai zat antipati kanker, gangguan pencernaan ,kelenjar getah kuning, diabetes dan ampuh untuk membantu sistem kekebalan tubuh. Bahkan zat akti oksidan dalam kulit manggis berguna juga untuk perawatan kulit. Cukup dengan dikerok isi dalamkulit manggis, kemudian diblender sampai halus. Bisa dicampur susu kambing dengan madu sampai jadi krim, kemudian dioleskan pada wajah.
Banyak cara dalam memaksimalkan manfaat kulit manggis, bisa dengan dibuat jus, langsung direbus untuk diambil airnya ( cara instan). Ada juga yang dijemur terlebih dahulu , kemudian direbus atau ditumbuk jadi serbuk (Jamu). Biasanya cara yang terakhir tersebut, sebagai persiapan dan kegunaan di kemudian hari.
Kegunaan kulit Manggis belakangan ini menjadi pembicaraan di media sosial, karena khabarnya juga berguna untuk alat intim para wanita. Apabila ektrak kulit manggis (baik rebusan atau jus) diminum secara teratur dalam kuantitas biasa, akan mengesatkan alat intim kaum hawa. Dan yang pastinya ini hanya digunakan oleh mereka yang sudah berumah tangga.
Namun disebalik multiguna kulit manggis, apabila digunakan secara berlebihan ianya akan memberikan efek samping pada penggunanya. Biasanya akan mempengaruhi lambung dan ginjal kita, karena ianya susah diserap oleh usus kita. Jadi untuk mengantipasinya adalah, jangan berlebihan dalam pemakaiannya dan perbanyak minum air putih setiap menggunakan ekstrak kulit manggis.
Sungguh bertuah kita hidup di kepulauan nusantara ini, setiap jengkal tanahnya memberikan manfaat pada penghuni diatasnya. Mari kita rawat dan terus lestarikan kekayaan alam kita, demi manfaatnya untuk umat manusia dan demi anak cucu kita di masa akan datang.

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani