Ghuruh Tolang : Pembentuk Kerangka Beragama Masyarakat Madura

Sunday, 3 June 2018 0 komentar




Masyarakat Madura terkenal dengan ketaatan pada agamanya serta kepatuhan kepada guru/ulamanya. Pesan dan perintah dari ulamanya bagaikan titah dari seorang raja terhadap rakyatnya. Mereka tanpa berfikir panjang, akan melaksanakan apa yang  yang dipesankannya, serta melakukan apa yang diperintahkannya.
Alasannya sangat sederhana, yang pertama, tidak ada guru atau ulama yang akan menjerumuskan santri-santrinya kepada sesuatu yang tidak baik. Alasan kedua, melaksanakan pesan dan perintahnya sebagai bentuk rasa ketaatan kepada guru/kyainya, yang mana tujuan akhirnya adalah mengharapkan barokah dalam ilmu yang dipelajarinya serta kebarokahan hidupnya di masa akan datang.

Ada beberapa istilah guru (ustaz dan kyai) di dalam struktur masyarakat Madura, Ghuruh Tolang (guru tulang) dan Gruruh Dheging (Guru Daging). Ghuruh tolang adalah seorang guru di sekitar tempat tinggalnya  yang mengajarkan kerangka-kerangka dasar dalam beragama.

Mereka juga dikenali sebagai ghuruh lip-alipan (alif-ba-ta-tsa), yang mana beliaulah yang mengajarkan huruf hijaiyah, mulai dari membacanya, mengucapkannya, hingga cara menulisnya. Mereka juga yang mengajarkan dua kalimat syahadat, cara bersuci baik hadast kecil dan besar, cara mendirikan salat, hingga mengajarkan aneka bacaan zikir dan berselawat.

Sedangkan ghuruh dheging adalah adalah seorang guru yang mengajarkan ilmu agama lebih tinggi dan lebih khusus penjabarannya. Biasanya mereka berada di madrasah-madrasah dan pondok pesantren, tingkatan cara pembelajarannya lebih terarah serta sistematis. Mereka biasanya mengajarkan tentang ilmu Nahwu, Tajwid, ilmu fiqh hingga mempelajari aneka macam kitab kuning di dalamnya.

Ghuruh Tolang melambangkan sebuah sikap keikhlasan, keuletan, dan kesabaran dalam membentuk karakteristik masyarakatnya. Bagaimana tidak, mereka ikhlas mengajar Lip-alipan tanpa dibayar dan tidak pernah mengukur apa yang dilakukannya dengan nilai sebuah materi. Mereka meluangkan waktu istirahatnya di malam hari, mulai dari sebelum masuk waktu maghrib hingga menjelang matahari terbit.

Mereka dengan ulet mengajar santri-santrinya tentang dasar-dasar ilmu agama dan adab sopan santun dalam bermasyarakat. Mereka dengan sabar melayani sikap anak santrinya dengan aneka jenis karakter. Mereka juga yang membangunkan anak santrinya, tatkala waktu shubuh telah tiba. Menyiram dengan air tatkala ada anak santrinya yang susah bangun, kemudian mengantarkan ke sumur atau sungai terdekat. Itu hanya berlaku untuk santri laki-laki saja, yang diwajibkan menginap hingga pagi, sedangkan santri perempuan dibenarkan pulang setelah salat waktu isya’.

Umumnya anak santri yang diasuhnya mulai umur 5 tahun hingga 15 tahun, biasanya mereka adalah anak-anak tetangga di sekitar rumahnya. Ghuruh Tolang tidak pernah dibayar dan juga tidak pernah meminta sesuatu bayaran. Suatu ketika dulu, para orang tua santri hanya dibebankan membayar uang minyak tanah (karena menggunakan lampu petromaks atau lampu templok), sekarang lebih kepada membantu membayar uang listrik yang digunakannya sendiri.

Biasanya masyarakat Madura ketika akan pergi merantau, baik mencari ilmu atau pekerjaaan, mereka akan sowan terlebih dahulu terhadap para guru-gurunya. Mereka akan minta petunjuk, nasehat, sekaligus pamit dan minta izin untuk pergi merantau. Begitu juga ketika masa akan menikah tiba, mereka juga sowan kembali, sekaligus meminta untuk mendampingi orang tuanya sampai acara selesai.

Tatkala  para anak santrinya pulang dari rantauan, mereka akan menziarahi para guru-gurunya kembali. Mereka membawakan buah tangan untuk keluarganya dan menceritakan apa yang telah dilakukan selama di perantauan. Namun apa yang dilakukan oleh anak santrinya tersebut adalah kecil, apabila dibandingkan dengan keihklasan dan kesabaran para ghuruh tolang dalam membentuk karakteristik masyarakat Madura.

Namun sayang, para ghuruh tolang saya semuanya telah menghadap Sang Penciptanya. Setiap pulang ke kampung halaman, hanya mampu menziarahi ke kuburannya dan berusaha berbuat baik dengan keluarganya. Padahal saya masih mengharapkan jewerannya tentang lika-liku kehidupan dan merindukan mencium tangannya yang penuh guratan kasar kehidupan.

Al-Fatihah buat semua para Ghuruh Tolang
Mator Sakalangkong karena pernah ditempeleng dan disuruh berdiri satu kaki di penjuru Masjid, karena kesannya dirasakan pada saat ini.

 Image By : www.bharata.co.id


 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani