Tunjuk Ego: Malaysia Memaki, Indonesia Mencaci

Tuesday, 31 July 2018 0 komentar



Dalam seminggu ini, media sosial Indonesia-Malaysia heboh, gaduh, ribut, dan gempar. Pemicunya disebabkan karena salah seorang pemain tim nasional Malaysia U-16, mengunggah sebuah foto dalam instagramnya. Dalam foto itu, pemain tersebut menterbalikkan bendera Indonesia dengan latar belakang Timnas Malaysia U-16.

Seketika itu juga, tindakan pemain tersebut mendapat reaksi keras dari netizen Indonesia. Mereka mengutuk tindakan kurang bijak pemain tersebut, bahkan ada juga yang lebih keras dengan cara mengumpat dan memaki. Kedua netizen Indonesia dan Malaysia saling balas-membalas cacian di kolom komentar akun Instagram pemain tersebut.

Rupanya perang komentar, tidak hanya terjadi di akun Instagram pemain tersbeut. Namun berlanjutan ke akun-akun, grup, bahkan fanpage facebook berbagai komunitas kedua negara tersebut. Komentar-komentar di dalamnya, umumnya berisi hasutan, caci-maki, dan kata-kata rasis berhamburan dilontarkan.

Mulailah permasalahan tersebut, merambat kepada kisah-kisah perseteruan masa lalu. Seperti isu klaim-mengklaim, isu perbatasan dan perang, isu pergesekan supporter, bahkan sampai bendera dan lagu negara. Saling tunjuk ego dan tak mau mengakui kesalahannya, saling tunjuk suara dan tak mau intropeksi kesalahan masing-masing.

Pada bulan lalu, tensi antar netizen kedua negara juga sempat memanas. Tatkala pemain Timnas Malaysia U-19 dilempari botol oleh beberapa supporter ketika permainan antara Indonesia melawan Malaysia selesai. Tindakan kurang bijak itu terjadi, disebabkan kekalahan Indonesia pada Malaysia, dalam semifinal AFF U-19 yang diadakan di Sidoarjo Jawa Timur.

Berkaca pada kejadian dan tindakan kurang bijak kedua kasus tersebut, bukan semuanya bereaksi secara membabi buta. Ada sebagian netizen kedua negara tersebut yang netral dan lebih memilih menjadi penyejuk kedua aksi tersebut. Bahkan menyarankan agar tidak melakukan tindakan dan aksi kontroversi, yang mengundang perseteruan dan kegaduhan dalam media sosial.

Dalam kasus bendera terbalik, ada netizen Malaysia yang menegur cara kurang bijak pemain tersebut. Mereka mengatakan agar pemain seperti dirinya, lebih baik fokus pada permainan dan prestasi saja. Bahkan ada yang menyarankan, agar menghapus postingan tersebut, kemudian meminta maaf secara terbuka.

Sedangkan dalam kasus pelemparan botol terhadap pemain Malaysia, banyak netizen Indonesia yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan beberapa supporter saat itu. Tidak patut melampiaskan kekalahan dengan cara mengintimidasi pemain lawan, apalagi Indonesia sebagai tuan rumah. Adat tuan rumah seharusnya menghormati tamu dan memberikan perlindungan kepada mereka, bukan malah memprovokasi secara berlebihan. Kalah dan menang adalah adat sebuah pertandingan, di dalam pertandingan kita lawan, namun setelah itu kita adalah kawan.

Dunia Maya Vs Kehidupan Sehari-hari.
Pada dasarnya, kegaduhan tersebut hanya terjadi dalam media sosial dunia maya saja.  Keributan laksana mau perang itu, hanya terjadi di dalam komentar masing-masing grup media sosial masing-masing. Karena fakta di alam nyata (di Malaysia), hubungan sosial di peringkat person to person senantiasa baik dan harmonis.

Saling usik, saling sindir dan bercanda berkaitan pertembungan Indonesia-Malaysia berkaitan olahraga,  senantiasa ada dan terjadi. Namun itu hanya sebatas interaksi biasa dan sepintas saja, setelah itu hubungan akrab terjalin seperti biasanya. Artinya apa yang terjadi di media sosial itu, bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam perhubungan rakyat Indonesia dan Malaysia dalam kehidupan sehari-hari.

Malaysia-Indonesia itu ibarat gigi dan lidah dalam mulut kita, dari begitu dekatnya seringkali tergigit dan timbul pergesekan di antara keduanya. Gigitan dan gesekan itu sebenarnya bukti kedekatan di antara mereka, disamping saling memerlukan juga saling bekerjasama dalam mengunyah sebuah makanan (tujuan bersama).

Hubungan emosional (keluarga dan kekerabatan) antara keduanya begitu kuat sekali. Ditambah mempunyai susur sejarah yang saling berkaitan, kebudayaan dan tradisi yang tidak jauh berbeda, dan mayoritas keyakinan beragama yang sama. Tidak mungkin hubungan emosional itu akan terlerai begitu saja, tidak mungkin hubungan dua negara bertetangga ini akan keruh begitu saja.

Marilah kita maknai pergesekan ini dengan kepala dingin dan hati terbuka! Silahkan saling usik-mengusik dan terus saling gigit-menggigit! Namun jangan lupa bersalaman dan saling berpelukan setelah itu. Karena Indonesia dan Malaysia itu begitu dekat dan rapat, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti, kita akan saling berpapasan sambil menguntum sebuah senyuman bersama.

Salam tanpa prejudis

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani