Apakah Kita Bangsa yang Mudah Terprovokasi ?

Friday, 24 August 2018 0 komentar



Soal jiwa nasionalisme dan rasa patriotisme, saya tidak pernah meragukan semangat itu menghuni segenap rakyat Indonesia. Namun terlalu ultra nasionalisme juga tidak begitu baik adanya. Salah satu kelemahan kita adalah mudah terprovokasi dan tersulut emosinya. Kita terlalu mudah memberikan reaksi berlebihan terhadap suatu isu, yang mana isu tersebut masih mampu melakukan musyawarah untuk mencari solusi penyelesaiannya.

Tanda-tanda tersebut begitu ketara sejak pra Pemilihan Presiden (Pilpres 2014), Ianya  menghinggapi saya, kalian, dan mereka semua pecah menjadi tiga bagian. Satu bagian pro kelompok A, satu bagian pro kelompok B, dan satu bagian tidak berada diantara kelompok A dan B.

Setiap hal sesuatu yang terjadi di negeri kita ini, dimaknai dengan pertikaian dan pertembungan kontelasi politik yang  mulai berlangsung. Setiap isu yang terjadi mendapat reaksi berlebihan dari kedua kubu, mulai dari saling membuli hingga saling adu nyinyiran. Mulai dari isu pribadi hingga yang berkaitan suku, agama, ras, dan antar golongan. Parahnya lagi, isu bencana yang terjadi baru-baru ini, dipolitisasi sedemikian rupa oleh keduanya.

Peritnya mengharungi tahun-tahun politik pasca Pilpres 2014 dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, meninggalkan penggalan-penggalan dua kelompok dan perseteruan yang tak pernah reda (dikotomi). Rakyat Indonesia pecah menjadi dua bagian, terpengaruh oleh dua kelompok yang sama-sama mempunyai kepentingan (Polarisasi).

Apakah dalam tahun mendatang (Pra dan Pasca Pilpres 2019),kita akan mengalami hal yang serupa seperti masa-masa yang lalu? Ianya bisa diredam dan diminimalisir, andaikata unsur-unsur yang terlibat didalamnya sepakat untuk berkampanye secara positif dan tidak melakukan provokasi berlebihan.

Unsur yang pertama adalah para elit politik, mereka harus sepakat sesama para elit politik berkomitmen untuk saling hormat-menghormati selama proses konstelasi politik berlangsung. Mereka juga harus bersepakat, agar berhati-hati dalam memberikan pernyataan politik dan tidak mengompori serta memprovokasi isu-isu yang ada.

Unsur yang kedua adalah para media, untuk saat ini mencari media yang betul-betul netral hampir tidak mungkin, semuanya serba keberpihakan  . Publik sudah memberikan cop/tanda kepada media utama tertentu , baik media massa ataupu media elektronik. Untuk itu, cara mengurangi ketegangan politik yang ada adalah, media-media harus lebih selektif dalam mempublikasikan berita dan laporannya. Hal-hal yang dikuatiri mengundang pertikaian dan perdebatan, artikelnya bisa diperhalus lagi sebelum dipublikasikan.

Unsur yang terakhir adalah para tim sukses, setiap kubu baik pemerintah ataupun oposisi ada tim pemenangan masing-masing. Mereka mempunyai tugas dari bagian logistik hingga bagian serangan udara ( cybermedia team). Para tim sukses mempunyai kendali dan peranan penting, agar konstelasi politik tahun ini dalam batas normal. Merekalah ujung tombak koalisi yang berhadapan langsung dengan publik.

Andaikata ada kesepakatan awal diantara ketiganya, yakinlah pesta demokrasi ini akan berlangsung dengan meriah dan menarik. Perbedaan dan arah politik dalam dunia demokrasi adalah sebuah keharusan, namun yang paling penting adalah bagaimana meramu perbedaan-perbedaan itu menjadi tonik kebangkitan bangsa Indonesia ini.

Salam dari Kuala Lumpur



 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani