Habibibe Kalah Berdebat dengan Santri Madura

Friday, 13 September 2019 2 komentar



Pada zaman Pak Habibie jadi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) di masa pemerintahan Orde Baru, beliau melakukan kunjungan kerja ke salah satu Pondok Pesantren di Madura.
Secara kebetulan Pak Habibie melewati Madrasah Ibtidaiyah/MI (sederajat dengan SD), yang mana para santri pondok itu, sekolah umum di MI tersebut. Di depan MI tersebut terpacak sebuah tiang bendera yang cukup tinggi, tempat dimana para santri melaksanakan upacara bendera.
Ketika Pak Habibie melewati sekumpulan santri yang sedang istirahat di depan MI tersebut, beliau bertanya kepada santri,
"Anak-anak, ayo siapa yang tahu tingginya tiang bendera ini?"
"Siapa yang bisa akan diberikan sepatu.", Sambil tangannya menunjuk ke atas tiang bendera.
Tanpa banyak bicara, ada seorang santri langsung memanjat tiang bendera membawa tali rafia. Sampai di pertengahan tiang bendera, keadaan tiang bendera sudah meliuk-liuk menahan beban. Dengan serta Merta Pak Habibie melambai-lambaikan tangannya, sembari menyuruh turun anak itu.
"Sudah..sudah..turun Nak, nanti jatuh !."
"Kenapa tak dirobohkan saja tiangnya, baru diukur tiang benderanya !", Ujar Pak Habibie setelah santri itu turun dan datang ke hadapannya.
"Kan Bapak menyuruh mengukur tinggi tiang benderanya, makanya saya segera naik Pak." Ujar santri itu membela diri.
"Tiang itu berdiri atau dirobohkan, ukurannya tetap sama Anakku.", Pak Habibie meyakinkan santri tersebut sambil memegang bahunya.
"Ya beda Pak, antara mengukur panjang dan tinggi itu."
"Kalau tinggi itu ukuran dari tanah sampai puncak tiang tersebut, sedangkan kalau dirobohkan itu mengukur panjangnya dari tempat yang datar."
"Karena Bapak menanyakan tingginya tiang bendera, maka saya segera memanjatnya.", Ujar santri dengan percaya dirinya.
"Ya tetap sama juga hasilnya anakku, mengukur tinggi dan panjangnya. Karena barangnya tak berubah.", Pak Habibie meyakinkan kembali santri tersebut.
"Tetap beda Pak, Tinggi untuk mengukur barang yang berdiri dan panjang untuk mengukur barang yang melata atau merayap.", Santri itu tetap bersikukuh dengan jawabannya.
"Buktinya apa Anakku ?", Pak Habibie memancing santri tersebut.
"Ketika Bapak sedang berdiri, pasti orang akan bertanya berapa tingginya, bukan berapa panjangnya.", Jawab santri tersebut sambil tersenyum.
"Pinter dan cerdas Anakku, sudah ini ambil sepatunya!"
"Jangan lupa belajar yang rajin ya, biar seimbang ilmu agama dan dunianya.", Pesan Pak Habibie sambil mengelus bahu santri tersebut.
#Terinspirasi Cerita Cak Nun

Madura Penghasil Garam, Garam Terbaik dari Malaysia

Saturday, 23 March 2019 4 komentar


Madura merupakan salah satu pulau penghasil garam terbesar di Indonesia. Kurang lebih 15.000 hektar lahan garam berada di Madura, maka dari itu Madura mendapat predikat dengan sebutan “Pulau Garam”.

Umumnya di Indonesia hanya memproduksi garam untuk kebutuhan konsumsi saja, yang harganya berkisar sekitar Rp 2.000/Kg. Sedangkan apabila penggunaan teknologi diterapkan, garam biasa bisa menjadi garam farmasi, industri atau garam analisa. Harganya bisa menjadi 150 - 200 ribu/Kg.

Namun sayang tentang penggunnaan teknologi tersebut, petani Madura masih belum mampu menggunakanya (secara tradisional). Padahal kebutuhan garam per tahun, Indonesia memerlukan 4,4 juta Ton. Sedangkan kita hanya memproduksi 1,2 -1,6 juta ton saja.

Garam Malaysia Lebih Baik

Pada Hari Raya tahun lalu, saya menjenguk kawan saya yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pamekasan. Sewaktu antri menunggu panggilan, saya banyak berbicara dengan sesama pengunjung di depan pintu masuk Lapas. Mayoritas mereka ingin menjenguk keluarganya yang sedang terjerat dengan kasus Narkoba (shabu).

Karena Hari Raya, pertemuan antara pengunjung dan penghuni Lapas diberikan kelonggaran, sehingga bisa berbicara dengan  duduk berkelompok. Sewaktu saya tanyakan, Mengapa umumnya para yang datang menjenguk, umumnya keluarganya yang terlibat dengan Narkoba?

Salah seorang dari mereka menjawab ceplas-ceplos,
“Iya wajar saja, karena garam itu bukan barang baru di Madura. Apalagi garam tersebut dengan mudah didapatkan.”

“Disamping itu, pasokan garam paling baik dan mendapat permintaan paling banyak adalah garam dari Malaysia.”, jelasnya sambil menyeruput minuman botolnya.

“Dari tadi ngomongin garam, maksudnya apa ya Pak ?”, tanyaku sengaja meminta penjelasan lanjut.
“Sampeyan ini pura-pura tidak tahu Dik!”
“Maksud garam ini adalah Narkoba jenis shabu-shabu Dik!”, jawabnya sambil menyedot rokoknya dalam-dalam.

Madura, Pusat Pasar Sabu Apa Tempat Transit ?

Madura sebagai pulau yang terkenal agamis dan pulau santri, mendapat serangan dari berbagai penjuru. Salah satu serangan terbesar beberapa tahun belakangan ini adalah  penyalahgunaan Narkoba semakin marak. Hampir setiap kampung ada pemakainya, karena barang ini dengan mudah didapatkannya.

Berdasarkan lintas berita, pasokan Shabu terbesar dan terbanyak berasal dari Negeri Jiran Malaysia. Ada yang diselundupkan via bagasi airport, sehingga banyak yang tertangkap di Bandara Juanda. Adapula yang diselundupkan melalui pelabuhan laut dengan naik Feri

Pada bulan lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap pasangan suami istri dari Madura di Pelabuhan Dumai. Mereka didapati membawa shabu seberat 18.3 Kg dari Malaysia tujuan ke Madura.

Dan modus operandi terbaru jaringan sindiket ini adalah menggunakan jasa pengiriman barang paketan (Cargo) dari Malaysia ke Indonesia. Sindiket sengaja mengirim Shabu dicampur dengan aneka jenis barang paketan kebutuhan sehari-hari, untuk mengelabui petugas Bea dan Cukai serta BNN.

Konon katanya, hadiah 70 juta rupiah setiap kilogram Shabu, yang dapat dibawa dari Malaysia ke Madura. Besarnya nominal sebagai kurir Shabu, membuat sebagian orang menjadi gelap mata. Mereka rela melakukan hal itu, tanpa memikirkan masa depan keluarga dan anak-anaknya.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah pulau Madura itu sebagai target dan pasar Narkoba sindiket internasional ?
Apakah pulau Madura hanya dijadikan transit dan pasar, sebelum dikirimkan ke kota-kota lainnya di Indonesia. Seperti Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Papua.

Sudah saatnya para Aparat kepolisian beserta BNN bekerjasama dengan Alim ulama dan Tokoh masyarakat setempat. Untuk memberikan penanggulangan dan penyuluhan bahayanya Narkotika dan obat-obatan terlarang.
Semoga dengan adanya pesantren, kharisma alim ulama dan tokoh masyarakat mampu meredam pengguna Narkoba semakin terus meningkat.  

Salam dari Kuala Lumpur.

Credit image : www.promise.com
  

Mantan TKI ini, Pasarkan Biji Karet Hingga ke Luar Negeri

Tuesday, 19 February 2019 4 komentar



Indonesia adalah salah satu penghasil karet terbesar dunia, disamping negara Thailand, Malaysia, dan India. Sebagai komoditas penting dalam kehidupan manusia, karet merupakan bahan baku produk yang memerlukan kelenturan/elastis dan tahan goncangan. Seperti ban, pipa/selang minyak, bola, dan sebagainya.

Menurut thedailyrecords.com, luas areal perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2019 ini, mencapai seluas 3,5 juta hektar. Lokasi utama areal perkebunan tersebut meliputi di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Lampung, dan Jawa. Indonesia menyumbang 27,3% produksi karet global, dengan tujuan eksport utama ke USA, Singapura, China, Brazil, dan Jepang.

Untuk saat ini, pohon karet hanya dimaksimalkan pada produksi utamanya, yaitu lateksnya. Sedangkan buah karetnya banyak yang tidak memanfaatkanya. Salah satu alasan utamanya adalah biji karet itu termasuk buah yang mengandung racun. Sehingga mengundang orang malas untuk mengolahnya sebagai sumber makanan.

Padahal pada saat ini, buat karet sudah bisa diolah menjadi aneka makanan dan cemilan. Mulai dari tempe, emping, es krim, dan tepung biji karet. Bahkan biji karet bisa diolah sebagai sumber energi alternatif seperti briket, biokerosin, biopelet, biodiesel, dll.

***

Peluang ekonomi dari buah karet itu diliirik dan dimanfaatkan secara maksimal oleh Ifendayu, ibu rumah tangga dari desa Jati Mulyo, kecamatan Jenggawah, Jember Jawa Timur. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini menjadikan buah karet sebagai sumber penghasilan keluarga. Buah karet yang kurang dimanfaatkan di kampungnya, diolah menjadi cemilan “Biji Karet Goreng” dan dijadikan sumber ekonomi keluarga.

Pada mulanya, Ifendayu hanya menjual biji karet olahannya dalam ruang lingkup kecil. Para tetangga dan para sahabatnya menjadi target pasar utamanya. Kemasannya masih sangat sederhana, hanya dimasukkan ke dalam toples plastik, kemudian hanya diisolasi pada penutupnya saja.

Beberapa waktu kemudian, dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, Ifendayu mulai memasarkan produknya secara gencar dan intensif. Kemasan produknya sudah mulai dikemas dengan apik dan sudah ada brandingnya.


Ada peningkatan dalam kemasan produk biji karet gorengnya, kalau pada awalnya menggunakan toples dengan diisolasi pada penutupnya. Sekarang produk biji karet gorengnya sudah berplastik berzip, dengan kemasan merk berwarna hijau diluarnya.

Disamping itu, kemasan beratnya sudah beragam mulai dari 200 gram hingga 1 kilo gram per bungkusnya. Dan dimasukkan ke dalam sebuah goodie bag dengan logo dan kemasan yang sama pada setiap pembeliannya.

Sekarang pasar biji karet gorengnya, bukan hanya sekedar meliputi kota Jember dan sekitarnya. Namun sudah mendapat permintaan dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan permintaan akan produk “biji Karet Gorengnya” sudah merambah ke luar negeri. Mulai dari Malaysia, singapura, Hongkong, Taiwan, Macau hingga ke Qatar.

Disamping memasarkan biji karet goring, Mantan TKI kreatif ini juga mengolah dan mengemas bawang goreng sebagai produksi ekonomi keluarga. Bahkan mengemas ikan pindang dan plintiran jamu, sebagai usaha sampingan setelah biji karet goreng.

Tidak ada cara mudah mendapatkan kesuksesan dan tidak ada jalan pintas untuk menggapai sebuah mimpi. Ianya memerlukan sebuah proses dan kerja keras yang maksimal. Semoga usaha yang dilakukan Ifendayu, dengan memanfaatkan limbah terbuang menjadi sumber ekonomi keluarga, akan menjadi penyemangat dan motivasi kepada para TKI lainnya.

Salam dari Kuala Lumpur



 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani