Madura Penghasil Garam, Garam Terbaik dari Malaysia

Saturday, 23 March 2019 4 komentar


Madura merupakan salah satu pulau penghasil garam terbesar di Indonesia. Kurang lebih 15.000 hektar lahan garam berada di Madura, maka dari itu Madura mendapat predikat dengan sebutan “Pulau Garam”.

Umumnya di Indonesia hanya memproduksi garam untuk kebutuhan konsumsi saja, yang harganya berkisar sekitar Rp 2.000/Kg. Sedangkan apabila penggunaan teknologi diterapkan, garam biasa bisa menjadi garam farmasi, industri atau garam analisa. Harganya bisa menjadi 150 - 200 ribu/Kg.

Namun sayang tentang penggunnaan teknologi tersebut, petani Madura masih belum mampu menggunakanya (secara tradisional). Padahal kebutuhan garam per tahun, Indonesia memerlukan 4,4 juta Ton. Sedangkan kita hanya memproduksi 1,2 -1,6 juta ton saja.

Garam Malaysia Lebih Baik

Pada Hari Raya tahun lalu, saya menjenguk kawan saya yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pamekasan. Sewaktu antri menunggu panggilan, saya banyak berbicara dengan sesama pengunjung di depan pintu masuk Lapas. Mayoritas mereka ingin menjenguk keluarganya yang sedang terjerat dengan kasus Narkoba (shabu).

Karena Hari Raya, pertemuan antara pengunjung dan penghuni Lapas diberikan kelonggaran, sehingga bisa berbicara dengan  duduk berkelompok. Sewaktu saya tanyakan, Mengapa umumnya para yang datang menjenguk, umumnya keluarganya yang terlibat dengan Narkoba?

Salah seorang dari mereka menjawab ceplas-ceplos,
“Iya wajar saja, karena garam itu bukan barang baru di Madura. Apalagi garam tersebut dengan mudah didapatkan.”

“Disamping itu, pasokan garam paling baik dan mendapat permintaan paling banyak adalah garam dari Malaysia.”, jelasnya sambil menyeruput minuman botolnya.

“Dari tadi ngomongin garam, maksudnya apa ya Pak ?”, tanyaku sengaja meminta penjelasan lanjut.
“Sampeyan ini pura-pura tidak tahu Dik!”
“Maksud garam ini adalah Narkoba jenis shabu-shabu Dik!”, jawabnya sambil menyedot rokoknya dalam-dalam.

Madura, Pusat Pasar Sabu Apa Tempat Transit ?

Madura sebagai pulau yang terkenal agamis dan pulau santri, mendapat serangan dari berbagai penjuru. Salah satu serangan terbesar beberapa tahun belakangan ini adalah  penyalahgunaan Narkoba semakin marak. Hampir setiap kampung ada pemakainya, karena barang ini dengan mudah didapatkannya.

Berdasarkan lintas berita, pasokan Shabu terbesar dan terbanyak berasal dari Negeri Jiran Malaysia. Ada yang diselundupkan via bagasi airport, sehingga banyak yang tertangkap di Bandara Juanda. Adapula yang diselundupkan melalui pelabuhan laut dengan naik Feri

Pada bulan lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap pasangan suami istri dari Madura di Pelabuhan Dumai. Mereka didapati membawa shabu seberat 18.3 Kg dari Malaysia tujuan ke Madura.

Dan modus operandi terbaru jaringan sindiket ini adalah menggunakan jasa pengiriman barang paketan (Cargo) dari Malaysia ke Indonesia. Sindiket sengaja mengirim Shabu dicampur dengan aneka jenis barang paketan kebutuhan sehari-hari, untuk mengelabui petugas Bea dan Cukai serta BNN.

Konon katanya, hadiah 70 juta rupiah setiap kilogram Shabu, yang dapat dibawa dari Malaysia ke Madura. Besarnya nominal sebagai kurir Shabu, membuat sebagian orang menjadi gelap mata. Mereka rela melakukan hal itu, tanpa memikirkan masa depan keluarga dan anak-anaknya.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah pulau Madura itu sebagai target dan pasar Narkoba sindiket internasional ?
Apakah pulau Madura hanya dijadikan transit dan pasar, sebelum dikirimkan ke kota-kota lainnya di Indonesia. Seperti Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Papua.

Sudah saatnya para Aparat kepolisian beserta BNN bekerjasama dengan Alim ulama dan Tokoh masyarakat setempat. Untuk memberikan penanggulangan dan penyuluhan bahayanya Narkotika dan obat-obatan terlarang.
Semoga dengan adanya pesantren, kharisma alim ulama dan tokoh masyarakat mampu meredam pengguna Narkoba semakin terus meningkat.  

Salam dari Kuala Lumpur.

Credit image : www.promise.com
  

 
Mahfudz Tejani © 2011 | Designed by Mahfudz Tejani